Hakikat Cinta

Hakikat Cinta
BAB 48 SYOK


__ADS_3

Nina berniat untuk pergi mengejar Rani.Namun beberapa detik kemudian Amira berteriak kencang dan berlari menyusul Rani, saat ia melihat sebuah motor melaju dengan kencang kearah Rani.


" Dek Ani, Awas ada motor " Teriak Amira pada Rani. Ia berlari sekuat tenaga untuk menyelamatkan nya.


Rani yang merasa ada yang memanggil dirinya langsung berhenti dan hendak menoleh ke belakang. Namun sedetik kemudian, sebelum ia benar-benar memutar balikan tubuhnya. Seseorang sudah mendorong badannya hingga ia terpental ke pinggir jalan. Sedangkan orang yang mendorong nya terjatuh di jalan karena ia kehilangan keseimbangan tubuhnya saat mendorong Rani.


Tak lama kemudian Rani tak mengingat apapun dan ia tak sadarkan diri.


Nina hanya mematung di pinggir jalan saat melihat kejadian yang hampir saja merenggut nyawa kedua temannya tersebut. Ia terlalu kaget karena itu terjadi terlalu cepat. Saat ia melihat pengendara motor yang hampir menabrak Rani. Seketika tangannya terkepal, Namun sayangnya motor itu melaju dengan kencang meninggalkan tempat tersebut.


Nina kembali tersadar dari lamunannya, ia mendengar amira berteriak menangis. Sontak ia pun langsung berlari kearah dua orang yang selama ini ia sayangi.


" Dek bangun, maafin kakak gak bisa jaga kamu dek. Kakak mohon jangan seperti ini, ini semua salah kakak. Harusnya aku lebih teliti menjaga mu, dan lihat lah sekarang. Kau kembali terluka karena kecerobohan ku. Hiks... Hiks.. Hiks.. " Amira menangis saat melihat Rani terkapar di pinggir jalan.


" Astaghfirullah, Kak tenangkan dulu dirimu. Maafin aku kak, ini semua salah Nina, kalau saja aku tak mengiyakan ajakan dek Ani, mungkin saja hal ini tak Akan terjadi. Hiks... Hiks... Hiks.. " Nina pun menangis saat melihat Rani dan juga Amira.


Karena dorongan dari Amira,dari dahi Rani mengalir darah. Ia kembali mendapatkan luka di kepalanya, karena saat Amira mendorong tubuh Rani. Kepalanya tak sengaja membentur pinggir trotoar.


Amira sangat histeris saat melihat sebagian wajah Rani di penuhi darah.Ia menangis tersedu-sedu, begitupun dengan Nina. Ia sangat syok saat melihat darah di wajah Rani. Karena mengingat ia baru saja sembuh dari sakit nya, dan sekarang ia mengalami kecelakaan malang seperti ini.


Disana sudah banyak yang mengerubungi, berita tentang kecelakaan seorang santri pun menyebar langsung di seluruh kampung tersebut. Dan jangan lupa berita tersebut kembali menghebohkan seisi pesantren, karena yang mengalami kecelakaan memang orang dari sana.

__ADS_1


Sedangkan Nanda yang sedang melaksanakan patroli, Ia sangat penasaran dengan apa yang ia dengar dari para santri.Ia pun segera pergi menuju tempat kejadian tersebut. Entah mengapa saat ini, ia merasa gelisah dan tak tenang. Ia selalu mengingat adik angkatnya yang belum lama ia kenal. Ia pun mempercepat langkahnya, bahkan sesekali ia berlari kecil agar ia cepat sampai.


Saat Nanda sampai di depan gerbang pesantren. disana ia melihat kerumunan orang yang sangat banyak. Saat ia akan melangkahkan kaki untuk mendekati kerumunan tersebut. Ia di kejutkan dengan tangan yang memegang bahu nya, ia pun segera menoleh kearah belakang.


Saat menoleh kearah belakang, ia melihat hanafi yang juga terlihat cemas.Entah mengapa Nanda semakin merasakan perasaan gak enak. Apalagi di tambah desas desus dari orang yang mengerumuni korban. Membuat jantungnya berserakan tak karuan.


