
Joko tidak beri respon atas omongan Bu Tiara. Joko terlanjur ilfil pada wanita berani. Joko sudah petik pelajaran berharga dari almarhumah mami Bivendra. Joko tak mau terjadi kekacauan dalam hidupnya lagi. Yang lain berlomba ingin masuk ke dalam kehidupan Joko. Satu-satunya orang yang menolak Joko adalah Mawar maka Joko tetap pilihan pada Mawar.
"Bu...Bukannya aku tak hargai anak ibu. Tapi sudah kukatakan bahwa aku tak mau poligami. Ini hanya menyakiti hati salah satu di antara dua wanita. Mereka pasti akan saling membenci." kata Joko tetap teguh pada pendirian semula.
"Antara aku dan Mawar tak ada kebencian karena kami saudara. Aku akan bimbing Mawar jadi isteri baik. Maklumlah dia masih muda! Biarlah dia jadi isteri kedua! Aku siap tanggung resiko sebagai isteri utama. Jaga anak dan jaga Mawar biar tahu diri." Dahlia bangkit dari sofa saking semangat dengar hanya takut Mawar sakit hati di poligami. Sekarang Dahlia harus bersikap sok baik untuk rebut perhatian Joko. Nanti setelah semua beres, dia telah duduk sebagai ratu barulah bikin hidup Mawar sengsara. Mati ogah hidup segan.
"Tidak...seumur hidup aku tak terpikir poligami. Aku nikahi Mawar karena anakku Bivendra sayang padanya. Lelaki seumur aku tidak pantas bicara cinta lagi. Itu bukan masanya. Yang ada kami saling memberi dan menerima. Nona pasti akan dapat suami yang lebih baik dari aku!"
Dahlia menghempas pantat ke sofa merajuk ditolak oleh Joko untuk kesekian kali. Otak bergerak terus cari jalan jadi nyonya istana ini. Dahlia pasti akan dipuji orang sekampung bila sukses berdiri di samping Joko. Sudah begini Riyan tak ada artinya lagi. Joko lebih yahud.
"Kami maklum nak Joko! Kami terima niat baikmu! Masalah mahar kami tak menuntut apa-apa asal nak Joko berjanji jaga Mawar seumur hidup. Kisah buruk jangan terulang lagi di dalam hidup Mawar." Pak Hanif bicara selaku wali dari Mawar.
"Baik...kalau gitu biar aku yang tentukan maharnya. Uang kontan sepuluh milyar, lima kilo emas murni dan satu rumah."
Jantung Dahlia hampir terhenti dengar mahar yang disediakan oleh Joko untuk Mawar. Sedemikian berhargakah Mawar untuk Joko sampai dapat penghargaan sangat tinggi. Ini merupakan mahar tergila pernah didengar oleh keluarga ini.
Semua terdiam tak bisa berkomentar. Masing-masing hanya bisa berkata dalam hati salut pada nasib Mawar mampu merebut hati laki tajir ini. Uang segitu tak ada artinya buat Joko. Itu hanya kulit dari hartanya.
Mawar datang membawa nampan berisi minuman segar untuk tamu Joko. Wajah Mawar adem begitu tenang tanpa memikirkan rencana pernikahan yang dia anggap masih jauh. Baru tahap lamaran belum ada keputusan final.
Begitu Mawar tiba di ruang tamu semua mata beralih ke tubuh ringkih Mawar. Orang ini yang bikin sensasi bikin Joko rogoh kantong siapkan mahar luar biasa.
Mawar yang tak tahu apa-apa tetap santun menyuguhkan minuman sesuai adanya tamu. Satu persatu gelas berisi cairan orange diletakkan di depan setiap tamu.
"Ayok diminum!" kata Mawar seakan dia tuan rumah. sekarang belum jadi nyonya rumah melainkan tak lama lagi.
"Mawar...kau sudah siap dipinang nak Joko?" pak Hanif mengulang soal lamaran Bivendra untuk Joko.
