
Kiayi Rasyid beserta kedua orang tua Hanafi mereka pamit untuk kembali ke pesantren. Dan mereka juga berpesan agar segera mengabari mereka jika Rani sudah sadarkan diri.
" Nak Nanda, kami akan pulang duluan. Karena kami merasa gak enak kalau kami semua meninggalkan pesantren. Dan gak baik juga membiarkan pesantren tanpa pengawasan kami. Nanti jika nak Rani sudah siuman atau Kang Thariq mu sudah sampai disini. Segera kabari kami, karena kami juga sangat mengkhawatirkan keadaan nak Rani " Ucap Maryam pada Nanda.
Wajah dari kyai Rasyid dan Maryam yang terlihat sangat sedih, lesu dan juga penuh dengan kekhawatiran. Bagaimana tidak, setiap lamarannya sudah di tentukan. Pasti ada aja hal2 yang membuat lamaran tersebut di batalkan. Dan hari ini pun terjadi, dimana besok lusa acara lamaran akan di adakan di pesantren. Dan sekarang Rani sedang terbaring tak sadarkan diri.
" Baiklah Umi, nanti Nanda akan mengabari umi dan kyai secepat mungkin saat dek Rani sudah sadar " Jawabannya.
Nanda, Amira dan Nina menyalami kedua orang tua tersebut secara bergantian. Dan untuk rahman ia sudah masuk terlebih dahulu ke dalam mobil. ia sudah menyalakan mobilnya, karena ia sepertinya sibuk dengan pekerjaannya.
Akhirnya Maryam melangkahkan kakinya ke dalam mobil dengan menggandeng ayah mertuanya. Setelah membukakan pintu mobil bagian depan dan memastikan ayah mertuanya duduk dengan baik, barulah ia menutup pintu mobilnya. ia kembali membuka pintu mobil bagian penumpang dan segera masuk lalu menutupnya kembali.
Rahman membunyikan klakson mobilnya dan pergi meninggalkan halaman Puskesmas tersebut.
Sementara di dalam mobil tidak ada yang berbicara satupun. Hingga Maryam membuka mulut dan memulai pembicaraannya agar tidak sepi.
" Ayah, kenapa calon mantu selalu saja mengalami musibah saat sudah dekat menjelang hari lamarannya. Aku merasa ada yang aneh Ayah, bagaimana ini bisa dianggap wajar. Ini sudah hampir ke tiga kalinya kita membatalkan acara lamarannya. Bagaimana jika Calon mantu ku itu Belum sadar sampai esok. Apa kita harus mengundurkan lagi acara lamarannya "Ucap Maryam mengutarakan kegelisahan yang ia rasakan selama ini.
" Kau benar menantu, aku juga merasakan hal yang sama denganmu. Tapi apalah daya kita, kita hanya manusia biasa. Mungkin ini sudah kehendak dari Alloh SWT. Kita hanya bisa berdoa untuk keselamatan cucuku ". Ucap Rasyid dengan raut wajah sedih.
__ADS_1
" Abi, aku kan sudah bilang. Kita batalkan saja acara lamaran untuk nya. Apa untungnya dengan kita menikahkan Hanafi dengannya. Justru dia itu akan menjadi beban bagi keluarga kita. Ditambah dia selalu sakit2an, abi tau sendirikan usaha perkebunan ku itu sedang menurun gara-gara kalah saing sama pengusaha perkebunan di kampung sebelah. Dan ditambah pengeluaran pesantren juga saat ini sangat banyak " Ucap Rahman dengan wajah kesal. Karena ia memang satu2nya orang yang tidak menyetujui hubungan Hanafi dan Rani. jikalau ayahnya tersebut tidak memaksanya, mungkin sekarang Hanafi sudah ia jodohkan dengan calon mantu yang ia pilihkan.
" Apa yang kamu ucapkan abi, kamu sadar dengan apa yang kamu katakan barusan. Apa kau tidak ingat jika saja nak Rani tidak menyelamatkan nyawa anak kita mungkin saat ini Hanafi sudah tiada lagi bersama kita " Ucap Maryam sambil menangis.
" Lebih baik kalau Hanafi kita jodohkan saja dengan Fatimah anaknya pak Kades. Bukankah itu lebih baik, usaha ku akan semakin maju karena dapat dukungan dari ayahnya Fatimah. Terus pesantren juga akan mendapatkan bantuan dana untuk pembangunan yang baru. Ditambah Fatimah juga sudah sangat jelas dia wanita solehah, dan ia tumbuh bersama dengan Hanafi. Sedangkan wanita itu, kita tidak tahu asal usulnya. Apakah dia wanita baik2 atau malah dia seorang pelac*r yang dengan sengaja menjebak Hanafi " Ucap Rahman dengan Nada tinggi.
