Hakikat Cinta

Hakikat Cinta
Bab 20


__ADS_3

" Emmm... kok kedengaran nya aneh ya. Apa aku salah sambung nih, coba aku cek dulu. Tapi namanya udah bener kok " Danish pun cekikikan dengan menjahili Rani. Ia sangat puas jika Rani sudah marah dan mulai perdebatan, walau terkadang Danish tidak Terima.


" Apa sih gaje amat loe ya, kalo gak ada yang di bicarakan gak usah ganggu. Kalo gitu, gue tutup aja telpon nya kalo loe cuman mau ngisengin gue" ucap Rani kesal. Karena saat ia sedang serius malah dianggap lelucon dan jelas itu akan membuatnya sangat marah.


" Hehehe.. maaf.. maaf dek, jangan nge gas mulu dong." ucap Danish dengan nada yang masih terdengar tidak serius.


" Gue cuman mau ngasih tau kalo gue lagi di Kafe sama si Faishal. Gue mau nanya sama loe, kalo loe mau nitip beli sesuatu biar sekalian gue beliin sebelum gue jalan kerumah loe " jelas Danish pada Rani.


" Oh ya udah, kalo gitu gue mau martabak seperti biasa. beli tiga sekalian, nanti kalo udah nyampe sini loe kasih satu kotak sama mang Tejo sekalian"


" Udah itu aja titipan nya, gak beli yang lain " tanya Danish.


" Ya udah kalo ada tolong beliin batagor juga 2 porsi. udah sih segitu aja dan ya kalo mau kesini cepetan. Sekalian abang berdua bantuin gue buat nyelesaiin rancangan proyek terbaru gue " ucap Rani.


" Iya tunggu sebentar nanti kita cepet perginya. ya udah gue tutup dulu telpon nya ya " ucap Danish.


Tut..tut.. tut...


Nada sambungan telpon terputus. Rani cepat cepat membereskan file yang dikirim oleh Anisa lalu ia kembali mengecek ulang dan memastikan semuanya sudah lengkap dan benar. Lalu ia segera mengirim file yang tadi kepada Anisa, termasuk kerjasama dengan perusahaan ayah nya.


Ia memberitahukan untuk menunda kerjasama tersebut, karena ia harus memikirkannya secara matang. Setelah mengirimkan semua datanya dan anisa pun sudah mengkonfirmasi datanya, ia kemudian menutup laptopnya dan membereskan meja kerjanya.


Rani kemudian berjalan menuju ke sebuah loker besi, disana ia mengambil sebuah map berwarna biru muda bertuliskan Games Of fire. Ia kemudian membuka map tersebut dan kembali memeriksa dan mulai mengerjakan nya kembali. Tak lupa ia mengambil satu leptop dari 3 leptop di dalam laci kayu. Ia kemudian membuka nya dan langsung menghidupkan leptop tersebut.

__ADS_1


Tak lupa ia berjalan menuju ketengah ruangan kerjanya. Ia kemudian mulai menaruh sebuah kotak kecil di tengah meja kaca tersebut, karena ruangan kerja rani yang cukup luas. Ia jadi semakin leluasa untuk bergerak.


Setelah menata nya rani bergegas berjalan ke luar ruangan kerjanya, tak lupa ia mengambil ponsel di atas meja kerja. Ia pun menunggu kedatangan kedua abang nya dengan duduk santai di sofa ruang tamu. Di liriknya jam sudah menunjukan pukul 21:20.


sudah hampir 30 menit tapi kedua abang nya tersebut belum sampai. Saat ia hendak menelpon, tak lama terdengar suara ketukan pintu di depan. Rani pun segera pergi untuk membukakan pintu tersebut, tak lama saat ia membuka pintunya. Kedua abangnya itu sudah berdiri dengan menenteng plastik yang berisi makanan pesanan Rani.


