
Tiga hari kemudian.
Tiga hari telah berlalu dari hari -hari Larissa. Larissa setiap bangun tidur selalu menatap baju pengatin dari sudut kamarnya. sesekali Larissa nampak sedih dan mulai mengeluarkan butiran bening putih dari kedua kelopak matanya. Bayang-bayang indah ketika di masa depan untuk menikah dengan seseorang Dia cintai. Harus direlakan ketika ayah mengambil masa depannya untuk menjodohkan dengan seseorang yang baru dia lihat pertama kali.
Pikirnya selalu berpikir akan Tuan Azka. Laki-laki itu sungguh menari dalam pikirannya .Tak Disangka oleh Larissa dia benar-benar akan dijodohkan oleh lelaki yang berumur meski berwajah tampan dan terawat. Lagi-lagi pikiran Larissa selalu terbayangkan pernikahan di usia yang terpaut.
Larissa mulai melangkahkan kaki menuju jemuran dari atas loteng di lantai dua. Di situlah ibunya selalu menjemur pakaian. Sesekali Larissa melihat atap-atap Tetangga dari pandangannya. Rasa penyesalan ingin kabur karena tidak menyiapkan diri untuk pernikahan. Membuat mental Larissa yang hancur seketika.
Pikiran Larissa mulai gelisah. Akankah Larissa berpikir untuk kabur atau hanya meratapi nasib dari dirinya?
Banyak pakaian di atas loteng yang Larissa pikirkan. Jika ia harus kabur sekarang, Dia harus menyiapkan banyak pakaian untuk dia bawa. Seketika pikiran Larissa mulai di atas ambang.
Larissa mulai berpikir untuk kabur nampaklah banyak pakaian yang sudah Larissa ikat untuk menuruni atas loteng tersebut. Larissa berharap bisa kabur meninggalkan segala yang telah direncanakan oleh ayahnya. Larissa berani mengambil resiko besar dari dalam hidup. Kini semua pakaian yang sudah Larissa siapkan untuk dibawa pergi dan digunakannya sebagai cara untuk kabur sudah siap.
Sudah banyak pakaian yang diikat sebagai tali untuk siap dia menuruni atas loteng. Secara perlahan namun pasti. Larissa mulai menuruni loteng dengan pakaian yang terikat panjang secara perlahan dan berhati-hati. Larissa mulai menuruni secara perlahan
Pak Azka yang kebetulan lewat untuk mampir ke tempat Mujahidin melihat pemandangan itu dari balik jendela kaca mobilnya. Tuan Azka menuruni mobil dan beranjak pergi dengan terburu buru-buru menghampiri Larissa. Larissa yang secara perlahan menuruni mulai terjatuh di pangkuan tuan Azka. Pakaian yang terikat tidak mampu menahan lebih lama akan beban fisik Larissa .
Tatapan mata mereka berdua beradu dengan sempurna. Larissa yang melihat langsung menurunkan badannya dari pangkuan Tuwn Azka . Tuan Azka nampak terkejut akan perilaku Larisa yang bisa berbuat seperti ini.
" Kamu kenapa seperti ini ?" Ucap Tuan Azka membuka pembicaraan di antara mereka berdua.
"Tidak apa-apa Tuan". Ucap Larissa tertunduk dan malu melihat perilakunya sendiri.
"Mengapa kamu mengikat banyak pakaian dari atas hingga bawah untuk menurun ini? Apa jangan-jangan kamu mau kabur ya?" Tanya Tuan Azka dengan penuh penekanan.
"Saya ti ti tidak kabur tuan .Saya hanya ingin latihan untuk jaga-jaga kalau ada maling saya harus seperti ini menyelamatkan diri dari rumah" Jawab Larissa berbohong dengan gugup kepada Tuan Azka.
Tuan Azka tidak percaya dengan Larissa. tuan Azka pintar dengan segala pengalamanya. Kini Tuan Azka mulai meraih lengan Larissa dan menuju Rumah.
__ADS_1
Tok,,,, Tok ,,,, Tok,,,,.
Ketukan pintu mulai beradu. Mujahidin mulai membuka ganggan pintu. Pertemuan kembali di antara mereka terjalin lagi. Mujahidin bingung ketika melihat Tuan Azka sedang menarik lengan putrinya dengan erat.
" Ada apa ini pak?" Mujahidin bertanya kepada Tuan Azka.
"Lihatlah perilaku anakmu. Dia mengikat banyak pakaian dari atas dan ingin kabur untuk menghindari pernikahan yang telah kita sepakati".Ucap Tuan Azka dengan penuh penekanan penekanan.
" Tuan Azka aku pikir anakku tidak akan membangkang seperti ini ". Ucap Mujahidin dengan ramah.
Larissa hanya dapat tertunduk dan mulai berlalu diantara mereka berdua. Kini Mujahidin dan tuas Azka mulai bercengkrama di ruang keluarga. Larissa berjalan mengendap-endap secara perlahan untuk mendengar pembicaraan di antara mereka berdua.
