Guru Bimbel Itu Ibu Sambungku

Guru Bimbel Itu Ibu Sambungku
Bab 35 Peristiwa Hidup


__ADS_3

Lanjutanya,,,.


"Larissa waktu sudah mulai sore nih. Kamu enggak ngelayanin suami kamu gitu?" Ucap Dita bertanya.


" Apaan sih kamu Dita, Orang kami enggak ngapa-ngapain. Tuan Revan saja sedang asyik dengan handphonenya. Aku hanya berada dalam satu ruangan. Tuan Revan menguasai Ranjangku. Sedangkan aku hanya berada di meja belajarku untuk berkomunikasi denganmu". Jawab Larissa dengan Jujur.


"Oh begitu Enggak kerasa ya Larissa sebentar lagi waktu akan malam nih. Kamu pasti akan ikut dengan senang -senang menikmati tidur malam berdua. Apa kalian akan kik kuk kik kuk". Ucap Dita bercanda dengan Larissa.


"Hahaha". Larissa mulai mengetik tulisan seakan saling tertawa satu sama lain.


"Revan, Larissa,". Ucap ibu Larissa yang memanggil mereka berdua. Revan terbangkit dari atas ranjang dan membuka ganggang pintu.


" Ada apa bu?". Tanya Revan.


" Ini ibu dan Ayahmu akan pulang kerumah. Mari berpamitan Revan dan Larissa.


Tuan Azka dan istrinya mulai menghampiri kamar mereka. Revan mulai bersalaman diikuti oleh Larissa.


"Waktu sudah mulai mau malam. Apa kamu enggak keringatan pakai baju pengantin sampai seharian in?" Ucap Ibu Revan bercanda kepada Larissa.


Larissa hanya tersenyum dan bersaliman dengan orang tua Revan.


" Duh cantik sekali mantuku. Ayah sungguh tidak salah dalam hal memilih wanita untuk Revan anak semata wayang kami". Ucap ibu memuji.


Ibu mulai memuji kecantikan Larissa. Larissa mulai memerah pipinya. Revan pun mulai melihatnya dengan penuh senyuman dan kebahagiaan.


"Ayah memang tidak salah dalam memilihkan jodohku. Apalagi dengan wanita ini". Gumam Revan dengan antusias dari dalam hatinya.


Ibu dan ayah Revan pun mulai pergi berpamitan untuk pulang. Ketika ibu dan ayah Revan mulai melangkahkan kaki untuk menuju mobil. Nampaklah tetangga yang mulai kebingungan Melihat mobil mewah berada di depan rumahnya mujahidin dengan sangat Lama. Tatapan sinis para tetangga mulai menjadi bahan pertanyaan.


"Apakah yang terjadi diantara mereka. Mengapa mobil mewah ini terparkir sangat lama". Ucap seorang tetangga yang menghibah keluarga Mujahidin.


Ayah dan ibu yang memandang mobil Tuan Azka secara perlahan mulai menjauh dari pandanganya. Dengan terburu-buru ibu untuk menutup pintu agar para tetangga tidak bertanya akan apa yang telah terjadi di hari ini. Karena sungguh pernikahan ini hanya dihadiri oleh kedua belah pihak dan satu sahabat Larissa yang akan menjadi saksi di antara pernikahan Larissa dan Revan.


Dari dalam kamar hanya ada mereka berdua. Waktu telah berjalan begitu cepat kini sore pun telah hampir menenggelamkan Sinar mataharinya. Revan yang sudah berganti baju dan selesai mandi mulai menatap Larisa. Tidak ada pembicaraan diantara mereka. Hingga pada akhirnya giliran Larissa yang ingin mandi untuk membersihkan Tubuhnya.


Larisan nampak kesusahan ketika ingin melepas gaun pengantinnya. Nampaklah Larissa mulai berbicara kepada Revan.

__ADS_1


"Pak, Bapak". Ucap Larissa menegur Revan.


" Mengapa harus memanggil aku Bapak Bukankah aku suaminya. Justru dia bisa memanggil aku Abang atau ucapan sayang atau kakak atau sejenisnya. Yang bisa melihat kita bisa saling Akrab satu sama lain". Gumam hati Revan berbicara.


"Iya ada apa?" Ucap Revan dengan tegas kepada Larissa.


Revan sangat gengsi untuk memberikan perhatian terhadap wanita yang baru dinikahinya. Meskipun sejak satu bulan terakhir Revan telah menaruh hati kepada Larissa. Larissa mulai memberanikan diri untuk berucap dan meminta tolong


" Apa bapak bisa untuk membukakan resleting gaun pengantin ini? Aku sungguh kesulitan untuk membukanya Bapak". Ucap Larissa meminta tolong.