" Apa yang kau katakan, tidaklah kau melihat sendiri sikap lemah lembutnya calon menantuku. Dan Kamu jangan pernah memanggilnya dengan wanita pelac*r. Karena itu kau akan menghancurkan harga dirinya, secara tidak langsung juga kau sudah menyebutku sebagai wanita tidak baik. Karena aku sudah menganggap nya sebagai putriku. Karena aku merasa berhutang nyawa padanya. " Maryam kini juga berbicara dengan nada tinggi.
Didalam mobil tersebut sudah di penuhi dengan suasana panas karena perdebatan yang dilakukan Maryam dan juga Rahman. Sedangkan Kyai Rasyid ia sedang memikirkan ucapan dari anak dan mantunya. Ia bertanya-tanya dalam hati dan fikiran nya.
" Apakah Aku sudah salah karena menjodohkan cucuku kepada anak ini. Tapi setiap aku melaksanakan solat istikharah anak ini lah yang akan menjadi menantuku. Ya Alloh, berikanlah jalan yang akan mempermudah segalanya ". Gumamnya dalam hati.
" Kenapa kau selalu membandingkan nyawa orang lain dengan uang Rahman. Aku juga tidak akan menikahkan nya jikalau Hanafi tidak menyukainya. Anaku yang sudah menyukai dan jatuh cinta pada nak Rani. Setidaknya kau sebagai ayah dapat melihat itu, jangan hanya kekuasaan dan harta saja yang selalu kau pentingkan " Maryam kembali menangis, bahkan sekarang ia semakin tersedu-sedu.
" Kau... " Ucapan Rahman terhenti.
" Sudahlah hentikan pertengkaran kalian, biarkan nanti aku yang akan memutuskan tentang lamaran yang akan dilangsungkan besok lusa " Ucap Rasyid.
Akhirnya mereka kembali terdiam saat kyai Rasyid berbicara. Mobil yang Rahman kendarai pun akhirnya sampai di di pesantren. setelah Rahman memarkirkan mobilnya, ia keluar dan langsung pergi meninggalkan ayah dan istrinya.
__ADS_1
Sedangkan Maryam yang masih terisak dengan mata yang sedikit bengkak membantu ayah mertuanya berjalan dan pergi ke rumahnya.
Sementara di tak jauh dari sana,seseorang tengah tersenyum menyeringai penuh kelicikan. Lalu ia pergi dari sana dan langsung menghubungi seseorang lewat telponnya.
Tut.. tut.. tut.. Nada panggilan yang sudah tersambung.
" Hallo, bagaimana apa semuanya sudah beres?.Kau tidak tertangkap warga kan" Tanya sang penelpon.
" Kau tenang saja sayang, semuanya sudah beres dan sekarang aku sudah aman. Jadi kau jangan lupa dengan perjanjian kita. Malam ini Aku akan menunggu mu di di gudang dekat kebun belakang pesantren. Awas saja kalau kau tak datang. Aku akan membongkar semua rencana bejat mu itu di depan pak ustad mu " Ucap laki-laki disebrang telpon.
" Baiklah sama, aku tak pernah mengingkari janji ku. Nanti aku akan kesana setelah semua orang tertidur ". Ucap orang yang menelpon.
" Baiklah Fatimah sayang, aku tunggu kau di sana. Berdandanlah dengan cantik dan pakailah wewangian di tubuh mu. Agar aku lebih bernafsu saat memakan mu " Ucap sama dengan penuh Nafsu.
" Ya sudah, aku tutup telponnya. Bye " ucap penelpon yang tak lain Fatimah.
Fatimah merasa sangat puas setelah mendengar jika rencana nya berhasil. Ia juga tadi sempat melihat umi nya Hanafi yang menangis. Dan itu membuat ia semakin bahagia.
" Hahaha...Tinggal menunggu kabar pengumuman kematian mu. Makanya jangan pernah melawan ku. Sudah ku peringatkan dirimu untuk meninggalkan Hanafi, tapi kau malah bertahan. Dan kau lihat kan hasilnya, kau akan mati ". Ucap Fatimah sambil tertawa puas.
__ADS_1