
Dua hari kemudian
Terik matahari mulai memancarkan cahayanya . Embun pagi mulai menghilang secara perlahan . Seperti hari biasa aktivitas Larissa bersekolah di pagi hari hingga akhirnya pulang habis sore hari. Kini Larissa mulai ada di ruang keluarga. Hari ini Larissa tidak mengajar. Karena Larissa libur Les mengajar Anak-anak.
Ayah yang mulai berjalan dan tertatih-tatih dalam melangkahkan kakinya mulai menghampiri Larissa. Sesekali mereka berdua saling bercengkrama satu sama lain. Ayah mulai menanyakan sesuatu hal kepada Larissa.
"Sepertinya Ayah tidak ingin hidup lebih lama lagi. Tapi sebelum ayah meninggal Ayah ingin sekali melihat kamu menikah terlebih dulu . Walau keadaan Ayah tidak sesehat seperti dulu lagi". Ucap Ayah berputus asa dalam hidup karena keadaan.
"Jangan ngomong seperti itu Ayah. Larissa yakin Ayah pasti panjang umur. Ayah pasti akan melihat Larissa bersama dengan pasangan Larissa kelak". Sahut Larissa dengan raut wajah sedih.
"Aamiin mudah-mudahan. Tapi Larissa, Lihatlah ayah. Untuk berpakaian saja Ayah harus minta tolong terhadap ibumu sampai saat ini. Ayah tidak ingin merepotkan hidup kalian hanya karena kesehatan Ayah sedang seperti ini". Timpal Ayah.
"Ayah sampai kapanpun ibu dan Larisa akan terus menyayangi Ayah. Baik dalam keadaan seperti ini ataupun nanti. Entah Seperti apa lagi Larissa Dan ibu akan siap menemani hari-hari Ayah. Ayah jangan berucap seperti itu. Ayah Larissa takut akan kehilangan ayah jika secepat ini". Sahut Larissa dengan wajah sedih.
Ayah mulai mengatakan wasiatnya kepadanya Larissa.
"Jika suatu hari kamu menemukan laki-laki yang terbaik dari hidupmu. Maka pilihlah dia, Jadikanlah dia sosok suamimu. Ayah akan merestuimu dengan sepenuh hati Ayah. Ayah rasa umur ayah sudah tak panjang lagi". Ucap ayah kembali yang benar benar pasrah akan kehidupan duniawi .
Jika melihat kondisi Ayah seperti ini sungguh Ayah meneteskan air mata dalam keputus asaan hidupnya. Ayah yang tak mampu bekerja dan tak mampu pula menafkahi keluarganya membuat hati dan hari-hari ayah hancur karena keadaan.
Lagi-lagi tak terbendung air mata seorang ayah yang menginginkan kematian dalam hidupnya. Hati Larissa sesekali sedih tapi , Larissa sangat gengsi untuk mengeluarkan air mata di hadapan ayahnya. Larissa tak ingin menambah beban pikiran lagi. Larissa hanya berfokus untuk bekerja karena satu minggu lagi Larissa akan mendapatkan Gajihan.
Telepon Larissa mulai berdering. Tampaklah notifikasi dari Tante ana.
" Larissa maaf untuk Minggu kemarin anak muridnya tidak jadi les karena sakit. Jadi persiapkan dirimu untuk Minggu mendatang agar bisa mengajar Les anak tersebut. Ucap Tante anak melalui pesan Whats App
"Baik tante Anna". Ucap Larissa membalas pesan.
"Ayah mau dibikinkan kopi". Tanya Larissa pada Ayah.
" Tentu bikinkan kopi hitam ya Nak". Pinta Ayah. Ayah sangat suka dengan kopi hitam
Tak lupa dengan sepenuh hati dan jiwa Larissa membuatkan kopi hitam kesukaan ayah. Larissa mulai memberikan Secangkir Kopi kepada ayah dan secangkir kopi untuk dirinya. Mereka berdua saling meminum kopi dan menikmatinya.
Meminun kopi membuat pikiran Ayah agak sedikit tenang setelah ucapan tadi .Tersiratlah senyum yang terukir indah diwajah Larissa yang memandang Ayah.
Ayah mengusap kepala Larissa dan mendoakannya di sana .
"Ayah Larissa mau pergi membeli gula dulu ke depan sana. Soalnya ada juga beberapa bahan dapur yang habis. Larisa ada punya sedikit uang untuk membeli bahan-bahan tersebut". Ucap Larissa
" Baiklah Jangan lama-lama karena hari sudah mulai sore". Ucap Ayah.
Larissa mengambil dompet, Jaket dan sepedanya untuk menuju mini market yang jaraknya sangat dekat dari depan gang rumahnya. Larissa mulai mengayuh sepedanya secara perlahan. Kini Larissa telah sampai dan berada di minimarket. Larissa memilih beberapa item bahan dapur untuk dimasukkan di dalam troli.
