Hakikat Cinta

Hakikat Cinta
BAB 39 TERBANGUN DARI MIMPI YANG PANJANG


__ADS_3

Tak terasa sudah hampir dua bulan Rani terbaring tak sadarkan diri setelah taragedi tabrak lari malam itu. Kondisinya sudah mulai berangur angsur membaik. Ditambah dengan perawatan dan perhatian yang sangat telaten di berikan kepada Rani oleh Hanafi dan juga dengan Nanda.


Luka yang ada di wajah Rani pun sudah sembuh, sehingga wajah cantik dan juga imutnya semakin bersinar.Walaupun tidak semua sudah sembuh. Seperti kepala, tangan, tulang rusuk dan juga kaki yang masih dalam proses pemulihan. Selebihnya terlihat baik2 saja.


Saat ini Hanafi sedang duduk kursi samping ranjang tempat Rani berbaring. Sedangkan Nanda ia sedang duduk di sofa dan tengah sibuk dengan game yang ia mainkan di ponselnya. Untuk kedua orang tua Hanafi, mereka pulang ke kampung karena sibuk akan pekerjaannya. Terlebih Maryam yang harus mengajar di pesantren yang didirikan oleh ayah mertuanya.


Saat Hanafi sedang mengupas apel untuk ia makan dan sesekali mengajak Rani berbincang walau ia tahu Rani tidak mendengarkannya. Namun Seketika pandangannya teralihkan pada tangan Rani yang bergerak.Ia sangat terkejut dan secara refleks ia langsung menaruh pisau serta apel ke piring yang ada di atas nakas.


" Nan, aku gak salah liat kan? . barusan tangannya gerak, dia udah sadar" Ucap Hanafi yang sedang menggosok2 kedua matanya. Karena tak percaya dengan apa yang matanya lihat.


" Kamu serius naf, alhamdulillah dek akhirnya kamu telah sadar juga" Ucap Nanda yang segera mendekat ke arah ranjang untuk melihatnya langsung.


" Ya udah biar aku panggil dokter dulu" Hanafi segera bangkit dari kursi dan hendak berjalan keluar. Karena panik ia sampai melupakan tombol darurat untuk memanggil dokter yang ada di samping nakas.


" Kenapa harus repot2 jalan buat cari dokter. kan ada tombol darurat disini" Nanda menyadarkan Hanafi yang sudah membuka pintu dan akan keluar.


"Astaghfirullah, kok aku bisa lupa sih" Hanafi segera berbalik dan duduk lagi di kursi yang tadi.


Tak lama kemudian seorang dokter masuk kedalam ruangan tersebut. Nanda segera menghampiri dokter tersebut dan menyapanya.


"selamat sore dok. Maaf sudah ganggu waktunya dokter Thariq" Ucap Nanda sambil menyalami dokter tersebut.


" Iya sore juga,kamu ini aku kan sudah bilang jangan sungkan seperti ini. Jadi, apa yang terjadi dengan pasien ku kali ini" Tanya dokter Thariq. ia pun segera mendekati Rani dan memeriksa keadaan nya.

__ADS_1


" Tadi aku melihat tangan nya bergerak dok, apa dia sudah sadar. Lalu bagaimana keadaannya sekarang? " Ucap Hanafi pada dokter Thariq.


"Untuk keadaan nya sangat baik. Namun untuk pergerakan yang tadi kamu lihat itu, sangat lazim pada saat kondisi koma. Kita berdoa saja ia akan segera sadar" Ucap dokter Thariq.


Namun setelah dokter Thariq memberi tahu bahwa Rani masih belum sadarkan diri. Tiba2 Rani mengeluarkan suara nya, walau sangat lemah namun masih dapat terdengar oleh mereka yang ada di sana.


"Mama..jangan pergi..Bibi... bang Fa... bang Dans" Gumam Rani dengan suara yang lemah.


Semua orang yang berada disana kaget dengan suara yang berasal dari Rani.Mereka pun segera mendekati untuk melihat keadaan Rani. Dokter Thariq pun kembali memeriksa keadaan Rani dan hasilnya sangat bagus dan stabil.


" Dimana aku sekarang, kenapa tubuhku gak bisa di gerakan sama sekali " ucap Rani. Ia sudah membuka matanya dan melihat langit2 bercat putih.


" Sukurlah kamu sudah sadar. kenapa kau betah sekali diam di dunia mimpi" Ucap Hanafi sambil memegang tangan Rani.