" Cek kabarna mah, si neng eta teh bade tunangan cenah lusa "


" enya nya karunya pisan ieu budak "


"Enya mastaka na jiga bocor, meni seer kitu getih na"


" Anu nabrakna oge kalah kabur te tanggung jawab nya "


" Gusti, karunya pisan si neng, kumaha keluargana"


Karena Nanda tak tahan mendengar ucapan orang-orang yang yang ada disana. Ia memutuskan untuk menerobos kumpulan manusia yang hanya menonton orang yang lagi terluka parah.


Nanda merasakan sesak saat melihat orang yang ia sayangi menangis histeris. Untuk beberapa detik tubuh Nanda terasa kaku saat melihat orang yang ada di pangkuan kekasihnya itu. Namun Tak lama kemudian ia tersadar saat Hanafi mengejutkannya.


" Astaghfirullah, kenapa ini bisa terjadi. Nan, cepet minta bantuan buat bawa dek Rani ke puskesmas" Ucap Hanafi pada Nanda.

__ADS_1


" Nanda, cepatlah minta bantuan. Jangan malah mematung seperti itu. kita harus cepat menolongnya, Dek Rani sudah kehilangan banyak darah " Ucap Hanafi kembali.


Hingga tak lama kemudian, salah satu warga yang membawa mobil bak kebetulan melewati jalan itu. Hingga ia pun dengan senang hati menawarkan tumpangan untuk membawa Rani ke puskesmas kampung tersebut.


Hanafi langsung mengangkat tubuh Rani dengan bantuan Nanda keatas mobil. Tak lupa Amira dan juga Nina ikut naik ke atas mobil. tubuh Rani kembali di baringkan di atas mobil bak tersebut dengan kepalanya yang di taruh di atas paha Amira. Nina juga memeluk tubuh Amira dan mencoba untuk menenangkannya.


Selama di perjalanan Hanafi langsung mengabari orang tuannya. Ia mengatakan untuk menyusul ke puskesmas. Nanda juga langsung mengabari Dokter Thariq dan memberitahukan tentang keadaan Rani.


Sesampainya di rumah sakit, mereka langsung membawa Rani kedalam rumah sakit tersebut. Tak lama seorang dokter datang dan langsung menangani Rani. Hanafi, Nanda, Amira dan juga Nina. Mereka menunggu nya di kursi luar puskesmas. Nina dan juga Amira mereka masih menangis dan syok karena kejadian tadi.


Nanda pun akhirnya bangkit dari kursi dan berjalan meninggalkan tempat itu. Sepeninggal Nanda, tak ada yang mau angkat bicara. Hanafi juga sedang merasa kalut dengan fikirannya sendiri. Sedangkan Amira masih terisak menangis, dan Nina mencoba menenangkan Amira. Karena Ia sudah merasa sedikit tenang dan tidak menangis lagi.


Tak lama kemudian, Nanda datang dengan membawa plastik yang berisi botol minuman. Ia pergi ke warung untuk membeli air minum.


" Dek, ini minumlah dulu. Kau tenang lah, dek Rani gak bakalan kenapa2. Berhentilah menangis, jika dia sudah sadar dan melihat mu menangis. Nanti ia juga akan merasa sedih " Ucap Nanda pada Amira. Ia membuka tutup botol air mineral dan memberikannya pada Amira. Nanda juga membuka satu botol lagi dan memberikannya pada Nina.


" Kang, ini semua salah Mira, kalau saja aku menjaga dek Ani dengan teliti mungkin ia tak akan mengalami hal ini Hiks..Hiks..Hiks.." Ucap Amira sambil sesegukan.


" Sudahlah, ini mungkin cobaan dari Alloh buat dek Rani. Kita berdoa saja, semoga dek Rani baik2 saja " Ucap Nanda mencoba menenangkan Amira. Sebenarnya ia juga merasa syok saat melihat Rani terkapar tak sadarkan diri. Bahkan jantungnya Masih berdetak tak karuan karena nya. Nanda segera duduk kembali di kursi tempat ia duduk tadi.


" Teh Mira, teteh obatin dulu ya yang ada di tangan teteh. Ayok biar Nina yang bantu obatin luka teteh " Ucap Nina pada Amira.

__ADS_1


Amira pun mengangguk dan mereka pergi kedalam untuk meminTa alkohol dan obat merah untuk mengobati lukanya.


__ADS_2