
Kuk,,,, Kuru,,,,Yuk,,,,.
Suara ayam mulai terdengar dari dalam ruangan. Nampaklah mentari pagi mulai memancarkan cahayanya.Kini Abrian mulai membukakan secara perlahan kelopak matanya. Abrian masih terbayang-bayang atas kecelakaan yang menimpanya. Abrian merasa bersalah terhadap Larissa.
Abrian mengambil handphone dari narkas. Abrian melihat di layar teleponnya. Nampak tidak ada notifikasi dari keluarga Larissa disana. Padahal sudah sedari malam tadi Abrian telah memberikan kartu nama untuk keluarga Larissa sebagai bentuk tanggung jawab Abrian
Abrian mulai pergi dan bersiap-siap untuk menuju kantor. Kini satu jam telah berlalu dari Aktifitas Abrian . Abrian telah berada di ruang kantornya. Nampak pucat wajah Abrian dipagi hari. Perasaan Abrian gelisah terbayang rasa bersalah kepada Larissa. Abrian sesekali melihat layar handphone. Masih tidak ada notifikasi dari keluarga Larissa.
Abrian mulai memasuki lift dan bertemu Tuan Revan di sana.
"Kamu kenapa pucat Abrian? Kamu habis dari Club malam Ya?". Tanya Revan.
" Tidak. Aku tidak dari sana?". Sahut Abrian membela diri
"Ah masa? Wajah kamu sangat terlihat kelelahan. Apa jangan-jangan kamu habis menikmati waktu bersama wanita mata malam disana ". Ucap Revan meledek Abrian.
"Hahahahah". Abrian dan Revan saling tertawa satu sama lain.
Abrian dan Revan selalu bercanda di antara mereka ketika bertemu.
"Aku tidak habis pikir kamu akan berucap seperti itu. Aku tidak akan menikmati malam bersama wanita-wanita murahan". Ucap Abrian dengan munafik.
Mereka tahu apa isi otak di antara mereka berdua. Jika tidak pekerjaan maka seksualitaslah yang dibahasnya. Abrian adalah sahabat sekaligus karyawan kepercayaan Tuan Revan. Sesekali Abrian menggantikan posisi Revan ketika Revan sedang ada kendala pada saat meeting di kantor. Begitulah Abrian menjadi orang kepercayaan Revan.
Di lain tempat Larissa sedang merasakan demam tinggi sesekali. Suara batuk yang berada di dalam kamarnya terdengar dari ruang keluarga. Ayah yang melihat putrinya terbatuk-batuk kini mulai menghampiri secara tertatih-tatih. Ayah mulai membuka ganggang pintu kamar Larissa yang tidak terkunci.
Krek,,,,Krek,,,,Krek,,,
Suara pintu kamar Larissa mulai terbuka. Ayah mulai menghampiri Larissa dan duduk di tepi ranjang. Larissa yang dengan posisi berselimut di atas ranjang merasa sakit tidak enak badan. Ayah yang melihat anaknya seakan tidak baik-baik saja mulai meletakkan Tangannya di atas dahi Larissa.
" Ya ampun kamu panas nak. Sepertinya kamu perlu obat.Ayah akanmengambilkannya di kotak obat". Ucap Ayah. Larissa yang tidak berdaya akan dirinya hari ini pun hanya mengiyakan Apa yang diucapkan oleh ayahnya
Kini Ayahnya mengambilkan obat dan segelas cangkir air putih di sana. Tak lupa Ayah membawakan dua helai roti coklat kesukaan Larissa.
"Makanlah sedikit. Makanan roti ini untuk mengisi perutmu. Baru kamu minum obat penurun panas". Ucap Ayah Larissa membawakan apa yang telah Ayah bawa.
Larissa mulai makan roti dan meminum obatnya. Larissa mulai memejamkan matanya kembali untuk mengistirahatkan tubuh. Ayah yang melihat putrinya mulai tertidur kembali, Kini meninggalkan Larissa dari kamarnya. Ayah Larissa mulai menghubungi Abrian tak lupa kartu nama Abrian yang telah diberikannya sebagai pintu utama komunikasi di antara Ayah Larisa dan Abrian.
" Assalamualaikum. Saya bapak Mujahidin ayahnya Larissa. Malam tadi nak Abrian memberikan kartu nama kepada saya. Saya ingin meminta pertanggung jawaban dari Abrian sesuai perkataan Abrian di malam tadi". Isi pesan chat dari Pak Mujahidin ayah dari Larissa mulai terkirim dari teleponya.
Teng,,,, Teng,,,, Teng ,,,,.
__ADS_1
Suara notifikasi yang muncul dari layar handphone Abrian kini mengejutkan Abrian. Abrian nampak mengingat kembali tragedi saat menabrak Larissa.
