
Amira mulai beranjak mendekati Revan dan duduk di pangkuan Revan. Tatapan mata diantara mereka mulai beradu. Amira sangat merindukan Revan karena sudah beberapa hari ini tidak bertemu dengannya.
Amira mulai ******* bibir Indah Revan. Revan hanya dapat merasakan serangan dari Amira. Amira mulai mengarahkan tangan Revan untuk menikmati dua gunung kembar yang indah. Tapi sayang hal itu justru ditepis oleh Revan.
Revan tidak akan melakukan perbuatanya sejauh itu. Tapi jika ada kesempatan dilain waktu munkin Revan akan berkesempatan untuk kebutuhan biologi seperti ini. Itupun jika takdir berkehendak lain disaat iman mulai goyah. Penolakan yang dilakukan Revan membuat harapan Amira tersadar akan perilaku Revan.
Amira mulai berdiri dari pangkuan Revan. Amira mulai membetulkan pakaiannya. Dari depan pintu tampaklah sekretaris Revan yang sedang berjalan untuk ke ruangan Revan. Sekretaris Sudah beberapa kali mengetuk pintu. Tapi tidak terdengar dari sahutan Revan.
Hal itu terjadi karena Revan menikmati ciuman dari Amira. Sekretarisnya itu tiba-tiba melihat keadaan Amira yang membetulkan pakaiannya. Sekertaris yang melihat pemandangan demikian nampak terkejut ketika melihat Amira. Revan bahkan hanya bersikap terbiasa saja seperti tidak ada yang terjadi diantara Revan dan Amira.
"Kenapa kamu masuk tidak mengetuk pintu ketika memasuki ruangan saya". Tanya Revan kepada sekretarisnya yang bernama Luna.
"Maaf Pak tadi saya sudah mengetuk dan memanggil. Tapi tidak ada jawaban. Jadi Saya memberanikan diri untuk memasuki ruangan bapak". Dengan penuh senyuman Luna menjelaskan .
Luna mulai memberikan berkas pekerjaan baru kepada Revan. Revan mulai memijat lembut kepalanya. Lagi-lagi pekerjaan tambahan. Baiklah silakan tinggalkan ruangan saya ucap Revan kepada Luna.
"Baik Pak". Luna mulai beranjak pergi dari ruangan Revan
Dari dalam ruangan Amira mulai mendekati Revan dan memijat bahu dan lengan Revan secara perlahan. Sesekali Amira memijat kepala Revan dengan penuh lembut. Revan menikmati pijatan Amira .Pijatannya sangat nikmat.
" Ternyata Amira pandai juga untuk memijat. Andai Dia yang menjadi istri Revan pasti saat ini juga Revan langsung mengajak Kikuk kikuk juga". Gumam dari dalam hati Revan.
" Kamu kenapa sih kayak banyak beban pikiran?". Tanya Amira.
"Iya akhir-akhir ini banyak banget pekerjaan yang harus aku selesaikan. Ucap Revan.
"oh begitu". Ucap Amira.
"Ini Karena saya akan membuat cabang baru lagi di sudut kota ini". Ucap Revan kepada Amira.
"Kalau begitu Semangat ya semoga kamu dipermudah dalam urusannya. Oh iya apa kabar kamu?" Tanya Amira yang telah lama tidak berkomunikasi langsung dengan Revan.
" Alhamdulillah aku baik. Kalau kamu?". Tanya Revan.
"Alhamdulillah baik. Oh iya aku delapan hari lagi akan terbang ke Paris. Aku akan mengadakan pemotretan dan melakukan beberapa pekerjaan disana. Munkin tidak lama aku berada di sana. Hanya kurang lebih tiga bulan kita tidak akan bertemu. Kamu jangan nakal ya". Ucap Amira dengan lembut dan bermanja kepada Revan.
Revan yang mendengar penjelasan Amira nampak tersenyum sumringah dengan hal ini.
"Oh baiklah kalau begitu nanti aku akan transfer uang jajan untuk kamu selama berada di sana". Ucap Revan
__ADS_1
Amira mulai memeluk Revan dan menciumnya di sana. Amira mulai pergi dan berpamitan kepada Rekan. Amira yang telah mendapatkan apa yang telah Amira harapkan.
