Guru Bimbel Itu Ibu Sambungku

Guru Bimbel Itu Ibu Sambungku
Bab 46 Malam Yang Beradu


__ADS_3

Lanjutanya,,,.


Larissa yang melihat Revan sedang berada di bawah shower tanpa menggunakan sehelai pakaian pun nampak terkejut ketika berada di ambang pintu. Revan yang melihat Larissa mulai mengejar dan berhasil menutup pintu.


Kini kedua Insan itu saling bertatapan diantara empat mata. Revan mulai tersenyum tipis yang nampak terlihat di wajah Revan. Larissa ketakutan dengan perilaku Revan. Melihat Larissa yang ketakutan. Revan mulai mendekatkan dirinya. Larissa secara perlahan menjauh dan memundurkan langkah kakinya sampai ke ujung dinding mulai membrontak.


" Tolong lepaskan aku". Suara keras itu mulai terdengar dari telinga Revan. Revan yang melihat wajah Larissa mulai ketakutan Larissa mengambil langkah mundur dan Revan membukakan pintu untuk Larissa. Larissa yang tidak ingin melihat Revan secara sempurna hanya dapat bertatapan wajah yang beradu diantara Revan dan Larissa.


Larissa yang melangkah secara gemetar menuju tepi ranjang tidak menyukai perilaku jahil Revan.


"Dasar buaya, Kamu benar-benar menjijikan.


Krek,,,, Krek,,, Krek,,,.


Suara pintu kamar mandi mulai terbuka. Revan yang keluar secara perlahan dengan menggunakan handuk yang terlilit dipinggangnya menatap dengan tajam keadaan Larissa.


Larissa tak mampu menatap wajah Revan. Dia hanya menundukkan pandangannya. Revan Mulai mengambil pakaian dari dalam lemari yang berada disamping ranjang. Larissa pergi terburu-buru berjalan dan mengunci kamar mandi dengan secara perlahan. Melihat tingkah laku Larissa Revan hanya dapat tertawa kecil mengingat apa yang telah dia lakukan kepada Larissa.


Larissa sudah sangat lama mandi. Tapi tidak juga memunculkan batang hidungnya. Revan sudah mulai bosan dengan perilaku istrinya. Sudah hampir tiga puluh menit Larissa dari dalam kamar mandi. Tapi tidak juga selesai mandi.


Revan memikirkan keadaan Larissa.


Tok,,,, Tok,,,, Tok ,,,, Tok Ketukan pintu saling beradu.


Revan mengetuk pintu tapi tidak ada suara jawaban dari dalam kamar mandi. Hanya suara air shower yang saling beradu dengan ketukan pintu.


" Ada apa in? Apa jangan-jangan dia pingsan karena sikapku?" Gumam hati Revan yang khawatir akan keadaan Larissa


Revan mulai mendobrak pintu. Larissa yang tersadar akan suara keras yang menghantam kamar mandi mulai tersadar. Pintu telah berhasil didobrak oleh Revan. Ternyata Larissa sedang menangis meratapi nasib di bawah air shower. Mata mereka saling beradu ketika saling bertatapan.


"Kamu kenapa?". Tanya Revan dengan lembut


" Aku rindu ayah dan ibu". Ucap Larissa yang sangat merindukan kedua orang tuanya.


" Baiklah nanti Minggu depan kamu boleh menginap di sana". Ucap Revan yang mengijinkan Larissa untuk boleh tinggal sementara bersama ibu dan ayahnya.


Senyum indah terlukis di wajah Larissa Larissa berharap dengan tidak bertemu Revan dia bisa menyegarkan isi otaknya dari bayang-bayang Revan yang selalu jahil terhadap dirinya. Tapi Revan juga terkadang baik kepada Larissa.


" Cepat ganti bajumu nanti kamu masuk angin karena sudah lama berada di kamar mandi". Ucap Revan kepada Larissa.

__ADS_1


Terlihatlah baju Larissa yang basah dengan samar samar Revan melihat dua balon mungil yang indah begitu nampak menonjol. Revan mulai terangsang akan pesona tubuh Larissa yang diguyur oleh air shower. Revan melangkahkam kaki untuk mendekati Larissa dan memegangi pinggang Larissa.


