
Indy kembali menatap Mawar yang masih sedikit pucat akibat sakit perut tadi. Wajah welas bikin adem. Apa ini calon adik iparnya?
"Baiklah kalau kau bekerja untuk Bagas! Oya..Bagas ada yang mau mbak omongin soal mama! Kita bicara di luar sebentar?" Indy bangkit meninggalkan Mawar yang masih bengong. Bagas menghela nafas seakan tahu apa yang akan dikatakan kakaknya. Jamin bukan soal mama mereka melainkan soal Mawar.
Bagas merasa tak enak pada Mawar tapi tak bisa menolak ajakan sang kakak bahas soal mama mereka. Itu hanya akalan Indy ajak Bagas bicara di luar.
Indy mendorong Bagas masuk ke satu ruang kedap suara tempat kantor kecilnya lakukan rapat. Dengan gaya angkuh Indy menunjuk wajah Bagas.
"Katakan siapa dia?" bentak Indy galak biar Bagas takut mau bicara jujur.
"Pelan dikit kenapa? Dia itu Mawar mantan bini Riyan. Baru datang dari kampung sudah ditalak Riyan. Ntah setan apa rasuki Riyan tega talak isteri secantik Mawar."
Indy besarkan mata kaget dengar pengakuan Bagas. Riyan sedang sakit jiwa kronis tampaknya. Isteri baru dinikahi sudah ditalak. Otaknya kena covid 19 kali.
"Apa salahnya?"
Bagas mengedik bahu tak bisa jawab memang tak ngerti pangkal marah Riyan pada Mawar.
"Aku sih duga Riyan dihasut kakaknya Mawar. Di sana kulihat dia provokasi Riyan agar ceraikan Mawar secepatnya agar dia dan Riyan bisa nikah."
"What? Parah nih! Aku akan hajar Riyan biar tahu malu. Baru menikah sudah cerai lalu mau nikah sama wanita sampah?"
"Tante Alya tak ijinkan Riyan nikahi wanita itu. Hebatnya wanita itu menantang Tante Alya. Mawar terima talak Riyan dengan lapang hati. Dia pergi tanpa tuntut apapun. Aku temukan dia pingsan di jalan. Nyatanya dia sedang sakit haid sampai pingsan. Dokter bilang itu sering terjadi pada gadis perawan. Sudah nikah nanti akan hilang sendiri." cerita Bagas mulus seperti sangat ngerti penyakit Mawar.
"Maksudmu si Mawar ini masih bersegel?"
Bagas mengangguk santai. Berita ini sangat bagus di telinga Bagas. Mawar sangat cocok dijadikan teman bicara karena bicaranya sendu mendayu.
Indy berkacak pinggang hilir mudik tak habis pikir apa isi otak Riyan. Tinja semuanya kali.
"Aku kasihan padanya. Dia malu pulang kampung. Datang pada suami bukannya bahagia malah ditalak. Dia itu guru matematika lho! Tuh si John otaknya kan lemot soal hitung menghitung! Ini ada pakar matematika di depan mata. Tunggu apalagi!"
Indy masih mondar mandir pikir nasib apes Mawar. Kalau Riyan termakan hasutan kakak Mawar artinya Riyan orang tak punya pendirian. Isteri suci dicampakkan untuk wanita murahan.
"Aku terima dia. Kau antar dia ke rumah! Oya untuk sementara rahasiakan keberadaan Mawar di tempat kita. Aku mau jumpa si tolol itu dulu. Dari raut wajahnya memang wanita baik-baik cuma sayang nasibnya tak baik."
"Makanya mbak harus lindungi dia! Biarkan si tolol urus surat cerai dan aku akan gantiin posisi dia merawat Mawar."
Indy menyentik hidung adiknya anggap Bagas sedang bercanda. Orang sedang tertimpa musibah dijadikan bahan olokan.
"Kita sudahi obrolan tak enak! Anggap kita tak ngerti soal perceraian dia. Jangan ungkit hal tak penting! Yok.." Indy lenggak-lenggok keluar dari ruangan kedap suara balik ke ruang kerjanya.