"Siap pak Tuo!" Mawar bulatkan hati terima lamaran Joko diwakilkan oleh Bivendra. Mawar menerimanya karena Bivendra yang melamar. Kalau Joko sendiri yang melamar belum tentu Mawar bersedia menerimanya.
"Baiklah! Kami selaku orang tua kamu menerimanya berikut mahar yang telah ditetapkan oleh nak Joko. Terserah kapan pelaksanaan akad nikah! Pak Tuo serahkan pada kalian."
"Berhubung semua ada di sini maka kita laksanakan akad nikah dulu! Soal resepsi terserah pada Mawar. Mau dipestakan di kampung juga boleh, di sini juga boleh. Aku serahkan pada kalian selaku pihak wanita." Joko gercep takut Mawar berubah pikiran batalkan rencana nikah.
Mawar besarkan mata kaget Joko mau segera menikah. Padahal Mawar mau tunda sampai tahun depan. Dasar Joko orang tak sabaran langsung beri usul mengerikan.
"Mawar...gimana? Kau terima laksanakan akad nikah dulu?" tanya pak Hanif minta pendapat yang empunya badan.
Mawar menatap Joko tak tahu harus jawab apa. Joko pura-pura tak lihat Mawar karena tatapan mata gadis itu penuh ancaman. Makin diladeni Mawar pasti akan terbitkan sejuta alasan.
"Ini...ini...apa tidak terlalu cepat? Mawar belum siapkan apa-apa. Dan lagi Mawar masih bertanggung jawab pada mbak Indy." kata Mawar agak gagap.
Kesempatan buat Dahlia untuk tampil sebagai pahlawan menyelamat keinginan Joko untuk nikah cepat. Peduli amat itu untuk Bivendra atau untuk Joko.
"Kalau Mawar tak mampu biar ku gantiin Mawar. Aku siap lahir batin dipersunting bang Joko." Dahlia berkata dengan gagah perkasa Som jadi pahlawan kesiangan.
__ADS_1
"Maaf nona...ini untuk Mawar! Aku sudah katakan untuk Mawar, tak ada wanita lain." kata Joko tetap tegas takkan ijinkan orang lain ganti posisi Mawar.
"Endra setuju...nikahnya besok saja! Makin cepat makin bagus!" seru Bivendra dari lantai atas. Suara anak itu lantang terdengar oleh semua orang.
Anak yang biasanya paling malas bicara kini bicara dengan suara full power demi bela hasrat sendiri punya mami sebaik Mawar.
"Deal...besok! Papi akan persiapan semuanya besok. Endra mau beri rumah yang mana untuk mami?" Joko arahkan pandangan ke anaknya tak peduli pada sinar mata kesal Mawar.
Bivendra yang bisa atur Mawar gunakan power anak kecil. Mawar pasti tak berkutik pada Bivendra. Joko bersyukur anak Riyan tak sepintar Bivendra. Coba kalau anak Riyan yang lamar Mawar. Joko rasa kemungkinan besar Mawar akan luluh juga.
"Rumah ini saja biar mami tak pergi lagi." kata Bivendra ringan.
"Ok...Papi akan panggil pengacara urus suratnya hari ini juga. Besok nikah."
Semua melongo lihat cara Joko dan Bivendra diskusi soal mahar Mawar. Seperti diskusi beli baju saja.
"Biven...jangan konyol seperti papi nak!" bujuk Mawar lembut.
"Ngak konyol mami. Endra tak sabar ingin mami tinggal bersama Endra. Besok ya mi!"
"Ngak bisa gitu! Kan harus ada persiapan. Kita harus cari pakaian layak, penghulu juga hubungi kerabat. Ya kan papi?" Mawar sengaja menekan kata papi biar Joko sadar dia telah berbuat kesalahan menetap hati pernikahan sembarangan.
