Guru Bimbel Itu Ibu Sambungku

Guru Bimbel Itu Ibu Sambungku
Bab 38 Kenyataan Hidup


__ADS_3

Keesokan harinya.


Larissa yang telah siap sedari tadi untuk pergi berangkat sekolah nampak terduduk di tepi ranjang untuk menunggu Revan yang berada di dalam kamar mandi.


"Ambilkan handukku". Ucap Revan.


Lamunan Larissa berhenti ketika mendengar suara Revan menyuruhnya. Larissa mulai mengambilkan handuk untuk Revan yang telah selesai mandi.


"Ini Handukmu". Ucap Larissa .


Revan yang melihat Larissa Mulai memberikan handuk dari tangan Larissa, Sesekali Revan menarik handuk dengan sangat cepat sehingga membuat tubuh Larissa sedikit goyah. Syukurlah Larissa telah bersiap untuk posisi menahan diri agar tidak terjatuh kepelukan Revan.


" Dasar laki-laki gil*". Gumam Hati Larissa. Harapan Revan yang menginginkan Larissa terjatuh dipelukanya sirna seketika. Revan mulai menaikkan sebelah alis dari wajahnya.


"Dasar laki-laki gil* syukur saja aku bisa menahan tubuhku. Jika tidak kan aku bisa terjatuh dan terbawa masuk ke dalam kamar mandi". Ucap Larissa berbicara pelan.


Pikiran Larissa mulai memikirkan hubungan kewajiban seorang istri terhadap suami. Larissa kembali duduk di tepi ranjang. Revan yang baru keluar dengan lilitan handuk di pinggangnya membuat Larissa membalikan pandangannya terhadap Revan.


"Jangan seperti itu. Cepat atau lambat Kau pasti akan melihatnya ". Ucap Revan berbicara mengejek prilaku Larissa.


Larissa yang mendengar perkataan Revan hanya mampu menutupi wajahnya dengan membalikan kedua tangan menutupi wajahnya. Revan mengambil pakaian dan bersiap untuk mengantarkan Larissa bersekolah.


"Kamu sudah makan?" Tanya Revan kepada Larissa.


"Aku sudah makan roti yang ada di kamar ini". Sahut Larissa


"Oh baguslah Kalau begitu". Timpal Revan


" Kamu tidak makan ?. Pertanyaan itu ditunjukan Larisaa mengingat isi kulkas tidak ada bahan untuk dimasak.


"Tidak usah, Aku nanti makan di kantor saja bersama temanku". Jawab Revan


"Oh begitu". Sahut Larissa.


"Nanti kamu pulang sekolah langsung ke rumah saja menggunakan ojek online" Ucap Revan Kepada Larissa.


"Tidak mau. Aku takut sendirian. Nanti aku pulang sekolah ke rumah Ibu saja . Boleh tidak?" Tanya Larissa


"Tidak usah!. Untuk apa kamu ke rumah Ibu. Baru dua hari ini kita pindah rumah. Kenapa langsung ke rumah Ibu lagi. Apa kata orang tuamu nanti ketika kamu berada di rumahnya. Nanti aku jemput dan kita pulang bersama. Jam berapa kamu pulang ?" Tanya Revan.


"Aku pulang jam 15: 15 siang Mas" Jawab Larissa.


" Ya sudah. Nanti aku jemput kamu agar aku bisa pulang lebih awal dari kantor untuk hari ini". Ucap Revan


"Oh ya Kalau begitu syukurlah". Sahut Larissa

__ADS_1


Revan dan Larissa mulai beranjak pergi dari rumah untuk menuju mobil. Di sepanjang jalan tidak ada pembicaraan diantara suami istri pengantin baru Ini . Larissa hanya membalikkan wajahnya menghadap pemandangan dari Balik jendela kaca mobil.


Revan hanya fokus terhadap mobilnya. Tak terasa sepuluh menit sudah Larissa sampai di depan pagar sekolah.


" Turunkan Aku di sini saja. Tidak usah mengantarkanku sampai disana" Ucap Larissa kepada Revan.


"Mengapa tidak sampai di depan pintu gerbang sekolah saja?" Tanya Revan.


" Tidak perlu, Aku hanya ingin berjalan dari sini. Cepat turunkan di sini. Di sini lebih baik dari pada aku harus diantarkan oleh mu sampai ke depan pintu ger" Ucapan Larissa terputus ketika Larissa telah Beranjak Pergi dari mobilnya Revan.


