Guru Bimbel Itu Ibu Sambungku

Guru Bimbel Itu Ibu Sambungku
BAB 13 Mengingat kembali


__ADS_3

Suara Larissa bernyanyi dengan asik bersama Yumna kini terhenti ketika Yumna berucap


"Papah,,,Papah,,,,Papah,". Ucap Yumna


Yumna mulai melangkah dan mendekati papahnya. Larissa mulai memutarkan badan Larissa tampaklah lelaki yang dikenalinya kini ada dihadapan.


"Bukankan dalam minggu kemarin aku melihatnya . Apa itu papahnya Yumna?". Gumam dalam hatinya Larissa.


Penampilan Larissa yang sederhana mulai menarik untuk di lihat dari atas sampai bawah oleh tuan Revan Kurniawan Wijaya. Larissa nampak risih dengan melotot mata tuan Revan. Sesekali Larissa mulai malu akibat terlalu menikmati lagu yang dinyanyikannya dengan Yumna.


Suara Larissa yang bagus membuat tuan Revan menghentikan langkahnya. Suara ini sungguh indah. Tapi tuan Revan hanya menggendong tuan putri kesayangannya tanpa memuji dan berbicara dengan ibu guru Larissa.



Gambar diatas hanyalah sebagai ilustrasi


"Papah ...papah habis dari mana" . Tanya Yumna.


"Papah habis dari bekerja yumna. Yumna belajar lagi yah . Papah mau bersihkan badan dulu . Papah mau berendam, papah capek habis bekerja" . Ucap Revan terhadap anak semata wayangnya.


"Gak mau!!! . Maunya sama papah !!!. Yumna sudah lama belajar Papah". Sahut Yumna


"Belajar lagi yah nak, Biar Yumna pintar".Timpal Revan kepada putrinya


"Enggak mau. Enggak mau Papah!!!" . Pinta Yumna yang tidak mau beralih dari gendongan Papahnya.


Yumna mulai manja dan memeluk erat leher papahnya.


"Erat sekali pelukanmu .Papah bau loh belum mandi dari pagi tadi" . Revan mulai berbohong kepada putrinya.


"Wook, ". Ucap Yumna .


Suara itu mulai membuat Yumna risih dengan ucapan papahnya.


"Ya sudah ayok belajar lagi Yumna!!". Suruh Revan.


"Bu guru tolong gendong Yumna. Yumna mau digendong". Pinta Yumna dengan manja


Suara itu lantas mengagetkan Larissa dari pemandangan percakapan antara papah dan anaknya .


"Jangan dong nak .Ibu guru kan kecil. Mana bisa menggendong Yumna yang udah besar seperti ini". Sahut tuan Revan.


Tinggi Larissa hanya 155 dengan berat badan sekitar 45 kg . Tubuh kecil yang Larissa miliki menjadi kendala Larissa untuk menggendong Yumna dari pelukan sang papahnya dengan tinggi 180 cm dengan berat badan sekitar 65 Kg.


Yumna mulai memanggil Larissa.


"Bu Guru gendong, Bu Guru gendong". Ucap Yumna dengan manja.


Larisa mulai memberanikan diri untuk mendekati tuan Revan Kurniawan Wijaya. Larissa mulai memegang Yumna dan tatapan antara tuan Revan dan Larissa mulai beradu karena Yumna. Yumna mulai heran ketika papahnya mulai memandang bu Larissa tanpa kedipan sedikitpun . Begitupun dengan Larissa. Larissa kagum akan bentuk fisik tuan Revan.


"Dari jauh bu Najwa terus mengawasi perilaku Larissa.


"Awas kamu jatuh cinta sama tuan ku. Akan aku habisi kamu" . Bu Najwa kesal dengan Larissa dan melampiaskan dengan memutar memutar kemoceng yang ada ditangan Bu Najwa.

__ADS_1


"Sini pak biar saya gendong Yumna .Saya kuat kok". Ucap Larissa.


"Larissa mulai meraih Yumna pada pelukannya. Yumna mulai beralih gendongan. Sekarang Yumna ada digendong Larissa".


Revan mulai mengelus pucuk kepala putrinya.


