Hakikat Cinta

Hakikat Cinta
BAB 61 Kasih sayang seorang kakak


__ADS_3

" Diam kau, jangan pernah menyamakan dirimu itu dengan ibuku. Dan kau tak berhak membawa nama agama setelah apa yang kau lakukan itu.Dan kau tak berhak membela bahkan untuk dirimu sendiri, karena bukti perbuatan laknat yang kau lakukan itu sudah sangat jelas. Mungkin ayah ku benar, kau menolongku waktu itu hanya untuk menjebak ku saja. kau memang wanita licik, kau memang tak pantas tinggal di tempat suci ini " Jari telunjuk Hanafi ditunjukan kearah Rani dan berkata dengan keras kepada nya. Setelah mendaratkan punggung tangan di pipi kanan Rani. Ia juga melemparkan ponsel nya ke tubuh Rani, dan Rani segera penangkap ponsel tersebut.


" Kau bahkan tak dapat mengelak dari semua itu, sudah jelas dalam vidio itu ada kau dan laki-laki ******** itu " Ucap Hanafi dengan menunjuk kearah Sam.


Kini semua santri/wati mulai membicarakan Rani dan Sam. Hanafi juga tidak lagi bersikap ramah ataupun baik. Ia sudah kemakan oleh hasutan yang di ucapkan oleh Fatimah.


Rani mulai tersenyum setelah melihat vidio tersebut. Ia kemudian membanting ponsel Hanafi dengan keras kearah batu yang terletak di dekat nya. Semua orang yang melihat hal itu pun sangat kaget, dengan sikap yang di tunjukan oleh Rani.


" Apa yang kau lakukan pada ponselku. kenapa kau menghancurkannya " Ucap Hanafi pada Rani.


" Ups sorry kak, aku sungguh sengaja, jadi maafkan aku ya. Aku berusaha menghilangkan bukti murahan itu, apa tak boleh. Tenang saja biar nanti aku yang akan mengganti nya dengan yang lebih bagus " Ucap Rani.


" Heh pak ustad, kau percaya dengan yang ada dalam vidio itu adalah kami. Seharusnya kau bisa melihatnya dengan jelas, bahwa kita tak melakukan apapun " Timpal Sam pada Hanafi.


Hanafi yang sudah sangat marah, karena termakan hasutan dari Fatimah. Ia sudah sangat geram, lalu mengepalkan tangannya dan akan melayangkan nya kearah Sam. Namun ia sangat terkejut saat ada tangan yang berhasil menahan pukulannya.


Hanafi sangat terkejut melihat orang yang menahan tangan Hanafi. Semua orang yang ada disana juga sangat kaget dengan apa yang terjadi di depan mereka.


" Hey, santai lah pak ustad. Jangan buru2 emosi, apa kau tak malu dengan gelar mu itu. Ups, sory aku gak sengaja. Bahkan tangan ku pun tak berhak bersentuhan sama kulit mu yang suci ini " Ucap Rani pada Hanafi. ia sudah tak dapat menahan gejolak Amarah yang ia simpan.


" Hey nona cantik, apa tangan mu baik baik saja. kenapa kau melakukan itu, bagaimana kalau tangan mu terluka. Maafkan aku karena membuatmu kesusahan karena ulahku. " Ucap Sam pada Rani, ia juga memegang dan mengelus pergelangan tangan nya.


Hanafi dan Fatimah yang melihat hal itu pun tak percaya. begitu pun dengan kedua kakak sekamarnya dan Nanda. Dan yang lain nya hanya

__ADS_1


" Tenanglah Sam, luka seperti ini tidak lah penting, Bahkan nyawaku saja lebih penting dari pada uang " Ucap Rani sambil melihat kearahRahman dan maryam.


" Bahkan orang tua dan kakak kandungku saja tidak pernah memperdulikan ku. Lalu apa yang di harapkan dari wanita menyedihkan serta menjijikan ini " Rani kembali melihat ke arah Rudy dan Fatih secara bergantian.


Nanda yang mendengar dan melihat pandangan Rani, ia merasa terkejut.


