
Tiga hari kemudian,,,,.
Tiga hari telah berlalu. Pikiran Mujahidin mulai beradu Sedari Dulu. Hari ini Mujahidin mulai memutuskan atas tawaran tuan Azka tanpa berdiskusi dengan anak istrinya. Mujahidin mengiyakan apa yang Tuan Azka pinta. Di sudut ruangan Larissa nampak sedang tertawa terbahak-bahak dengan menonton stasiun televisi film kesukaannya.
Di sanalah Larissa dapat menumpahkan rasa kegembiraan ketika flim kartun kesayangannya telah tayang. Fllm itu sangat menarik hati Larissa karena, Sangat lucu dan menggemaskan. Muzahidin yang mendengar Larissa yang sedang asik menonton Flim kartun dengan tertawa dan terbahak-bahak. Mulai membuka gagang pintu dari kamarnya.
Dengan berjalan tertatih-tatih Mujahidin mulai mendekati Larissa di sana. Dari dalam ruang keluarga, Larissa meminum teh dan sedang memakan cemilan disana. Larissa sangat fokus menonton TV yang sedang menayangkan film kesayangannya. Tanpa basa-basi Mujahidin mulai mendekati Larissa dan berbicara di sampingnya.
"Larissa kira-kira kamu lulus sekolah kapan?" Tanya Mujahidin dengan suara tegas yang membuyarkan fokus Larissa dari flimnya.
"Mungkin sekitar dua puluh lima hari lagi Ayah. Setelah Ujian Nasional dari situlah Larissa akan ditentukan lulus atau tidak dari sekolah. Emang ada apa Ayah? " Tanya Larissa.
"Larissa Ayah ingin menjodohkan mu dengan seseorang yang akan menjadi masa depanmu". Ucap Ayah dengan tegas.
Larissa mulai keselek akan makanan cemilan yang sedang ada di mulutnya. Larissa mulai tertawa kembali ketika ayah sedang berbicara demikian.
"Hahaha, Apa Ayah bercanda? film Kartun yang Larissa sedang Tonton saja tidak sebercanda itu Ayah". Ucap Larissa dengan menaikkan alisnya kepada ayah.
"Larissa, Ayah tidak mampu lagi untuk menyekolahkanmu ke jenjang selanjutnya. Ibumu hanya pembantu dari rumah ke rumah tangga yang meminta jasanya. Kamu jika ingin melanjutkan pendidikan selanjutnya Menikahlah dengan pilihan Ayah". Ucap Ayah dengan ketus.
" Hahaha". Larissa mulai tertawa kecil.
Ayah mulai menatap Larissa dengan raut wajah serius.
"Aku mohon jangan nikahkan aku terlebih dulu ayah. Pernikahan tidak sebercanda itu. Masa depanku masih panjang Ayah. Umurku masih belasan tahun. Lagian siapa yang mau denganku. Aku tidak secantik dengan wanita-wanita lain. Aku hanya orang biasa dari segelintir manusia yang ada di lingkungan ini. Siapa yang ingin mengambil istri pada diriku?" Tanya Larissa dengan penuh pertanyaan dan raut wajah yang sedih.
Wanita yang masih belia sedang asik menonton tayangan filim kartun dari televisi .Tiba-tiba diberitahukan ingin dinikahkan. Wanita mana yang tidak terkejut akan pembicaraan antara seorang ayah dan anaknya dimalam ini.
Ayahnya mulai menarik nafas dalam-dalam. Ayahnya mulai berbicara
"Akan ada seseorang yang akan menikahimu, Menerimamu apa adanya, Menjamin masa depanmu dan kamu tidak akan kecewa dengan pilihan Ayah" Ucap Mujahidin kepada anaknya meyakinkan.
"Siapa lelaki itu Ayah?" Tanya Larissa
Ayah hanya terdiam ketika anaknya bertanya .
__ADS_1
"Apa jangan-jangan ayah menjual aku?" Tanya Larissa kembali dengan wajah yang mulai mengeluarkan butiran bening namun tertahan dikedua kelopak matanya.
Ayah tersenyum tipis dan kembali lagi ke kamarnya dengan berjalan tertatih-tatih.
Dilain tempat hati dan pikiran Larissa mulai tertuju pada Tuan Azka.
