
Hanafi masih terpaku dengan tatapan dari Rani. Begitu pun Rani, ia masih memandangi sorot mata satu milik Hanafi. Namun dalam hatinya ia merasa biasa2 saja. Tapi pikirannya enggan beranjak dari sana.
" Khem.. udah nih acara tatap2 nya. Sepertinya kita cuman jadi obat nyamuk bang Thariq " Ucap Nanda menyinggung kedua sejoli yang sedang tatap2an.
"Kau benar Nan, ayok kita susul kakek saja dan tinggalkan meraka yang sedang kasmaran" Ucap dokter Thariq.
Mereka pun segera tersadar dan berusaha kembali ke posisi semula. Hanafi pun merasa gugup dan canggung karena kejadian itu. Ditambah pipinya yang sudah merona merah membuat Nanda dan juga dokter Thariq hanya terkekeh pelan. Sedangkan Rani, ia hanya memalingkan wajahnya. Namun sangat berbeda dari biasanya, kini tampangnya tersebut sudah sangat datar. Apalagi kedua laki2 itu menertawakan nya.
" kak, hentikanlah tawa mu, dan pak dokter juga. Hentikanlah tawa kalian, lihatlah wajah kak hanafi sudah sangat merah karena kalian" Ucap Rani pada Nanda dan juga Dr.Thariq.
Hanafi yang mendengar ucapan Rani semakin malu dan salah tingkah. Sedangkan Nanda dan Dr.Thariq mereka langsung menghentikan tawa mereka.Mereka segera menyusul kerumah Hanafi untuk segera beristirahat.
Saat ini keluarga hanafi, Rani dan juga Nanda tengah duduk di kursi ruang tamu. Mereka sudah membicarakan tentang Rani. ia akan tinggal di asrama dengan santriwati yang lainnya.
๐๐๐๐๐๐๐๐
Tak terasa, waktu sudah berlalu dengan cepat. Sudah sebulan lebih Rani berada di pesantren. Disana ia memiliki dua teman yang sangat dekat. Mereka adalah Amira dan Nina. Mereka bertiga tidur satu kamar, karena setiap kamar di asrama biasanya di huni 4 sampai 6 orang.
Saat ini Rani tengah merapikan pakaian yang barusan ia angkat dari jemuran. Disana ada Amira yang sedang berkutat dengan kitab-kitab yang sedang ia baca. Sedangkan Nina ia sedang mencoret-coret buku hariannya. Setelah selesai merapikan semua pakaiannya. ia langsung memasukannya kedalam lemari khusus anak pesantren.
"Kak ira, Kita ke warung depan yuk. Aku pengen beli cemilan nih " Ucap Rani pada Amira. Ia memanggil kakak Pada Amira karena umur nya dua tahun diatas Rani.
" Ya sudah, ayok. Kakak juga pengen beli pembalut, soalnya stok kakak udah habis " Ucap Amira.
" Kak ina mau ikut gak, atau mau titip beli sesuatu gitu? " Tanya Rani pada Nina. Nina juga seumuran dengan Amira.
__ADS_1
" Tidak, aku akan ikut kalian. Kemana pun kalian pergi, aku akan mengikuti kalian " Jawab Nina pada Rani.
Nina adalah anak yatim piatu. dia sudah sangat lama tinggal di Pesantren. jadi ia sangat mengenal seluk beluk tempat di pesantren ini.
Sedangkan Amira, dia anak kurang mampu. Kedua orang tuanya hanya hanya petani yang berburuh di ladang milik orang lain.Saat mendengar kan cerita tentang mereka, Rani sangat terkenal enyuh. Entah kenapa ia juga merasakan sakit sama seperti mereka.
Amira dan Nina juga sudah mengetahui tentang Rani dan juga ingatannya yang hilang. Karena kedatangan serta kedekatan nya dengan Rani. Amira sekarang sudah dekat dengan Nanda. mereka sudah menjalani ta'arufan. Terkadang ia juga memberitahukan semua hal tentang Rani pada Nanda. Seperti kejadian saat ia melihat Rani yang di bully di toilet oleh geng nya si Fatimah hingga menyebabkan Rani tak sadarkan diri di toilet.
โฎ โฏ Flasback.....
Brakk...
Tubuh Rani di banting ke dinding wc. Disana tidak ada satu orang pun kecuali mereka berempat.
