
Disepanjang Jalan Tidak ada Revan berbicara dengan Larissa. Hanya Larissa yang banyak bicara dari dalam mobil kepada Revan. Omongan itu sungguh dihiraukan oleh Revan. Sudah hampir dua puluh menit Revan sampai menuju halaman rumahnya. Revan mulai membukakan pintu kepada Larissa. Lengan Larissa ditarik paksa oleh Revan.
Revan menghempaskan dengan kasar sampai ke atas ranjang di kamar mereka berdua. Larissa nampak ketakutan dan bersedih diperlakukan dengan demikian.
"Apa-apaan kamu Mas. Bisakah kamu bersikap baik terhadap diriku? Bisakah kamu jangan menyakitiku seperti ini?"Ucap Larissa membela diri.
"Kamu tidak tahu apa kesalahanmu?". ucap Revan.
" Bukankah Aku telah meminta izin untuk pergi jalan bersama sahabatku kepadamu ? ". Ucap Larissa.
"Bisakah kamu berpikir dari dua orang temanmu yang selalu menatapmu. Dan ditambah lagi tatapan sahabatku. Aku tidak suka apa yang menjadi milik Aku. Dilirik oleh orang lain. Apa kamu paham Larissa?". Ucap Revan dengan Lantang berbicara.
Larissa hanya terdiam ketika Revan berbicara dengan Lantang.
"Harga diriku sungguh terinjak-injak ketika kamu jalan dengan sahabat Lelakimu dan menerima ajakan laki-laki yang baru kamu kenal untuk makan bersama. Apa kamu tahu Abrian itu karyawan Aku . Beginilah caramu memperlakukan diriku di hadapan laki-laki lain". Ucap Revan dengan penuh emosi.
Larissa tidak mau kalah dengan apa yang disudutkan oleh Revan. Larissa mulai menjelaskan.
"Abrian itu orang yang dulu pernah menabrak aku. Aku sudah kenal lama dengannya dan untuk sahabatku. Apa salahnya aku jalan dengan sahabatku. Aku tidak ada jawaban untuk menghindarinya. Lantas bagaimana aku menjelaskan kesalahannya Mas Bukankan aku telah meminta izin kepadamu".Larisa berucap dan tidak mau kalah.
Revan yang mendengar suara Larissa mulai tersulut emosi. Revan menarik paksa baju Larissa. Tampaklah terlihat dua gunung yang padat dan berisi milik Larissa. Larissa yang melihat perilaku Revan Nampak ketakutan dan menutupi kedua gunung yang nampak padat dan terisi itu dengan tangannya.
"Kenapa harus ditutupi? Bukankah kamu memakai pakaian ketat seperti ini dihadapan mereka. Aku tidak suka wanita yang ku miliki memperlihatkan lekuk tubuhnya dihadapan orang lain. Kenapa kamu harus menutupinya Larissa?" Pertanyaan Revan begitu lantang terdengar di telinga Larissa .
__ADS_1
Larissa yang melihat wajah Revan memerah karena tersulut emosi. Hanya mampu memalingkan wajahnya dan menutup dua gunung yang padat dan terisi milik Larissa itu dengan tangan yang menyilang.
" Tidak usah kamu tutupi Larissa aku sudah melihatnya". Ucap Revan dengan sedikit lembut.
Revan mulai menarik paksa lengan Larissa dan melepaskan Larissa di atas ranjang mereka. Revan mencekal kedua lengan Larissa dan mulai ******* bibir, Leher, Hingga sampai belahan dada Larissa. Sesekali tangan Revan mulai meraba masuk secara perlahan untuk memainkan dua gunung kembar yang padat dan berisi milik Larissa.
Larissa yang diperlakukan dengan demikian hanya dapat menangis sejadi-jadinya. Revan yang tersadar akan tangisan dari Larissa mulai beranjak bangun dan menghempaskan pintu dengan kasar dihadapan Larissa. Bersyukrlah Revan masih memiliki rasa kemanusiaan.
Dengan penuh rasa belas kasihan dan penuh iba Revan berhenti melakukanya.Revan tidak suka Larissa berpakaian ketat dan Revan tidak suka Larissa berjalan bersama laki-laki lain meskipun itu sahabatnya.
Larissa menerima ajakan tawaran Abrian untuk makan bersama. Hal itu sungguh terinjak harga diri seorang laki-laki. Seharusnya Larissa tidak menerima tawaran makanan bersama dengan laki-laki lain.
