
Hoammm...
Rani terbangun dari tidur nya, ia pun mulai menggeliat dan meregangkan tubuhnya. ia pun bangun dan mendudukan badanya lalu melihat ke arah jam weker di atas nakas.
" Apa.. udah jam 7 malam, kenapa gue bisa kelamaan tidur " ucap Rani ia sangat kaget saat melihat jam di atas nakas samping tempat tidurnya.
Ia pun segera bergegas menuju kekamar mandi dan langsung membersihkan tubuhnya. Setelah selesai ia bergegas memakai handuk dan berjalan kearah walk in closet. Lalu memakai pakaian, ia lebih menggunakan kaos putih polos beserta celana hotpants. Setelah itu iya segera keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju meja rias. Ia mulai mengeringkan rambutnya dan memakai produk perawatan kulit tubuhnya.
Setelah selesai ia bergegas keluar dari kamarnya tak lupa ia mengambil ponsel nya yang ia letakan di atas nakas. Ia berjalan ke arah dapur dan memanggil bi tika untuk makan. Rani pun segera menggeser kursi dan langsung duduk. Sementara bi tika beliau menyiapkan makanan yang sudah ia masak tadi dan langsung menghidang kan nya di atas meja. Bi Tika pun mengambilkan nasi untuk rani, mereka langsung menyantap makanan nya.
Tak lupa mang Tejo juga ikut bergabung makan malam karena rani yang meminta nya untuk makan malam bersama dengan nya. Untuk penjaga di depan Rani tidak terlalu khawatir karena gerbangnya sudah di kunci dan di rumahnya juga sudah di pasang CCTV di berbagai sudut luar desta dalam rumah. Jadi Rani tidak terlalu khawatir saat ia tinggal di rumah mewah hanya sendirian. Walau terkadang Danish dan Faishal juga sesekali akan tidur di rumahnya.
Mereka melangsungkan makan malam dengan begitu tenang. Rani sudah sering melakukan makan malam bersama dengan bawahannya. Karena ia sangat menghormati mereka terlebih mereka sudah membantu dan melayani rani saat ibu rani masih ada. Mereka juga sangat baik, ramah serta memberikan kasih sayang terhadap rani layak nya seorang anak kandung tanpa mengurangi rasa hormat mereka pada majikan nya. Rani sangatlah senang dengan perlakuan orang rumah nya tersebut.
" Oh iya bi, minggu depan kan Mang Didi udah masuk lagi kerja, dia akan datang sekalian sama istrinya. Dia akan kerja disini juga, sekalian bantuin Bibi, biar Bibi gak kecapean " ucap Rani. saat ia sudah menyelesaikan makanannya dan meminum air di gelasnya hingga habis.
" Bibi mah seneng sama keputusan non Rani karena udah baik sama Bibi. jadi Bibi hanya bisa berterima kasih aja sama non " ucap bi Tika
__ADS_1
" Bibi jangan bilang gitu, semua pekerja yang kerja sama Rani sudah Rani anggap sebagai keluarga. Apalagi kalo mereka juga menyayangi Rani, Rani sangat bahagia bi " jawab Rani ramah sambil tersenyum.
" Saya mah neng, bangga walau saya bukan keluarga Eneng dan saya juga udah punya keluarga saya sangat senang dan udah menyayangi Eneng sama seperti anak anak Mang Tejo. Di tambah Eneng juga ramah serta sopan, pokoknya Eneng terbaik lah " ucap Mang Tejo sambil tertawa dan tak lupa memberikan acungan jempolnya.
Sontak Rani dan bi Tika pun tertawa mendengar penuturan dari Mang Tejo sekaligus lucu melihat ekspresi nya. Bahkan Rani sampai menitikan air mata bahagia, walau pun keluarganya tak perduli lagi terhadap nya. Namun masih ada orang yang senang tiasa menyayanginya dan memberi kasih kepadanya.