Larissa membeli satu liter minyak goreng , Satu kg gula, dan Sebungkus garam. Tak lupa beberapa snack yang akan Larissa buat untuk cemilannya di kamar. Larissa mulai pergi ke kasir dan membayarnya. Ketika Larissa ingin menuju pulang kerumah. Larissa mengayuh sepedanya secara tergesa-gesa mengingat Ayah yang sendirian di rumah. Karena ibu sedang bekerja di rumah tetangga untuk membantu pekerjaan paruh waktu di sana.
Tanpa sengaja Larissa menyalip sepeda motor yang ada di belakangnya. ketika Larissa ingin menyeberang nampaklah mobil sedan berwarna merah dengan merek BMW yang melaju dan terjadi tabrakan tak terkendali yang dilakukan oleh seseorang yang menabrak Larissa.
Larissa terjatuh dan tersungkur di atas jalan aspal . Seorang lelaki dewasa mulai menuruni mobilnya dan melihat Larissa yang pingsan berada di sana. Syukurlah tidak ada warga yang melintas karena jalanan itu nampak sepi karena hari yang mulai gelap.
Lelaki itu membawa Larissa dan menelpon seseorang untuk mendatanginya agar membawa sepeda Larissa. Lelaki itu mulai menuju rumah sakit dan membawa Larissa di sana. Larissa yang mulai tak sadarkan diri kini telah berada di ruangan unit gawat darurat. Nampaklah tali infus terpasang di tangannya. Larissa tidak ada luka tapi, Dia hanya terkejut dan pingsan ketika berada di lokasi kecelakaan itu.
__ADS_1
Dari sudut ruangan seseorang itu sedang menelpon
"Halo tolong katakan pada ibu kalau saya berada di rumah sakit. Saya sedang menabrak seorang wanita. Tapi tidak apa-apa, Dia hanya pingsan. Sebentar lagi dia juga akan pasti siuman dan saya akan membawanya pulang". Ucap Seseorang yang sedang menelpon.
"Aduh". Suara Larissa mulai berucap. Lelaki itu mulai memalingkan wajahnya dan mendatangi Larissa.
"Aku ada di man?" Tanya Larissa.
" Kamu ada di rumah sakit. Tadi saya tidak sengaja menabrakmu". Ucap seseorang itu.
" Mengapa tanganku diinfus. Aku sungguh Tidak apa-apa. Bahkan tidak ada luka ditubuhku ". Ucap Larissa memeriksa Fisiknya.
"Kamu tadi aku tabrak .Tapi kamu langsung pingsan disana , Waktu pun membawamu ke rumah sakit ini". Ucap seseorang menjelaskan kejadian.
"Kalau begitu Antarkan aku pulang. Aku takut ayah dan ibuku khawatir. Aku tidak apa-apa badanku sehat-sehat saja. Lihatlah aku hanya terkejut dan pingsan saja. Larissa sedikit berjalan meski terseok-seok akibat syok akan kejadian kecelakaan sore tadi
"Sepertinya kamu besok saja untuk pulang. Fisikmu sungguh tidak memunkinkan untuk kembali kerumah. Kamu dari man? Aku akan menelpon orang rumah Jika kamu membutuhkan". Ucap seseorang
"Tidak usah. Aku tidak apa-apa. Larissa mulai nekat untuk melepaskan tali infus dan berjalan secara perlahan tiba-tiba Bruk suara tubuh Larissa ambruk tepat berada di atas dada seseorang itu. Seseorang itu pun buru-buru memencet tombol darurat yang ada di rumah sakit.
Para perawat dan dokter mulai berdatangan dan mengangkat Larissa yang sedang pingsan. Saat tubuhnya telah berada di atas ranjang. Larissa ditangani perawat dan dokter disana
"Tolong pindahkan wanita ini ke ruang VVIP Aku tidak ingin banyak orang mengetahui tentang hal ini". Ucap seseorang meminta kepada perawat untuk dipindahkan Larissa ke ruang VVIP.
Kini Larissa berada di ruang VVIP yang nampak mewah bak hotel bintang 5 di Rumah Sakit Insan Nugroho. Sungguh ternama rumah sakit itu di kota Bandung. Seseorang itu sungguh kaya raya dan membawa Larissa ke ruangan ini. Larissa mulai terbangun kembali dari pingsanya. Samar-samar Larissa membukakan matanya dengan perlahan. Penglihatannya mulai terlihat nampak kebingungan Larissa dari ruang sebelumnya.
"Di mana aku? Apa yang terjadi?" Ucap Larissa.
"Kamu berada di ruangan VVIP di salah satu di Rumah Sakit Insan Nugraha di kota Bandung Nona". Ucap Perawat yang menjelaskan. Banyak perawat dan dokter yang berjajar melayani Larissa di Rumah Sakit ini. Sungguh memuaskan pelayananya karena seseorang ini memesannya khusus untuk merawat Larissa .
Larissa yang terheran-heran akan pelayanan yang berlebihan justru ingin meminta pulang.
"Aku ingin pulang. Ayah dan Ibuku pasti menungguku di rumah. Waktu sudah menunjukkan pukul 20.10 Malam. Larissa mencoba untuk pulang. Tapi dokter berusaha mencegahnya.