"Siapa kalian? akhh... kepalaku.. kenapa kepalaku sangat sakit? " Rani meringis kesakitan, tangan kanan nya memegang kepala nya mencoba menekan rasa sakit yang ia rasakan.


" Kira2 dia akan sadar jam berapa dok? " Tanya Hanafi pada dokter Thariq.


" dia akan sadar besok pagi, tapi kalian harus tetap mengawasi pasien. Dan kalo ada apa2 kau bisa memanggil ku" Ucap dokter Thariq


" Baiklah dok. sekali lagi Terima kasih banyak dok" Ucap Nanda


" Aku sudah sering bilang jangan ucapkan terimakasih, karena itu sudah kewajibanku sebagai dokter. Ya sudah, selamat ya karena atas kesadaran calon sepupu. Kalo gitu aku pamit dulu, soalnya masih banyak pasien yang harus aku cek" Ucap dokter Thariq segera melangkah kan kakinya menuju keluar ruangan.

__ADS_1


" Terima kasih bang atas bantuan mu" Ucap Thariq sambil tersenyum.


" Kau ini. Baiklah ini Ucapan yang terakhir" Ucap dokter Thariq yang segera berbalik menuju keluar pintu.


" Aku akan menghubungi umi sama abi di kampung. Kau tunggu disini sebentar, aku mau keluar dulu" Hanafi segera bangkit dan pergi meninggalkan ruangan tersebut untuk menelpon keluarganya dan memberikan kabar baik tentang kesadaran Rani.


" Baiklah kau hubungi dulu umi, beritahukan kepada mereka tentang kesadaran Rani.Mungkin mereka senang setelah mendengar kabar ini" Ucap Nanda.


Akhirnya Hanafi pun bergegas keluar dari ruangan untuk memberitahukan tentang kesadaran Rani pada orang tuanya. Semenjak Rani mulai sadar, wajah Hanafi selalu berseri dengan senyuman yang tak lepas dari bibirnya.


Sementara di dalam ruangan, Nanda sedang duduk di kursi yang biasa Hanafi duduki. Ia menatap wajah Rani dengan lekat. Ia masih merasa bingung dengan apa yang sudah terjadi belakangan ini. Namun di balik kebingungan tersebut ia sangat menyayangi Rani seperti adik nya sendiri.


" Dek, akhirnya kau sudah sadar juga.sebenarnya kau ini siapa? kenapa aku merasa bahwa kau adalah adiku. Sebenarnya kau ini siapa? aku akan membantumu untuk menemukan keluarga mu. aku berjanji" Ucap Nanda pada Rani.Tangannya bergerak mengusap pelan dahi dan kepala yang masih di perban.


Nanda memandangi wajah Rani dengan lekat. wajah putih pucat namun masih cantik dengan aura cahaya yang terpancar dari wajahnya.


" Wajah mu mengingatkan ku pada adik sepupuku. Entah mengapa aku sangat merindukan mereka padahal sudah sangat lama kami tak bertemu. semenjak kecelakaan kedua orang tua ku dan merenggut nyawa mereka. Kini kami benar2 terpisah" Nanda menceritakan tentang masa lalunya di hadapan Rani yang sedang tertidur pulas. Entah mengapa ia ingin sekali berbagi cerita dengan Rani, seakan dia sudah mengenalnya sangat lama. Tak terasa air matanya jatuh, padahal ia tak pernah menangis semenjak kejadian kecelakaan orang tuanya.


Hingga Suara pintu menghentikan tangisan Nanda. ia segera menyeka air mata nya karena takut di ketahui oleh orang lain. Ia mencoba menenangkan dirinya sejenak, lalu menoleh kearah sumber suara.


" Loh, kamu kenapa Nan,apa yang sudah terjadi?" Tanya Hanafi yang melihat wajah sendu Nanda.


" Tenanglah, dia sangat baik2 saja. Tidak perlu ada yang di khawatirkan. Aku hanya merindukan kedua orang tua ku saja! . Gimana kau sudah menghubungi umi? " Nanda segera bangun dan berpindah ke sofa untuk duduk.

__ADS_1


" Iya, tadi aku sudah menghubungi mereka. kemungkinan lusa baru kesini, soalnya abi masih ada pekerjaan yang tak bisa di tinggalkan" Kata Hanafi


Akhirnya mereka melanjutkan berbincang di dalam ruangan tersebut. dan setelah mendengar azan magrib mereka memutuskan untuk sholat di dalam ruangan itu secara bergantian.


__ADS_2