Larissa tidak bisa melawan Revan karena tubuh Revan lebih besar darinya.


"Kamu mau apa?" Tanya Larissa yang mulai berada di bawah shower bersama Revan.


"Aku hanya ingin mandi bersamamu" Revan yang mandi bersama Larissa mulai memegangi pinggang Larissa dan mencium pipi, Bibir, Sampai ke leher Larissa. Larissa tidak bisa berkutik akan perilaku Revan.


Karena Larissa juga sadar diri jika dia adalah seorang istri yang setiap inci tubuhnya adalah milik suaminya.


Dering,,,,, Dering,,,, Dering,,,,.


Suara telepon Revan mulai berbunyi. Larissa yang tersadar akan status dirinya yang hanya sebagai istri boneka Revan Mulai tersadar. Revan mengambil handuk Larissa dan melilitkannya di pinggang. Ternyata telepon itu adalah pesan via WhatsApp dari Amira.


Seorang kekasih sekaligus wanita Revan yang sudah setahun belakangan menjadi kekasihnya. Larissa yang tersadar akan Siapa dirinya mulai berhenti untuk mandi dan Beranjak Pergi dari dalam kamar mandi.


"Tolong ambilkan handukku". Suara itu mulai menyadarkan Revan yang telah memakai handuk Larissa. Revan mengambil handuknya untuk memberikan kepada Larissa


"Ini pakailah punyaku". Mereka berdua pun saling bertukar handuk untuk dipakai.


Revan nampak tersenyum ketika melihat pesan Via Whatsapp dari Amira. Larissa yang melihat dari sudut ruangan nampak cemburu karena dia dianggap sebagai istri boneka yang tidak penting atau hanya sekedar pelampiasan dari keadaan Revan yang ditinggal pergi.


"Tatapan itu tak berkedip dari pandangan Larissa. Rasa cemburu, Sakit hati, Kecewa semua beradu di pikirannya.


" Ya silakan". Revan yang sedang asyik membalas pesan via WhatsApp kepada Amira kini berbalik mencampakkan Larissa.


" Dasar buaya kalau sudah ketemu pasangan Revan pasti bersikap dingin kembali pada aku. Lagian apalah dayaku yang hanya sebagai istri boneka. Hidupku dibutuhkan disaat perlu." Larissa yang mulai merenungi Nasib hanya mampu memasrahkan diri kepada Tuhanya.


"Ya Tuhan tolong pertemukan aku dengan wanita simpanan suami aku". Larissa hanya mampu berdoa dari dalam hati untuk Ingin Bertemu dengan wanita yang selalu diutamakan oleh Revan.


"Seberapa Indahkah wanitamu. Seberapa cantikkah wanita itu. Hingga akhirnya kamu mencampakkan aku mas". Gumam hati Larissa dengan penuh gemuruh.


Revan yang ketika sedang asyik dengan wanitanya jadi lupa dengan status dirinya. Larissa yang mengemasi pakaiannya dan pergi untuk menuju ke kamar sebelah Revan.


Revan mulai mengambil pakaian dari dalam lemari dan Beranjak Pergi menuju atas ranjangnya. Di sana dia telah selesai berkomunikasi dengan Amira. Revan melanjutkan komunikasi membahas soal pekerjaan melalui email yang telah dikirimkan oleh Luna sekretarisnya. Dari dalam ruang sebelah. Larissa mulai berpikir buruk terhadap Revan.


Larissa pikir Revan sedang asyik membalas pesan via WhatsApp wanita simpanannya. padahal Revan sedang membalas pesan dari Luna melalui email yang telah dikirimkan sekretarisnya. Lagi-lagi Larissa mengucurkan butiran putih bening dari kedua kelopak matanya.


" Dari pada membuang waktu seperti ini. Lebih baik aku mengulang kembali pembelajaran untuk besok. Besok adalah ulangan Ujian Nasional untuk hari berikutnya". Larissa Mulai mengambil buku-bukunya dan mempelajari pembelajaran yang akan esok dipersiapkan untuk ujian nasional.