" Ayo cepet masuk,kenapa malah diam diluar, apa mau aku tutup lagi pintunya " ucap Rani kesal karena lama menunggu kedatangan mereka. padahal jarak dari tempat itu ke rumah Rani lumayan dekat.


" Loe ini kenapa sih, perasaan dari pas nelpon tadi marah marah mulu. Setidak nya kalo abang ganteng bertamu tuh di sambut dengan baik, bukan malah di omelin " ucap Danish sambil memberikan senyuman yang so kegantengan. ( walau pun ia memang ganteng. hehehe).


Faishal pun malas mendengar ucapan serta tingkah so ganteng nya Danish. Ia pun berjalan masuk kedalam rumah untuk menyusul Rani. karena ia juga sangat malas mendengar ocehan nya itu.


" Oh iya bang Fa, kenapa lama sekali. Padahal jarang Kafe dengan rumah kan gak jauh, kenapa bisa sampai setengah jam " tanya Rani


Merasa dirinya di acuhkan dan tidak ada yang memperhatikan nya Danish pun berjalan dengan gaya yang sudah kesal masuk kedalam rumah. Tak lupa ia kembali menutup pintu dan menguncinya. Walaupun sudah ada penjaga ditambah lagi dengan CCTV keamanan tetap lah harus di utamakan.


" Kok gue malah di cuekin sih, kalian pergi ninggalin gue di luar " ucap Danish masih dengan nada kesal.


" Ya siapa suruh loe banyak tingkah sama gaya konyol loe itu, lagian gue juga gak mau lama lama tinggal di luar udah malem gak bagus udaranya " ucap Rani.


Mereka pun berjalan ke arah dapur tak lupa memanggil bi Tika dan memberikan martabak serta batagor yang di belikan kedua abang nya.


" Bibi, ini ada Bang Fa sama Bang Dans, mereka bawain makanan " teriak Rani memanggil bi Tika.

__ADS_1


" Oh iya non tunggu sebentar ya Bibi beresin dulu mukena sama sejadah dulu " ucap bi Tika


" Bang tadi mang Tejo udah dikasih kan "tanya Rani


" Udah, tadi juga mang Tejo bilang makasih sama kamu " jawab Faishal.


" Malam den Faishal, malam den Danish " sapa bi Tika.


" Malam bibi " jawab mereka berdua


" Ini bi duo Abang bawain martabak sama batagor " ucap Rani sambil memberikan plastik berisi martabak dan batagor.


" Duh, aden ini baik bener, bawain makanan segala. Makasih ya den udah di repotin " ucap bi Tika. Ia langsung mengambil piring dan menyajikan nya.


" Ah Bibi, biasa ajah jangan begitu, kalo Bibi ada perlu apa apa Bibi bilang aja entar aku beliin. lagian kita juga udah anggap Bibi orang tua kedua sama seperti Rani menganggap Bibi seperti orang tuanya. " jawab Faishal.


" Oh iya bi duo Abang sekarang akan tinggal disini juga. Karena sebentar lagi mereka akan ujian akhir sekolah. Jadi Rani akan bantuin mereka belajar sekaligus bisa memantau nya " ucap Rani pada bi Tika.


" Bibi senang dengar nya karena rumah ini bakalan rame dan non juga bakalan gak kesepian lagi " ucap bi Tika.


" Kok kita gak di kasih tau dulu " ucap Danish. " Dan kita belum merundingkan nya kan " sargah nya lagi.


" Gak ada kata penolakan, ini demi nilai kalian dan satu lagi malam minggu nanti terakhir kita maen. Karena kalian juga harus jaga kesehatan serta fisik kalian " ucap Rani dengan nada bicara yang sangat Posesif.

__ADS_1


Bi Tika pun tersenyum melihat tingkah Rani yang sudah berubah menjadi posesif. Ia begitu menyayangi kedua abang nya, padahal mereka bukan lah keluarga Rani.


__ADS_2