"Transferan itu sangatlah cukup untuk uang jajan yang sangat berguna ketika Amira berada di Paris.
" Aku pergi dulu ya karena aku akan bertemu dengan teman-temanku. Bye,,, Bye". Ucap Amira
Kini Amira mulai beranjak pergi dari kantor Revan. Tak terasa waktu sudah mulai larut sore. Revan mulai bersiap untuk pergi menuju rumah Larissa. Dari dalam mobil Revan mulai melajukan mobilnya. Ketika Revan melihat notifikasi dari handphone ternyata ada nomor masuk tanpa nama. Revan membuka isi pesan. Ternyata itu adalah Larissa. Nomer telepon Larissa dinamakan dengan sebutan Ibu New yang artinya Larissa.
sudah hampir 45 menit Revan di perjalanan hingga akhirnya Revan sampai di rumah Larissa. Dari dalam rumah ternyata kedatangan Revan disambut oleh kedua orang tua Larissa dan juga Larissa. Larissa mulai berpamitan kepada kedua orang tuanya.
" Larissa mulai hari ini sudah ikut ke rumah suaminya. Larissa harus pergi dulu Nanti Larissa akan menjenguk Ibu setiap hari di sini". Ucap Larissa
"Sudah-sudah jangan menangis terus dong. Kapan Larissa akan pergi bersama suaminya ". Ucap Ayah yang menghentikan isak tangis antara ibu dan anaknya.
Ibu nampak sedih melepas Larissa. Karena Larissa anak semata wayangnya.Kini Revan mulai mengangkatkan koper ke dari dalam mobilnya. Larissa dan Ibu mulai Melambaikan tangan satu sama lain sebagai bentuk perjumpaan terakhir di malam ini.
Revan mulai melajukan mobilnya. Sepanjang j pemandangan kepergian mobil Revan barulah ibu dan ayah mulai masuk ke dalam rumah. Dari dalam mobil tidak ada pembicaraan diantara mereka berdua. Larissa hanya memandang pemandangan dari Balik kaca jendela. Tiga puluh menit perjalanan akhirnya mereka pun telah sampai menuju rumah yang nampak lebih kecil dari rumah Pak Revan sebelumnya.
Rumah yang dimasuki oleh Larissa nampak sepi dan tak berpenghuni. Ketika Larissa mulai memasuki rumah Revan. Larissa mulai takut karena rumah Revan hanya ada mereka berdua. Rumah ini terlihat lebih kecil dan hanya memiliki dua kamar.
Revan mulai menunjuk kamar untuk dipergunakan Larissa
" Ini kamarmu dan Ini kamarku. Kamar kita bersebelahan. Larissa pun bingung ketika Revan berbicara demikian.
Larissa tipe orang yang penakut. Rumah sekecil ini saja Larissa nampak takut ketika mulai menghuninya.
Aku tidak bisa seperti ini. Aku tidak bisa, tidak bisa aku, Aku sungguh takut. Penyakit aki bisa kambuh". Ucap Larissa.
"Penyakit? Emang kamu punya penyakit apa? Tanya Revan".
"Aku punya penyakit perasaan takut yang berlebih. Takut sendirian dan takut Hantu terutama. Ibu dan ayahku tidak pernah meninggalkan sendirian di rumah. Karena aku anak semata wayang dan aku takut sendiri jadi tolong hargai aku. Yang penakut yang tidak ingin sendiri".
"Kamu punya penyakit Fobia ya?". Tanya Revan
"Iya betul sekali. Aku mengidap penyakit itu". Ucap Larissa yang mulai tubuhnya tidak nyaman ketika berada di ruangan baru dan selalu merasa takut.
Lagi-lagi Larissa mulai mendekat kepada Revan. Ini adalah kesempatan Revan untuk terus mendekati Larissa. Mengingat Revan tidak pernah sedekat ini dengan wanita lain.
"Kapan lagi satu kamar berdua". Pikir Revan dengan pikiran bejad dan seksualitasnya.
__ADS_1
Revan mulai membawakan Koper Larissa untuk membawa masuk ke dalam kamarnya.
"Baiklah aku ingin mandi dulu. Kamu bisa beristirahat di sini. Jangan lupa kamu bersiaplah". ucap Revan menggoda.
