
"Tolong bikinkan kopi". Suara itu mengagetkan Larissa yang berada di tepi ranjang memikirkan tentang hasil ujian nasionalnya.
" Baiklah aku akan pergi ke dapur untuk membuatkan kopi untukmu ". Sahut Larissa.
Larissa berjalan dan meninggalkan Revan di kamar untuk menuju dapur dan membuatkan kopi disana. Lagi-lagi Revan ingin meminum segelas kopi buatan Larissa. Disebelah ruangan Revan nampak tersenyum ketika melihat layar handphonenya. Revan Berbagi Kasih dengan Amira.
Larissa yang melihat Revan sedang mengotak-atik handphone melihat senyum yang selalu menghiasi wajah Revan ketika Revan menatap layar Handphone. Larissa hanya dapat menundukkan pandangannya dengan merasakan hati yang sakit tapi tak berdarah.
Aduh Revan Kenapa kamu mencintai dua wanita sekaligus. Apakah yang di dalam kamar ini kurang baik????
Larissa mulai meletakkan secangkir kopi di atas nakas. Revan yang melihat kedatangan Larissa langsung menghiraukan handphone yang berdering secara terus-menerus.
" Silakan minum kopinya". Ucap Larissa dengan Ketus.
Revan yang mengetahui sikap Larissa berubah karena dirinya. Hanya dapat minum kopi secara perlahan.
"Terima kasih". Ucap Revan.
" Sama-Sama". Sahut Larissa.
Waktu terus berjalan dengan sempurna.
" Kamu enggak ke kantor Mas?". Tanya Larissa.
" Hari ini kan hari Minggu. Ngapain aku ke kantor?". Sahut Revan
" Oh iya benar juga". Timpal Larissa yang lupa akan hari ini tanggal merah.
"Temani aku tidur di sini". Pinta Revan
" Hanya sekedar tidur kan ?" Tanya Larissa.
" Kamu sudah melaksanakan ujian nasional Lantas apa aku hanya sekedar tidur untukmu?" Revan mulai menaikkan sebelah alisnya dan menarik lengan Larissa dengan kasar.
Larissa yang terkejut dengan perilaku Revan tersandar di dada bidang Revan. Nampak keras perut dengan garis 8 kotak yang Larissa pegang.
"Apaan sih Mas Orang aku lagi nggak enak badan". Ucap Larissa berbohong.
" Sudahlah jangan jadi alasanmu. Cepat layani aku. Bukankah kamu bilang jika setelah Ujian Nasional kamu akan menyerahkannya? Lantas ini kan sudah berakhir Ujian Nasional. Aku juga menginginkannya. Aku laki-laki normal yang juga memerlukan hal demikian. Ucap Revan dengan mesra dan lembut.
Larissa yang diperlakukan dengan demikian hanya dapat membelalakkan kedua matanya.
__ADS_1
"Mas tunggu". Ucap Larissa dengan keras.
Larissa mulai beranjak dari ranjang dan mengambil satu pembalut.
"Aku sedang kedatangan ini. Aku ingin menggantinya dulu". Revan mulai mengusap wajahnya. Karena ada kemungkinan benar Setiap wanita pasti akan mendapatkan hadiah bulanan. Hal yang diinginkan pun tidak jadi terjadi
Larissa mulai menuju kamar mandi dan membersihkan diri di sana. Revan hanya dapat menatap punggung Larissa
Lagi-Lagi Revan harus mengurungkan niatnya. Meskipun demikian Revan juga seorang laki-laki yang normal. Jika dia menginginkan hal tersebut itu adalah hal wajar untuk menyuarakan hasratnya. Larissa sudah lama berada di kamar mandi.
Larissa merasa bersalah dan tak ingin melayani keinginan Revan. Larissa tidak ingin disentuh karena untuk menghindar perilaku Revan. Di Satu sisi Larissa tiba-tiba berpikir tentang kewajiban seorang istri. Larissa merasa bersalah dan berdosa karena menghindari Revan. Tapi disisi lain Larissa senang karena telah pergi untuk menghindari Revan.
Mengingat Revan yang masih berstatus suaminya dan memiliki banyak simpanan. Pikir Larissa wajib menghindar Revan dari dalam kamar mandi.
Tok,,,, Tok,,,,, Tok,,,, Tok,,,,
Ketuk pintu mulai beradu.
Ternyata itu adalah Revan.
" Tunggu sebentar". Sahut Larissa dari dalam kamar mandi. Revan kembali duduk di tepi ranjang . Larissa yang mulai keluar dari kamar mandi menatap Revan dengan penuh cemas. Dia berharap bahwa Revan tidak akan melakukan apa yang dia tidak inginkan.