Revan mulai beranjak pergi dari atas ranjang dan mendekati Larissa secara perlahan. Langkah kakinya Revan mulai mendekat dan hanya beberapa inci dari tatapan wajah Larissa. Mata Larissa yang melihat Revan dengan jarak beberapa inci darinya hanya mampu memejamkan kedua matanya.


" Apa yang dia lakukan untuk sedekat ini?Hembusan napasnya sungguh bisa aku rasakan. Apakah dia akan meminta haknya sebagai suami. Oh tidak, sungguh aku tidak siap untuk hal itu". Gumam Hati Larissa berbicara.


Pikiran kewajiban menjadi seorang istri mulai menari nari diatas kepala Larissa . Sungguh berdegub jantung Larissa. Rasa gugup, rasa canggung, dan rasa yang tidak biasanya mulai menggerogoti tubuh Larissa. Larissa tidak pernah sedekat ini sebelumnya dengan laki laki lain.


Larissa hanya mampu memejamkan matanya . Hembusan nafas Revan sungguh semakin mendekat dirasakannya. Wajah Larissa dan Wajah Revan hanya berjarak tiga jari. Tapi Revan tidak melakukan ciuman atau hal lainya diantara mereka berdua. Justru dia malah membuat godaan yang membuat Larissa sangat malu.


" Kamu kenapa memejamkan kedua mata? Apa kamu pikir aku akan melakukanya ? Ucap Revan dengan menaikan alisnya sebelah.


Larissa mulai membuka kedua kelopak matanya. Mata itu sungguh saling beradu pandang diantara mereka. Revan melangkah mundur satu langkah dari Larissa. Kelakuan Revan sungguh membuat Larissa takut dan berpikir Aneh-aneh terhadap Revan.


Larissa yang terkecoh akan perilaku Revan mulai malu dan memerahlah kedua pipinya. Revan mulai membukakan resleting gaun pengantin Larissa. Revan memandang Indah punggung Larissa dengan kulit putih mulus nampak tidak ada celah goresan luka yang membalut kulit indah tersebut.


Revan mulai terpesona akan bentuk punggung yang indah. Revan tertegun dan meneguk air liur sendiri ketika melihat pemandangan yang sudah lama tidak dipandangnya. Larissa mulai mundur beberapa langkah untuk menghindar dari pandangan Tuan Revan di sana.


Larissa menyuruh Tuan Revan untuk Beranjak Pergi dari kamarnya. Revan pun mengerti maksud dari Larissa. Kini Larissa mulai mengganti baju gaun pengantin dan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya disana. Waktu berjalan dengan begitu sempurna. Malam kini menyambut kehadiran di antara dua belah Insan manusia.


Akankah mereka melakukan hubungan diantara pasangan suami istri normal lainnya? Atau justru mereka hanya sekedar tidur dan memejamkan mata bersama? Hanya waktu malam saat dikamarlah yang mampu menjawab semua semua aktifitas antara Revan dan Larissa.


Malam menyambut kehadiran kedua Insan yang telah resmi menikah meski dimata agama.


" Larissa, Revan". Ucap ibu memanggil mereka berdua.


" Iya Ibu". Tanya Larissa.


" Ayo kita makan malam bersama. Ajaklah suamimu". Ucap Ibu Larissa kepada Larissa.

__ADS_1


Larissa mulai menuju kamar untuk membuka ganggang pintu. Pintu yang mulai terbuka memperlihatkan Revan sedang telengtang diatas ranjang dengan menatap plafon rumah. Sesekali tangannya memijat lembut kepalanya.


" Bapak ayo kita makan malam". Ucap Larissa mengajak Revan.


Revan terbangun dan duduk di tepi ranjang Larissa. Larissa mulai mendekat untuk mengambil handphone di atas meja belajarnya yang bersebelahan dengan ranjanganya. Seketika lengan Larissa ditarik oleh Revan. Terhempaslah tubuh Larissa tepat berada didada bidang Revan. Larissa kaget dan tersentak terkejut dengan prilaku Revan. Mata Revan dan Larissa saling beradu.


Tiba-tiba Larissa mulai beralin dari bidang dada Revan. Larissa terduduk di tepi ranjang bersama dengan Revan. Wajah mereka saling beradu pandang. Revan mulai membuka pembicaraan diantara mereka berdua.


"Bisakah Kamu memanggilku dengan sebutan Kakak atau Mas tanpa harus menyebut Bapak aku merasa terlihat lebih tua ketika kamu berucap demikian". Ucap Revan dengan suara coolnya.