"Kita tak punya kerabat. Soal pakaian gampang dan penghulu juga gampang. Sekarang juga ada. Gini saja! Lusa saja! Besok kita cari pakaian pantas dan langsung nikah. Mahar akan kuurus hari ini juga. Cukup sekian. Jadi kalian tak perlu pulang ke kampung dulu sampai hari nikah kami. Resepsi kita laksanakan bulan depan. Aku beri waktu satu bulan untuk kalian bersiap di kampung. Kita adakan pesta di kampung dan di sini." Joko yang putuskan rencana pesta.
Ayumi dan Dahlia kontan patah hati Mawar makin kokoh sebagai ratu dari istana mewah. Raja tampan dan Ratu cantik dalam satu rumah. Kelak pangeran yang bakal hadir jamin jadi primadona cewek.
"Kami terima." jawab Bu Hanif cepat biar Mawar tak menolak lagi. Bu Hanif senang bukan main Mawar temukan jodoh lebih baik dari Riyan. Biarlah Riyan berkabung untuk segala yang telah dia lakukan pada Mawar.
"Terima kasih.. sekarang kita satu keluarga jadi jangan sungkan! Kalian ada rencana mau main ke mana biar diantar oleh supir."
"Ke mana saja nak! Kami mana tahu tempat main di sini." sahut Bu Hanif lagi. Bu Hanif yang aktif bicara karena keluarga pak Hari sudah K O kena pukulan telak dari Joko. Kedua anaknya yang di banggakan tak ada harga sama sekali di mata Joko. Justru Mawar yang sederhana sukses rebut posisi penting di hati Joko.
"Baik...malam ini kita nginap di villa ya! Kalian bersiap untuk ke sana. Aku akan minta supir antar kalian langsung ke sana. Aku dan Mawar akan menyusul."
"Pak..Biven besok sekolah. Dia tak mungkin pergi. Kalau bapak mau pergi biar Bivendra bersama aku di sini." Mawar menolak ikut ingat sekolah Bivendra.
Inilah yang disukai Joko dari Mawar. Tidak egois hanya pikir diri sendiri. Kali ini dia telah menemukan wanita yang cocok untuk anaknya.
Dahlia dan Ayumi bersorak Mawar tidak mau ikut ke villa berarti mereka punya kesempatan rayu Joko. Mahar segunung itu belum tentu jadi milik Mawar. Modalnya tentu saja kenekatan. Bisa bawa Joko ke tempat tidur itu kuncinya.
"Kalau gitu biarlah keluarga kamu berangkat duluan. Besok kita nyusul. Bukankah lusa hari Minggu?"
Mawar tidak membantah lagi karena Joko telah mengatur yang terbaik untuk menyenangkan keluarganya. Mawar bersyukur Joko mempunyai inisiatif baik memberi liburan penuh kenangan untuk keluarganya yang datang jauh dari kampung.
"Begini saja nak Joko! Tidak usah menyusahkan diri sendiri. Kita berangkat bersama saja kalau masih ada waktu. Bukankah Joko akan disibukkan oleh rencana pernikahan kalian. Kita main sekitar sini saja." Bu Hanif ambil kebijakan tidak mengganggu rencana Joko mengurus pernikahannya. Bu Hanif tidak ingin rencana bagus ini berantakan gara-gara ingin menyenangkan mereka.
__ADS_1
Dahlia kesal bukan main ke pada Mak tuo nya itu. Perempuan tua itu telah merusak mimpinya untuk menjadi seorang ratu di istana mewah. Dasar perempuan tua tidak tahu diri omel Dahlia di dalam hati.
"Terima kasih Mak Tuo! Kalau gitu aku akan minta supir antar kalian ke tempat yang bagus untuk habiskan waktu. Gimana kalau ke Monas dulu. Rasanya belum afdol ke ibukota bila tidak main ke Monas. Ya kan?" tawar Joko.
"Terserah nak Joko! Mawar ikut kan?" tanya Bu Hanif berharap Mawar bisa ikut bergembira dengan mereka.
Mawar menatap Joko minta pendapat ikut atau bantu Bivendra bikin pr. Mawar tak berani ambil keputusan karena ini semua gunakan fasilitas Joko.