Kini Indy berubah lebih manis pada Mawar. Sekilas Indy sudah dengar cerita Bagas tentang Mawar. Timbul rasa simpatik di hati Indy. Sebagai sesama wanita Indy harus bela kebenaran. Kuman penyakit harus disingkirkan.
"Mawar...untuk sementara kau tinggal di rumah mbak kawani anak mbak ya! Namanya John duduk di kelas satu SMP. Anaknya sedikit reseh tapi baik kok!"
"Terimakasih mbak! Mawar akan usaha cari kost dekat tempat kerja nanti." sahut Mawar lembut. Suaranya saja bikin hati adem.
Dari mana ide Riyan ceraikan gadis sebaik Mawar. Ide hasil bisikan setan.
"Tak usah pindah. Bukankah kau akan kerja di kantor Bagas. Kau bisa numpang pada Bagas bila berangkat kerja. Rumah kita dekatan kok." Indy menukas cepat sebelum Mawar punya pikiran lain lagi.
"Tapi Mawar tak enak merepotkan semua orang. Dan lagi bang Riyan itu saudara kalian. Takutnya dia salah sangka Mawar hasut kalian."
__ADS_1
"Ya ampun adikku yang cantik! Riyan ditakuti! Nanti kusate dia. Mau jadi sate kacang atau sate Madura, bisa juga jadi sate Padang. Sekarang pulang istirahat ya! Mbak akan telepon Bik Tun siapkan kamarmu!"
"Terima kasih mbak! Maaf merepotkan. Mawar takkan lupakan jasa mbak dan Mas Bagas."
"Omong apa itu? Pergilah! Kalau John nakal tak usah diambil hati ya! Mulutnya suka nyerocos ngatain orang."
"Iya mbak! Assalamualaikum.." Mawar bangkit dari kursi di ruang Indy ikuti langkah Bagas menuju ke luar.
Mereka kembali ke parkiran mobil Bagas. Cowok Galant ini membuka pintu mobil untuk Mawar tunjukkan dia cowok baik. Perhatian pada cewek. Tidak seperti Riyan tak punya hati. Kalaupun punya mungkin digerogoti Hepatitis akut. Tak bisa berfungsi baik.
Mobil Bagas melaju menembus kemacetan takkan usai. Ntah kapan baru bisa terurai macet abadi kota ini.
Dengan susah payah akhirnya Bagas sukses antar Mawar ke rumah Indy. Rumahnya lumayan bagus. Komplek perumahan Indy rata-rata rumahnya gedongan. Kiri kanan muka belakang semua rumah mewah. Penghuni komplek pasti orang tajir semua.
Mawar agak segan diajak masuk satu rumah berpagar rendah. Dari luar tampak jelas bentuk bangunan rumah Indy. Taman kurang terurus serta tampak agak kumuh walau dasar rumah sangat bagus.
"Yok masuk!" Bagas menyadarkan Mawar dari lamunan. Mawar menarik nafas ucapkan bismillah akan masuki babak baru dalam hidupnya. Kini dia sudah menjanda akibat Riyan mendengar ocehan kakaknya. Mawar tidak menyesal dicerai Riyan. Malah bersyukur telah lihat wajah asli Riyan.
Bagas mengetok pintu dengan kuat. Mawar kaget lihat betapa kasarnya Bagas gedor pintu rumah kakaknya. Apa penghuni rumah kupingnya bermasalah?
Badak tidur terbangun dengar gedoran full power.
"Mas...pelan kenapa?"
"Bik Tun itu kuping ada sedikit masalah." Bagas tak berani omong Bik Tun agak tuli. Orang model Mawar mana bisa diajak omong kasar. Bicara pakai bahasa paling halus agar imbangi kelembutan gadis itu.
Cukup lama baru muncul seorang ibu bertubuh subur. Wajahnya kocak bulat mirip martabak terang bulan. Kedua bukit di dada luar biasa gede serasi dengan tubuh si bibi yang gendut. Mawar yakin itu asli pemberian Tuhan. Bukan hasil oplas.
