
Setelah mendengarkan apa yang ketiga orang tersebut ceritakan, Rani masih memasang wajah datarnya.
" Dek apa kau benar-benar tak mengingat kami sedikitpun? ".Tanya dokter Thariq dengan wajah sedikit sedih.
" Iya dek, Masa sekarang kamu ngelupain kita sih. Apa kamu gak ingat kita selalu tertawa dan susah bersama selama hampir dua bulan ini ". Ucap Nina sedih.
" Apa kamu sudah melupakan janji di antara kita. Bahwa kita akan selalu bersama dan saling menjaga. Sesingkat inikah persahabatan yang terjalin antara kita " Timpal Amira dengan raut wajah sedih nya.
Melihat raut wajah sedih dan lesu dari ketiga orang yang amat ia sayangi selama ia hilang ingatan. Membuat Rani merasa puas, ia berpikir setidaknya masih ada orang yang menyayanginya selain kedua keluarga angkat serta orang rumahnya. ia bahkan ingin menangis saat ini juga, karena melihat ketulusan mereka.
Dijaman sekarang sangat jarang ada orang yang mau membantu bahkan peduli terhadap orang yang kesusahan. Apalagi yang notabe nya nyusahin dan membebani orang yang mau nolongin. Jaman sekarang hanya harta lah yang di nomor satukan, untuk solidaritas hanya 10% dari 100% persen orang di dunia. Mereka hanya menutup mata pada orang miskin dan merentangkan tangan pada mereka yang mempunyai harta.
" Hahaha... Kena tipu, seneng liat ekspresi kalian kaya gitu. " Tawa Rani pada mereka bertiga.
Sontak mereka kaget, namun beberapa detik kemudian mereka tersenyum mendengar ucapan rani.
" kita kira kamu sudah melupakan kita semua dek" Ucap Amira sambil memeluk Rani.
" Gak lucu tau dek, masa kita ngomong serius malah kamu bercandain sih. " Ucap Nina kesal.
" Kak jangan lupa ya, gue yang menang tarohan balapan tadi siang. Besok beliin aku eskrim ya " Ucap Rani pada Nina. Ia menagih janji yang telah mereka sepakati tadi siang.
__ADS_1
" Eh, kemana adek kakak yang imut. Kenapa gaya bicaranya berubah ya " Tanya Dokter Thariq.
" Karena ingatan gue udah balik lagi, jadi otomatis semua sifat dan sikap gue juga ikut balik dong. Emang nya ada masalah, kalo gak suka tinggal pergi aja, gampang kan " Ucap Rani dengan santai nya, tak lupa wajahnya sudah kembali mode datar.
" Dek, maaf bukan nya kakak lancang. Apa boleh kakak tau cerita masa lalu adek, sebelum adek hilang ingatan " Tanya Amira sambil melepas pelukannya.
" Baiklah gue akan menceritakan tentang kehidupan gue sebelum bertemu dengan kalian. Tapi gue paling gak suka ada yang memotong ucapan gue" Ucap Rani.
"Baiklah dek, Kami tidak akan memotong ceritaan mu. Benarkan? ". Jawab Amira, dan yang lainnya pun mengangguk.
Rani pun mulai menarik nafas dan membuang nya secara perlahan.
" Kalian pasti udah tau kan Nama gue, Gue sebenarnya tinggal di kota lebih tepatnya di kompleks XXX. Gue punya dua saudara cowo dan Bla... Bla... Bla... " Rani mulai bercerita Panjang lebar tentang kehidupannya sebelum ia kecelakaan dan berakhir di pesantren itu.
Rani juga memberitahukan bahwa dia bukanlah wanita yang punya sifat lemah lembut serta sopan. Ia memberitahu bahwa dirinya juga sering terlibat berantem bahkan dengan guru di sekolahnya sekalipun.
