GANTI TIKAR (ISTERI PENGGANTI)

GANTI TIKAR (ISTERI PENGGANTI)
Dicopot


__ADS_3

Bivendra mengangguk tak tahu harus melakukan permintaan Mawar. Anak ini diajar pendidikan formal tapi tidak diisi dengan pengenalan agama. Sungguh cara didik anak yang tidak baik.


Ketiganya menyantap hidangan dengan suasana hati berbeda. Apapun adanya Bivendra tampak lebih bahagia. Ada aura kehidupan terpancar dari wajah tirus itu.


Mata Mawar mencuri pandang kepada anak ini. Perhatian Mawar hanya pada Bivendra karena dia memang tulus pada anak ini. Terlepas sebagai karyawan Joko rasa iba di hati Mawar muncul karena dia seorang wanita punya naluri keibuan.


"Enak?" pancing Mawar berharap Bivendra lebih banyak bicara.


Mawar hanya mendapat anggukan tanpa kata lisan. Mahal sekali kalimat dari bibir anak ini. Mahal atau berat Mawar tak tahu. Tugasnya adalah tumbuhkan semangat pada anak ini.


Joko juga irit kalimat. Lelaki ini menikmati makanan mereka dengan setengah hati. Mawar bisa baca kalau Joko kurang suka makanan ini. Orang biasa makan makanan mewah dengan daging kelas atas dan udang galah gede mana terbiasa makan makanan junk food seperti ini. Tapi Bivendra sangat senang. Mawar ikut senang.


Tidak ada yang terlalu istimewa karena anak bapak itu lebih banyak kunci rapat mulut mereka ketimbang ajak Mawar bicara. Bivendra enggan buka mulut berada di dekat Joko. Ntah apa penyebab anak ini kayaknya kurang suka pada papinya. Kesannya mereka saling bertolak belakang.


Joko ajak Mawar ke rumahnya untuk pelajaran les pada anaknya. Joko coba percayakan anaknya pada Mawar. Detektif Joko sudah selidiki latar belakang Mawar adalah guru baik di kampungnya. Pendidikan juga cukup baik. Siapa tahu Bivendra akan belajar dengan baik bersama Mawar.


Ketiganya masuk rumah mewah Joko layak satu keluarga baru pulang jemput anak dari sekolah. Satu keluarga yang bahagia.


Ternyata orang yang diminta Joko ngawasin Bivendra masih ada di rumah Joko. Wanita itu kurang senang Joko pulang bawa perempuan lain. Si Yuni merasa tersisih oleh kehadiran Mawar di rumah itu. Posisinya sebagai calon pengganti mami Bivendra akan goyah.


"Sudah pulang sayang?" Yuni cepat-cepat mengambil tas Bivendra dari punggung anak itu. Sikapnya manis pantas jadi ibu jempolan.


Bivendra melengos tak mau disentuh wanita itu. Tatapan mata anak kecil ini tidak bersahabat pada Yuni. Bivendra merasa sudah punya tulang punggung tak perlu takut pada kekejaman Yuni lagi. Sudah ada Mawar yang suap lindungi dia.


Bivendra gandeng Mawar meninggalkan Joko dan Yuni menuju ke lantai dua. Anak kecil ini tidak menoleh sedetikpun ke arah Yuni unjuk dia sudah merdeka.


Yuni ingin berteriak tapi berhubung ada Joko di situ suaranya tertelan kembali ke dalam perut. Yuni harus pandai cari muka agar tidak tersingkir dari gudang uang.


Joko berjalan dengan gagah menuju ke ruang keluarga. Laki ini melepaskan jas menaruhnya di tepi sofa lalu duduk elegan di sofa menanti Yuni mendekat.


Yuni tak buang waktu ikut duduk dengan gaya high class seorang wanita kelas tinggi. Duduk tegak dengan kedua kaki tersusun rapi ke depan. Benar-benar gaya wanita berkelas. Kalau ditampilkan ke umum pasti tidak akan memalukan.