Larissa berjalan secara perlahan untuk menuju pintu gerbang sekolah. Tampaklah dari depan pintu gerbang sekolah sudah ada Dita disana. Revan nampaknya samar-samar melihat wanita itu.


"Sepertinya wanita ini pernah bertemu Tapi dimana Ya?" Gumam hati Revan berbicara untuk mengingat-ingat wanita tersebut.


Revan mulai pergi dengan menamcapkan gas mobilnya. Langkah kaki Larissa dan Dita secara perlahan mulai sampai tepat di depan pintu kelasnya. Rika telah menunggu kehadiran sahabatnya.


" Hei Larissa ". Rika bersuara menyapa sahabatnya. Lambaian tangan Diva dan Adit mulai menyambut kedatangan Larissa. Larissa, Diva ,Adit ,Rika dan Dita kini telah bersama di antara mereka.


Dengan penuh kebohongan Larissa menjelaskan tentang aktivitasnya selama di kampung. Dita sesekali mentertawakan kebohongan yang telah dijelaskan oleh Larissa. Dita tahu betul bahwa Larissa telah melaksanakan pernikahan secara sirih terhadap Perjodohan yang dilakukan oleh orang tuanya.


Rika sangat antusias bertanya tentang aktifitas Larissa ketika Larissa melakukan kegiatan di kampungnya. Apalah daya Larissa hanya mampu berbohong ketika teman-teman yang lain mulai banyak menyatakan pertanyaan kepadanya.


Tak terasa kini ibu guru mulai memasuki ke ruangan dan pembelajaran pun telah dimulai. Sudah hampir dua jam pembelajaran berlangsung. Tiba saatnya bel berbunyi pertanda waktu istirahat pertama dimulai.


Begitupun dengan cerita dari Larissa yang penuh dengan kebohongan yang diceritakannya kepada sahabatnya. Semua dia lakukan untuk menutupi pernikahan Siri yang tidak ingin diketahui oleh banyak pihak.


Lagi-lagi Dita hanya dapat menahan tawa ketika Larissa melakukan kebohongan.


Teng, Teng, Teng, Teng. Bel pertanda masuk kelas telah berbunyi. Mereka kini masuk ke kelas untuk melanjutkan pembelajaran berikutnya. Tak terasa lima jam telah berlalu dari dalam kelas pada aktifitas mereka.


Siswa dan siswi mulai bersiap untuk pergi meninggalkan kelas Waktu begitu sempurna untuk melajukan setiap detik menit dan jam selama satu hari. Larissa mulai mengetik pesan melalui via What App untuk meminta jemput. Baru saja tiga menit Larissa mengirim pesan lewat chat WhatsApp kepada Revan.


Revan tiba-tiba menelponnya. Dari layar handphone tertulis bapak new. Larissa melirik layar handphone


" Oh iya Jemput aku di tempat yang tadi". Ucap Larissa. Diva yang melihat Larissa sedang menelpon ayahnya mulai mendekati Larissa . Larissa Kamu dijemput ayah ?Bukannya Ayah kamu kena stroke? Udah sehat ya dan bisa naik kendaraan untuk menjemput kamu? " Tanya Diva dengan banyak pertanyaan.


Larissa mulai kebingung ketika Diva bertanya hal demikian.


"Aku lihat di layar handphone mu tadi ada tulisan bapak new .Itu artinya bapak kamu kan? " Tanya Diva.


" Ini bapak aku. Tapi bukan bapak kandungku. Ini adiknya Bapak aku . Aku juga memanggilnya Bapak .Hehehe". Ucap Larissa berbohong ".


"Oh begitu. Jadi kamu memanggil adik bapak kamu juga dengan sebutan bapak. Aku pikir bapak kamu sudah sehat untuk bisa menjemput kamu kembali". Ucap Diva.


"Oh tidak Diva. Diva aku pergi dulu ya. Nanti aku ditunggu oleh adiknya bapak aku yang juga aku panggil Bapak". Sahut Larissa

__ADS_1


" Oke deh hati-hati Ya". Ucap Diva.


Diva tidak bisa menerima jawaban dari Larissa. Diva hanya dapat menggerukan kepala dengan jemarinya seakan-akan jawaban dari Larissa masuk akal


Tapi tidak dengan Adit. Adit nampak Curiga dengan Larissa. Adit dari dalam mobil pun mulai berpikir untuk membuntuti Larissa.