"Pintar pintar yah nak. Papah mau mandi dulu, jangan nakal . Papah sebentar saja . Sama ibu guru dulu ya". Ucap Revan


Sesekali Revan melirik Larissa. Larissa mulai malu dan memerah kedua pipinya .


"Papah,,,, Papah,,, Pappah. Bye,,,Bye,,,,Bye". Ucap Yumna


Lambaian tangan Yumna saat Larissa menggendong membuat pertemuan antara Revan dan Larissa terhenti. Larissa membawa Yumna kembali belajar.


"Yumna sepuluh menit lagi akan berakhir pembelajaran ibu . Nanti tiga hari lagi kita akan bertemu. Jangan lupa Yumna terus belajar ya. Ini ada dua buku nanti dua buku ini akan kita pelajari bersama ditiga hari mendatang . Ini bukunya ditinggal disinilah Yumna". Ucap Larissa.


Tak terasa pembelajaran telah selesai


Hujan rintik telah membasahi semesta. Kini tiupan angin dan juga guntur saling beradu. Kepulangan Larissa mulai disambut oleh pelayan tuan Revan. Mereka membungkuk ketika Larissa sedang lewat. Ini adalah penghormatan pelayan kepada tamunya.


Larissa mulai membuka pintu tampaklah hujan badai mulai menyambut kepulangan Larissa. Dari dalam rumah tidak terdengar akan hujan dan angin kencang seperti ini. Kini Larissa mulai masuk kembali dan menunggu diruang tamu.


Untuk menunggu hujan reda waktu sudah menunjukan pukul 17:30 . Hujan tak kunjung reda. Tak terasa kini waktu menunjukan pukul 18:00 . Hujan sudah mulai sedikit berlalu. Tapi masih dengan guntur dan angin yang kencang. Larissa lebih memilih menunggu lagi untuk benar benar meredakan keadaan .


Larissa mulai sedari tadi hanya memainkan ponselnya . Pelayan yang mulai berlalu lalang mulai memperhatikan Larissa. Larissa jadi tidak enak hati untuk berlama lama dirumah orang sebesar ini.


Baru saja ingin melangkahkan kaki terdengar bunyi sepasang sepatu yang sedang beradu dalam melangkah. Siapa lagi jika bukan tuan Revan dengan gagah dan wanginya akan aroma parfum yang segar membuat rasa lelah Larissa kini mulai bersemangat ketika mencium aroma semerbak tuan Revan.


"Terima kasih atas tawarannya tuan tapi sepeda saya bagaimana?". Tanya Larissa.


"Itu bisa diantarkan oleh supir saya". Sahut Revan


Larissa berpikir jika tidak pulang cepat dengan tuan Revan Larissa akan lebih lama lagi menunggu semuanya berlalu . Hingga akhirnya Larissa mulai memutuskan untuk mengiyakan ajakan tuan Revan.


"Pak Robi tolong bawakan mobil sedan hitam ke halaman rumah. Saya ingin mengantarkan ibu guru Yumna".


"Baik pak Revan". Ucap Robi .


"Papah,,,,, Papah". Suara itu menghentikan langkah kaki Revan.


"Iya nak ada apa ?". Tanya Revan.


"Papah Yumna mau ikut". Rengek Yumna.


"Iya boleh ikut" . Akhirnya Revan, Larissa, dan Yumna, mulai menuju mobil.


"Yumna ayo kita berangkat mobilnya sudah datang" . Ajak pak Revan.


"Baik papah". Papah Yumna maunya didepan rengek Yumna


"Iya silahkan didepan saja". Sahut Revan.


Pemandangan ini membuat bu Najwa kecewa kepada Larissa.

__ADS_1


"Wanita ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus punya rencana untuk menjauhkan nya dari tuan dan tuan putriku .Baru kali pertama masuk kerja disini sudah diperlakukan seperti ini bagaimana nanti kedepannya". Gumam hati bu Najwa.


Kini pak Robi siap untuk melajukan mobilnya . Revan dan Larissa berada dibelakang. Sedangkan Yumna dan Pak Robi berada didepan.


Disepanjang jalan Larissa tidak berbicara apa-apa . Larissa hanya membuang pandangan keluar . Begitupun dengan Revan . Revan hanya asik dengan layar handphone dan tablet untuk membalas email pekerjaan.


