
Satu hari menjelang hari pernikahan. Waktu begitu cepat berlalu. Larissa dua puluh empat jam lagi yang akan menjadi seorang istri dan bagian dari keluarga Wijaya. Larissa yang terduduk di di pinggir ranjang menatap dengan sendu akan gaun pernikahan yang akan dia kenakan di hari besok. Teka-teki akan lelaki seperti apa yang akan menikahinya.
Larissa pun tidak tahu nama dari lelaki yang akan menikahinya. Ayah bahkan tidak memberi tahukan tentang ciri-ciri dari laki tersebut. Padahal Larissa sangat berharap untuk ayah memberikan satu foto untuknya mengetahui akan seorang sosok laki-laki akan menjadi suami Larissa.
Larissa hanya bisa berharap dan selalu berbaik sangka kepada Tuhannya.
" Larissa,,,, Larissa,,,, ". Suara yang memanggil dan ketukan pintu yang mulai beradu. Ternyata Ibu memanggil Larissa. Larissa mulai berdiri dan membuka gagang pintu. Ibu mulai berbicara empat mata dari depan kamar Larissa. Larissa mengerti atas apa yang diucapkan oleh ibu. Larissa mulai kembali ke kamarnya. Larissa sangat lelah untuk menghadapi kenyataa ini.
Larissa hanya ingin berada di kamarnya. Lagi-lagi pikiran akan pernikahan Larissa selalu menari-nari diatas pikiranya. Pernikahan ini benar-benar ada di depan mata . Sungguh sedih hati Larissa. Larissa sungguh ingin sekali menikah dengan laki-laki yang kelak mau menerimanya Apa Adanya.
Larissa juga ingin menikmati masa remajanya. Tapi, sayangnya di waktu SMA dengan usia 18 tahun ini. Larissa harus merelakan dirinya untuk menikah dengan anak Tuan Azka Wijaya.
Tok,,,, Tok,,,,, Tok,,,,.
Ketukan pintu yang mulai beradu kini mulai dibuka oleh Mujahidin. Nampaklah laki-laki yang berdiri tegap di depan matanya lengkap dengan setelah jas yang senada dengan mereka mulai menatap Mujahidin. Tiga orang berada tepat di depan Mujahidin mulai tersenyum. Dia adalah suruhan dari pada Revan.
Revan memberikan satu pasang cincin dan seperangkat alat shalat untuk dijadikan mahar di hari besok. Revan sengaja memberikan barang-barang tersebut kepada calonnya. Agar calonnya bisa menghargai pemberiannya dan dipakaikan dihari besok. Setelah itu orang suruhan Revan pun pergi meninggalkan rumah Mujahidin.
Mujahidin mulai menaruh barang diatas meja keluarga yang dibawakan oleh suruhan Revan. Nampaklah dari paper bag ada kertas yang berisi ucapan dan doa yang ditulis dari Revan Kurniawan Wijaya untuk Larissa. Kini akhirnya Mujahidin mengetahui nama lengkap sang pemberi sekaligus calon menantunya.
"Larissa,,, Larissa,,,,". Ucap Ayah memanggil Larissa. Larissa yang mendengar suara teriakan Ayah mulai menghampiri ayahnya. Larissa yang mulai membuka ganggang pintu dan keluar dari kamarnya melirik barang yang ada di atas meja. Sesekali ayah memberikan senyuman tipis kepada Larissa. Larissa yang terheran-heran akan perilaku Ayah mulai bertanya.
" Ada apa Ayah". Tanya Larissa.
" Ini bawalah ke kamarmu. Ini pemberian dari calon suamimu. Namanya adalah ,,,,,.
Seketika suara ayah terhenti ketika ayah mendengar ibu memanggilnya.
"Ayah,,,, Ayah ,,,, Ayah,,,,, Ayah,,,," Ucap Ibu berteriak.
Suara ayah berbicara terhenti ketika mendengar Ibu berteriak memanggil namanya. Ayah pun mulai menuju suara dengan tertatih-tatih diikuti oleh Larissa.
__ADS_1
" Ada apa Bu?". Tanya Ayah.
" Bagaimana caranya untuk kita menyiapkan hari besok? Apa kamu bisa membantuku untuk mengupas bawang?" Ucap Ibu meminta tolong.
