Hakikat Cinta

Hakikat Cinta
BAB 46 KAGET 2


__ADS_3

Akhirnya laki-laki tersebut mengangkat tubuh Rani yang sudah basah kuyup dan membawanya ke kamar. Saat di perjalanan, banyak santriwati yang melihat dan kaget. Namun Amira dan juga laki-laki yang menggendong nya hanya cuek dan melanjutkan langkahnya menuju kamar.


Setelah sampai ia pun segera meletakan tubuhnya di atas tikar spons karena pakaian nya masih basah.


" Kang Nanda, sebaiknya akang keluar dulu ya. Biar aku ganti bajunya terlebih dahulu. Nanti setelah selesai aku kasih tau " Ucap Amira pada laki-laki yang tak lain adalah Nanda.


" Baiklah dek. Aku akan menunggu di luar" Ucap Nanda lalu pergi keluar kamar tersebut.


Setelah menutup pintu dan menguncinya, Amira segera mengganti pakaian yang di kenakan Rani tak lupa ia juga mengeringkan tubuh nya dengan handuk. Setelah selesai, ia memindahkan tubuh Rani di kasur lantai yang biasa ia tiduri.


Tak lama kemudian ia membuka pintu setelah selesai merapikan dan membersihkan Rani dan tikar yang sudah basah tadi. Nanda pun segera menaruh ponselnya kedalam saku dan masuk kedalam kamar tersebut.


" Terima kasih ya dek, kamu sudah jagain dek Rani. Sebenarnya apa yang sudah terjadi dengannya. Siapa yang tega melakukan hal ini padanya? Ucap Nanda pada Amira.


" Jangan bilang Terima kasih kang, aku sudah menganggap Rani seperti adikku sendiri. Aku sangat senang berada dekat dengannya " Jawab Amira.


" Baiklah dek. lantas siapa yang melakukan hal ini? " Tanya Nanda penasaran.


" Sebenarnya....... "


Akhirnya Amira menceritakan tentang ia yang akan pergi ke wc.dan saat di perjalanan ia melihat geng nya si Fatimah yang menunjukan gelagat yang mencurigakan.Amira juga menceritakan kecemasan tentang Rani yang sudah lama belum kembali dari wc.


Kabar tentang Rani sudah menyebar ke seluruh penjuru pesantren. Bahkan saat ini kabarnya sudah terdengar oleh Kiayi Rasyid dan juga Hanafi. Karena semenjak kedatangan Rani, sesepuh sekaligus penerus pendiri pesantren ini sangatlah menyayangi Rani. Maka dari itu saat Hanafi menceritakan tentang niatan untuk melamar Rani. Beliau sangat menyetujuinya, bahkan waktunya pun di percepat.


Nina yang saat itu habis pulang dari berbelanja di toko. Ia sangat terkejut mendengar kabar tentang Rani. Ia segera berlari menuju kamarnya di asrama putri.


" Tapi kita tak boleh suudzon dulu kepada orang lain. Mungkin saja ada hal lain yang menyebabkan Rani seperti ini " Ucap Amira.

__ADS_1


" Adek memang benar, kita gak boleh berprasangka buruk kepada orang lain. Aku punya satu permintaan. Kalau Rani Misalkan Nanti Rani bercerita apa2 atau dia ngalamin kejadian yang tidak mengenakan. Adek langsung beritahu akang ya, dan jangan sampai orang lain tahu. Termasuk Hanafi sama keluarganya " Ucap Nanda dengan nada memohon.


" Lalu dengan Nina gimana kang. dia juga teman sekamar kita. Apa aku harus merahasiakan dari nya juga? " Tanya Amira.


" Kalau untuk Nina, kamu boleh memberitahunya. Aku juga tahu kalau kalian bertiga sudah seperti sodara. Tapi adek kasih tau juga jangan sampai ia memberitahukan pada yang lainnya" Jelas Nanda


" Baiklah kang, aku akan lebih teliti dalam menjaga dek Rani mulai sekarang. Sepertinya banyak yang tak suka dan iri dengan dek Rani "


" adek memang benar, sekali lagi akang berterimakasih karena adek mau menjaga dek Rani" Nanda tersenyum pada Amira


" Akang jangan sungkan begitu" Ucap Amira dengan malu2.


Tiba tiba Brakkk...


Pintu terbuka dengan kasar, dan menampilkan wajah Nina yang sudah memerah serta kantong kresek yang ia pegang.


