
Tiga hari kemudian,,,.
Larissa dan Revan mulai bersiap untuk mengemas barang pakaiannya. Revan yang sudah selama satu minggu tidak bekerja untuk liburan bersama Larissa nampak senang dan terlihat bahagia.
Karena Revan bisa menginap beberapa hari di rumah ayah dan ibu mertuanya. Larissa mulai berpamitan untuk pulang kepada ayah dan ibunya. Mereka mengantarkan kepergian Larissa dan Revan sampai di depan pintu rumah. Para tetangga yang melihat Larissa dalam satu mobil dengan Revan nampak mulai curiga.
Banyak berhembus kabar tentang kehamilan muda Larissa. Lagi-lagi fitnahan demi fitnahan tertuju pada keluarga Mujahidin. Larissa yang tidak tahu menahu akan berita itu hanya dapat menutup kedua telinga.
" Ayah, Ibu . Larissa pamit dulu bersama Mas Revan. Nanti Larissa akan sering-sering menjenguk Ibu dan Ayah". Larissa mulai meminta izin untuk pamit dan memeluk kedua orang tuanya.
Revan yang melihat itu mulai mengikuti Larissa untuk bersaliman kepada kedua orang tua Larissa. Revan dan Larissa menuju mobil untuk menuju tempat tujuannya. Lambaian tangan Larisa mulai tak terlihat di Penghujung Jalan.
Ayah dan Ibu memasuki rumah yang telah ditinggal pergi anak semata wayangnya.
Tidak ada pembicaraan dari dalam mobil. Larissa hanya menghadap kaca mobil jendela untuk melihat pemandangan semesta.
Empat puluh lima menit sudah perjalanan mereka lalu dan menghantarkan sampai ke dalam rumah. Larissa nampak pusing dan kelelahan karena mabuk di perjalanan. Larissa berjalan bertertatih-tatih untuk menuju teras rumah.
Revan yang mulai menurunkan barang melihat Larissa nampak ingin pingsan dan menghampirinya.
" Kamu kenapa?" Ucapan Revan yang menggandeng tubuhn Larissa dan meletakkannya di kursi ruang tamu.
Revan mulai mengambil barang-barang dan memasukkannya ke dalam kamar. Larissa memijat pelan kepalanya. Nampaklah Larissa kelelahan dan pusing karena merasa mual dan sakit kepala yang mulai menghantui dirinya.
Revan mulai bingung akan keadaan Larissa.
"Apakah dia hamil karena mengingat Sudah beberapa kali ini Revan menggaulinya". Gumam hati Revan dengan berbaik sangka dengan pikiranya.
__ADS_1
"Sayang Kenapa kamu nampak mual dan kelelahan? Apa jangan-jangan Kamu hamil ya?". Larissa yang mendengar pertanyaan Revan nampak bingung.
Revan mulai membuatkan secangkir teh hangat untuk merilekkan tubuh Larissa. Larissa merebahkan tubuhnya untuk beristirahat. Rasa seperti hanyut bergelombang mulai dirasakan oleh Kepala Larissa.
Entah Karena kelelahan atau memang Larissa sedang mengandung anak Revan hanya Larissa yang tahu jawabannya. Langkah kaki Revan mulai terdengar. Revan membuatkan Larissa secangkir teh hangat dan beberapa snack .
Revan mulai membangunkan tubuh Larissa untuk bisa meminum secangkir teh buatan Revan. Larissa tersentuh akan kebaikan Revan.
" Kamu istirahat saja dulu. Biarlah barang-barang ini aku yang merapikannya". Ucap Revan yang tidak ingin membuat Larissa kelelahan lagi karena barang ini.
Revan mulai membawa koper berisikan baju Larissa dan Revan. Revan memasukkan baju pakaian ke dalam lemari. Entah karena suatu kebetulan atau tidak? Revan menemukan butiran pil KB dari celah pakaian Larissa.
Hal ini membuat Revan kecewa.
Kenapa ada obat ini? Bukankah ini obat untuk penunda kehamilan. Apakah Larissa tidak ingin memiliki anak dari ku? Kenapa dia tidak berdiskusikan Hal ini kepadaku? Dan bagaimana jika dia merasa pusing? Apakah dia akan hamil? Aatau hanya faktor kelelahan? berbagai macam pertanyaan mulai menghantui kepala Revan.