"Tidak usah repot-repot ibu. Untuk makan Besok juga kita tidak terlalu banyak orang. Bukankah Tuan Azka sudah membuat catering untuk acara besok. Karena hanya dihadiri dua belah pihak keluarga?". Jawab Ayah
" Bukan begitu Ayah. Kita juga harus memberikan jamuan makan terhadap mereka. Biarlah kita memberikan Makanan sup daging.Ibu telah membelinya dari uang yang pernah diberikan Tuan Azka dahulu kepada kita". Sahut ibu.
Ibu tersenyum dengan gembira karena mengingat kebaikan Tuan Azka. Larissa nampak biasa saja dengan kelakuan ibunya. Ayah mulai membantu mengupas bawang diikuti oleh Larissa. Dari dalam dapur mereka mulai menyiapkan masakan untuk menjelang hari besok pernikahan Larissa dan Tuan Revan Kurniawan Wijaya.
Masakan yang mereka masak pun kini telah selesai. Aroma harum yang sangat menggugah selera akan bumbu dapur yang siap dimasak Ibu untuk besok pagi hari. Larissa mulai kembali ke kamarnya. Ayah mulai kembali ke ruang keluarga diikuti oleh ibu. Ibu yang melihat di atas meja melihat paper bag nampak terheran-heran dengan benda itu.Ibu mulai menanyakan
" Apa ini ayah ?" Ucap Ibu yang menunjuk paper bag .
" Ini adalah barang yang diberikan oleh anak pak Azka. Namanya Revan Kurniawan Wijaya.
"Kok ditaruh disini sih. Nanti kalau hilang Bagaimana? Kamu ini gak telaten banget deh naruh barang sembarangan saja". Ucap Ibu kepada Ayah.
" Baiklah Ayah aku akan menaruhnya di kamar kita". Ucap ibu.
Ibu mulai membawa barang ke dalam kamarnya. Ayah tersenyum senang melihat nama lengkap calon menantunya.Meski ayah tidak tahu bentuk fisiknya. Tapi ayah terus berbaik sangka kepada Tuhanya. Mengingat Tuan Azka dari keluarga baik-baik dan Tampan. Pasti keturunannya juga demikian . Pikir ayah dengan berpikir Positif.
Kini hari sudah mulai menunjukkan jam 20.00 malam. Ayah, Ibu, dan Larissa mulai menuju dapur. Di sana mereka menghabiskan makan malam dan bercengkrama satu sama lain. Ibu menghibur Larissa agar tidak terlihat gugup untuk hari besok. Meskipun Ibu tahu Larisssa tidak mengetahui bagaimana fisik dari calon suaminya.
Begitupun dengan ayah dan ibu. Mereka tidak tahu bagaimana wujudnya. Tapi ayah dan ibu selalu mendoakan kebaikan untuk putrinya. Larissa nampak tidak nafsu makan , Ketika menyantap makanan yang enak. Ibu memaklumi hal tersebut. Karena pikir Ibu Larissa sedang memikirkan hari pernikahan di hari besok.
"Kok makannya sedikit sekali nak?. Sisa makananya kamu puter-puter di garpu saja ibu perhatikan.Apa masakan Ibu tidak enak?" Tanya ibu dengan antusias.
Ayah mulai melirik Larissa. Larissa hanya bisa tersenyum dan berkata.
Larissa sedang tidak enak makan Bu. Larissa sudah merasa kenyang. Lebih baik Larissa menyiapkan diri untuk hari besok. Bukankah besok hari pernikahan Larissa yang diinginkan oleh ayah dan ibu". Ucap Larissa menyudutkan Ayah dengan tatapan nanarnya.
__ADS_1
Ayah mulai tersenyum dan memegang pundak Larissa.
"Semoga pernikahanmu adalah pernikahan yang terakhir. Semoga kamu menjadi keluarga yang Sakinah, Mawadah, Dan Warahmah. Ayah dan ibu selalu mendoakan kebaikan Untukmu. Ayah yakin Tuan Azka pasti membalas kebaikan yang telah diberikan oleh kakek dan nenekmu dulu. Doa Ayah terhadap Larissa
" Aamiin. Hem,,,". Sahut Larissa
Tuan Azka sangat antusias untuk membalas Budi dari keluarga nenek dan kakek kamu Larissa". Ucap Ayah dengan tegas.