Tapi Larissa tidak peduli dengan ucapan itu. Yang terpenting saat ini adalah Larissa ada teman dalam satu ruang. Karena Larissa sangat takut untuk sendirian berada dalam ruangan yang berbeda.
Revan mulai menggantungkan bajunya di sudut ruangan. Perut sixpack dengan enam garis kotak yang memperlihatkan bentuk tubuhnya sangat menggoda iman di dada.
Larissa hanya dapat memandangnya. Tapi ketika Revan mulai melihatnya. Larissa mulai membalikkan pandangan untuk mengalihkan pandangan dari Revan. Revan Mulai mengambil handuk putih untuk menyulitkan di pinggangnya dan berjalan secara perlahan menuju kamar mandi yang berada dari dalam kamarnya.
Larissa mulai menuju meja rias yang ada di dalam kamar Revan. Larissa mencoba menyisir rambut dan mendekati baju Revan. Larissa memandang dan mulai menghirup harum aroma baju yang ada pada baju Revan. Aroma harum baju Revan sangat membuat gairah diri Larissa mulai melonjak.
Tiba-tiba tanpa disadari oleh Revan warna baju yang dinodai oleh lipstik Amira membuat hati Larissa bertanya-tanya.
" Kenapa di bajunya ada noda bekas lipstik seperti ini? Apakah dia memiliki pacar atau teman dekat ? Sehingga menempelkan bekas noda lipstik di baju Revan.
Suara Revan yang mulai membuka ganggang pintu membuat Larissa beralih dari bajunya Revan. Revan yang melihat tingkah laku Larissa mulai heran ketika Larissa yang bersikap aneh dengan begitu tajam menatap Revan
" Larissa Sedang apa kamu di sana?". Tanya Revan
"Aku tidak ngapa-ngapain. Aku hanya melihat sekeliling kamar ini. Kamar ini sangat besar bahkan besarnya melebihi tiga kali ukuran kamarku . Ucap Larissa berbohong kepada Revan.
Revan yang kebingungan dengan tingkah laku Larissa hanya mampu menghiraukan perilaku Larissa. Revan mulai mengambil pakaiannya dari dalam lemari untuk digunakannya. Larissa hanya membalikkan pandangannya tanpa melihat Revan yang tanpa busana untuk memakai pakaiannya.
Hati dan pikiran Larissa mulai menari-nari dalam pikirannya. Ternyata aku hanya dijadikan mainan para orang kaya raya seperti Revan. Orang kaya yang sangat mudah memperlakukannya dengan kehendaknya.
Pengorbanan Larissa sungguh sia-sia. Sungguh aku tak mampu melewati semua ini Aku memang pernah jatuh hati pada pandangan pertama. Tapi mengingat ini aku bukan perempuan bodoh yang bisa kamu permainkan.
Kami bahkan tidak malu bertelanjang dihadapan Aku.
hey aku lapar hello.suara Revan mulai menyadarkan Larissa dari lamunannya
Aku lapar Apa kamu bisa memasak? Tanya Revan kepada Larissa.
Tentu aku bisa memasak. Ayo bantu aku di dapur karena aku sungguh tidak berani untuk sendirian.
Flashback on,,,.
Larissa adalah wanita yang pernah trauma pada ketakutan horor yang pernah l menimpanya. Larissa sangat takut sendirian. Penyakit fobia itu tumbuh ketika dia melihat tembok tembok dengan penuh bentuk rupa yang aneh dari segi penglihatan Larissa. Fobia adalah penyakit ketakutan berlebih karena akibat trauma hingga akhirnya Larissa pun takut untuk terus sendiri ketika berada di dalam ruangan.
__ADS_1
Dari dalam dapur tidak banyak bahan-bahan makanan yang ada di sana. Dari dalam kulkas hanya ada mie instan, Telur dan beberapa sayur. Larissa mulai menggoreng Min instan dan membuat telur menjadi telur mata sapi.
Tampaklah mie goreng instan dengan sayur lengkap dan telur mata sapi diatas menghiasinya. Tak lupa larissa menaburkan bawang goreng yang ada dari dalam kulkas.Revan dan Larissa mulai memakan Lahap makanan yang dihidangkan Oleh Larissa. Makanan yang sederhana dengan penuh nikmat menjadi malam yang indah bagi pasangan pengantin yang baru ini.