" Lelaki yang berumur dengan ketampanannya. Apa dengan lelaki berumur itu Larissa akan dijodohkan? Saya tidak ingin menikah dengan om yang seumuran dengan ayahnya". Gumam hati Larissa berbicara dengan lirih.
Larissa mulai memikirkan Bagaimana cara agar hal itu tidak terjadi. Suasana hati Larissa sedang tidak baik-baik saja . Terkadang hati Larissa merasakan kegelisahan yang begitu menyudutkan dirinya. Larissa mulai mematikan TV dan menuju kamarnya.
Di sana hati Larissa seakan bergemuruh badai besar yang menghantam pikiranya. Larissa mulai menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Pikiran Larissa memikirkan dirinya dan masa depanya.
"Menuju Dua puluh lima hari lagi aku akan melaksanakan ujian nasional. Lantas Mengapa aku harus dijodohkan?. Bukankan aku setelah Lulus sekolah nanti bisa bekerja dengan gajih yang baik . Aku juga tidak ingin menjadi benalu dalam keluarga . Aku akan bekerja setelah Ijazah aku keluar nanti". Gumam hati Larissa yang ingin merubah takdir hidupnya .
Rasa sakit kepala mulai menghampiri Larissa .Sesekali Larissa memijat pelan kepalanya.
"Mengapa Ayah harus menikahkanku secepat ini. Apa kata teman-temanku? Apa kata Tetangga kelak?" Gumam dari hati kecil Larissa yang sedang sedih.
Larissa mulai terbayang-bayang akan pikirannya. Akankah Larissa menikah dengan tuan Azka. Larissa yang melihat semua ini berpikir hanya sebagai candaan justru akan menjadi malapetaka untuk Larissa jika itu benar yang terjadi .
"Tidak mau. Aku tidak ingin menikah dengan om-om. Tidak mau itu terjadi. Ucap Larissa ber kepada Tuhannya Seraya berdoa.Pikiran Larissa membuat matanya terlelap dalam nikmatnya tidur.
Dari dalam ruangan lain . Tuan Revan sedang asyik berada di kantornya dan bercengkrama dengan Abrian. Abrian adalah sahabatnya sekaligus karyawannya tuan Revan di sana mereka nampak mengobrol dengan berbagai macam topik yang dibahas. Mulai dari pekerjaan, Wanita, Makanan favorit, hingga pikiran lainnya. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat.
Kelanjutanya,,,,,.
Ting,,,,,Ting,,,,Ting,,,,.
Notifikasi di handphone Tuhan Azka dari Pak Mujahidin mulai terdengar.
"Aku telah memutuskan atas penawaran tentang putriku. Aku mengiyakan ini dengan segenap jiwa dan ragaku. Lantas Bagaimana kedepannya untuk hal ini?" Pertanyaan dari mujahidin melalui pesan singkat via WhatsApp untuk Tuan Azka.
Tuan Azka yang melihat layar itu pun tersenyum dan bergembira atas pesan via chat WhatsApp dari mujahidin.
" Baiklah Mujahidin satu minggu lagi aku akan mengadakan pernikahan antara keluarga kamu. Siapkan saja anakmu untuk satu minggu mendatang karena kita akan menjalin silaturahmi seumur hidup antara Putri semata wayangmu dan putra semata wayangku". Ucap Tuan Azka membalas pesan dari Mujahidin.
__ADS_1
Teng,,, Teng,,,, Teng,,,, Teng
pesan via WhatsApp dari handphone Mujahidin pun membuat Mujahidin tersenyum. Dia sangat berharap kepada Tuhannya semoga pernikahan ini menjadi jalan satu-satunya untuk menjadikan Putri semata wayangnya hidup lebih baik dari sebelumnya. Muzahidin tahu Tuan Azka adalah keluarga yang baik-baik.
Dari dalam ruangan lain Larissa yang mulai terbangun dari tidurnya. Larissa mulai membuka kelopak matanya. Nampaklah wajah sedih yang terlukis diraut wajah cantik Larissa. Kedua mata itu mulai terlihat sembab akibat menangis atas pikiran yang diucapkan oleh ayahnya.
Ayah membuat pikiran Larissa berkecamuk dalam hidupnya Larissa. Larissa tidak bisa membuat suasana hatinya menjadi lebih tenang untuk hari ini. Hingga akhirnya Larissa memutuskan untuk curhat kepada Dita sahabat yang bisa menjaga kerahasiaan diantara mereka.
