
Semua orang yang ada disana terdiam seribu bahasa, terlebih saat Rani berbicara dan mengeluarkan uang tunai dengan jumlah yang sangat pantastis. Rudy yang merupakan ayah kandungnya Rani pun sangat terkejut dengan apa yang ia katakan dan yang di lakukan Rani. Ia tidak masih tidak mempercayai Rani dengan apa yang ia lakukan, bahkan dirinya tidak pernah memberikannya uang sepeserpun.
Rani yang kala itu sudah sangat bosan dan sudah merasa lelah karena harus berbicara banyak kepada mereka. Ia memilih segera pergi untuk pulang ke kota, karena ia merasa sudah lama ia meninggalkan kehidupan sebelumnya. Rani segera mendekati Rasyid, ia kemudian berlutut di depan nya dan memegang kedua tangan Rasyid.
" Kakek maafkan Rani yang sudah menyusahkan kakek, aku sangat berterima kasih kepadamu karena kau sudah menyayangi dan mengasihi diriku. Aku pun minta maaf karena aku sudah mempermalukan dirimu karena ulah ku, dan aku minta maaf karena aku tak dapat mengabulkan keinginan mu untuk menjadikan aku bagian keluarga mu. Aku minta maaf kek, Rani sudah menganggap kakek seperti orang tua Rani sendiri. Aku harus pamit untuk pulang, aku juga akan membawa kak Nanda. Karena hanya dia Satu-satunya keluarga ku yang masih ada. Aku janji aku akan sering mengunjungi kakek " Rani menangis karena ia sedih harus berpisah dengan Rasyid. selama ini kakeknya hanafi lah yang selalu memperhatikan dirinya, baik itu makanan pakaian atau pun uang jajan nya Rani. Ia bahkan beberapa kali mencium telapak tangan Rasyid, tanda ia sangat menghormati dan menyayanginya.
" Tidak cucuku, aku lah yang seharusnya minta maaf kepadamu. Aku sudah membuatmu mengalami hal ini, dan sekarang dirimu sudah terluka dan dihina oleh keluarga ku. Aku juga sudah berhutang nyawa kepadamu cucuku, jangan pernah sungkan untuk datang kesini. Aku sudah menganggap mu sebagai cucuku, aku bahkan selalu Beristikharoh dan hanya dirimu lah yang selalu muncul dalam mimpi ku. Maafkan kakek tua ini, karena sudah membuatmu menjadi terhina " Rasyid sangat sedih saat mendengar apa yang Rani ucapkan, ia tidak menyangka jika Rani tidak membencinya. Rasyid pun langsung memeluk Rani layaknya pada anaknya sendiri.
Setelah mengucapkan kata perpisahan itu, keluarga hanafi dan keluarga Rani tidak ada yang berbicara. Mereka hanya bungkam setelah apa yang mereka lakukan pada Rani.
Kini Rani sudah berada di lapangan, ia sudah berpamitan kepada semua penghuni pesantren. Tidak termasuk keluarga Hanafi dan keluarganya. Rani hanya berpamitan pada dokter Thariq dan Rasyid yang sudah Rani hormati seperti kakeknya sendiri. Nanda juga sudah berpamitan kepada semua orang yang ada disana.
" Kak, aku janji akan mengunjungi kalian disini. Aku harus pulang, karena sudah lama aku meninggalkan kehidupanku yang sebenarnya. Aku juga akan sering mengabari kalian lewat telpon. Jangan pernah melupakan adik kalian ini ya " ucap Rani melepas perpisahan dengan kedua kakak nya.
__ADS_1
" Harusnya teteh yang nyebut seperti itu, kamu jangan lupa kabarin kesini. Jangan lupa solat lima waktunya. Teteh sangat senang ketemu sama kamu dek " tangis Amira.
" Aku bakal rindu saat kita berantem dek, jangan lupa buat ngunjungi kita ya. Aku akan kesepian sekarang " keluh Nina
Kini Rani Nanda dan kedua Abang nya sudah selesai berpamitan, Rani dan Nanda memakai mobil yang sama yaitu Ferarri. Sebenarnya Danish dan Faishal sudah memperebutkan siapa yang akan satu mobil dengannya. Hingga mereka terus berdebat dan malah jadi tontonan satu pesantren karena tingkah mereka.
Akhirnya Rani memutuskan untuk membawa mobilnya sendiri dengan Nanda. Mendengar keputusan dari Rani, kedua Abang nya hanya pasrah dan tidak menolaknya. Mereka pun sudah pergi meninggalkan desa tersebut dan menuju ke kota.
ππππππ
" Dek, ini kita mau kerumah siapa. Rumah ini sangat besar dan mewah kaya di Tv-tv " ucap Nanda saat mereka sampai di depan gerbang.
" Nanti kakak juga bakalan tau kok " jawab Rani.
__ADS_1
Hingga tak lama, mang Tejo membukakan pintu gerbangnya, dan kini mobil Rani sudah berhenti tepat di depan rumah yang sudah sangat ia rindukan. Mang Tejo juga terlihat berlari kearah Rani setelah mengunci gerbang nya.
" Mang, gimana kabarnya. Udah lama ya kita gak ketemu " ucap Rani pada mang Tejo, tak lupa ia juga menyalami tangan mang Tejo dengan begitu sopannya.
" Alhamdulillah mamang Baik-baik saja neng, selama ini neng kemana aja. Bibi sama mamang sangat khawatir sama keadaan neng Rani " Jawab mang Tejo dengan nada sedih. Ia merasa senang melihat Rani yang sudah pulang dengan keadaan yang sangat baik. Ia juga merasa terkejut dengan perubahan Rani yang jauh lebih santun dari sebelumnya.
Nanda pun menyalami mang Tejo dan berkenalan dengannya. Setelah itu mereka langsung masuk kedalam, saat Rani masuk untuk pertama kalinya setelah ia menghilang karena kecelakaan. Ia begitu merindukan rumah itu, karena disana penuh sekali dengan Kenangan-kenangan dengan sang ibu nya. Hingga pandangannya terpokus pada seorang wanita parubaya yang tengah memasak di dapur. Rani pun segera berjalan untuk menghampirinya.
" Bibi, Rani sangat kangen ayam kecap masakan bibi " ucap Rani sambil memeluk tubuh bi Tika dari belakang. Ia terlihat sangat manja kepada bi Tika.
Bi Tika yang merasa tak asing dengan suara yang ia dengar barusan. Ia langsung mematikan kompor dan berbalik untuk melihat orang yang sudah memeluknya.
" Subhanallah, neng Rani. Kemana aja selama ini neng, bibi sangat khawatir dengan neng Rani yang tiba-tiba menghilang. Bahkan bibi juga sempat melihat neng Rani dan nyonya Delina saat malam neng Rani menghilang. Bagaimana keadaan neng Rani, apa neng Baik-baik saja " ucap bi Tika panjang lebar. Ia juga memeluk Rani dengan sangat erat dan mencium dahi dan puncak kepalanya beberapa kali.
__ADS_1
" Rani Baik-baik saja bi, maafin Rani yang sudah bikin bibi dan yang lain kerepotan karena ulah Rani " ucap Rani.
Mereka terus berbincang sampai hampir larut malam, Rani juga tak lupa mengenalkan Nanda kepada mereka semua. Kini, Rani sudah merasakan kelelahan, ia pun berpamitan untuk membersihkan badan dan sholat isya.