"Yun...kau sudah berapa lama bersama Bivendra?" tanya Joko datar. Laki ini bukannya menatap Yuni melainkan memainkan kuku jari di depan mata sendiri. Lagi perhatikan kalau tersisa kulit ayam goreng dari restoran kali. Lebih untung lagi kalau ada telor ayam nempel di situ. Untung buat telor ceplok.


"Hampir dua tahun gitu!" sahut Yuni pede Bivendra telah takluk padanya. Yuni sengaja ciptakan rasa takut dalam diri Bivendra agar kelak gampang kuasai anak itu.


"Apa saja yang kau ajar pada anakku?"


"Semuanya. Jadi anak baik dan patuh. Rajin belajar."

__ADS_1


Joko mengubah posisi duduk menyilang kaki kanan ke atas kaki kiri barulah menatap wanita cantik di depannya.


"Dua tahun Endra kamu jadikan pelampiasan sifat ego kamu. Kamu sering pukul dia kalau tak mau dengar kata kamu? Uang belanja setiap bulan kau gunakan keluar masuk salon. Endra kau kasih makan mie instan dan roti tiap hari. Benarkah itu?"


"Ya ampun mas Joko.. apa aku Yuni orang sejahat itu? Anak kamu anakku juga. Siapa yang fitnah aku? Perempuan yang baru datang itu? Dia itu jahat berlindung dibalik kerudung. Dasar perempuan rubah. Mas Joko jangan percaya padanya! Dia mau merusak hubungan baik kita. Aku sayang pada Endra. Coba tanya Endra kalau tak percaya!" Yuni bela diri dengan suara manja.


"Aku tak cerita soal Mawar tapi kamu. Selama ini aku percaya sepenuhnya pada kamu maka tak pernah cek kebenaran. Endra dan Bibik sudah buka cerita. Kau mau beri penjelasan."


Yuni menelan air liur tak sangka Bibik yang dia ancam mulai berani buka suara. Yuni selalu ancam akan pecat si Bibik dan suaminya bila mengadu. Bahkan akan bunuh Bivendra bila semua terbongkar.


"Mas...Bibik pasti diajar Mawar cerita bohong! Apa mas tak lihat Endra tumbuh besar dan sehat? Cantik lagi berkat perawatan aku!"


"Jangan melempar kesalahan kepada orang lain! Aku sekarang tidak mengajak kamu berdiskusi tentang Mawar. Aku sedang tanya padamu apa yang telah kamu perbuat di rumah ini. Uang belanja lima puluh juta sebulan hanya ada mie instan dan roti? Aku sudah cek Cctv di rumah ini. Kau mau jelaskan semua kejadian di sini?" Joko mulai perlihatkan wajah bengis tuntut jawaban Yuni atas derita anaknya.


Joko pikir gaji Yuni dengan gaji tinggi agar anaknya dapat seorang pengasuh baik tapi Yuni gunakan kebaikan dia siksa Bivendra dan pembantu lain.


"Mas... ini semua salah paham! Aku sudah konsultasi sama dokter kalau Endra sangat kurus harus banyak makan makanan bergizi maka aku beri susu dan roti. Ini akan membantu pertumbuhan badannya. Mie instan itu atas permintaan Endra. Mas kan tahu anak kecil suka makan mie." Yuni cari alasan paling masuk akal supaya dia selamat dari amarah Joko.


"Dokter mana bilang gitu? Justru roti akan merusak kesehatan bila dikonsumsi berlebihan. Apa matamu buta tak lihat anakku seperti tengkorak hidup? Kurus kering. Endra justru menolak makan mie instan karena setiap hari itu menunya. Endra sudah cerita semua kekejaman kamu. Kalau tidak ingat kamu ini teman mami Endra sudah kutuntut kamu ke kantor polisi. Dan apa maksudmu ngaku kamu ini nyonya rumah pada Mawar? Sejak kapan kita menikah?"


