
Keesokan harinya,,,.
Revan mulai membuka kedua matanya dan melihat samar-samar wajah Larissa. Sesekali Revan memandang dan mencium Larissa dengan penuh lembut di kedua pipinya. Revan yang menyadari Larissa mulai terbangun dari tidurnya. Berusaha membalikan tubuhnya lalu beranjak pergi dari atas atas ranjang untuk pergi menuju kamar mandi.
Larissa yang terbangun dari tidurnya mulai menyadari tidak ada Revan disampingnya. Larissa yang merasa pusing mulai memijat pelan kepalanya. Sesekali Larissa melihat dari dalam selimut banyak bercak kepemilikan Revan yang mulai memudar dari tubuhnya.
Revan yang baru keluar dari kamar mandi nampak melihat Larissa yang sudah terbangun dari tidurnya. Di sana Larissa nampak menutupi dadanya dari dalam selimutnya.
"Tidak usah ditutupi. Bukankah aku sudah menikmatinya". Ucap Revan terhadap Larissa dengan Tatapan sinis nya. Larissa nampak malu melihat Revan yang nampak menatap dengan sinis.
"Bagaimana Sudah mendingan tidak?" . Ucap Revan dengan lembut
"Hem ,Terima kasih". Ucap Larissa yang telah diobati oleh Revan.
Revan Mulai mengambil pakaian dari dalam lemari. Lagi-lagi Revan melepaskan handuk yang melilit di pinggang nya. Tampaklah Revan tanpa menggunakan sehelai benang. Larissa lagi-lagi memalingkan wajahnya dan menutupi pandanganya dengan kedua tangannya.
" Tidak usah melakukan hal demikian. Cepat atau lambat kamu pasti akan melihat aku seperti ini". Ucap Revan menggoda.
Ketika Revan telah selesai menggunakan pakaiannya. Revan melihat Larissa menutupi dadanya. Revan nampak ingin melakukannya kembali. Entah tersadar atau karena terlalu ingin. Revan mulai berulah kembali pada Larissa.
Larissa yang diperlukan dengan demikian hanya mampu menepuk kasar dada bidang milik Revan. Revan yang diperlakukan seperti ini hanya dapat mencekal kedua lengan Larissa. Revan menikmati kembali buaian indah yang melengkung bak gitar spanyol. Sesekali Revan memberikan tanda kepemilikannya disana.
Revan mulai mencium bibir seksi Larissa dan menyelinapkan tangannya hingga sampai pada dada Larissa . Sesekali Revan mulai bermain dengan lembut dari ujung pucuk yang berwarna merah jambu. Larissa tidak bertenaga untuk melawan Revan. Mengingat tubuhnya yang jauh lebih kecil dari Revan.
Larissa hanya pasrah dengan perilaku Revan. Revan tidak bisa menahan hasratnya. Mengingat sudah lebih lima tahun dia tidak melakukan hal itu. Amira kekasihnya tidak pernah diperlakukan seperti ini. Revan jika bertemu Amira hanya mempermainkan bibir ketika bertemu. Tapi tidak berani untuk menyentuh bagian yang lain.
Revan ketika melihat Larissa dan sudah berhari-hari ditemani hingga akhirnya Revan memberanikan diri sendiri untuk mempermainkan kedua balon mungil yang indah dan menarik untuk Revan. Larissa yang diperlakukan dengan demikian hanya mampu menikmati permainan dari Revan.
Revan memainkannya dengan penuh buaian karena menyalurkan hasrat di jiwa.
"Aduh, Sakit mas tolong pelang-pelan". Salah satu pucuk balon yang digigit kasar oleh Revan. Revan yang mendengar suara itu mulai menghentikan gigitan kepada salah satu pucuk balon tersebut. Tampaklah salah satu pucuk balon itu terluka dan memar merah Karena perasaan Revan yang tidak tersalurkan sejak Lama.
Larissa hanya mampu melihat perilaku suaminya dari atas pandangannya. Revan yang tersadarkan akan hal demikian. Hanya mampu Meminta maaf dan beranjak bangun dari tubuh indah milik Larissa. Larissa hanya mampu menarik selimut dan mulai Beranjak Pergi dari atas ranjang menuju kamar mandi.
__ADS_1
Larissa membersihkan diri dan sesekali menyesali perbuatannya. Hanya air shower yang terdengar dari dalam kamar mandi. Revan yang merasa bersalah akan perilakunya sungguh ada rasa menyesal.
" Dasar laki-laki bodoh. Kenapa aku melakukan hal demikian kepadanya. Dia pasti sangat sedih karena telah kulakukan hal yang tidak ingin dia pinta. Tapi keinginan aku sudah sangat lama tidak tersalurkan bagaimana ini?" Rasa bersalah mulai melanda jiwa Revan.
"Oh Larissa". Revan sungguh memikirkan keadaan Larissa. Revan menunggu di tepi ranjang dan mulai memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar mandi.
Tok,,,,Tok,,,,Tok,,,.
Ketukan pintu yang beradu
Larissa,,, Larissa,,, Larissa. Revan memanggil Larissa. Ketukan pintu itu tidak didengar oleh Larissa hingga akhirnya Revan khawatir terhadap keadaan Larissa.
Krek,,, Krek,,,.