"Papah Yumna mau beli susu coklat . Susu coklat Yumna sudah habis" . Rengek Yumna untuk pintanya dituruti.


Suara Yumna membuyarkan pekerjaan Revan dan pandangan Larissa .Pandangan mereka berdua tertuju menatap Yumna


"Ya nanti papah belikan kalau sudah mengantar ibu guru".Sahut Revan


"Tidak mau !!!!. Yumna maunya sekarang Papah sekarang. Yumna suka sekali susu coklat". Pinta Yumna dengan rengekan Yumna .


Yumna sekarang mulai merengek dan memohon agar pintanya dituruti . Perasaan pak Revan tidak tega dengan anaknya hingga akhirnya pak Revan berucap


"Ibu guru saya harus mini market untuk berbelanja sebentar. Baru setelah itu mengantarkan bu guru pulang menuju rumah Bagaimana ?". Tanya Revan kepada Larissa.


Larissa mulai mengangguk kepala sebagai tanda mengiyakan . Larissa tidak ada pilihan . Jikapun untuk menolak tidak. Bagaimana untuk pulang . Saat ini situasi masih dalam suasana hujan yang tidak berhenti.


"Pak Robi kita mini market sebentar untuk membeli susu coklat kesukaan anak saya. Dan juga buah segar untuk ibu saya ". Ucap pak Revan.


"Baik pak". Ucap pak Robi dan melajukan mobilnya .


Sesampainya pada minimarket. Revan turun diikuti dengan Larissa dan Yumna. Pak Robi hanya menunggu mobil dan memandang mereka bertiga.


"Mereka bertiga seakan menjadi keluarga yang utuh. Andai mendiang ibunya yumna masih hidup. Munkin gambaran seperti inilah yang akan ada didepan ku". Gumam Pak Robi dalam hati.


Revan mulai membawa troli. Disana Revan mulai mengambil cemilan dan beberapa jenis biskuit. Buah-buahan dan juga susu cokelat kesukaan anaknya. Tak lupa Revan membelikan Ibu Guru bolu gulung sebagai tanda terima kasih Revan kepada Ibu Guru untuk hari pertama mengajari Yumna ilmu.


"Papah papah...". Ucap Yumna


Ditangan tangan Yumna sudah ada dua macam mainan. Ditangan kiri ada mainan memasak-masakan dan disebelah kanan Yumna ada mainan anggota keluarga. Disana Yumna mengambil dan menjelaskan kepada Larissa dan Revan.


"Papah mainan ini untuk Yumna masak-masak. Tapi yang ini adalah untuk keluarga kita . Ada Yumna, Papah, Mamah Kakek, Nenek, Bu Najwa, Pak Robi,". Ucap Yumna


"Satu ini untuk siapa?". Tanya Revan kepada anaknya.


Anaknya mulai melirik Larissa.


"Ini ibu Larissa. Ibu guru Yumna". Ucapan celoteh Yumna yang menggemaskan .


Larissa terheran-heran dengan perilaku lucu seorang anak lima tahun dengan celotehnya. Tanpa disadari tuan Revan menatap tajam Larissa. Mata Larisa dan Revan saling beradu. Pipi Larissa mulai memerah.


Kini pak Revan mulai menuju kasir. Pak revan mulai membayar belanjaan yang telah dibeli . Tak terasa waktu berbelanja sudah selesai. Kini saatnya kembali ke parkiran mobil.


Diparkiran mobil tampaklah Pak Robi mulai menyambut dan memasukan barang bawaan pak Revan . Larissa hanya menuntun Yumna. Dari sisi kiri mobil tampaklah Adit yang baru membuka pintu mobil.


"Larissa". Ucap Adit menyapa.


Adit nampak bingung dengan Larissa yang sedang menuntun anak kecil .Bukankah Larissa kerja les pribadi. Terus mengapa dia sedang bersama dua orang dewasa dan anak kecil.


"Apa Larissa sedang menjadi baby sister mereka untuk menambah uang jajan harian". Gumam hati Adit bertanya-tanya.

__ADS_1


__ADS_2