__ADS_1


Bi Inah dari kamar belakang pembantu mulai beranjak pergi dan mengetuk kamar tuannya.


Tuk,,,, Tuk,,,, Tuk,, Ketukan beradu


" Iya masuk Larissa". Suara ucapkan itu mengagetkan Bi Inah.


"Kenapa harus Larisa, Ini kan saya Bi Inah seorang pembantumu". Apa jangan-jangan Larissa sudah sering keluar masuk kamar ini ?" Gumam hati Bi Inah.


Maaf tuan ini Bi Inah. Masakan untuk makan malam sudah siap. Mari Tuan dan Nona makan malam. Ucap Bi Inah


"Oh iya Baiklah kalau begitu". Sahut Revan


Bi Inah telah selesai memasakkan berbagai macam makanan untuk menu makan malam bersama. Revan mulai mengetuk pintu kamar dari ruang sebelahnya.


Tok,,, Tok,,, Tok,,,,.


Ketukan pintu itu nampak dihiraukan oleh Larissa. Revan yang bingung mulai membuka gagang pintu dan melihat Larissa sedang asik belajar di pojokan sudut ruangan.


" Kenapa kamu harus pindah kamar?" Tanya Revan.


" Aku hanya ingin lebih berkonsentrasi untuk pembelajaran selama Ujian Nasional berlangsung. Jadi tolong hargai mentalku untuk menjaga kewarasan hidup ini". Sahut Larissa dengan ketus yang menyindir perilaku Revan.


Revan hanya terdiam ketika mendengar jawaban dari Larissa.


"Gini amat ya menikahin anak kecil yang selisih usianya hampir sepuluh tahun. Aku harus sering mengalah. Apa-apa harus disalahkan. Memang Apa salahnya jika harus tidur berdua? Baru saja ingin diapa-apain langsung nangis dan menghindar. Gini banget Hidup berumah tangga. Harus aku yang selalu mengalah" Gumam hati Revan dengan sedih.


" Ayo kita makan Karena hari sudah malam". Ajak Revan kepada Larissa.


Bi Ina yang sudah sedari tadi Menyiapkan makan malam dari dalam dapur. Mendengar Suara langkah kaki kedua insan yang saling berjalan bersama untuk makan malam menuju dapur mulai terdengar.


Tidak ada pembicaraan diantara kedua Insan ketika berada diatas meja. Hanya sendok dan garpu yang saling beradu diatas piring. Tatapan mata Revan tak pernah dibalas oleh Larissa. Larissa hanya tertunduk dan menghindari pandangan Revan. Revan yang tidak suka dengan hal itu mulai membuka pembicaraan


" Kamu kenapa ?" Tanya Revan.


" Tidak apa-apa. Aku hanya ingin belajar ". Sahut Larissa dengan ketus.


Larissa terburu-buru untuk makan dan meninggalkan Revan sendirian dari meja makan. Tak lupa Larissa mencuci piring untuk beranjak pergi meninggalkan Revan dan kembali ke kamar sebelah kamar Revan.


Revan yang melihat perilaku aneh dari Larissa nampak bingung. Waktu sudah berlalu begitu sempurna. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 22:00 malam. Sudah banyak cara yang Revan lakukan untuk tidur sendiri.

__ADS_1


Mulai membaringkan tubuhnya. Lalu membalikkan tubuh ke kiri, Ke kanan, Menutup mata dengan bantal dan lain sebagainya. Tak bisa Revan memejamkan mata. Revan sudah terbiasa akan kehadiran Larissa. Revan mulai meninggalkan kamar dan melangkahkan kaki untuk menuju kamar sebelah. Ruangan kamar Revan .


Dari sebelah ruangan Larissa sudah tertidur lebih awal untuk menyiapkan diri untuk besok pergi bersekolah. Revan mulai membaringkan tubuh bersebelahan dengan Larissa. Tak lupa Revan mulai melingkarkan tangannya di pinggang Larissa dan tertidur bersama dalam satu ruangan di ranjang yang indah dengan penuh cinta diantara kedua insan yang saling egois satu sama lain.


__ADS_2