Larissa mulai menulis pesan singkat kepada Dita.
"Apa kamu bisa menemaniku sore ini? Aku perlu kamu untuk berdiskusi masalah hidup dan ini penting sekali ". Ucap Larissa yang menginginkan kehadiran Dita sebagai teman curhat Larissa.
Dita yang via whatsapp-nya kebetulan sedang aktif langsung membalas pesan singkat dari Larissa.
"Baik Larissa aku ada waktu untuk mu hari ini". Ucap Dita membalas pesan dari Larissa
Larissa yang melihat layar handphonenya langsung menerima balasan via WhatsApp dari Dita. Larissa mulai mengetiKan alamat yanga akan mereka Tuju. Kini Larissa beranjak dari tidur dan menuju kamar mandi untuk membersihkan dan menyegarkan tubuhnya di sana. Dari dalam kamar mandi Larissa terus saja berpikiran tentang ucapan ayah.
Larissa sangat takut ketika Ayah telah mengambil keputusan. Tapi keputusan itu ditolak pastilah Larissa mendapatkan hukuman jika tidak mengiyakannya. Kini Larissa telah selesai dengan aktivitas dikamar mandinya
Larissa mulai menuju kamarnya kembali untuk berganti pakaian dan melakukan ibadah salat asar di sana. Dua puluh lima menit kemudian telah berlalu. Larissa sudah siap dengan rencana untuk bertemu dengan Dita. Tak lupa Larissa berpamitan kepada ayahnya.
" Ayah Larissa ingin pergi dulu untuk bertemu Dita". Ucap Larissa.
Larissa mulai menghampiri ayahnya yang sedang duduk di ruang keluarga menonton TV yang sedari tadi. Ayah hanya tersenyum melihat Larissa dan berpamitan di sana. Larissa yang telah meminta izin kepada Ayah kini mulai menaiki sepeda motornya. Larissa mulai menuju sebuah Taman Melati yang tidak jauh dari rumah Dita.
Larissa dan Dita mulai bertemu di sana. Tampaklah dari seberang Taman Melati ada cafe kecil yang berada di sana. Dita mengajak Larissa untuk berdiskusi di sana. Mereka saling bercengkrama satu sama lain. Larissa menjelaskan tentang insiden hidup hari ini di sana. Dita terkejut dengan apa yang diceritakan Larisssa. Nampak serius wajah Larissa menjelaskan hal yang tidak diinginkan terjadi.
Mau hal ini menjadi kenyataan atau hanya gertak dari ayahnya saja. Dita mulai menghibur Larissa dengan sedikit ocehan candaan yang membuat mereka saling memecah senda gurau diantaranya. Dari jarak beberapa meja. Tampaklah seseorang yang sedang memperhatikan Larissa sedari tadi.
Seseorang itu mulai mendekati Larissa dan menyapa Larissa di sana. Larissa yang terkejut melihatnya nampak mengenal seseorang tersebut. Abrian adalah seseorang yang pernah menabrak Larissa di waktu dulu. Dita yang melihat Abrian dengan ketampanannya yang menghampiri meja mereka mulai terpukau akan pesonanya. Tatapan mata Dita tidak berkedip ketika melihat ketampanan Abrian.
Dita dengan antusias mengajak abrian untuk bergabung di antara mereka. Abrian hanya berfokus menatap dan mengobrol dengan Larissa untuk saling menyapa diantaranya.
Kini mereka pun saling bercengkrama satu sama lain .Dita lebih menonjolkan diri untuk berkomunikasi di sana. Dita tipe orang yang mudah bersosialisasi dengan sesama. Dita orangnya mudah akrab dengan seseorang.
__ADS_1
Tak terasa waktu sudah mulai larut sore. Dita dan Larissa mulai berpamitan lebih dulu dari Abrian. Abrian tersenyum dan melihat kepergian meraka. Kini Abrian menuju kasir dan membayar semua makanan dan minuman yang berada di meja makan mereka .
Percakapan di antara mereka membuat Abrian lebih akrab dari sebelumnya terhadap Larissa. Kini mereka pun pulang dengan sendirinya untuk menuju rumah masing-masing.