Hakikat Cinta

Hakikat Cinta
BAB 64 Tubuh Yang Kurus


__ADS_3

Fatih yang masih mematung di tempat ia berdiri tak mampu lagi melangkahkan kakinya untuk menolong adiknya tersebut. Kejadian yang membuat dirinya atau bahkan semua orang yang terkejut saat melihatnya, begitu cepat berlalu. Bahkan Fatih kini merasakan kakinya seperti terpatri dengan tanah, setelah mendengar percakapan antara Rani dan Faishal. Hatinya sangat hancur mendengar kasih sayang yang terjalin antara mereka.


Rani sudah mulai melemah, tangannya yang sedari tadi mencoba berontak untuk melepaskan pelukan Faishal kini mulai terkulai. Faishal juga mulai merasakan pergerakan Rani mulai melemah. Ia kemudian melonggarkan pelukan yang ku cup erat di tubuh Rani. Faishal terlihat membenarkan rambut Rani yang sudah agak memanjang dan ia selipkan di daun telinganya Rani. Tak lupa ia juga memberikan beberapa kecupan di dahi Rani, untuk memberikan ketenangan dan kasihsayang terhadapnya.


Semua orang yang melihat adegan tersebut pun iri melihat kasih sayang yang terjalin antara Rani dan juga abangnya. Namun hal tersebut justru malah menusuk dan melukai perasaan Fatih sangat kakak kandungnya. Rani yang tadi menutup matanya saat mendapatkan ketenangan yang di berikan Faishal, ia kembali membuka kelopak matanya.


" Kau terlihat tampan sekali sekarang bang, padahal kita hanya terpisah selama 6 bulan lebih. Tapi penampilan mu sekarang sangat lah dewasa dan gagah " Rani melontarkan Kata-kata yang membuat perasaan Fatih Semakin terhempas.


" Aku hanya mencoba untuk menjadi lebih dewasa sekarang, karena aku tak ingin gagal lagi dalam menjaga mu. Aku ingin menjadi seorang kakak yang mampu melindungi serta meyayangi adik nya " Faishal menatap mata Rani dengan intens, salah satu tangannya mulai mengusap pipi Rani yang penuh lebam dan juga darah yang mulai mengering. Faishal merasa sakit melihat wajah Rani yang nampak berantakan, ia kemudian memberikan nya beberapa kecupan di puncak kepala Rani dan kembali memeluknya dengan hangat.


Rani merasa sangat senang, ia kemudian melihat wajah preman yang sudah bonyok dan di penuhi luka lecet serta lebam di seluruh mukanya. Ia juga melihat sekelilingnya, dan menemukan Nanda dan Sam yang sudah kelelahan terduduk agak jauh dari Rani. Pandangannya kini terpokus pada pria yang sedang menghajar preman dengan membabi buta. Rani kembali tersenyum melihat pria tersebut yang tak lain Adalah Danish.


Tak lama kemudian Nina menghampiri Rani dan mengajaknya untuk membersihkan serta mengobati badanya. Ia sangat merasa khawatir terhadap Rani saat berkelahi dengan para preman, namun apalah dayanya, ia hanya seorang wanita lemah serta tidak sekuat dan sehebat Rani.


Sedangkan Amira ia sudah menghampiri Nanda dan membawanya ke ruang kesehatan bersamaan dengan Sam yang di bantu para santri lain. Faishal pun mengerti dengan apa yang di perintahkan oleh Nina, ia segera mengangkat tubuh Rani dan memberikan jas yang ia pakai untuk menutup tubuh Rani. Faishal kemudian mengikuti arah perginya Nina yang menuju ke kamar mereka di asrama putri

__ADS_1


" Dek perasaan abang tubuh mu semakin kurus, apa pemilik pesantren ini tidak memberimu makan. Terakhir kali aku menggendong mu, tubuhmu sangat berat dan berisi. Kenapa sekarang seperti angkat bantal guling aja ya " Canda Faishal pada Rani yang tengah berada dalam pangkuannya.


