
Hari pernikahan telah tiba. Larissa yang terduduk di meja rias mulai melihat menghadap cermin. Larissa melihat dirinya betapa indahnya gaun yang dia kenakan sekarang. Tukang make up mulai merias wajahnya secara perlahan. Seketika Larissa terus mengeluarkan air mata. Butiran bening putih tak terbendung lagi mengalir deras dari pipinya .
"Nak kamu jangan menangis terus dong. Nanti make up nya jelek. Kalau kamu menangis terus. Aku yang diomelin oleh orang yang mendatangkan aku disini. Aku telah dibayar mahal akan hal ini. Bisa-bisa Tuan Azka akan marah besar kepadaku. Jadi tolonglah aku agar kamu jangan bersedih.
Bukankah ini hari pernikahan yang membahagiakan untukmu. Kamu ini menangis bahagia atau justru menangis karena sedih" Ucap tukang rias yang Celoteh terhadap Larissa .
"Hem,,,,". Ucap Larissa lalu berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh kembali.
Larissa mulai menyekat air matanya secara perlahan. Larissa berusaha menguatkan diri untuk tidak cemas dengan pernikahan. Tapi lagi-lagi hati dan perasaannya semua ikut bergemuruh dengan badai gemetar yang merasuk dijiwa raga Larissa.
Larissa mulai mengangkat secara perlahan dirinya untuk bercermin memandang dan merapikan mahkota yang ada diatas kepalanya. Larissa tak mampu mengingat pernikahan yang telah di depan mata ini
" Oh Tuhan Mengapa Harus Terjadi takdir kehidupan ini? Mengapa engkau memilih ku? Bukankah ada yang lebih kuat dibandingkan aku? Aku tak sanggup Tuhanku". Ucap Larissa dengan penuh penyesalan dari dalam hatinya.
" Larissa,,,". Ucap seseorang yang mulai mengetuk pintunya . Asisten tukang make up mulai membukakan pintu. Ternyata itu adalah sahabat Larissa. Dita, Dia datang lebih awal sebelum acara akad nikah dimulai. Dita yang datang kini mulai memeluk Larissa di sana. Mereka saling menguatkan hingga akhirnya Larissa tidak menangis lagi.
Dita mulai berbicara dan mensupportnya.
"Kamu pasti bahagia Larissa. Jodoh yang telah Dipilihkan oleh orang tuamu pasti orang baik-baik. Kamu pasti bisa melewati ini semua. Kamu wanita kuat yang dipilih oleh Tuhan untuk melewati ini. Kamu kuat dan hebat". Ucap Dita memeluk dan membisikkan pembicaraan di telinga Larissa". Ucapan Dita seakan menyihir Larissa menjadi lebih kuat.
Perasaan Larissa mampu menahan butiran demi butiran air mata yang tak terlihat lagi dari kedua kelopaknya. Tukang make up mulai merias kembali wajah Larissa. Wajah Larissa yang telah cantik pun kini semakin lebih cantik. Make Larissa berasa seperti ratu dalam kerajaan istana yang megah. Sungguh Dita terpesona akan kecantikan Larissa. Ditapun menyanjung dan memuji kecantikan Larissa.
Bukannya bahagia justru Larissa malah bertambah sedih mengingat kembali pernikahan ini.
Dari sudut ruangan Revan pun telah siap untuk mengendarai mobil yang mulai dikemudikan oleh pak Robi. Tuan Azka , istri dan Pak Revan mulai menuju rumah Larissa. Di sepanjang jalan Revan hanya menatap pemandangan dari balik jendela kaca mobil. Dia tidak ingin bercengkrama dengan ibu ayahnya karena Revan hanya memikirkan tentang perasaan Amira.
__ADS_1
Dia takut jika suatu hari Amira akan mengetahui penghianatan yang telah dia lakukan. Ibu dan ayah sangat bahagia akan rencana pernikahan di hari ini. Tak terasa tiga puluh menit sudah berlalu. Revan, pak Robi, Tuan Azka dan istri telah berada di rumah Larissa. Pak penghulu yang mulai dari tadi menunggu kedatangan mempelai pria akhirnya telah datang juga.
Mereka pun mulai bercengkrama di sana sebelum akad nikah dilaksanakan. Hal ini agar membuat Revan rilek dan tidak grogi ketika Akad berlangsung.
Lanjutanya,,,.
Larissa mulai sedih mengingat dirinya akan meninggalkan masa lajang di usia delapan belas tahun. Masa muda itu mulai dilepaskan Ketika seseorang mulai berucap
"Qobiltu nikahaha wa tazwijaha bil mahril madzkur haalan". Ucap Revan dengan lantang dan jelas dengan suara yang coolnya.
"Bagaimana para saksi?" Ucap penghulu.
"Sah". Ucap Tuan Azka, Mujahidin, pak Robi dan lainya.