Bagas ingin katakan dari tadi mereka sudah datang tapi yang di dalam lama baru buka pintu. Gedoran bisa bangunkan badak saja tidak terdengar apalagi hanya gedoran sedikit kuat. Bagas harus usulkan kakaknya bikin bel bunyi sirene biar si bibi cepat buka pintu.
"Bik...ini Mawar! Ayok bawa kopernya ke kamar Mawar!" seru Bagas pakai tenaga dalam biar si bibi ngerti maksud katanya.
"Oh...opor? Hari ini tak masak opor. Mas John minta ayam goreng!" Bik Tun jawab dengan riang gembira tak sadar jawaban jauh melenceng dari arahan Bagas.
Bagas sudah duga pasti tidak nyambung. Lain dibilang lain dijawab.
"Bik...Tolong bawa Mawar ke kamarnya! Ini Mawar tamu mbak Indy." Bagas menunjuk ke arah Mawar.
"Wow...nona cantik! Pacar mas Bagas? Cocok banget! Satu cantik dan satunya ganteng! Kapan kawin?"
Bagas tak tahu bagaimana Indy komunikasi dengan pembantu luar biasa ini. Makan sebakul energinya terbuang bila ngobrol dengan pembantu ini.
Mawar tersenyum mendekati Bik Tun seraya merangkul pundak berbau keringat.
"Bik...aku Mawar! Aku akan tinggal di sini." ujar Mawar pelan dan lembut.
"Ach non Mawar. Tadi Bu Indy sudah SMS kalau ada tamu akan datang. Nyatanya nona cantik toh! Ayok bibi antar ke kamar!"
Bagas melongo kok suara lembut Mawar cepat ditangkap bibi pekak ini. Suaranya yang menggelegar malah kacau.
Bagas acung jempol salut pada Mawar berhasil taklukkan kuping pekak bik Tun.
"Hebat.."
__ADS_1
"Kadang suara gede malah mengacaukan syaraf pendengaran. Suara pelan akan tertangkap karena gendang si bibi tidak berdengung."
"Pintar kau. Aku butuh orang pintar. Si tolol itu pasti akan menyesal buang sebutir berlian untuk sebutir kerikil. Kau istirahat ya! Aku mau balik ke kantor. Oya bagaimana perutmu?"
"Sudah enakan. Terima kasih ya mas!"
"Jangan sungkan! Aku pergi ya! Jangan lupa minum obat kalau sakitnya balik!"
"Ya mas!"
Bagas melambai minta ijin pergi dari rumah kakaknya. Bagas lega Mawar sudah berada di tempat tepat. Untuk sementara Mawar aman bersama Indy. Indy orangnya keras bela kebenaran. Riyan pasti kena semprot bila terbukti Mawar bukan seperti wanita jahat seperti bayangan Riyan.
Di rumah Riyan terjadi konflik makin meruncing antara Ayumi dan Bu Alya. Bu Alya sangat tak suka pada Ayumi yang sok berkuasa di rumah ganti posisi Mawar.
Yang sengsara adalah Riyan berada di dua kutub berbeda. Mau bela siapa? Satu ibu sendiri dan satunya wanita yang ingin dia nikahi. Riyan ingin nikahi Ayumi karena amanah Yenni berharap suaminya bersedia ambil salah satu adiknya jadi isteri. Dahlia dan Mawar telah tercoret dari daftar Riyan maka satu-satunya kandidat terakhir hanyalah Ayumi. Ayumi tidak secantik Mawar bahkan agak hitam. Cuma Riyan tak punya pilihan lain. Larangan ibunya makin bikin Riyan terpuruk.
Sementara gugatan cerai Mawar telah bergulir di pengadilan. Riyan sengaja tak kabari Mawar agar sidang cepat selesai tanpa kehadiran tergugat dan penggugat. Tak ada mediasi sekalipun. Semua diwakilkan pada pengacara Riyan. Tak sampai sebulan surat cerai Mawar telah keluar.
Ayumi bersorak gembira begitu perceraian Mawar dan Riyan berjalan mulus. Pada sidang terakhir Mawar dan Riyan diharapkan hadir untuk dengar hasil keputusan pengadilan.