" Betul itu Larissa. Tuan Azka itu dari keluarga baik-baik. Ibu sangat yakin kepadanya kamu pasti akan menjadi orang di kemudian hari. Kamu mampu mengangkat derajat kehidupan dari keluarga kita. Bukankah keluarga kita dari kalangan yang tidak mampu. Hingga akhirnya Allah menghadirkan Tuan Azka untuk mengangkat derajat kita. Ayolah Larissa berkorban sedikit untuk keluarga ini. Ibu sungguh mendoakanmu untuk kebaikan pernikahan ini" Ucap Ibu meyakinkan Larissa dengan sepenuh jiwa dan raganya.
Lagi-lagi pikiran Larissa pun terbayang akan pernikahannya. Tapi Larissa selalu berbaik sangka kepada Tuhannya. Larissa berpikir jika kehadiran orang ini ialah pilihan Tuhan. Seorang yang mampu menerima kekurangan dan kelebihannya. Lagi-lagi Larissa termotivasi untuk hidup lebih baik.
Larissa sangat bertekad untuk memutar Roda Kehidupan di keluarganya. itulah Larissa wanita anak semata wayang dari pasangan Mujahidin dan Ibu Erna. Seorang wanita yang menikah muda dengan usia delapan belas tahun . Larissa yang mengorbankan diri untuk mengangkat derajat kedua orang tua dengan menikahi seorang lelaki yang bertahta dan berharta.
" Larissa,,,,. Larissa,,,,". Ibu memanggilnya dua kali. Larissa mulai tersadar dari lamunannya.
"Iya ada apa Ibu?" Tanya Larissa
"Itu tadi ibu menemukan barang di atas di ruang keluarga. Kata Ayah itu barangnya untuk besok. Isinya seserahan kamu, Terdapat sepasang cincin dan seperangkat alat shalat. Apa kamu ingin membawanya ke kamar kamu ?" Ucap Ibu bertanya.
" Tidak usah Ibu, Taruh di kamar Ibu saja. Larissa menunggu besok saja. Aturlah segala rencana untuk besok Ibu. Larissa hanya menurut apa kata ayah dan ibu saja". Ucap Larissa dengan lembut.
" Baiklah kalau begitu. Ibu akan menyimpannya di kamar ibu. Semoga kamu besok bahagia akan pernikahan yang tadi telah di sepakati oleh keluarga Tuan Azka dan Ayahmu". Ucap Ibu menepuk bahu Larissa dan menguatkannya di sana.
" Ingin rasanya Larissa menangis dan menolak pernikahan ini di hadapan kedua orang tuamu. Tapi Larissa harus bisa mengorbankan dirinya untuk mengangkat derajat kehidupan keluarganya. Rasa ketidak inginan pun dia singkirkan untuk mengangkat derajat kehidupan keluarga Larissa.
Makan malam telah selesai Ibu mulai mencuci piring. Ayah mulai pergi menuju ruang keluarga untuk menonton Televisi. Larissa hanya ingin kembali dan berada di kamarnya. Sesekali dari tepi ranjang Larissa memandang Indah gaun itu. Dia mulai mendekati gaun dan meneteskan air mata di sana. Tumpah ruah perasaan Larissa di sana.
Ingin Larissa berkata menikah dengan laki-laki yang dia cintai di kemudian hari. Entah siapa laki-laki itu yang akan dia cintai ?Bahkan Larissa tidak pernah tahu jatuh cinta itu seperti apa? Delapan belas tahun sudah usia Larissa. Tapi Larissa tidak pernah berpacaran dengan siapapun. Dihati Larissa sangat bertekad dalam hatinya untuk bisa menikah dengan laki-laki dari pilihannya. Bukan dari pilihan orang tua.
Tapi sayang seribu sayang .Tekad itu harus dikubur Larissa demi mangalahkan kehendak orang tuanya. Tiba-tiba berhamburanlah butiran bening dari kedua kelopak matanya. Rasa sedih yang membuat Larissa menangis kini berada disamping gaun pengantin yang indah dengan pesonanya.
__ADS_1