Ganggang pintu yang terbuka dari Larissa. Tampaklah Larissa telah selesai mandi dari kamar mandi. Dari dalam kamar mandi Larissa bersembunyi di balik pintu. Larissa Hanya mampu mengulurkan tangannya untuk meminta handuk
" Bisakah kamu mengambilkan handukku ?"Ucap Larissa .
Sungguh Revan sudah sangat lama tidak melakukan hal demikian kepada lawan jenis. Ingin rasanya Revan meminta. Tapi pasti Larissa justru menolaknya.
"Jangan menatapku seperti itu. Bukankah kamu sudah menikmatinya". Ucap Larissa
Revan hanya mampu tertawa kecil dan duduk kembali ditepi ranjang. Larissa mulai memilih pakaiannya.
" Maafkan aku Larissa. Aku sungguh tidak dapat mengontrol keinginan ini. Karena aku sudah lama tidak melakukannya". Ucap Revan
" Tidak apa-apa kamu pantas mendapatkannya". Ucap Larissa
"Wah Benarkah kalau begitu". Tanpa mendengarkan ucapan Larissa dengan jelas.
Revan mulai mendekati Larissa dan mencium bibir Larissa dengan lembut. Larissa yang diperlakukan dengan demikian hanya mampu merasakannya. Ada rasa aneh dan geli tapi nikmat yang dirasakan oleh Larissa.
Revan mulai mengarahkan Larissa untuk menuju atas ranjang. Larissa mendapat serangan bertubi-tubi dari Revan. Larissa tidak bisa mengimbangi permainan Revan. Revan sangat buas terhadap Larissa.
__ADS_1
Revan ******* bibir seksi Milik Larissa dan menyelinap kan kedua tangannya pada kedua balon yang indah milik Larissa. Sesekali Revan ******* ujung balon secara bergantian milik Larissa dan memainkan salah satunya.
Larissa yang diperlakukan oleh Revan mulai merasakan tegangan yang aneh atas apa yang diperlakukan oleh Revan. Ketika Revan ingin memainkan kepemilikan segi tiga bermuda Larissa justru melarangnya. Meski Larissa sudah merasakan tegangan Junior yang mulai menegang. Larissa menolaknya dengan kasar.
"Aku tidak bisa melakukan sampai sejauh ini. Jadi tolong hargai aku. Karena dua minggu lagi aku akan menghadapi ujian nasional. Aku ingin berkonsentrasi untuk pembelajaran Jadi tolong jangan rusak mental aku " Larissa menolak hal ini pada Revan.
Larissa mulai berpikir sejenak dan mengingat kewajiban seorang istri. Hingga, akhirnya Larissa mengiyakan atas perilaku suaminya. Larissa memberikan bagian atas tubuhnya kepada suaminya.
"Sampai kapanpun aku tidak ingin memberikan bagian segi tiga permuda aku kepadamu mas. Dasar buaya aku memperlakukanmu dengan hal ini hanya untuk suatu kewajibanku. Agar Aku melaksanakan kewajibanku kepadamu" Gumam hati Larissa
Pergulatan panas pun terjadi diantara mereka. Meski Revan tidak menyalurkan keinginanya dari bagian segitiga bermuda Larissa. Revan nampak puas dan mulai beranjak pergi dari atas ranjang dan melakukan kelanjutannya sendirian dikamar mandi.
Larissa mulai duduk di atas ranjang dan mengingat apa yang terjadi di antara mereka. sesekali Larissa menyesal atas perbuatanya.
" Dasar wanita bodoh. Mau saja diperlakukan seperti ini". Larissa mengeluarkan butiran putih bening dari kedua kelopak matanya. Rasa menyesal yang telah dilakukan Larissa terhadap Revan mulai menyelimuti harinya.
Revan keluar dari kamar mandi dan menggunakan pakaiannya. Larissa yang beranjak masuk menuju kamar mandi membersihkan tubuhnya kembali. Revan yang menunggu Larissa di tepi ranjang mulai melihat Larissa telah selesai dari kamar mandi dengan menggunakan pakaiannya.
"Kamu mau makan apa?". Tanya Larissa.
"Terserah". Jawab Larissa.
" Kita makan sup daging saja". Revan mulai memesan makanan melalui ojek online. Revan memesan sup daging untuk menghangatkan tubuh mereka. Tiga puluh menit lagi makanan datang jadi temani aku untuk nonton film ini.
Revan mulai Memutar film dari televisinya. Larissa dan Revan yang berada di atas ranjang mulai menonton film dari televisinya bersama. Film yang dipertontonkan oleh Revan banyak film romantis dengan penuh kemesraan dari film barat.
Larissa yang melihat film romantis dan mesra nampak mengingat kembali atas aa yang telah terjadi antara Revan dan Larissa. Revan mulai mencium pipi Larissa untuk mengeluarkan keinginanya. Larissa yang diperlakukan dengan demikian secara terus-menerus mulai bosan. Dilema mulai melanda jiwa Larissa.
" Jangan mau Larissa". Ucap Larissa dengan penuh penolakan akan hatinya. Tapi fisiknya sangat menikmati sentuhan Revan. Revan yang menjulurkan lidahnya ke leher Larissa nampak memberikan serangan kembali.
Teng,,, Nong,,, Teng,,, Nong.
Bell berbunyi. Ternyata gojek online yang telah datang. Revan mengambil makanan dan membayarnya. Mereka berdua nampak menikmati makanan yang telah banyak menguras tenaga mereka. Hari demi hari sebagai pengantin baru telah banyak mereka lalui bersama.
__ADS_1