"Aku suaminya, Bisakah dia menolaknya". Revan Mulai mengambil satu batang rokok untuk menjernihkan pikirannya. Larissa yang berada dari atas ranjang hanya mampu menutupi badannya dengan selimut. Tampaklah banyak bercak kepemilikan yang dilakukan oleh Revan dengan penuh nafsu atau amarah hanya hati Revan yang mengetahui hal demikian.
Malam di antara mereka pun telah berlalu dengan pertikaian yang membuat hati Larissa hancur akan perilaku Revan. Sungguh Revan telah menginjak-injak harga diri Larissa.
Sungguh kasihan keadaan Larissa dimalam hari ini. Dia harus melakukan hubungan yang tidak diinginkan nya.
Hari mulai Larut malam,,,,,.
Revan mulai membuka selimut Larissa yang digunakan oleh Larissa. Larissa masih tidak menggunakan baju. Tampaklah bercak kepemilikan yang Revan lakukan terlihat jelas dari leher sampai ke tubuh Larissa.
Revan mulai mengambilkan salep untuk menghilangkan bercak merah kepemilikannya dari tubuh Larissa
__ADS_1
" Andai Larissa meminta izin lebih dulu kepadaku untuk tidak pergi jalan-jalan bersama laki-laki lain. Aku tidak akan melakukan hal ini. Aku tidak suka jika milikku harus dilirik oleh orang lain. Terutama pakaianmu dan menerima ajakan makan malam bersama dengan Abrian itu sungguh menginjak-injak harga diri ku". Ucap Revan berkata dan memberikan salep kepada Larissa.
Larissa setengah tersadar mendengar ucapan Revan. Revan mulai membaringkan tubuhnya disebelah tubuh Larissa. Revan memeluk erat Larissa yang masih tertidur karena ulah Revan.Tak lupa Revan memberikan kecupan mesra kepada Larissa. Larissa yang tersadarkan akan perilaku manis Revan mulai menyadari kesalahannya.
Mereka tertidur saling berpelukan satu sama lain .Oh indahnya malam pengantin baru yang kesekian harinya. Sedang asik berpelukan seperti teletubis. Apalah daya Author yang hanya bisa memeluk guling .
Di penghujung malam. Larissa mulai mengigau karena merasa ketakutan akan perilaku Revan terhadapnya. Sesekali Dia memanggil nama ibu dan ayahnya.
"Ayah, Ayah, Ayah, Tolong Larissa. Ibu, Ibu, Ibu, Larissa di sini ibu. " Mengigau Larissa dalam Mimpi panjngnya.
Kata itu mulai menemani rasa mengigau di malam hari Larissa. Revan yang mendengar suara Larissa mengigau mulai terbangun dan membuka matanya secara perlahan. Samar-samar pandangan mata Revan menuju wajah Larissa. Mulut Larissa selalu berucap meminta pertolongan kepada ayah dan ibunya.
Revan mulai khawatir akan keadaan Larissa. Sesekali Revan mencium kening Larissa dan mengelus Puncak kepalanya.
"Kenapa Larissa begini? Apakah aku terlalu kasar terhadapnya?" Gumam hati Revan yang memikirkan keadaan Larissa.
Revan mulai berpikir merasa bersalah akan perilaku kasarnya terhadap Larissa. Revan tidak akan melakukan hal demikian jika Larissatidak berperilaku yang tidak diinginkan oleh Revan.
Larissa yang mulai sedikit tersadar dan mulai membuka kedua kelopaknya hanya mampu melihat wajah Revan yang nampak bingung hingga akhirnya Revan menenggelamkan pandangan wajah Larissa di bidang dada Revan.
Larissa yang nampak mulai mengantuk kembali dipeluk erat oleh Revan. Mereka kembali tidur dari atas ranjang bersama. Para pasutri muda ini kembali tidur dalam berpelukan yang saling tidak ingin memisahkan diri .
Meski hubungan mereka dalam keadaan pertikaian dan saling menyalahkan satu satu sama lain. Tapi mereka yang mulai mengasihi, Menyayangi, dan Melengkapi satu sama lain akan hubungan yang penuh indah dimalam hari.
__ADS_1
Hay jangan lupa Like komen dan subscribe karya pertama Author .Kehadiran kalian sangat menunjang karir author yang masih pemula ini. Ditunggu kehadiranya
:)