"Ikut saja. Yang lain biar aku yang atur."
"Endra ikut dong! Mami tega terlantarkan anak mami yang manis?" teriak Bivendra masih bertengger di lantai dua. Anak kecil ini mengikuti perkembangan percakapan para orang tua. Bivendra bukannya mau kurang ajar tau kuatir Mawar dirugikan oleh keluarganya yang aneh. Punya muka lebih tebal daripada kulit badak.
"Papi ijinkan tapi nanti tetap harus kerjakan pr ya!"
"Siipp...Endra ganti baju dulu!"
Joko segera mengatur transport ke tempat rekreasi buat keluarga Mawar. Joko kerahkan dua mobil untuk angkut dua keluarga itu. Satu mobil tidak sanggup menampung sedemikian banyak penumpang. Dua mobil cukup untuk angkut keluarga Mawar.
Joko memberi Mawar satu kartu untuk bekal belanja. Joko takut orang tua Mawar minta dibelikan sesuatu di tempat rekreasi nanti. Joko wajib gunakan uangnya biayai perjalanan keluarga Mawar untuk tunjukkan tanggung jawab sebagai calon suami Mawar.
Mawar memandangi kartu sebesar kotak korek api dengan hati gundah. Belum apa-apa sudah gunakan uang Joko. Takutnya dianggap poroti harta Joko nanti.
"Pak..."
"Hubby..." ralat Joko ketularan Bivendra paksa Mawar panggil dia dengan panggilan sayang.
Dahlia buang muka tak mau lihat adegan mesra antara Joko dan Mawar. Adegan ini bikin Dahlia mual karena dia yang seharusnya jadi permata hidup Joko. Dalam dunia batu akik Dahlia bisa disebut batu black Jade karena warna kelam. Sedangkan Mawar bisa disebut batu mahal idocrase. Di sinilah letak perbedaan Mawar dan Dahlia. Kedua jenis batu ini sangat terkenal di Aceh karena memang batu akik asli dari Aceh.
Bivendra sudah turun dari atas berganti pakaian santai. Seragam sekolahnya telah bertukar baju santai untuk main. Anak itu langsung memeluk lengan Mawar dengan manja.
"Siap berangkat!" seru Bivendra tampil beda. Suaranya ceria tak gambarkan Bivendra dingin. Darahnya yang dingin telah hangat.
Joko pangling lihat anaknya berubah total. Dari dulu Bivendra tak suka keramaian berkesan tutup diri. Jarang bicara dan selalu menatap orang dengan pandangan curiga.
Mawar telah hangatkan dunia Bivendra dengan cinta kasih. Apa Mawar sanggup lumerkan hati Joko yang telah lama membeku.
Anwar jadi kepala panitia kawal keluarga Mawar jalan-jalan sekitar kota J. Tentu saja atas perintah Joko. Lelaki itu dengan senang hati mengawal keluarga calon isteri bos. Anwar belum tahu Joko telah melamar Mawar tap feeling laki ini mengatakan Mawar secepatnya akan menjadi nyonya rumah bosnya.
Anwar bekerja dengan baik kawal keluarga Mawar dari satu tempat ke tempat lain. Tak ada kata keluhan dari mulut lelaki bujang lapuk itu. Anwar bekerja dengan setia demi jaga muka Joko.
Terakhir Anwar bawa keluarga ini jalan-jalan ke pusat perbelanjaan cuci mata orang dari jauh ini. Bu Tiara minta dibelikan baju gamis dan tas lumayan mahal.
Mawar menjadi tak enak hati tolak permintaan Bu Tiara. Joko sudah pesan belikan apa yang diinginkan keluarga Mawar.
Mawar terpaksa beli barang yang sama untuk Bu Hanif agar jangan dibilang berat sebelah. Semua kuras uang Joko di dalam kartu. Berkali-kali Mawar gesek kartu untuk bayar belanjaan ibu tiri dan Mak tuo nya. Masih untung Ayumi dan Dahlia tidak ikutan kesambet setan belanja.
__ADS_1