"Sudah kuduga dia hasut kamu mas! Mas jangan dengar perempuan jahat itu! Dia sengaja bikin kacau. Sebelum dia datang hubungan kita mesra dan baik. Mas usir dia biar semua kembali semula. Soal makan Endra aku akan cari dokter gizi lain. Ya mas?" Yuni keluarkan jurus terakhir yakni merengek minta dipercaya.


"Semua berbohong mas! Aku sudah susah payah besarkan Endra tapi malah difitnah." Yuni memasang wajah sedih. Akting artis kelas teri sangat buruk. Tak usah dibayar ikut main sinetron mungkin akan ditolak sutradara.


"Bukan fitnah. Satpam ikut perkuat semua cerita Bibik dan Endra. Dan lagi aku sudah cek Cctv dan ternyata semuanya benar. Bahkan kau pernah tuang susu panas ke tangan Endra. Kau lupa setiap sudut rumah ini terpasang kamera pengintai. Aku percaya padamu maka tak pernah ceking isi cctv. Tinggalkan kunci rumah ini dan jangan pernah kembali ke sini! Wanita sekejam kamu tak pantas didik anakku."


Yuni mendengus tak senang diusir hanya berdasarkan laporan Bibik dan satpam. Dia sudah berangan hidup makmur menjadi pendamping Joko. Cepat atau lambat dia akan jadi ratu di rumah ini. Menyerah begitu saja bukan gaya Yuni.


Joko menanti Yuni melakukan permintaannya. Joko harus singkirkan bibit penyakit di sekitar anaknya agar anaknya tidak ketularan sakit jiwa.


"Mas...apa yang mas lihat itu bukan yang sebenarnya. Beri aku kesempatan sekali lagi! Aku akan urus Endra lebih baik lagi. Endra pasti akan jadi bahagia bila kita tetap bersama. Dia sudah kuanggap anakku sendiri. Ya mas?" Yuni bangkit dari tempat sofa pindah ke samping Joko. Yuni lengket kan kedua bukit kembarnya ke lengan Joko agar laki itu terangsang. Persoalan akan cepat kelar bila diajak ke ranah percintaan.


Laki mana sanggup tahan pesona wanita sintal penuh aura gairah voltase tinggi. Yuni tak punya daya selain gunakan pesona dia sebagai wanita dewasa.


"Jaga sikap Yuni! Tinggalkan kunci rumah ini dan jangan kembali lagi! Kau tidak dibutuhkan di sini lagi." Joko berdiri abaikan ******* Yuni. Yuni agak malu ditolak Joko spontan.


"Mas...aku ini teman mami Endra! Sebelum meninggal dia sudah amanah kan Endra kepadaku. Aku harus laksanakan amanah mendiang."


"Amanah? Apa dia rencana bunuh diri sampai sudah bikin amanah? Dia itu kecelakaan.. meninggal di tempat. Sudah cukup. Jangan membual lagi! Aku mau istirahat. Tarok kunci di meja." Joko langsung pergi masuk ke dalam kamarnya tak peduli pada Yuni yang marah besar.

__ADS_1


Yuni hentakkan kaki ke lantai marmer rumah Joko dengan marah plus kesal. Mata Yuni mengarah ke lantai dua anggap Mawar pembawa hari soal dia. Sebelum kehadiran Mawar dia tenang saja nikmati seluruh fasilitas dari Joko. Kini semua telah sirna. Joko telah usir dia dari rumah ini.


Yuni takkan menyerah begitu saja. Dia masih punya peluang rayu Joko. Untuk hari ini dia akan ngalah. Besok dia akan kembali bekerja seperti biasa. Joko mungkin sudah lupakan semua kejadian ini.


Yuni menarik senyum tipis anggap badai sekecil ini takkan goyah kedudukan dia di rumah ini. Yuni tak mau serahkan kunci pintu utama karena tanpa kunci ini dia akan putus total dari dunia Joko. Yuni mana mau kehilangan lahan subur. Sebulan uang belanja lima puluh juta hanya untuk ngasih makan Bivendra. Belum lagi gaji tetap lumayan besar. Kerjanya cuma perintah lalu hambur uang Bivendra. Di mana ada surga seperti ini lagi.