Diva Rika dan Dita mulai pergi untuk pulang menuju rumahnya. Tapi Adit yang melihat gelagak Larissa nampak bingung dan memutuskan untuk membuntuti Larissa.


Larissa menengok ke kiri dan ke kanan untuk memastikan keadaan baik untuk memasuki mobilnya Revan. Adit yang sudah siap untuk membuntuti mobil Revan nampak bingung ketika melihat Larissa dengan tergesa-gesa dan menutupi wajahnya ketika membuka pintu mobil.


Secara perlahan Adit membuntuti mobil Revan dari belakang. Mobil itu melaju dan mulai terhenti di sebuah rumah yang tidak menghantarkan Larissa pergi ke rumah orang tuanya. Adit tahu rumah Larissa.


"Tapi kenapa harus diantar ke sini? Kenapa harus dijemput bersama dengan laki-laki yang pernah aku lihat dulu. Bukankah laki-laki itu pernah kulihat ketika berada supermarket". Pertanyaan Adit mulai bertanya-tanya di kepalanya.


Adit melajukan mobilnya dan tidak ingin banyak tahu tentang hal ini. Sepanjang jalan pertanyaan Adit mulai menari-nari di pikirannya. Hingga akhirnya Adit sampai rumah dan kedatangannya disambut oleh Rania. Rania menjadi teman setia Adit dari dalam rumah.


Rania yang kini menjadi pengasuh nenek saat membantu dari dalam rumahnya.


Di sudut lain Revan mulai memasuki rumahnya diikuti oleh Larissa. Kini mereka telah berada satu kamar. Revan mulai memasuki kamar mandi seperti biasa handuk yang ketinggalan membuat Revan meminta tolong pada Larissa untuk mengantarkan handuk tersebut.


" Tolong ambilkan handukku". Ucap Revan ketika berada dari dalam kamar mandi.


Larissa sudah tahu perilaku jahil Revan. Larissa memilih melangkah lebih jauh dari depan pintu kamar mandi. Ketika wajah mereka saling bertatapan Larissa hanya mampu melempar handuk dari tangannya.


Lemparan itu disambut oleh Revan. Revan nampak tersenyum sinis atas perilaku Larissa. Larissa sangat bersyukur karena telah mampu menjaga dirinya. Dan tidak ingin terjadi lagi dengan kejadian tadi pagi.


Itu sungguh memalukan. Notifikasi dari handphone Revan yang sedang asik di kamar mandi mulai berbunyi. Larissa mulai mendekati handphone Revan. Dari layar handphone tertulis kata sayang dengan emoticon Love.


"Dasar tua bangka. Ternyata kamu sudah punya pacar tapi malah menikahi aku. Apa aku hanya dijadikan istri boneka yang mudah dimainkan". Ucap Larissa dengan suara pelan.


"Aku tidak akan jatuh cinta dengan kau dasar bajinga*. Orang kaya yang bisa membeli apa yang dia mau. Aku tidak akan memberikan mahkota yang suci ini padamu". Ucap Larissa dengan penuh tekad.


Saat Revan mulai membuka gagang pintu kamar mandi. Revan melihat Larissa yang nampak tidak senang dengan ekspresi wajahnya. Hal ini membuat hati Revan bertanya-tanta


" Kamu kenapa?" Tanya Revan.


" Tidak apa-apa. Aku hanya ingin kamu keluar karena Aku juga ingin mandi". Ucap Larissa yang sudah membawa handuk dari tadi mulai menunggu Revan keluar.


"Ya sudah kita mandi lagi berdua". Ucap Revan dengan entengnya.


Rasa benci mulai menggerogot tubuh Larissa


"Dasar laki-laki buaya. Banyak menebar cinta. Amit-amit Aku punya keturunan dari kamu ". Gumam hati Larissa berbicara.


Tatapan sinis Larissa kepada Revan membuat Revan tidak suka diperlakukan dengan demikian . Revan yang mulai ditatap mencoba melangkah dan mendekati Larissa. Larissa menutupi wajahnya dengan kedua tangannya . Revan yang melihat hanya mampu tertawa kecil ketika melihat perilaku istri sirihnya. Larissa berlalu dan menuju kamar mandi. Hari mereka sebagai pengantin baru telah banyak berlalu dari waktu ke waktu.

__ADS_1


__ADS_2