" Baik Pak saya akan bertanggung jawab. Nanti sore setelah pulang kerja saya akan menjenguk anak bapak". Ucap Abrian yang ingin bertanggung jawab terhadap Larissa.
Pesan via WhatsApp diantara mereka pun terkirim satu sama lain. Abrian akan pergi ke rumah Larissa pada sore hari ini. Abrian yang memijat-mijat secara perlahan kepalanya akibat mengingat kembali kecelakaan itu membuatnya sedikit pusing dibagian kepala belakang.
Tiba-tiba Revan masuk dan melihat Abrian yang nampak kelelahan
"Sepertinya kamu sangat menikmati malam itu hingga akhirnya kamu ke lelahan dan merasa tidak enak badan". Ucap Revan dan melirik Adrian dengan penuh ledek.
" Apaan sih kamu Revan aku nggak ngapa-ngapain malam tadi. Malam tadi aku habis menabrak seorang cewek cantik banget. Sepertinya usianya masih belia. boleh juga tuh dijadiin target". Ucap Adrian yang pikiranya mulai mengarah kesana.
"Wah,,,, Kamu dasar fedofil ". Ucap Revan.
Hahaha,,,Hahahah.
Suara mereka saling mentertawakan satu sama lain.
Sepasang sahabat sekaligus seorang karyawan dan atasanya. Gambar diatas hanya sebagai ilustrasi.
"Kamu habis nabrak orang, Terus orangnya gimana? Ada di mana?." Tanya Revan dengan penuh pertanyaan .
Tiba-tiba Revan mengingat kembali akan Larissa. Tujuan pikiran kedua orang lelaki dewasa itu pun tertuju pada seorang wanita yang bernama Larissa. Sungguh Larissa sangat cantik menawan dan mempesona siapa saja yang melihatnya. Larissa sangat membuat pikiran kedua orang lelaki ini menjadikan Larissa seorang Dewi yang diperebutkan oleh para dewanya
Revan kini memberikan Berkas untuk pekerjaan Abrian. Abrian meminta waktu lebih cepat dari biasanya untuk pulang dan menjenguk korbannya. Revan pun menyetujui kehendak Abrian ini. Revan mulai kembali ke dalam Ruangannya.
Di dalam sebuah kamar. Larissa mulai merasa sedikit berkurang akan sakitnya. Larissa mulai melihat notifikasi dari handphonenya sudah banyak pesan chat yang bertanya-tanya akan dirinya. Dimulai dari sahabatnya Dita, Rika,Diva dan Adit yang menanyakan tentang kabar Larissa yang tidak bisa hadir bersekolah di hari ini.
Larissa hanya bisa memandang chat itu dan menaruh handphonenya di dalam nakas. Larissa melanjutkan istirahatnya kembali. Tak terasa kini waktu sudah menunjukkan waktu sore hari. Tuan Abrian mulai menuju rumah Larissa.
Tok,,, Tok,,,,Tok,,,, Tok.
Ketukan pintu yang mulai beradu.Mujahidin mulai membukakan pintunya.
"Assalamualaikum".Ucap Tuan Abrian yabg telah sampai didepan pintu rumah Larissa.
"Waalaikumsalam". Ucap Bapak Mujahidin.
Adrian mulai menyalami Bapak mujahidin di sana. Pak Mujahidin mempersilahkan Adrian untuk masuk dan berbincang di dalam rumah Tak lupa ibu menyiapkan cemilan dan juga 2 gelas kopi untuk menyambut tamunya. Abrian orang yang sangat baik dan juga bertanggung jawab atas insiden yang telah terjadi. Abrian mulai menanyakan keberadaan Larissa
__ADS_1
"Di mana Larissa ibu?" Tanya Abrian.
Ibu mulai menunjuk kamar yang ada di samping pintu sebelahnya
" Dia sedang di sana. Dia sedang kelelahan dan tak bisa sekolah pagi hari ini. Itu akibat demam yang ada pada dirinya". Ucap ibu.
"Oh demam, Kalau begitu kita bawa ke klinik saja ibu. Kita rawat dia disana. Bagaimana ayah ibu?" Ucap Abrian menawarkan diri untuk bertanggung jawab.
" Tidak usah. Sepertinya dia perlu istirahat dan meminum obat saja.
"Oh baiklah". UcapAbrian.
Abrian mulai melirik rumah Larissa dengan pandanganya.
"Tunggu sebentar ibu ayah ada yang tertinggal di mobil Saya".Ucap Adrian.
Adrian kembali ke mobil dan mengambilkan dua buah bungkusan. Satu bungkus buah segar dan satu bungkus cemilan untuk keluarga Larissa. Abrian membelinya di minimarket sebelum kerumah Larissa. Kini Abrian mulai memberikanya kepada keluarga Larissa.