Yuni akan ngalah untuk sementara. Wanita ini keluar dari rumah Joko menuju ke halaman depan di mana terparkir mobil Joko untuk transportasi dia. Mobil SUV cukup mewah untuk jadi tunggangan Yuni.


Dengan langkah angkuh Yuni hendak buka pintu mobil namun sebelum wanita ini sempat bergerak seorang satpam menahan Yuni untuk pergi dengan kenderaan dari Joko.


Satpam muda itu mengangguk sopan beri hormat pada Yuni.


Yuni angguk tetap posisi angkuh. Penghormatan ini sudah biasa dia terima dari dulu. Hari ini dia juga dapat penghormatan itu lagi.


"Maaf Bu...Pak Joko pesan mobilnya tak boleh dibawa lagi. Tugas ini sudah berakhir maka mobilnya harus tinggal."


Yuni tak percaya ocehan sang satpam. Wanita ini berkacak pinggang jengkel pada satpam dia rasa sangat kurang ajar padanya. Yuni pikir dia sopan karena hormat nyatanya lakukan penyitaan kenderaan.


"Kau lupa siapa aku? Aku ini calon nyonya rumah ini! Kau berani larang nyonya kamu bawa mobil? Mau dipecat?"


"Maaf Bu! Kami hanya laksanakan perintah. Pak Joko yang akan pecat kami kalau lalai jalankan tugas. Mohon kerja samanya!" satpam itu tetap teguh tak ijinkan Yuni pergi dengan mobil Joko.


Kelihatannya Joko sangat marah pada Yuni sampai tega sita kenderaan yang dipakai Yuni selama ini. Tak ada kata toleransi sedikitpun.


Yuni menghela nafas. Yang ini dia harus mengalah karena dia tetap tak bisa pergi bila pintu gerbang tidak dibuka oleh satpam. Dia satpam sangar menunggu niat baik Yuni kembalikan kunci mobil SUV milik Joko.


Yuni tak punya pilihan selain melempar kunci ke lantai dengan marah. Lantas wanita ini melangkah bak peragawati di catwalk tinggalkan halaman rumah Joko. Jarak rumah ke pintu gerbang lumayan panjang membuat Yuni ngedumel sepanjang jalan.


Hari ini Yuni naas kwadrat. Ini akibat lupa mandi pagi sehingga sial berlapis-lapis. Salah sendiri telat bangun akibat dugem sampai pagi. Buru ke rumah Joko urus sarapan Bivendra sampai tak punya waktu mandi pagi.


Kedua satpam rumah Joko tertawa geli melihat sumber masalah mereka telah kalah di medan perang. Sekarang mereka aman tanpa ada intimidasi dari Yuni lagi. Semoga tak ada ancaman kata pecat lagi. Mereka bisa bertugas dengan tenang.


Di lantai dua Bivendra dan Mawar mengulang pelajaran dari sekolah. Mawar ajar satu persatu dengan sabar sampai Bivendra paham. Tak bisa sekali Mawar ulang dua kali tanpa suara kasar.


Gadis kecil itu merasa adem tanpa jeritan kuntilanak. Bersama Mawar semua terasa indah tanpa kesulitan. Bahkan Mawar ijinkan Bivendra belajar bersandar pada dadanya sewaktu pelajaran matematika yang jadi momok bagi anak ini.


Mawar duduk di belakang Bivendra ijinkan anak itu sandarkan punggung di dadanya. Sekilas Bivendra tampak sedang bermalasan tapi Mawar sengaja lakukan hal ini biar Bivendra rilex ada yang jadi penahannya bila tak mampu.


Cara ini cukup ampuh memancing semangat Bivendra hitung menghitung. Masih perlu banyak bimbingan namun ada kemajuan karena Bivendra mau belajar.

__ADS_1


__ADS_2