Riyan dan Mawar terpaksa hadir biar semua cepat berakhir. Riyan datang ke pengadilan agama hanya didampingi pengacara sedangkan Mawar diantar oleh Indy. Indy hanya mengantar tak bermaksud ikut campur urusan pribadi Riyan.
Selama tinggal di rumah Indy, Mawar bawa angin positif di rumah itu. Rumah yang berantakan jadi rapi dan asri. John yang keras kepala mulai tunduk pada kelembutan Mawar. Anak lajang itu patuh serta tidak bakal lagi. Apa yang dilakukan Mawar terlihat jelas oleh Indy. Indy malah tak rela Mawar kembali pada Riyan. Barang sebagus gitu sayang jatuh ke tangan orang tak punya hati. Biarlah Mawar cari pengganti yang lebih baik dari Riyan.
Riyan tertegun jumpa Mawar di ruang sidang. Wanita itu makin cantik cuma agak pucat. Raut wajah Mawar terukir wanita itu dalam kondisi tidak fit. Sebenarnya Riyan iba pada Mawar tapi ingat cerita pemuda di bandara betapa bejat Mawar rasa iba itu luntur. Rasanya Riyan tak sabar ingin segera putus hubungan dengan Mawar. Wanita murahan tak punya harga.
Mawar memberi salam pada Riyan hanya merangkap tangan di dada tanpa menyentuh tangan laki itu.
Riyan mendengus muak pada gaya suci Mawar. Sampah sok berharga.
Mawar dan Riyan di dudukkan pada kursi penggugat dan digugat. Hakim sidang bertanya pada Mawar apa ada tuntutan atau keberatan atas gugatan Riyan.
Mawar menjawab tidak serta menerima semuanya dengan lapang dada. Mawar tidak menuntut satu senpun dari uang Riyan.
Riyan berharap Mawar meminta sesuatu untuk jadi pegangan di kemudian hari. Riyan tak mau jandanya hidup susah di kemudian hari. Riyan bukannya tak tahu hidup Mawar pas-pasan dari gaji sebagai guru. Kini gadis ini tak punya kerja bagaimana lanjutkan hidup.
"Nona Mawar...anda tidak menyesal cerai tanpa harta gono gini?" tanya Hakim sekali lagi sebelum ketok palu mereka cerai.
"Insyaallah tidak menyesal." sahut Mawar mantap.
"Baiklah maka diputuskan hari ini pak Riyan dan Nona Mawar dinyatakan bukan suami isteri lagi. Keputusan ini mutlak dan sah. Sidang di tutup!" Hakim ketok palu di meja sidang tiga kali.
Mawar menepuk dada dua kali bersyukur sidang cerai mereka tidak berbelit dan telah usai. Pengacara Riyan cukup salut pada Mawar tidak persulit Riyan minta aneh-aneh. Biasa sidang cerai selalu diwarnai perang rebut harta. Tuntut menuntut pembagian harta bersama. Yang ini ditawarkan malah nolak. Jarang ada sidang tanpa perebutan harta.
Mawar tinggalkan ruang sidang tanpa pamitan pada Riyan lagi. Dia sudah tak punya kewajiban pada Riyan. Kini mereka orang asing walau saling kenal.
Mata Riyan menangkap bayangan sosok ringkih meninggalkan pengadilan sedikit terhuyung-huyung. Dalam hati Riyan bertanya apa Mawar sedang kurang sehat atau syok dicerai.
Secara diam-diam Riyan perhatikan langkah Mawar berjalan ke jalan raya. Belum capai jalan raya gadis itu terkulai ke trotoar sepanjang jalan menuju ke pengadilan.
"Mawar..." seru Riyan berburu ke arah wanita itu. Pengacara Riyan ikut berlari ke tempat Mawar jatuh. Mereka tak tahu Mawar sedang akting atau memang kurang sehat.
Riyan membopong Mawar menuju ke mobilnya. Tubuh gadis ini dingin sekali seperti baru keluar dari freezer. Di sini Riyan mulai panik tak sangka mantan isteri akan kolaps di depan matanya.
__ADS_1