Guru Bimbel Itu Ibu Sambungku

Guru Bimbel Itu Ibu Sambungku
Bab 64 Kenyataan Hidup Revan


__ADS_3

Hari Berlalu dengan begitu sempurna. Hari ini Richard membawa ibunya untuk menjenguk Amira yang berada di rumah sakit. Amira nampak terlihat sehat dan senang ketika mendengar kabar dari Richard jika ibunya akan datang untuk menjenguk Amira hari ini.


Amira dirawat dan perlakukan dengan baik oleh Richard selama dirumah sakit. Langkah kaki yang secara perlahan mulai terdengar samar-samar. Ternyata Richard yang datang bersama ibunya mulai menghampiri ruangan Amira.


Langkah kaki telah sampai dan memasuki ruangan Amira. nampak lah Richard bersama ibunya sedang menjenguk Amira yang terbaring di ranjang rumah sakit. Ibu Richard menatap dengan tajam keadaan Amira.


Ibu Richard seorang janda yang berusia kurang lebih empat puluh delapan tahun. Richard, Amira, dan ibunya Richard sedang bercengkrama untuk mengurus masa depan di antara mereka. Kini mereka menyepakati tentang pernikahan diantara Amira dan Richard.


Pernikahan yang hanya akan diadakan dengan pihak Richard dan seorang Amira. Richard memutuskan untuk menjadi mualaf untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Ibu Richard tidak bermasalah jika Richard memeluk agama Islam. Karena mengingat Ayah Richard juga seorang muslim dari negara rusia.


Enam hari lagi Richard akan melaksanakan pernikahan di antara mereka berdua. Dengan rasa senang hati dan disupport oleh ibu Richard. Keadaan Amira mulai sedikit membaik. Karena, Restu dari ibu Richard telah didapat untuk keberlangsungan pernikahan diantara mereka.


Kehidupan Amira merasa telah hidup kembali. Mungkinkah ini hanya sebuah keberuntungan yang berpihak? Atau memang garis takdir yang harus memisahkan hubungan Revan dan Amira yang telah memiliki jodoh dan pasangan mereka masing-masing.


Tuhan memang sangat berpihak terhadap hambanya yang saling berjodoh. Ibu Richard mulai menyuapi buah apel kepada Amira. Ibu Richard orang yang ramah, Baik hati dan Sangat humble ketika diajak berbicara. Nama ibu Richard adalah Erlin.


Richard berpamitan untuk pergi. Karena, ada pekerjaan pemotretan di salah satu perusahaan yang tidak jauh dari rumah sakit. Richard mulai menyalami dan mencium kening Amira serta berpamitan kepada Ibu Erlin, Ibunya sendiri.


Ibu Richard banyak bercengkrama tentang masa lalunya dan masa lalu seorang Richard. Banyak berbagi macam cerita yang diceritakan oleh ibu Erlin terhadap Amira.


Mulai dari masa kecil Richard yang penuh dengan tekanan hidup. Hingga Richard yang sudah terbiasa tumbuh menjadi orang yang mampu menerima kekurangan diri sendiri. Dan menjadikanya seorang laki-laki yang mandiri.


Amira nampak terpesona dengan ungkapan hati seorang ibu yang mendidik anaknya sampai berhasil di masa seperti ini


Begitupun Amira banyak bercerita masalah dirinya dan seputar kehamilannya yang sudah tiga minggu dikandungnya.


Di sisi Larissa mulai diajak oleh Revan untuk memilih gaun pengantin yang enam hari lagi akan dilaksanakan pernikahan yang sah secara negara di antara mereka berdua. Larissa nampak senang dengan melihat berbagai macam motif gaun yang dipilihkan oleh Revan.


Revan sangat pandai dalam memilihkan gaun pengantin yang sesuai dengan postur tubuh Larissa. Secara perlahan namun pasti cinta yang tumbuh di antara mereka sungguh Tuhan sangat berpihak kepada para jodoh masing-masing.

__ADS_1


Sudah berbagai macam motif gaun yang dikenakan Larissa. Tapi Larissa belum memutuskan untuk mengenakan gaun yang seperti apa dihari pernikahan mereka. Revan bingung melihat Larissa yang nampak gelisah dengan perasaannya.


Revan mulai memberikan nasehat untuk membuat Larissa sedikit rileks akan perasaanya. Larissa meminta waktu kepada Revan untuk membicarakan pernikahan ini selanjutnya dan tidak ingin membuat para sahabatnya merasa terkejut.