" Iya Mang, Rani berterima kasih banyak karena mang Tejo udah menganggap dan menyayangi rani sama seperti anak Bapak. Rani sangat bahagia mendengarnya. Walau pun orang tua Rani tak perduli lagi sama Rani " ucap Rani. Ia menangis memikirkan ayah beserta kakak nya yang tak pernah peduli dengan keadaan Rani.
" Neng Rani jangan ngomong gitu, sejahat jahat nya macan dia gak akan menyakiti anak nya sendiri. Lagian Bibi juga udah anggap non seperti anak Bibi sendiri " ucap bi Tika sambil mengelus kepala Rani.
" Hemm, Makasih ya bi. Bibi udah baik dan udah sayang sama Rani " ucap Rani.
Bi Tika pun segera membersihkan dan membereskan meja makan. Di bantu dengan mang Tejo dengan sigap membantu membawa makanan yang masih tersisa ke dapur.
Rani pun segera beranjak dari sana, ia bergegas menuju ke ruang kerjanya. Rani segera duduk di kursi dan membuka leptop yang ada di atas meja. Ia ke mudian mengecek email dan menanyakan tentang perusahaan nya yang ada di jakarta. Dia sedang bertukar E-mail dengan sekertaris dan juga tangan kanan Rani di perusahaan tersebut.
Ia pun menanyakan tentang kemajuan dan perkembangan perusahaan nya tersebut. Ia sangat lega saat mendengar perusahaan nya sedang mengalami kemajuankemajuan yang sangat pesat. Ditambah beberapa cabang hotel delina yang sudah di bangun di berbagai wilayah besar Indonesia. Termasuk hotel pertama yang ada di jakarta kemudian di susul dengan pembangunan yang ada di Bali, Jogja dan masih banyak lagi.
__ADS_1
Rani sangat senang sekali dengan kemajuan perusahaannya, terlebih saat ini ia masih duduk di bangku SMA namun kesuksesan nya melebihi mereka yang sudah tamat sarjana. Namun di tengah kesenangan nya ia kembali mengingat kembali kenangan bersama ibunya. Ia mengingat ngingat betapa kerasnya mendirikan perusahaan Delina Company / Delina Grup. Jika sang ibu masih hidup mungkin ia akan bangga melihat putrinya yang sudah sukses ini.
Setelah ia sadar dari lamunan nya, ia kembali pokus pada layar leptop nya dan ia mengecek beberapa file yang dikirimkan Anisa sang sekertaris sekaligus tangan kanan atau orang kepercayaan nya. Disana Rani membaca daftar beberapa perusahaan yang akan melakukan kerjasama dengan perusahaan nya. Ia tak sengaja melihat nama perusahaan milik ayah nya, yang tak lain adalah Afnan Grup, ia sempat merenunginya dan menatap lekat nama yang tertera di layar monitor nya.
Sudah lama aku tak bertemu dengan mu ayah apa kabar mu disana? bagaimana kabar bang Fatih? aku sangat rindu kalian. Walau kalian belum tentu mengingatku.kembali lagi Rani tenggelam dalam lamunannya. Hingga suara ponsel mengagetkan nya.
*Drettt... drettt... drettt.... Suara nada panggilan di ponsel Rani pun memecah kesadaran Rani saat ia melamun. Ia pun langsung tersadar dan segera meraih ponselnya. Ia melihat ke layar HP nya ada nama Danish lalu ia segera mengangkat telpon tersebut.
" Hallo... Mau apa loe bang, tumben loe telpon gue ? " jawab Rani dengan nada dingin.
" Santai kali dek, kaya kesambet macan ajah. Baru juga ngomong nadanya udah bikin menusuk aja " ucap danish sambil tertawa. Rani pun hanya mendengus dan membuang nafas dengan kasar.
" Hemm... iya abang ada perlu apa tumben telpon malam gini " ucap Rani dengan nada lembut.
_________________________________________________
Note :
__ADS_1
Mohon maaf untuk pembaca novel hakikat cinta. karena baru update lagi. soalnya beberapa hari kemarin ada sedikit kendala. jadi sekali lagi mohon maaf ya.🙏🙏🙂
selamat membaca😊