Nanda juga merasa kaget dan langsung menoleh kearah pintu. Dia hanya menghembuskan nafasnya secara kasar untuk mengatur detak jantungnya yang serasa ingin meledak.


" Maaf kebablasan, habis aku kaget pas denger kabar dek Ani pingsan di toilet. Jadi aku buru2 lari kesini" Ucap Nina.


" Sepertinya kabarnya sudah menyebar, aku harus pergi. Takutnya Hanafi sedang mencari ku. Kalo gitu aku titip Rani ya, aku pamit untuk keluar dulu. Gak enak juga terlalu lama diam di kamar asrama santriwati. Takut ada gosip yang kurang mengenakan" Nanda segera pamit keluar dari kamar tersebut.


" Iya, akang tak usah khawatir. Biar dek Rani kita saja yang mengurusnya. Nanti aku kabarin lewat telpon jika ia sudah sadar" Ucap Amira.


" Baiklah. Assalamu'alaikum " Pamit Nanda dan pergi keluar ruangan tersebut.


Nina segera menutup pintu dan meletakan plastik belanjaan nya di atas meja kecil di ruangan tersebut.Lalu ia segera duduk di samping Rani. Akhirnya Amira pun menceritakan semuanya dan juga tentang Nanda yang melarang mereka untuk membicarakan tentang Rani kepada orang lain selain Nanda sendiri.

__ADS_1


Nina pun yang mendengar penjelasan dari Amira, ia mengangguk tanda ia sudah mengerti. Bahkan Nina sangat marah setelah mendengar kecurigaan nya terhadap gengnya Fatimah.


Setelah menunggu, akhirnya Rani tersadar. Amira segera memberikan segelas teh manis hangat yang di buatkan oleh Nina. Melihat Rani sudah membaik, Amira pun segera bertanya tentang kejadian yang menimpanya.


Tangan Nina sudah mengepal menahan amarah. Saat mendengar apa yang di ceritakan oleh Rani, Amira lalu memenangkan Nina agar tidak terbawa emosi.


Amira segera beranjak dari sana, ia akan membuatkan bubur instan untuk Rani.Tak lupa ia mengambil ponsel untuk mengabari Nanda. Setelah mengetik sebuah pesan dan mengirimkannya kepada Nanda. Ia pun segera membawa mangkuk yang berisi bubur kepada Rani.


▶ Flashback off.....


Rani sedang duduk termenung, entah mengapa ia merasa kan perasaan buruk.


" Loh kok malah ngelamun sih, katanya pergi ke toko. Apa dek Rani gak jadi perginya" Amira menepuk pundak rani, membangunkan dari lamunannya.


" Enggak kok kak, entah kenapa tiba-tiba saja perasaan ku jadi gak enak. Aku merasakan perasaan yang buruk" Ucap Rani.


" Mungkin kamu gugup soalnya kan lusa kamu akan tunangan sekaligus lamaran. Jadi kamu terlalu keras berpikir karena takut kang Hanafi mu di ambil sama Fatimah" Ucap Nina polos.


" Ka Ina ini bisa ajah. Tapi ya kak, entah mengapa akhir2 ini kok aku ngerasa gak mau ngelanjutin hubungan aku sama kang Hanafi ya. Aku merasa takut setelah kejadian yang terjadi kemarin2" Ucap Rani.


" Hus, kamu jangan ngomong gitu dek. Gak baik tau, kamu juga Ina malah ngomong seperti itu sama dek Rani" Amira menghentikan pembicaraan mereka.


Setelah rapi, mereka pun segera berangkat menuju ke luar asrama. mereka bertiga berjalan secara beriringan. di dalam perjalanan mereka tetap masih saja berbincang-bincang. Setiap mereka melewati kerumunan santri/wati, mereka berdecak kagum serta memuji ketiga sosok yang melewati mereka.


Apalagi dengan paras Rani yang sangat cantik serta imut yang memikat para santri saat melihatnya. Di tambah dengan balutan busana syar'i dengan hijab yang menutupi mahkota nya membuat ia seperti Putri.


Namun di balik kekaguman mereka, ada sosok yang sangat membenci pujian terhadap Rani.

__ADS_1


" Kau lihat saja Nanti. sebentar lagi kau akan meninggalkan dunia ini. Jadi nikmatilah waktu mu yang hanya tinggal beberapa menit lagi" Ucap seseorang sambil tersenyum licik.


__ADS_2