
Tak terasa akhirnya Rani sudah di perbolehkan untuk pulang. Ia sangat merasa senang, namun disisi lain ia juga merasa sedih karena tak mengingat apapun apalagi keluarganya. Ia merasa bingung dengan dirinya sendiri. Di satu sisi ia tidak ingin merepotkan keluarga Hanafi.Tapi disisi yang lain ia tak mengenal siapapun kecuali keluarganya Hanafi. Mereka juga telah membantu nya selama ini. Biaya pengobatan serta perawatan yang ia dapatkan selama ini.
" Hey, kenapa malah bengong. Gak baik wanita cantik suka melamun, nanti kesambet gimana?. kamu mau? " Nanda menepuk pundaknya Rani guna menyadarkannya dari melamun.
" Kakak ngomong apa sih, masa adik cantik nan imut ini di sumpahin kemasukan setan sih " ucap Rani yang merasa kesal dengan Nanda.
" Bukan gitu juga dek, lagian dari tadi bengong mulu. Kalo kamu ada masalah cerita aja sama kakak. Atau kamu ingin sesuatu, kamu bilang aja sama kakak. Nanti kakak sebisa mungkin di usahakan kalau kakak masih mampu" Nanda menepuk pelan bahu Rani, ia tahu bahwa Rani sedang merasa gelisah saat ini. Untuk itu ia akan mensuport nya, agar Rani tak merasa sedih dan kesepian.
" Sebenarnya aku lagi bingung kak, aku mau pulang kemana, aku bahkan tak ingat apapun kecuali namaku sendiri. Aku gak mau terus2an merepotin keluarga nya kak Hanafi. Tapi disisi lain aku juga bingung mau tinggal dimana " Rani memberitahukan kegelisahan nya kepada Nanda.
" Kamu tenang ajah, masalah tempat tinggal. Kamu bisa tinggal di asrama pesantren, kakak juga sama seperti kamu. Kakak juga sebenarnya bukan keluarga Hanafi, kakak tinggal di pesantren milik kakeknya Hanafi. Keluarga Hanafi sangat baik dan membolehkan kakak tinggal dengan mereka " Ucap Nanda.
Rani merasa tenang dengan ucapan yang dikatakan oleh Nanda. Tak lama dari itu, pintu ruangan tempat Rani dirawat terbuka lebar menampakan sosok kedua parubaya yang disusul Hanafi dan juga dokter Thariq.
" Assalamu'alaikum.. " Ucap mereka
" Waalaikumsalam.. " Jawab Rani dan Nanda secara bersamaan.
" Umi sama abi gimana kabarnya..? " Tanya Rani kepada kedua parubaya tersebut. Tak lupa, ia juga mengalami mereka secara bergantian, begitu juga dengan Nanda.
" Alhamdulillah kami sangat baik2 saja. Kamu nambah cantik aja nak. gimana keadaan mu saat ini, apa sudah mendingan" Maryam mengelus rambut Rani dan mencium kening nya.
__ADS_1
" Umiiii, mentang2 ada Rani, Hanafi jadi di lupain. gimana sih umi ini, gak setia banget " Protes Hanafi pada maryam.
Semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut sontak tertawa kecil. melihat tingkah Hanaf yang sedang merajuk.
" Kapan anak umi ini berubah, biasanya juga irit bicara sama ekspresi nya datar. kenapa sekarang bisa merajuk kaya anak kecil " Maryam sambil tertawa kecil.
Ruangan tersebut terasa sangat hangat, dengan candaan kecil dan serta celotehan Rani. Ia merasa nyaman dengan suasana yang sedang ada di sekitarnya sekarang ini.
Tak lama setelah itu, mereka segera keluar dari ruangan tersebut. Untuk semua administrasi nya Hanafi serta kedua orang tuanya sudah membayarnya sebelum keruangan Rani.
Saat ini keluarga Hanafi berada di depan rumah sakit. disana sudah tersedia dua mobil, satu mobil milik Rahman dan satunya lagi milik dokter Thariq. Dokter Thariq memutuskan untuk ikut mengantar kepulangan Rani, sekalian untuk menengok kakek nya yang sudah lama tak bertemu semenjak meninggalnya Ibu mereka.