" Sebenarnya apa salahku kak, aku juga tak berniat mengambil kak Hanafi dari mu. Tapi pertunangan ini kakek dan Hanafi lah yang menginginkannya. Setidaknya kalau kamu bicara pada mereka jika kakak memiliki rasa pada kak Hanafi " Jawab Rani pada Fatimah. Ia juga merasakan sakit dibagian punggungnya karena terbentur dinding.
" Heh kau pelac*r. Jaga ya omongan mu, kamu ini hanya numpang disini. Sedangkan keluarga ku sangat berjasa disini karena telah membantu aliran dana pembangunan pesantren ini. Sedangkan kamu hanya benalu yang mengganggu hidup kang Hanafi. Kau itu tak lebih hanya beban baginya" Ucap Fatimah yang sudah mulai kasar. Memang ayah Fatimah pernah memberikan dana bantuan pada pesantren. Karena ayahnya seorang kepala desa di kampung tersebut.
" Nama dan penampilanmu sangat lah tidak pantas jika di bandingkan dengan sikap dan ucapanmu" Jawab Rani tak kalah darinya. Entah kenapa hati dan pikirannya sedang bergejolak menahan amarah terhadap Fatimah. Hatinya merasa panas mendengar hinaan yang di lontarkan Fatimah padanya.
" Diam kau, dasar wanita murah*n tak berguna " teriak Fatimah, ia sangat marah ketika mendengar ucapan Rani.
" Jal**g teriak jal**g, apa aku gak salah dengar hah" Entah dapat keberanian dari mana Rani mengatakan hal tersebut.
Karena ucapannya, Fatimah sangatlah emosi. Ia lalu menampar pipi Rani dan mencopot kerudung yang ia kenakan. Fatimah pun langsung mengambil air dengan ember lalu menyiramkan ke tubuh Rani.
__ADS_1
Byurrrrr....
Seketika tubuh Rani menjadi basah kuyup.Ia juga menahan rasa sakit di pipi dan juga punggung nya. Namun anehnya ia malah tersenyum setelah mendapat perlakuan tersebut. Entah mengapa ia tak bisa mengeluarkan air matanya saat itu. Yang ada hanya lah rasa panas yang ada di hatinya.
" Ingat hal ini baik2. Jika kau tak mau mendengarkan perintahkan ku, kau akan merasakan yang lebih dari pada yang barusan aku lakukan. cihh.. wanita mur***n " Ucap Fatimah.
Tak lama kemudian Fatimah keluar dari dalam wc dan mengunci pintunya dari luar. Ia sangat senang dengan apa yang sudah ia lakukan pada Rani.
Setelah kepergian ketiga orang tersebut. Tubuh Rani semakin melemah, karena ia masih belum sembuh total.Pada akhirnya Rani tak sadarkan diri di dalam toilet tersebut.
Sementara di tempat lain, Amira yang sedang berjalan hendak pergi ke wc. Ia melihat Fatimah dengan kedua temannya. ia merasa curiga dengan gerak gerik dari mereka.
Lantas ia pun segera bergegas ke wc, karena ia baru teringat dengan Rani yang pergi ke wc. Setelah sampai disana, Amira mulai membuka pintu wc satu persatu Namun tak menemukan apa2. Hingga ia merasa curiga dengan pintu wc yang terakhir, ia heran karena hampir semua pintu wc tidak dikunci. Dan pintu itu di kunci dari luar.
Amira sangat terkejut saat melihat ada orang yang tergeletak di lantai dengan keadaan tak sadarkan diri.
" Astaghfirullah, Rani. Kenapa kamu bisa sampai begini. Apa yang sudah terjadi dengan mu" Ucap Amira saat mengetahui orang yang tak sadarkan diri tersebut.
Ia pun segera merogoh ponsel yang ada di saku rok nya. Ia mencari nomor untuk meminta bantuan, dan segera menghubunginya.
Tak lama setelah panggilan di ponselnya terputus. datanglah sesosok laki-laki yang sudah ngos-ngosan karena kaget dan langsung lari saat mendengar ucapan Amira.
" Astaghfirullah hal azim, ini kenapa dek. akok bisa sampe begini, apa yang sudah terjadi. Siapa yang tega melakukan hal seperti ini" Tanya laki-laki tersebut.
"Nanti aku bisa jelasin kang, Sekarang tolong bawa dia ke kamar ajah. Kasian dia pasti sudah kedinginan dari tadi. " Ucap Amira.
__ADS_1