" Nah untuk pertemuan dengan Hanafi, gue tak sengaja bertemu dengannya di mini market. Seingat gue malam itu habis Ngikutan balapan motor terakhir sebelum Kedua kakak gue lulus ujian. Dan gue liat hanafi diem di tengah jalan sambil jongkok. Namun gue kaget saat ngeliat sebuah mobil melaju kearahnya. Hingga tak sadar gue berlari dan mendorong tubuh Hanafi dan Jadilah Gue yang tertabrak mobil. Setelah itu gue tak Ingat apa2 lagi " Cerita Rani.
Mereka sangat terkejut mendengar cerita Rani, sebenarnya mereka dari tadi ingin bertanya. Tapi mereka urungkan karena mengingat ucapan Rani dari awal bahwa ia tak suka dengan Orang yang memotong pembicaraan nya.
" Jadi dek, Kamu sering ikut balapan motor ya. Apa yang adek maksud itu balapan liar ya " Tanya Amira pada Rani.
__ADS_1
" Apa dek Ani gak takut di tangkap polisi ikut2an kaya begituan " Tanya Nina penasaran.
" Iya balapan liar. Sebenarnya sih gak sering juga cuman penah beberapa kali doang, itu pun kadang cuman nongkrong2 doang di sana " Ucap Rani berbohong, padahal ia sudah dapat julukan Girl Riders. Karena hampir tidak ada yang mampu mengalahkan kecepatan serta kecerdikan dari Rani saat memacu kendaraannya.
" Kalo polisi sih gue gak takut, selagi gue gak ketangkap pas lagi maen" Jawab Rani enteng.
" Ternyata adek kakak tampan ini keren juga yah, pantas pas mau kakak operasi kamu memakai pakaian seperti anak geng motor " Ucap Dokter Thariq.
Mendengar ucapan Dokter Thariq, ia langsung kaget. ia bahkan melupakan Weishbag nya, ia juga sudah sadar bahwa ia sangat risih dengan pakaian nya saat ini. Karena Faktanya Rani orang yang menyukai pakaian simpel seperti kaos dan celana jeans. Bahkan dulu ia tak pernah membayangkan akan memakai pakaian yang sedang ia pakai sekarang. Yang menurutnya sangat ribet dan mengganggu saat berjalan.
Rani sangat terkejut sekaligus panik, saat meraba lehernya, kalung yang selama ini tak pernah ia lepaskan. Saat ini hilang dan entah kemana.Melihat wajah panik Rani, sontak Amira pun segera bertanya kepada Rani tentang kepanikannya tersebut.
" Dek kenapa kamu terlihat sangat panik, apa kau sedang mencari sesuatu. Biar kami membantu mencarikannya untuk mu " Tanya Amira, ia sangat khawatir melihat wajah panik Rani.
" Apa kalian liat kalung yang gue pakai?. Pak dokter bukankah kau yang menangani ku dulu, seharusnya kau tahu tentang barang yang aku cari " Tanya Rani dengan wajah khawatir.
Dokter Thariq mengerti apa yang sedang Rani fikirkan dan membuatnya menjadi gelisah. Namun ia sangat terkejut jika Rani nekat dengan apa yang ia lakukan.
Rani segera bangkit, ia dengan raut wajah sedih karena barang yang selama ini ia jaga hilang begitu saja. Ia tak bisa berpikir lagi karena itu adalah barang yang dikasih pangeran penyelamat nya waktu ia jatuh saat kecil dulu.
Rani dengan paksa melepas jarum infus yang menempel di punggung tangannya. Darah pun mengalir dari lubang bekas jarum tersebut. Hingga semua orang yang disana panik, terlebih amira yang jaraknya paling dekat dengan tubuh Rani. Jadi otomatis ia yang paling jelas melihat darah yang mengalir di tangan Rani.
__ADS_1
" Hey, apa yang kau lakukan. Mau kemana kau, bukankah kau baru saja sadar, lihatlah tangan mu berdarah. Jangan banyak bergerak dulu " Ucap dokter Thariq segera menghentikan langkah Rani yang hendak pergi.
Sebenarnya, Rani juga masih merasakan sakit di bagian kepalanya. Namun Barang yang sedang ia cari lebih penting baginya.Karena hanya dengan kalung itu ia bisa bertemu dengan orang yang pertama kali ia cintai.