Revan mengerti dengan keadaan Larissa. Revan mulai memberikan wejangan untuk Larissa mengundang sahabatnya. Agar tidak terkejut dengan pernikahan yang secara dadakan dilaksanakan .mengingat enam hari lagi akan dilaksanakan pernikahan Larissa dan Revan.


Waktu telah Larut sore. Revan dan Larissa mulai menuju parkiran mobil untuk pulang kerumah. Disepanjang Larissa bingung memikirkan urusan kedepannya. Tapi Revan begitu santai untuk menjelang hari H pernikahan.


Krok,,, Krok,,, Krok,,,.


Suara perut samar-samar terdengar oleh Revan


"Kamu lapar?" Tanya Revan yang mendengar suara perut Larissa.


"Iya aku lapar". Sahut Larissa menjelaskan masalah perut.


"Selamat malam tuan Revan". Ucap salah satu karyawan yang menyapa Revan.


Revan tersenyum dan menyapanya kembali.


"Selamat malam". Sahut Revan dengan ramah.


Revan mulai memilih meja untuk memilih menu pesanan makan malam.


"Kamu mau makan apa?" Tanya Revan terhadap Larissa.


"Aku mau makan sup daging dan es jeruk sayang". Sahut larissa.


Revan juga memesan menu makanan yang sama dengan Larissa. Lima belas menit berlalu. Menu masakan mereka telah siap disantap diatas meja. Revan banyak bercerita tentang masa depan yang telah dirangkainya untuk hidup bersama Larissa.

__ADS_1


Larissa bagaikan terbang melayang ketika menjadi orang yang no satu yang dikedepankan oleh Revan. Hidupnya serasa sangat dihargai karena sudah beberapa hari Revan tidak berhubungan dengan Amira.


Apakah ini hanya karena Revan sedang sangat baik terhadap Larissa? atau justru rasa sayang Revan terhadap Amira sudah benar benar pudar.


Flashback on,,,


Orang suruhan Revan telah lama berada di Paris untuk membututi Amira disana. sudah hampir satu bulan orang suruhan Revan bekerja dengan Revan untuk memberikan informasi mengenai aktifitas Amira. dua hari lalu Revan mendengar tentang Amira yang masuk rumah sakit.


Revan tidak tahu jika Amira sedang mengandung anak selingkuhannya. Karena selama satu bulan ini sikap perselingkuhan Amira tertata dengan rapi tanpa sepengetahuan orang suruhan Revan.


Revan nampak kesepian tanpa kabar Amira yang sudah dua hari ini tanpa kabar melalui teleponnya.


Dering,,, Dering,,, Dering,,.


Suara panggilan telepon dari handphone Revan mulai berbunyi. Seseorang telah menelpon Revan. Banyak pembicaraan diantara mereka berdua.


Siapakah orang tersebut? Akankah ini telepon dari orang suruhan Revan? Atau justru Richard yang datang di dengan tiba-tiba menelpon Revan untuk tidak menggangu Amira lagi. Hanya siapakah yang tahu orang tersebut


Revan nampak tersulut emosi dengan orang yang menelpon Revan. Sesekali Revan berucap kotor dengan lawan bicaranya. Larissa yang mendengar perkataan Revan hanya dapat terdiam dan merasa takut karena perilaku Revan.


Revan mulai mematikan telephone dan beralih membuka Via what App. Ternyata banyak foto-foto dan vidio mesra Amira bersama seorang lelaki yang tidak dikenal Revan sedang asik di taman rumah sakit. Nampak mesra mereka berdua.


Ini kali pertama Revan merasa marah terhadap Amira. Amira sungguh mempermainkan perasaan Revan. Begitu kecewanya hati seorang Revan terhadap kekasihnya. Makanan Revan diatas meja tidak habis termakan karena melihat foto dan juga vidio yang dikirimkan oleh seseorang.


Larissa yang telah habis dan merasa kenyang hanya memandang wajah Revan dari seberang meja. Revan mulai meneteskan air matanya. Ini kali pertama Revan menangis dihadapan Larissa. Larissa merasa iba tapi ada rasa takut juga yang dirasakan nya.


Larissa tidak berani mempertanyakan ada apa dengan keadaan Revan. Larissa hanya terdiam melihat keadaan hidupnya. Hatinya bertanya-tanya dengan hal ini.


"Kenapa mas Revan?" Gumam hati Larissa berbicara. Larissa izin ke toilet untuk meninggalkan Revan.

__ADS_1


__ADS_2