Larissa hanya mampu mengangguk kepala sebagai tanda mengiyakan. Larissa mulai berbicara.


" Maafkan aku Bapak , Eh Pak, Ehm maksudnya Kakak, Ehm maksudku Mas. Mas Revan untuk memanggilmu Bapak. Sekali lagi aku minta maaf. Tetapi sepertinya memang kenyataan demikian kamu lebih tua, Tua dan Tua dari ku Mas". Ucap Larissa yang mengolok-olok terhadap Revan.


Revan yang diperlakukan dengan demikian mulai mendekati Larissa .Lantas Larissa yang terkejut mulai tersentak langsung memenjamkan mata dan memalingkan wajahnya. Revan mulai berbisik ditelinga Larissa.


"Jangan bersikap seperti itu atau kamu akan aku lahap". Ucap Revan dengan senyuman tipis dan menakut-nakuti Larissa.


Larissa tiba-tiba merinding dengan perilaku Revan yang bisa berucap demikian. Lagi-lagi pikiran Larissa berpikir akan kewajiban seorang istri yang wajib melayani suaminya.


Larissa mulai menghindari Revan dan membuang jauh -jauh akan pikiran akan melayani suami dengan rasa yang sangat menjijikkan dikepalanya.


Mengingat usia Larissa yang masih belia harus melaksanakan kewajiban seorang istri. Revan mulai beranjak pergi dari tepi ranjang dan menuju dapur untuk makan malam bersama dengan keluarga besar Mujahidin.


Kedatangan Revan didapur diikuti oleh Larissa yang mengekor di belakangnya.


Mereka pun sekeluarga menikmati masakan makan malam bersama. Hanya garpu dan sendok yang beradu di antara Revan dan Larissa. Tidak ada pembicaraan diantara kedua pengantin baru itu .Ibu sesekali membuka obrolan dengan ayah mereka hanya memperhatikan ayah saling mengobrol dengan ibu Larissa.


Larissa sesekali tersenyum ketika ayah dan ibu mulai menceritakan masa kecilnya dihadapan Revan. Revan mulai kagum akan perilaku istri barunya. Makan malam Mereka pun telah selesai.Larissa membersihkan sisa makanan dan menaruh piring kotor di wastafel. Ibu Larissa buru-burung mencuci piring dan menyuruh Larissa untuk melayani suaminya di kamar.


Larissa mulai beranjak dari dapur untuk menuju kamarnya. Pada saat Larissa membuka ganggang pintu. Larissa disuguhkan pemandangan dari dalam kamar yang memperlihatkan Revan yang terduduk dari atas ranjang dengan menggunakan boxer dan kaos lengan pendek sedang memainkan ponselnya.Larissa berusaha menenangkan isi otaknya.


"Sabar Larissa, Sabar . Dia hanya kepanasan bukan untuk menggodamu. Mengingat kamarmu sempit yang berukuran tiga kali tiga dan tidak ada Ace". Gumam Hati Larissa meyakinkan Diri.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 20:45 malam . Rasa lelah dan mengantuk mulai menggerogoti tubuh Larissa.Ingin rasanya Larissa memejamkan kedua matanya. Tapi Larissa mulai berpikir ranjang yang sempit ini justru tidak cukup untuk dua orang. Bagaimana Larissa untuk tidur bersama atau mengalah untuk tamunya. Oh tidak maksudnya adalah Suaminya.


Revan juga kelihatan tidak ingin mengalah untuk tidur di atas ranjang Larissa. Seketika Larissa menghampiri Revan dari atas ranjang. Revan yang telah bersiap dengan posisinya ketika melihat Larissa yang mendekat. Namun ternyata pikiran Revan salah. Sungguh harap-harap yang diinginkan oleh Revan harus sirna. Ternyata Larissa mendekatinya hanya untuk mengambil selimut dan satu bantal.

__ADS_1


Larissa mulai melipat selimut untuk dijadikan alas tidur dari bawah. Revan kaget melihat perilaku Larissa yang tidak mau satu ranjang denganya. Dengan penuh keyakinan Revan mulai mengangkat tubuh ringan Larissa ala bridal style untuk mengajak Larissa tidur bersama di atas ranjang mereka. Larissa sontak terkejut dangan perilaku Revan. Revan mulai membuka baju kaos Dan apa yang terjadi?????


Mau tahu kelanjutan dari ceritanya jangan lupa ikuti terus untuk cerita disetiap bab yang akan terjadi diantara pernikahan Revan dan Larissa.


__ADS_2