Hakikat Cinta

Hakikat Cinta
Bab 5


__ADS_3

Setelah menempuh waktu berjam jam dengan jarak yang sangat jauh dari kota menuju ke daerah pedesaan. Hawa dingin mulai terasa menjadi ciri khas kota bandung. Kini mobil menyusuri jalan yang hanya masuk bisa masuk satu mobil.


Dibagian samping di penuhi kebun teh. Matahari pun sudah tak nampak lagi di gantikan dengan bulan yang tertutupi oleh awan. Tak lama kemudian mereka sampai di depan sebuah rumah. Jarak antara rumah rumah disini agak berjauhan, begitu pun dengan rumah Danish. Mereka pun turun dari mobil dan sudah di sambut hangat oleh kedua orang tua nya Danish.


Di sana Rani dan kedua kakak nya sudah di sambut oleh kedua orang tua danish, mereka pun langsung bergantian menyalami orang tua danish dan sekedar berpelukan untuk melepas kerinduan.


Setelah selesai bercengkrama, Rani pun di ajak masuk ke dalam rumah. Sementara Faishal, Danish dan ayah nya sedang menurunkan barang bawaan dan beberapa makanan dan buah buahan yang sempat Rani beli di perjalanan.


Kemudian mereka ikut bergabung duduk bersama Rani dan ibu Danish yang sedang asik bercerita.


Akhirnya merekapun ikut berbincang bincang, tak lupa ibu mengambilkan cemilan dan air minum. Mereka mulai menceritakan tentang perjalanan mereka menuju desa. tak lupa Danish dan Faishal menyelipkan kekonyolan mereka saat ngobrol.


Tak terasa mereka sudah berbincang bincang cukup lama. Akhirnya Rani perpamitan dan masuk kekamar yang sudah di siapkan untuknya. Kemudian ia membersihkan diri dan mengganti Pakaian nya. Sedangkan Faishal, ia satu kamar dengan Danish. mereka juga bergantian untuk membersihkan dirinya.


Setelah selesai dengan kegiatan mandi nya. Rani bergegas memakai handuk dan mengambil pakaian santai di dalam koper nya. setelah memakai pakaian Rani mendekati cermin dan merapikan rambutnya, kemudian ia menguncir setengah rambut pendek nya. setelah menyelesaikan semuanya, Rani bergegas keluar kamar karena ia sudah ditunggu untuk makan malam


Saat Rani sudah keluar dari kamarnya, disana Faishal dan juga Danish beserta orang tuanya sedang menunggu di meja makan. Ia pun langsung duduk di samping Faishal, ia berbincang bincang dan tertawa bersama mereka. Melupakan sejenak kehidupan yang begitu pahit yang selama ini ia jalani.


" Ibu aku merindukan mu, aku juga rindu Ayah dan Abang Fatih. Aku juga merindukan Masa-masa indah saat keluarga kita berkumpul " ucap Rani dalam hati.


Satu kata yang selalu terbersit dalam pikiran nya adalah kata kata perpisahan yang ayah lontarkan pada ibu nya. Membuat ia semakin membenci Ayah dan juga Calon istrinya yang baru. Rani juga ingat saat kakaknya hanya mengunjunginya beberapa kali saat Rani sudah pindah ke Bandung. Namun setelah itu kakaknya tak pernah lagi menjenguk keadaan ibu dan dirinya, hingga sang mama meninggal dunia.


Setelah semuanya selesai, ia berpamitan menuju kamar untuk istirahat karena dia sangat kelelahan. karena sibuk dari sore mempersiapkan bawaan nya dan perjalanan panjang yang ia lewati hari ini. Akhirnya Rani pun terlelap dalam balutan selimut yang hangat.


Cit... Cit... Cit...


Suara burung berkicau. Matahari sudah tak malu lagi menampakan dirinya di ujung belahan bumi timur. Cahaya yang berusaha menembus kabut tipis di pagi hari. Udara dingin yang menembus celah jendela kamar, membangunkan sesosok manusia yang masih setia dalam pelukan hangatnya balutan selimut.


Rani mulai membuka kedua kelopak matanya. Satu hal yang ada di fikiran nya. Suasana yang sangat ia rindukan, begitu tenang dan damai nya. Ditambah melodi indah yang tercipta dari kicauan burung burung kecil. Ia pun mengeliat dalam balutan selimut, Kaki kecilnya mulai menginjakan lantai dan berjalan mendekati jendela. Kemudian ia membuka jendela tersebut, menghirup udara yang menenangkan.


Setelah puas ia menikmati udara sejuk nan menyegarkan pagi hari. Ia bergegas menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya.


" Air disini terasa menusuk samapi ke dalam tulang,mungkin disini lebih pantas di sebut sebagai kutub kedua. Akhhhh... dingin sekali " ucap rani sambil mengguyur tubuhnya dengan air.


" Kalo begini mah, gak usah mandi aja sekalian " gerutu nya

__ADS_1


Setelah dirasa cukup, Rani pun bergegas memakai handuk lalu mengambil baju dalam kopernya.