Larissa yang sudah merebahkan diri dan mulai tertidur membuat Revan menyandarkan diri di kursk ruang tamu. Revan meratapi obat yang dipegangnya. Obat itu dilemparkannya di atas meja ruang tamu.
Banyak pertanyaan yang menghantui Revan.
"Kenapa dia melakukan hal ini sendirian? Kenapa tidak berdiskusi denganku?" Guman hati Revan.
Revan yang melihat Larissa tertidur di ruang tamu mulai mengambilkan selimut dari dalam kamar.Revan menyelimutkan selimut terhadap Larissa. Revan mulai kembali ke kamar dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Sesekali Revan melihat notifikasi pada layar handphonenya.
" Amira sedang apa ya?". Gumam hati Revan.
Di sudut lain Amira nampak mesra di ruang tamu terhadap Richard. Richard sungguh menarik dan beberapa kali telah menggauli dirinya. Amira nampak terpedaya akan bujuk rayu dan pesona yang diberikan oleh Richard.
__ADS_1
Lagi-lagi goyahnya iman yang melanda hidup Amira tak ada yang tahu.
" Are you okay?". Suara itu menghentikan Lamunan Amira yang menatap tajam terhadap Pesona Richard.
" I am oke". Sahut Amira terhadap Richard.
Richard mulai memeluk mesra Amira dan mengangkat tubuhnya ala brida Steel untuk menuju kamar. Amira yang terpedaya akan bujuk rayu dan pesona Richard hanya mampu memasrahkan diri.
Amira yang telah berada dari atas ranjang mulai mendapatkan serangan demi serangan dari Richard. Ciuman yang di daratkan Richard dari pipi, Leher, Hingga kedua benda kenyal yang dimiliki Amira. Sungguh Amira dijadikan Ratu oleh Richard.
Berbagai macam pesona seni cinta di diberikan Richard untuk Amira. Amira sungguh menikmati berbagai macam cara seni percintaan yang diberikan oleh Richard. sungguh indah pergulatan panas antara Amira dan Richard.
Mereka sama-sama menyukai atau karena nafsu yang tidak tersalurkan satu sama lain?. Hanya mereka yang mengetahui akan hal ini. Sudah hampir dua jam adegan panas yang diberikan oleh Richard. Sungguh Richard lelaki yang dicari-cari Amira selama ini.
Hubungan di atas ranjang sangatlah panas diantara mereka berdua. Amira menikmati Gejolak demi gejolak yang diberikan oleh Revan. Revan menikmati tumbuh indah Amira sesekali tangannya menyelinap dari dalam kaos. Hal ini untuk menikmati dua benda kenyal yang disukainya sedari dulu.
Richard mulai mengremas, Menghisap dan memainkan dua ****** berwarna merah jambu. Oh Richard Betapa ganasnya dan perkasanya akan kelelakian dirimu.
Di sisi lain Revan sedang menunggu notifikasi dari Amira. Dia merindukan kekasihnya yang telah lama tidak ditemui. Ada rasa sedikit cinta diantara Revan yang masih menyayangi Amira sampai hari ini.Tidak ada notifikasi dari handphone Revan.
Revan ingin menghubungi lebih dulu tapi takut mengganggu kinerja yang dilakukan Amira selama di Paris. Larissa yang mulai terbangun melangkahkan kaki untuk menuju kamar. Kepalanya Masih berasa pusing dan mendudukkan diri di tepi ranjang.
Sesekali Larissa mulai memainkan handphonenya. Revan yang ingin bertanya tentang masalah obat penunda kehamilan mulai bertanya kepada Larissa.
" Kenapa kamu menggunakan obat ini?" Larissa yang melihat Revan menggenggam obat keluarga berencana mulai tercengang dan merasa takut. Niat Larissa untuk menggunakan obat itu adalah agar tidak hamil. Dia mendapatkan informasi tentang obat keluarga berencana melalui Google yang dia baca.
Untuk menghindari memiliki keturunan. Larissa hanya mampu tersenyum dan menundukkan kepala. Tidak ada keberanian diri dari Larissa. Revan mulai mempertanyakan berbagai macam pertanyaan. Lagi-lagi mulut Larissa hanya mampu terdiam dan tidak berani menjelaskan apa yang terjadi.
__ADS_1
Revan mulai membuang semua obat ke bak sampah.Larissa hanya dapat menunduk dan meratapi kesalahanya terhadap Revan kurniawan Wijaya.