Hakikat Cinta

Hakikat Cinta
BAB 51 WASPADA


__ADS_3

Setelah mendengarkan penjelasan dari Hanafi tentang akan datangnya dokter Thariq. Mereka secara bergantian melihat keadaan Rani. Untuk Orang-orang yang pertama kali melihatnya, tentu saja mereka adalah keluarga Hanafi. mereka masuk kedalam ruangan tersebut. Nanda, Amira dan Nina mereka duduk di kursi dan menunggu keluarga Hanafi keluar.


Nanda memanfaat kan keadaan tersebut dan bertanya mengenai kecelakaan tersebut. Ia juga menanyakan kepada mereka, apakah mereka melihat hal2 yang mencurigakan atau hal yang menjanggalkan di saat kejadian tersebut terjadi. Namun terlebih dahulu ia menanyakan keadaan Amira, dan baru menanyakan tentang Rani. Karena sangat wajar jika ia juga sangat mengkhawatirkan keadaan kekasihnya tersebut.


" Dek, Coba kalian ceritakan kejadian sebelum kejadian tadi terjadi. Apa kalian melihat hal2 yang mencurigakan atau yang menurut kalian janggal ". Tanya nya Nanda kepada Amira dan juga Nina.


Mereka Berdua pun langsung bercerita secara bergantian, Dan sebelumnya mereka melihat kondisi sekeliling mereka. setelah dirasa cukup aman mereka berbicara dengan suara yang pelan Namun masih terdengar jelas oleh Nanda.


Mereka mulai menceritakan dari awal, disaat Rani mengajak mereka pergi ke tokok yang ada di seberang jalan depan Pesantren. Tak lupa mereka juga mengatakan tentang perkataan Rani tentang perasaan buruk yang ia bicarakan pada mereka. Mereka juga menceritakan tentang candaan saling melempar tawa dan juga berlarian saling mengejar, seolah2 mereka baru merasakan kebahagiaan seumur hidup mereka.


Nina pun kembali menangis saat menceritakan tentang Rani yang menantangnya balapan lari sampai ke sebrang jalan. Ia sangat menyesal karena tak mendengarkan Ucapan dari Amira.Nina pun terhenti karena tak kuasa melanjutkan ceritanya.

__ADS_1


Amira pun menyambung perkataan Nina, ia terlihat agak tegar karena dia lah yang paling histeris saat kejadian tadi. Amira menceritakan bahwa tidak terlalu aneh di lihat, karena kendaraan yang mau melintas di sana masih berjarak sangat jauh dan seperti berjalan perlahan. jika di hitung dengan logika,dek Rani pasti ia bisa sampai di sebrang dengan selamat, karena saat itu ia juga sedang berlari. Namun tanpa di sangka ternyata ada motor yang menambah kecepatannya, dan sepertinya sengaja. Karena aku lihat motor itu persis mengarah ke arah dek Rani.


Saat melihat hal itu, aku sangat kaget dan mendorong tubuh nya hingga tak sengaja kepalanya terbentur pinggir trotoar jalan. Dan Saat itu aku sangat kalut dan histeris saat melihat darah yang mulai mengalir di dahi dek Rani. Hingga aku tak sempat melihat kearah pengendara motor yang mau menabrak Rani. Cerita Amira kemudian terhenti, karena ia tak tahu apa2 lagi. Karena saat itu ia merasa sangat takut melihat kondisi Rani.


Nina yang masih menangis pun kembali bercerita. Kini Amira memberikan kekuatan dengan memeluknya, sama seperti dirinya saat histeris tadi. Nina pun memberi tahu bahwa ia melihat pengendara tersebut. Sepertinya aku tak akan salah menduga, bahwa yang mau mencelakai dek Ani adalah Fatimah. Karena aku melihat dan aku gak akan salah, saat melihat pengendara motor yang akan menabrak Rani yang tak lain adalah Samsi atau Sam. cerita Nina kepada mereka.


"Apakah Sam itu si preman kampung yang menguasai kampung ini. Lalu apa hubungannya dengan si Fatimah". Nanda dan juga Amira, mereka semakin penasaran dan bertanya-tanya.


Lalu Nina pun menjawab dengan dugaan dan beberapa fakta mengenai Fatimah yang ia dengar dari gosip santriwati terdahulu.


Nanda dan Amira mereka berdua terdiam saat mendengarkan cerita yang di tutur kan oleh Nina. Mereka seakan tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Sebuah fakta yang membuat mereka terkejut dan juga takut di waktu yang bersamaan.

__ADS_1


Mereka terkejut mendengar sebuah fakta yang membuat mereka jijik saat mendengarkannya. Mereka sangat tahu bagaimana sikap sopan serta lemah lembut nya Fatimah di depan Keluarga besar Hanafi. Tapi Mereka juga merasa takut, jika memang benar kalau Fatimah yang merencanakan kejadian tadi. Maka nyawa Rani saat ini sedang dalam bahaya.


" Kang, Aku takut jika memang benar Fatimah yang ada dibalik kejadian kecelakaan tadi. Sudah bisa di pastikan jika Dek Ani sedang dalam kondisi gawat. Bagaimana Kalau dia akan melakukan hal-hal yang mampu mengancam nyawa dek Ani. Kang, lakukan sesuatu, aku gak rela dan gak mau hal seperti itu terjadi " Amira kembali menangis. Nanda mengelus kepala Amira, mencoba menenangkan nya. walau sebenarnya ia juga merasakan ketakutan yang sama.


"Teh Mira benar kang, kita harus lebih waspada sekarang. Kita tak boleh lengah sedikitpun, sudah cukup untuk kejadian yang kemarin2. Aku tak mau kehilangan dek Ani, bagiku ia adalah keluarga ku satu2nya ". Ucap Nina dengan tegas.


" Iya untuk sekarang akang bakal lebih ketat jaga dek Rani. Akang juga enggak bakal ngebiarin dek Rani di sakitin sama orang lain. sudah cukup dengan kejadian kemarin-kemarin yang membuatnya tersiksa. Aku ingin adik ku itu merasakan kebahagiaan, walaupun akang enggak bisa ngasih materi. Setidaknya akang bisa menjadi kebahagiaan agar selalu terpancar darinya. Karena sekarang Akang lah yang akan jadi wali nya " Ucap Nanda tak kalah tegas.


Mereka kembali hening, tidak ada lagi percakapan diantara mereka. Mereka sedang sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Sementara di dalam ruangan tempat Rani berbaring.Ia masih belum menunjukan tanda2 akan kembalinya kesadaran darinya. Maryam, Rahman dan juga kiayi Rasyid keluar dari ruangan. Sementara Hanafi masih duduk setia di pinggir brangker puskesmas tersebut.

__ADS_1


" Dek, bangunlah jangan seperti ini. Aku sangat mengkhawatirkan mu dek, tidaklah kau melihat rasa kasih dan sayang yang selama ini aku tujukan untukmu. Dek, Bangunlah jika kau sama mempunyai rasa kasih dan sayang seperti ku, tunjukanlah sekarang. ".Hanafi kembali lagi menangis, ia tak kuasa melihat Rani yang tak luput dari musibah serta cobaan yang selalu menghampirinya.


" Ya Alloh, berikanlah kesembuhan bagi dek Rani, hilangkan lah penderitaan yang selama ini dek Rani rasakan. Hamba mu ini sungguh tak kuasa melihat nya seperti ini " Doa Hanafi


__ADS_2