" Jangan menatapku seperti itu". Sahut Larissa yang risih ditatap oleh Revan.
Revan hanya dapat tersenyum sinis melihat kelakuan Larissa .
"Mas". Ucap Larissa.
"Revan tidak suka dengan panggilan itu. Jangan memanggil aku Mas. Sudah berapa kali aku bilang Panggil Aku Sayang. Jika kamu tidak berkata demikian jangan salahkan aku akan memaksamu". Sahur Revan.
"Baiklah sayang". Ucap Larissa dengan penuh jijik. Larissa tidak ingin berbicara sayang kepada Revan. Sebab Dia tidak menyayangi Revan sepenuhnya. Karena Larissa tahu Revan yang memiliki banyak wanita simpanan Pikiran Larissa yang negatif pada Revan.
Hari sudah mulai siang. Larissa mengajak Revan untuk membeli bahan dapur. Karena di dapur sudah banyak habis bahan dapur.
"Sayang beras di dapur sudah habis. Begitupun dengan sayur dan buah-buahan"? Ucap Larissa terhadap Revan.
Revan hanya dapat menganggukkan kepalanya dan mengajak Larissa untuk berbelanja.
" Ayo kita pergi ke mall. Kita akan membeli bahan pokok di sana"? Ucap Revan mengajak Larissa.
" Tidak usah sayang. Kita Belinya di pasar swalayan yang dekat dengan rumah saja. Selain kita berbelanja di sana. Kita juga akan membantu perekonomian para pedagang arena membeli barang dagangannya". Sahut Larissa dengan senyum.
__ADS_1
Dipasarkan becek, Kumuh. Apa kamu enggak jijik? Tanya Revan.
" Tidak Mas. Jawab Larissa
" Ya sudah ayo kita belanja di sana". Ajak Revan.
Larissa dan Revan mulai menuju mobil untuk menuju pasar swalayan yang dekat dengan rumahnya. Larissa sangat antusias untuk berbelanja banyak berbagai macam hal yang dibelanjakan oleh Larissa. pembelanjaan mulai dari ikan, Sayuran, Buah-buahan, dan beras.
Larissa berbelanja dengan penuh barang bawaan.
"Sayang aku mau beli ini".Ucap Larissa.
"Iya beli saja". Sahut Revan
" Mas bayarin dong". Ucap Larissa.
Revan mulai memberikan sejumlah uang untuk Larissa berbelanja. Tak lupa Revan mengangkat barang belanjaan yang dibeli oleh Larissa. Revan mengingat ketika berbelanja di mall hanya menggunakan troli tinggal dorong.
Tapi sekarang ketika berbelanja di pasar swalayan Revan Justru harus mengangkat dengan tangannya untuk sampai ke parkiran mobil.
Larissa yang nampak kelelahan dan mulai beristirahat dari dalam mobil. Revan mulai siap untuk menancapkan gasnya. Tapi hal itu justru dihentikan oleh Larissa. Mengingat ada pedagang makanan kaki lima yang berjajar dengan menu makanan khas pasar yang siap disantap oleh Larissa.
" Mas Tunggu sebentar. Aku ingin makan itu". Larissa mulai menunjuk pedagang kaki lima yang berjejer.
"Hah itu kan kotor, Banyak lalat. Apa kamu ingin memakannya?" Tanya Revan.
Enggak papa sayang. Aku sudah terbiasa makanya disekolah. Larissa mulai menuju jajanan kaki lima untuk mengenyangkan perutnya di sana. Larissa mulai berbelanja dari cilok, Pentol basah, dan berbagai macam makanan jajanan lainnya.
Revan yang melihat Larissa dari dalam mobilnya nampak bingung ketika Larissa sangat bersemangat untuk mulai membawa makanan yang ada di tangannya.
" Sayang aku lupa bawa uang. Tolong minta uang untuk membayar ini semua ". Ucap Larissa meminta Uang.
Revan memberikan pecahan uang rp50.000-an kepada Larissa. Larissa yang membayar makanan yang telah dibelinya Larissa mulai kembali lagi dari dalam mobil.
Larissa Memakan makanan dengan lahap. Revan yang bingung dengan Larissa nampak terheran -heran akan menu makanan yang begitu dinikmati oleh Larissa .
"Mas kamu mau ini?" Larissa menyodorkan satu buah cilok Saus Kacang yang nikmat siap disantap oleh Revan. Tapi Revan justru menolaknya dengan alasan
" Aku enggak suka makanan seperti ini. Ini bekas banyak lalatnya yang singgah". Ucap Revan dengan Ketus.
"Enggak ada kok, Orang ini enak kok". Sahut Larissa yang sangat menikmati Makanan jajanan khas pasar.Revan mulai melajukan mobilnya dan menuju rumah.
__ADS_1