"Jangan Nona, Nona sedang sakit ."Ucap dokter tersebut.
"Tidak apa-apa. Coba lihat aku sudah sehat Aku tidak kenapa-kenapa. Sudah bisa aku untuk meminta pulang dari rumah sakit ini ". Sahut Larissa yang sedikit lemas tapi memaksakam diri untuk pulang.
" Tapi nona". Ucap Dokter dengan menekan pembicaraan.
" Tidak!. Aku ingin pulang. Kalau kalian tidak memulangkan. Aku yang akan pulang sendiri". Ucap Larisan dengan Ketus.
seseorang itu pun mulai memasuki ruangan VVIP yang dipesannya sedari tadi.
"Ada apa ini?" Ucap seseorang dengan penuh kebingungan.
"Maaf tuan Nona ini ingin pulang dengan memaksa kesehatanya "Ucap dokter menjelaskan.
"Bukankah dia masih sakit". Ucap seseorang.
" Tidak, Saya sudah sehat dan saya sudah mampu berjalan. Saya juga mampu memandang dengan baik. Penglihatan saya normal. Saya ingin pulang". Ucap Larissa dengan ketus.
__ADS_1
"Kalau begitu Jika kamu ingin pulang juga aku akan mengantarkanmu". Ucap seseorang.
"Kalau boleh tahu siapa namamu?" Tanya seseorang.
"Namaku Larissa. Tuan bisa memanggil aku Larissa. Nama kamu siapa?"
Abrian Affanda Brawijaya. Foto diatas hanyalah sebagai ilustrasi.
"Nama aku Abrian Affanda Brawijaya. Kamu bisa memanggilku Abrian". Ucap seseorang itu.
Baiklah saya akan mengantarkan anda pulang .Abrian mulai memperbolehkan Larissa untuk pulang.Tak lupa para dokter memberikan kursi roda untuk Larissa.
Kini kursi roda didorong oleh abrian . Sepanjang perjalanan tidak ada pembicaraan dintara mereka.
Disudut tempat lain Diva sedang melihat sesuatu.
"Bukankah itu Larissa. Mengapa dia berada dirumah sakit". Ucap Diva yang kebetulah melintas disana.
"Diva". Ucap mamanya
"Lamunan itu menghentikan pemandangan Diva yang melihat Larissa dikursi roda dengan seseorang.
Iya mamah ucap Diva.
Ayok kita pulang sahut mamanya .
Baiklah.
Diva yang menemani mamanya dirumah sakit karena rmamanya sedang cek up kesehatan nya disana . Diva dan mamanya menunuju parkiran.
Lanjutanya
Abrian mulai menggandeng Larissa untuk menuju memasuki mobilnya.tidak jauh dari sana diva melihat dengan jelas cinta pertamanya sedang sakit dan disentuh oleh seorang lelaki .diva menggemgam kedua tanganya seraya menahan cemburu.
Abrian dan Larissa mulai melajukan mobilnya dan memecahkan kesunyian malam diantara mereka. Tidak ada pembicaraan disana. Hanya sesekali larissa menunjuk nunjuk untuk arah belok kemana rumahnya.abrian juga mengurungkan niatnya untuk banyak bicara mengingat keadaan Larissa sekarang.
Tak terasa dua puluh menit sudah mereka berada diperjalananan dan menghantarkan Larissa smpai ke depan rumah.
Tok,,,,,Tok,,,,,,Tok.
Ketukan pintu mulai beradu waktu menunjukan pukul sembilan malam. Ayah yang khawatir memikirkan putri semata wayangnya kini mulai membukakan pintu. Larissa yang batu keluar rumah sakit tidk ada luka apa apa.
ayah dan ibu bingung ketika Larissa diantarkan oleh seorang lelaki tampan. Ayah dan ibu mulai saling berpandangan satu sama lain. Larissa mulai mengucapkan "Assalamualaikum". Ucap Larissa Lalu masuk dan berlalu dari pandngan orang tuanya.
Larissa sangat melelahkan hari ini. Larissaa masuk dan mengunci pintu kamar. Larissa takut akan banyak beribu pertanyaan dari ayah ibunya. Seseorang itu mulai berbicara kepada ayah dan ibu Larissa.Abrian memberikan penjelasan tentang apa yang terjadi diantara Larissa dan Abrian.
Abrian memberikan kartu nama untuk masalah ke depannya sebagai bentuk tanggung jawab Abrian. Ayah dan ibu mengangguk dan paham atas apa yang terjadi. Kini ayah dan ibu mulai menutup pintu rumah. Kartu nama itu sebagai jaminan untuk tanggung jawab Abrianterhadap putrinya.
Ayah dan ibu tidak ingin memberi pertanyaan kepada Larissa. Sebab ayah dan ibu paham atas kejadian hari ini yang telah dijelaskan oleh Abrian. Ayah dan ibu mulai memasuki kamarnya dan menghempaskan tubuh di sana untuk tidur bersama.
__ADS_1