Tak terasa hampir satu setengah jam Tuan Azka berada di rumah. Banyak pembicaraan yang mereka obrolkan disana. Larissa pun mengerti dari pembicaraan di antara mereka. Ternyata Larissa telah salah paham terhadap pikirannya. Tuan Azka tidak akan menikahi Larissa. Justru anaknya lah yang akan menikahi Larissa di kemudian hari.
Lantas Seperti apakah anak dari Tuan Azka tersebut? Apakah dia anak yang baik-baik saja ? Atau Larissa hanya dijadikan korban untuk masa depan anaknya yang mohon maaf bisa dikatakan cacat?
Pikiran Larissa pun jadi bingung dan gelisah memikirkan hal ini. Larissa mulai menarik napas dalam-dalam dan hanya berpikir positif membayangkan masa depannya kelak. Pikirnya Tuan Azka saja terlihat mempesona. Bagaimana dengan anaknya? ucap Larissa dengan penuh keyakinan.
"Kamu habis pulang sekolah bisa Enggak main ke rumahku? "Tanya Larissa kepada Dita
Dita yang kebetulan sedang online di via WhatsApp mulai membalas pesan dari Larissa.
"Aku ada waktu kok dan bisa ke rumah kamu" Ucap Dita.
Larissa pun mulai tersenyum dan ingin menyiapkan diri untuk menceritakan segala beban pikirannya kembali. Dita anak yang broken home .Dita suka ke sana kemari dan lebih banyak waktu luang untuk berteman. Dita juga pemikirannya dewasa menurut Larissa. Hanya kepada Dita Larissa sangat percaya akan rahasia pernikahannya.
Tak terasa waktu telah menunjukan jam lima sore
Tok,,, Tok,,, Tok,,,,.
__ADS_1
Ketukan pintu mulai beradu. Ibu mulai membukakan pintu untuk menyambut siapa yang datang.
Kerek,,,,,.
Suara pintu mulai berbunyi ternyata itu adalah Dita sahabat dari Larissa.
" Assalamualaikum ibu". Ucap Dita yang ada didepan pintu".
"Walaikusalam. Eh Nak Dita, Ayo masuk masuk biar ibu panggilkan Larissa". Ucap Ibu dengan ramah
"Larissa,,,, Larissa,,,,". Ucap Ibu memanggil Larissa. Kini Larissa mulai membuka ganggang pintu untuk keluar dari kamar. Tampaklah Dita sedang menunggu di ruang keluarga. Larissa senang akan kehadiran Dita yang dimintanya untuk bisa kerumahnya. Larissa mulai mengajak berbicara dan berbincang di sana.
Tidak lupa Ibu memberikan dua gelas minuman teh es dingin dan beberapa cemilan untuk mereka bercengkrama di ruang keluarga. Dari awal sampai akhir Larissa terus menceritakan tentang takdir pernikahan yang akan dilaksanakan. Dita terus memotivasi dan memberi semangat kepada Larissa. Larissa sesekali tersenyum dengan indah diwajahnya.
"Dita jangan lupa ya empat hari lagi aku akan mengadakan pesta pernikahan secara kecil-kecilan. Jangan lupa datang dan jadiah dirimu sebagai saksi di pernikahanku. Aku mengundangmu secara pribadi". Ucaplah Larissa dengan menggemgam tangan Dita. Dita mulai tersenyum dan menepuk bahu Larissa untuk memberikan semangat hidup kepadanya.
Lagi-lagi butiran bening dari kedua kelopak mata Larissa mulai mengalir perlahan. Dita dan Larissa mulai berpelukan bersama sebagai bentuk rasa menguatkan kehidupan satu sama lain.
Larissa hanya manusia biasa yang tak luput dari musibah kehidupan duniawi. Dita salah satu sahabat pilihan Larissa yang mampu memotivasi hidupnya agar hidup lebih bersemangat lagi. Dita dan Larissa sungguh penasaran akan lelaki akan menikah dengan Larissa.
Wajahnya seperti apa? Fisiknya Bagaimana ?entah dia menerima Larissa dengan baik atau justru Larissa yang akan menerima apa adanya terhadap mempelai pria tersebut. Dari takdir kehidupan duniawi akan ada seseorang yang entah siapa yang tahu akan pernikahan datang secepat ini.
Di sinilah kisah Larissa selanjutnya akan dimulai. Akankah pernikahan Larissa bahagia ? Oh tentu di sini akan dijawab semua kisah yang akan menggambarkan tentang cerita kehidupan pernikahan Larissa. Jangan lupa Like, Comment, dan Support karya pertama Nurlia Rahma agar terus menjadi karya yang baik dan bermutu.
Jangan lupa doakan agar karya Nurlia Rahma bisa menjadi karya yang trending Aamiin. Terima kasih yang telah mampir sampai membaca di tiga puluh dua bab. Salam kenal dari Author yang berasal dari Banjarmasin Kalimantan Selatan. Berikutnya kita akan banyak membahas tentang pernikahan Larissa. Ditunggu kehadiran kalian bye bye
Follow Ig Author : @Liazahasan.
Facebook. : Nurlia Lia Rahmah
__ADS_1
Twiter. : Nurlia Rahmah 1
Mari Berteman dan menyambung tali persaudaraan :)