Rani, ia akan pergi dengan keluarga Hanafi, sedangkan Nanda bersama dokter Thariq. Sepanjang perjalanan Rani tak henti2 nya menceritakan semua kelucuan dan kekonyolan nya dengan Hanafi saat di rumah sakit. Dan Hanafi juga tak mau kalah dengan Rani, ia juga ikut berbicara dan menambah keseruan di dalam mobil.
"Nanda, ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan mu" Ucap dokter Thariq dengan wajah serius.
" Iya dok, silahkan. Memang hal penting seperti apa yang dokter Thariq ingin bicarakan dengan ku " Jawab Nanda.
" Jangan terlalu formal, panggil aja aku Thariq atau bisa panggil abang juga kalau kamu mau" ucap Thariq.
" Baiklah bang"
__ADS_1
" Aku ingin menitipkan Rani kepadamu, aku ingin kau menjaganya. Aku merasa ada bahaya yang sedang menunggunya. Aku merasakan Firasat ini, saat tahu bahwa ia akan bersangkutan dengan paman Rahman" ucap Thariq dengan wajah cemas.
" Kenapa abang bisa ngomong seperti itu, apa yang sebernarnya terjadi, dan apakah abang sebenarnya memiliki hubungan dengan Rani? " Tanya Nanda, ia sangat penasaran kenapa dokter Thariq berbicara seperti itu padanya. Ia merasa curiga karena Dokter Thariq selalu menitipkan Rani kepadanya dan itu terjadi berulangkali saat di rumah sakit.
" Entah mengapa aku juga pernah memergoki seorang pria yang masuk kedalam ruangan saat Rani mengalami koma. Dan ada hal aneh yang selalu menghampiri mimpiku. Yang biasanya aku selalu mimpi buruk tentang kecelakaan kedua orang tua ku hingga merenggut nyawa mereka. Namun semua itu langsung hilang, aku bahkan bermimpi kedua orang tuaku dan juga tante Delina selalu datang kedalam mimpiku. Mereka selalu mengatakan untuk menjaga Rani. Dan itu sangat membuat ku kebingungan " Nanda membuang nafas kasarnya setelah menceritakan semua kecurigaan yang ia lihat dan alami.
" Untuk pria yang kau lihat, itu sebenarnya adalah adik ku. Kau tak perlu khawatir dengan nya, kau ingat kan dengan kalung yang kau ambil dari leher Rani. " tanya dokter Thariq.
" Jadi dia adik abang. Tapi kenapa dia harus mengendap-endap seperti itu " Nanda kaget tak percaya dengan ucapan dokter Thariq.
" Sebenarnya Adik ku itu mengenal Rani. Ia mengenal Rani dari kalung yang tak sengaja terbawa pulang saat selesai mengoprasi Rani. Saat pertama kali melihat kalung itu, dia terkejut dan menanyakan pemilik dari kalung itu..." Dokter Thariq terus melanjutkan cerita tentang adiknya kepada Nanda. Entah mengapa ia merasa Nanda dapat di percaya untuk menyembunyikan semua jal yang ia ceritakan.
" Oh.. ternyata begitu, lalu kenapa abang tak memberitahukan itu semua pada Rani. apa abang tahu minggu depan Hanafi akan melamar sekaligus bertunangan dengan Rani " Ucap Nanda.
" Begitu ya, bukannya aku gak mau cerita tentang adikku itu. Cuman keadaan Rani yang sedang hilang ingatan saat ini tidak memungkinkan untuk ku menceritakan nya"
" Bang Thariq memang benar, keadaan nya sangat tidak memungkinkan saat ini. Tapi aku janji aku akan selalu melindungi Rani. Karena ia sudah aku anggap seperti adik kandungku sendiri." Ucap Nanda.
" Baguslah kalau begitu. kalo begitu, aku minta no kamu agar aku mudah mendapatkan informasi tentang perkembangan Rani."
" Baiklah bang,kita sepakat untuk melindungi nya, entar kalo ada apa2 aku akan mengabari mu langsung"
__ADS_1
Mereka pun melanjutkan perbincangan mereka dan karena hal itu mereka tambah akrab seperti seorang sahabat.