" Iya mereka bahkan cuman ngasih aku makan hanya berlauk sayur bening sama tempe goreng, atau bahkan ikan asin goreng juga. Sangat jarang mereka ngasih makan aku dengan ayam KFC atau pun Hamburger " jawab Rani sambil lebih mendekatkan kepalanya di dada bidang Faishal.


" Tenang saja nanti aku akan membelika makanan yang sangat lezat, jika kau mau aku bisa memborong semua makanan yang mereka jual demi mengembalikan tubuh berisi milik adik ku ini " Faishal berkata dengan semangat.


" Bang fa apaan sih, aku gak serakus itu juga kali. Lagian adikmu ini tak punya perut karet, entar Bisa-bisa perutku meledak karena kau paksa makan banyak " Rani memukul pelan dada bidang Faishal, karena tenaganya sudah terkuras cukup habis.


Faishal yang mendapat pukulan tersebut pun hanya tersenyum, dalam hatinya ia merasa sangat sedih melihat Rani yang sangat lemah dalam pangkuannya.


Tak terasa kini mereka sudah sampai di depan kamar milik Rani dan kedua kakaknya. Nina pun mempersilahkan Faishal untuk masuk kedalam kamar tersebut. Saat pertama kali melihat kamar tersebut, hati Faishal sangat terenyuh saat melihat kondisinya. Ia hanya melihat ada kasur lantaran dan tikar, Faishal kembali mengingat kondisi p0kamar miliknya di rumah sederhananya saat belum kenal dengan Rani. Perlahan Rani mulai di baringkan di atas kasur yang biasa Rani tiduri.


" Kau ini, tanpa di minta pun kakak mu ini akan selalu membantu mu. Ayok biar kakak bantu " Ucap Nina sambil membantu Rani untuk bangun.


Faishal yang mendengar ucapan Nina yang penuh kasih sayang pun hanya tersenyum. Ia merasa lega setelah melihat dan mendengar, jika adiknya tersebut memiliki teman yang begitu peduli dan perhatian terhadapnya.

__ADS_1


" Biar Abang aja ya yang gendong kamu sampai ke toilet " tawar Faishal pada Rani.


" Abang sudah gila, aku malu harus digendong lagian gak enak juga ini kan pesantren bukan rumah bang " Jawab Rani dengan wajah cemberut.


" Hey, jangan memasang wajah seperti itu dek, nanti adik ku yang manis ini gak cantik lagi " ucap Faishal sambil mencubit pipi Rani yang terlihat tembem akibat bengkak.


" Akh.. Abangggg " pekik Rani, ia merasakan sakit saat Faishal mencubit kedua pipinya. Padahal ia tahu bahwa Rani baru selesai berkelahi.


" Cup.. cup.. cup... Maafin Abang ya dek, Abang gak sengaja. Habis kamu itu gemesin deh " ucap nya Faishal sambil mengelus kedua pipi Rani.


Nina yang melihat interaksi antara Rani dan juga Faishal, ia sangat iri sekaligus senang saat melihatnya. Karena ia tak pernah merasakan apa yang di rasakan oleh Rani saat ini.


Akhirnya Nina memapah Rani berjalan sampai di wc putri, ia juga menunggui Rani hingga ia selesai dan keluar dari sana. Saat menunggu Rani, terlihat Amira datang dengan sangat Buru-buru. terlihat wajahnya yang menunjukan kekhawatiran saat ini.


" Loh teh Mira, kenapa teteh kesini. Bukannya teteh lagi ngobatin kang Nanda ya? " tanya Nina dengan penasaran.

__ADS_1


" Kang Nanda udah Baik-baik saja, justru teteh lebih khawatir sama dek Ani. Lagian mereka pada kumpul di kamar kita, dek ina kalo Masuk ke kamar kita pasti nanti terkejut " ucap Amira pada Nina.


sebelum menanyakan maksud dari omongan Amira, Rani keluar dari wc dengan pakaian yang sedikit berbeda dari biasanya. Ia memakai celana kulot dan juga baju kaos lengan panjang, ia juga tak mengenakan hijab dan menutup rambutnya menggunakan handuk agar rambut basahnya cepat kering. Nina pun mengurungkan niatnya untuk bertanya pada Amira tentang maksud dari omongannya tersebut.


__ADS_2