Hari ini dia memakai sweater dengan celana jeans berwarna hitam. Setelah memakai pakaian dan merapikan rambut serta memoles sedikit wajahnya ia keluar dari kamar. Ia berjalan menuju suara yang ia dengar saat memasuki ruang keluarga.


Ia melangkahkan kakinya menuju dapur. Dilihatnya ibu Danish sedang memasak.


“ Pagi bu... Apa yang bisa aku bantu? “ Tanya Rani sambil mendekati ibu Danish lalu mencium pipi dan memeluk nya.


Rani memang akan manja pada ibu Danish dan ibu Faishal saat mereka dekat. Karena ia selalu teringat dengan almarhum sang ibu yang selalu memanjakan nya bagaikan tuan putri.


Begitu juga dengan ibu Danish yang menginginkan anak perempuan dalam keluarganya. Dan ia sangat menyayangi Rani sama seperti putra nya.


“ Pagi neng cantik, gak usah bantuin. Itu kamu kedepan aja, mereka lagi pama minum kopi sama singkong goreng. Sana! “ ucap lembut Ibu Danish sambil mencium pipi dan mengelus kepala Rani.


“ Tapi kan bu, aku juga pengen bantuin ibu. sekalian Rani mau belajar memasak juga “ balas manja nya.


“ Ya udah kalo mau bantu, kamu goreng ikan gurame nya aja ya".


“ Siap bu “ ucap Rani sambil hormat kemudian ketawa.


Saat ikan nya masuk, sontak Rani kaget karena minyaknya menyembur keluar wajan.


“ Akkhhhh, Ibuuu tolongg. Minyaknya bisa terbang “ teriak Rani sambil mengambil tutup panci lalu menjadikannya tameng pelindung dari percikan minyak panas.


( wkwkwk...menghayal nya terlalu tinggi hingga minyak aja bisa terbang 😅😆.maaf ya ka).


Sontak yang di teras rumah pun kaget, terlebih ibu yang ninggalin Rani karena mau mengambil barang di dalam. mereka semua bergegas berlari ke dapur. Mereka terkejut melihat Rani dengan tingkahnya, lalu mereka pun tertawa akibat kejadian itu.


“ Neng, kamu gak papa. Coba sini biar ibu lihat, takutnya tangan kamu melepuh “ ibu Danish meraih tangan Rani. Ia geleng geleng kepala dan tertawa kecil melihat kelucuan dari tingkah Rani.


“ Mah, kunaon si neng na. Hnte ku nanaon? ( mah, kenapa sama si neng.gak kenapa-napa kan? )“ tanya bapak ke ibu danish. Dalam bahasa Sunda.


“ Hahahaha.... Loe kira lagi perang Dek. Pake tameng segala “ cibir Faishal ketawa terbahak-bahak sambil megang perutnya.


“ Loe juga tumben dek masuk dapur, biasanya juga terima beres “ timpal Danish sambil tertawa tak kalah keras dari Faishal.

__ADS_1


Rani pun kesal karena ia malah di ketawain sama Danish dan Faishal.


“ Hummmf, apa loe Ketawa-ketawa. Emang lucu apa? “ dengus Rani dengan mengerucutkan bibirnya.


“ Cie elah, gitu aja ngambek. Ya udah aku minta maaf “ ucap Danish.


“ Aku juga minta maaf, sebaiknya kamu ikut kita kedepan aja “ lanjut faishal.


“ Au ah.... “ jawab Rani yang masih merasa kesal.


“ Ya udah sini biar ibu aja yang masak. Tuh ikan nya malah gosong “ ucap ibu Danish sambil mengambil spatula lalu membalikan ikan nya yang sudah berwarna coklat kehitaman.


Danish dan Faishal pun ketawa ngakak, ngeliat Nasib ikan gurame gorengnya yang hangus.


" Hahaha, nasib nya kurang bagus tuh ikan. Sampe item kaya gitu " ucap Danish.


" Iya item kaya kamu sama si Faishal " ucap Rani kesal karena ia di kecengin. Ia pun pergi kedepan menuju kursi di teras.


" Loh ko jadi gue sih dek, kan Danish yang ngomong gitu " ucap Faishal membela.


" Kalian ini, kembali ke depan lagi sana. Malah main lagi, tempatnya jadi sempit “ ucap ibu menyuruh mereka kembali lagi ke depan rumah.


“ Ibu aku mau kedepan dulu. Maaf malah bikin repot ibu “ ucap Rani minta maaf.


“ Iya tak apa, sana kamu gabung di depan aja, biar ibu yang selesaikan biar cepet sarapan “ ucap ibu nya.


Mereka pun menyusul Rani kedepan. disana ia sedang duduk menikmati goreng singkong dengan wajah yang ditekuk, karena masih kesal.


maaf ya ka. bahasanya pake bahasa indo - Sunda.


soalnya aku juga menyesuaikan sama tempatnya.


karena ini ceritanya lagi di desa..


semangat ka 👍👍

__ADS_1


jangan lupa kasih kritik dan saran nya.


__ADS_2