Suara sah mulai terdengar di dari dalam kamar Larissa. Perasaan Larissa seakan disambar petir akibat mendengar suara Sah. Kini statusnya telah menjadi seorang istri dari Revan Kurniawan Wijaya. Secara perlahan Dita mulai membuka gagang pintu dia mulai menggandeng Larissa untuk bertemu sang Sang suami Larissa.
" Mengapa harus Larissa dinikahkan olehnya ? Bagaimana dengan wanita itu ? Apakah Larissa akan dijadikan istri kedua ? Atau jangan-jangan Larissa dijual oleh orang tua Larissa" Mengingat Larissa dari keluarga biasa-biasa saja". Pertanyaan dari dalam hati itu sungguh membuat pikiran Dita bingung.
Lagi Lagi Dita berpikiran Negatif dengan menatap wajah kedua orang tua Larissa.
"Apa jangan-jangan kedua orang tua Larissa tidak mengetahui akan lelaki ini? Bukankah lelaki ini telah memiliki seorang anak dan juga seorang istri? Pikiran Dita mulai berkecamuk di sana.
Tapi tidak dengan Larissa. Larissa yang mulai tadi digandeng oleh Dita hannya tertunduk dan tidak ingin melihat pasangannya. Ibu yang mulai mengarahkan Larissa untuk bersalaman kepada suaminya. Larissa hanya melihat tangan dari suaminya. Revan pun juga tertunduk dan meratapi akan kenyataan ini. Mereka berdua saling menukar cincin dijemari manis tanpa saling menatap satu sama lain. Jemari itu nampak indah dengan dihias cincin pernikahan mereka. Ketika Larissa mulai menegakkan pandangannya begitupun dengan Revan mereka terkejut satu sama Lain.
"Revan" Ucap Larissa dengan terkejut.
__ADS_1
" Larissa". Ucap Revan dengan terkejut juga. Begitupun dengan Mujahidin dan ibu Larissa mereka sama sama terkejut dan bingung.
"Apa kalian baru saling mengenal? " Ucap penghulu yang melihat mereka saling terkejut saat memandang satu sama lain.
" Ada apa dengan semua ini?" Ibu pun mulai bertanya.
" Larissa apa kamu telah mengenalnya?" Ayah menatapnya dengan penuh tanda tanya.
Dita hanya fokus melihat pandangan kedua orang tua Larissa yang nampak bingung dengan pertanyaan mereka berdua. Larissa mulai menatap Tuan Azka. Ternyata Revan adalah anak dari Tuan azka yang dimaksud untuk menikah dengan Larissa. Tuan Azka dan istri yang menjadi saksi pernikahan anaknya pun mulai tersenyum ketika mereka saling menyapa.
Mereka mulai menikmati hidangan yang telah di sediakan oleh ibu Larissa. Begitupun tuan Azka telah membawakan banyak makanan untuk besanya. Mereka menikmati satu sama lain makanan hidangan yang ada didepan mata mereka.
Waktu pun berlalu dengan sempurna. Kini Larissa telah berada di dalam kamarnya. Dita sudah sedari tadi pergi meninggalkan pernikahan Larissa karena acara telah selesai. Ayah,ibu Larissa, Tuan Azka dan juga istri bercengkrama dari dalam ruang keluarga. Revan Hanya duduk di pinggir ranjang Larissa tidak lebih dari ukuran yang hanya berukuran 90 * 200.
Larissa membuang pandangan dari tuan Revan. Tuan Revan yang duduk di tepi ranjang mulai memainkan ponselnya. Begitupun dengan Larissa yang berada di meja belajar sedang asik memainkan ponselnya. Revan mulai menghubungi Abrian. Di sana mereka bercengkrama melalui pesan via WhatsApp untuk menghandle pekerjaan kantornya untuk hari ini.
Tapi lain halnya dengan Larissa. Larissa terus menghubungi Dita melalui pesan
Via What App. Mereka mulai bercengkrama membahas tentang pribadi masing-masing. Dita mulai menanyakan perihal tentang Larissa yang hari ini sah menjadi seorang istri dari Revan Kurniawan Wijaya. Larissa hanya mampu tersenyum dan mengalihkan pembicaraan diantara Dita dan Larissa.
Penasaran setelah Akad pernikahan antara Larissa dan Revan akan ada apa lagi yang terjadi dibab selanjutnya. Akan Author warnai dengan bumbu cinta yang meregangkan seksual pembaca. Jangan lupa ikuti terus kisah Guru Bimbel Itu Ibu Sambungku . Akan ada banyak kisah menarik dari setiap bab yang membahas perihal kebahagian Larissa .
Teruslah Like ,Suport, dan Doanya Semoga Karya pertama Nurlia Rahmah Trending #Aamiin
"Bersambung".
__ADS_1
See you next time 😘😘😘😘😘😘