Ayah dan ibu Larissa menyambutnya dengan senang hati atas pertanggung jawaban Abrian. Abrian tidak sombong seperti yang dipikirkan oleh ayahnya Abrian adalah laki-laki yang baik dan tidak sombong. Abrian mulai berbincang banyak kepada kedua orang tua Larissa.
Larissa yang sudah kelelahan akibat tidur panjangnya. Kini mulai membuka kedua kelopak matanya .Larissa beranjak pergi dari tempat tidur danmenuju kamar mandi untuk membuang air kecil di sana. Setelah Larissa menuju selesai. Larissa mulai berjalan perlahan menuju kamarnya kembali.
Adrian sangat menatapnya meskipun berwajah pucat tapi kecantikan Larissa tidak luntur. Abrian terkagum akan pesona yang ada pada Larissa. Tanpa berkedip sedikitpun sungguh Larissa adalah salah satu kriteria cewek impian Abrian secara fisik. Abrian yang mulai jatuh hati kepada pandangan pertama di antara mereka.
Larissa ucap ibu.Suara itu terdengar oleh Larissa. Larissa membuka pintu kamar kembali.Ibu mulai menuntun Larissa dan membawanya ke ruang tamu.Abrian selalu menatap Larissa dengan penuh pandangan cinta pada pertemuannya. Larissa mulai lesu lelah dan kecapean hanya bisa terdiam dan bersandar di kursi.
Ibu mulai membawa barang bawaan bingkisan yang telah diberikan Abrian.Ibu membawanya kedapur untuk meletakanya pada sebuah wadah dan juga piring.
Ibu menaruhnya kembali di atas meja ruang keluarga. Mereka saling bercengkrama satu sama lain. Ayah Ibu Abrian dan Larissa pun saling bercengkrama satu sama lain. Dengan rasa hormat Abrian memberikan sejumlah uang dari dalam amplop sebagai bentuk pertanggung jawabannya. Tapi ayah menolak dengan rasa hormat karena merasa isi amplopnya kebanyakan.
Abrian terus saja menyodorkan amplop itu kepada keluarga Larissa. Larissa yang melihat pemandangan ini hanya terdiam.
" Ambillah amplop ini. Anggap saja ini sebagai bentuk tanggung jawab saya terhadap putri Bapak". Ucap Abrian dengan penuh sopan berbicara kepada Mujahidin ayah dari Larissa.
" Tidak usah . Kamu cukup membiayai perawatan Larissa saja. Tidak usah memberikan sejumlah uang diamplop ini . Bawalah Larissa dan ibunya untuk berobat kamu bisa memberikan sejumlah uang ini kepada pihak rumah sakit atau klinik yang ingin kamu tuju". Ucap Ayah menolak pemberian uang yang disodorkan oleh Adrian.
"Tidak usah Bapak. Uang ini Anggap saja sebagai bentuk tanggung jawab Abrian kepada Larissa. Larissa bisa melanjutkan perawatannya dimanapun Larissa inginkan. Larissa hanya melihat pemandangan di antara mereka. Larissa hanya demam akibat terkejut dengan insiden kecelakaan yang terjadi pada dirinya.
Abrian menyodorkan uang itu kepada ibunya Larissa. Ibunya menerima dengan sepenuh hati Amplop coklat dari Abrian. Abrian mulai berpamitan untuk pergi. Tak lupa Abrian berucap beribu maaf atas kejadian yang tidak mengenakkan ini. Ayah Larissa mememafkan kesalahan Abrian. Ayah Larissa mengantarkan Abrian sampai ke depan rumah.
Nampaklah para tetangga yang melihat kedatangan Abrian dengan mobil mewahnya terheran-heran melihat pemandangan ini. Begitu julid lah tetangga bapak Mujahidin. Kini kepergian Abrian pun telah jauh dari pandangannya Tuan Mujahidin. Mujahidin mulai pergi untuk menutup pintu rumahnya.
__ADS_1
Ibu yang mulai memberanikan diri untuk membuka amplop nampak terbelalak dengan dua gepok uang yang beirisi dua puluh juta yang diberikan oleh Tuhan Abrian. Ayah hanya mampu menghelan nafas dan berterima kasih atas bentuk tanggung jawab Abrian. Tak lupa Mujahidin memberikan pesan singkat melalui via WhatsApp kepada Abrian
"Terima kasih nak atas bentuk tanggung jawabmu Semoga Allah selalu merahmati dan memberikan keberkahan hidupmu". Chat Tuan Mujahidin melalui pesan via WhatsApp terkirim. Keluarga Mujahidin pun mulai melakukan aktivitas malamnya seperti biasa.