" Jadi, selama ini yang selalu aku jaga adalah Zahra. Apa ini arti semua mimpi yang selama ini aku alami " Ucap Nanda tak percaya.


" Apa yang kang Nanda katakan. Apa yang akang maksud, apa dek Ani adalah adik kandung Akang" Tanya Amira. Nina pun memikirkan hal yang sama dengan apa yang diucapkan Amira.


" Bukan kandung, tapi dia adik sepupuku. kalian bisa lihat disana, mereka adalah ayah dan kakak kandung dek Zahra. Karena perceraian kedua orang tuanya, Zahra lebih memilih tinggal dengan Alm. bibi Delina. Aku harus membantu dek Zahra, aku percaya dia sudah di jebak disini " Ucap Nanda.


" Apa, jadi mereka adalah keluarga dek Rani, tapi kenapa meraka diam saja melihat dek Rani seperti itu. Keluarga macam apa mereka itu, sungguh aku gak mau memiliki keluarga yang tak melihat penderitaan anak sendiri" Ucap Nina.


" Dasar jalan*g, kau berani beraninya menunjukan hal menjijikan mu di depan kami " ucap Fatimah dengan kesal.


Rani sangat terkejut mendapat kejutan dari Fatimah, dia seakan-akan memancing Rani untuk melepaskan emosinya. Kini tanpa sadar Rani sudah mengepalkan kedua tangannya. Ia sudah tak tahan dengan sikap semua orang yang so suci di hadapannya.


Rani mengangkat wajahnya, namun ia sangat kaget saat ada seseorang yang memeluknya. Ia menoleh kearah belakang dan berbalik menghadap nya. di sangat kaget saat melihat Nanda dengan wajah khawatir. Namun sedetik kemudian Rani merasa sangat senang ada yang memperhatikannya di saat seperti ini selain kedua abangnya yang di kota. Rani juga bertambah bahagia saat melihat Amira dan Nina yang tersenyum padanya.


" Dek, kami sangat percaya padamu. kami akan selalu ada di samping mu" Ucap Amira dan Nina.


" Ternyata kau adik tengil ku, Zahra nakal dan selalu menyalahkan apapun dan siapapun yang membuatnya kesal. Zahra yang periang dan selalu manja. Apa kau lupa pada kakak sepupu tampan mu. " Nanda mengingatkan Rani tentang masa kecil saat bersama nya. ia tak peduli dengan pakaian yang juga ikut basah

__ADS_1


Rani sangat terkejut saat mendengar perkataan Amira dan Nina. Namun ia lebih terkejut dan senang saat mendengar ucapan dari Nanda.


" Kakak, kau kakak ku. Aku merindukanmu, bahkan saat mama sedang sakit. Dia menyuruhku untuk mencari tante Melisa dan kau. Tapi saat aku mencari kerumah mu, aku tidak menemukan apapun. Aku benar-benar merasa sendiri waktu itu, bahkan aku sangat terpuruk saat kehilangan sosok mama.Jangan tinggalkan aku lagi kak " Rani menangis dan melupakan amarahnya pada Fatimah dan Hanafi. Ia semakin mengeratkan pelukan di tubuh Nanda.


" Kakak janji akan selalu bersama mu dan akan melindungi adik kesayangan kakak ini. Sudahlah jangan menangis, kenapa adik tengil kakak ini malah jadi wanita cengeng. Lihat la wajah cantik mu ini, kenapa penuh lebam seperti ini. " ucap Nanda. Ia kemudian mengusap kepala Rani dan mencium dahinya.Tak lupa ia juga mengusap pipi Rani dengan lembut.


Rani sangat senang, ia merasa kasih sayang yang ia dapatkan semakin bertambah dan lengkap. Ia pun tersenyum pada Nanda.


" Tenanglah hal seperti ini masih kurang kak. Bahkan saat tengkorak kepalaku retak saja masih hidup bukan. Lagian hal seperti ini sudah biasa aku dapatkan saat berkelahi di sekolah " Jawab Rani dengan sebuah cengiran pada Nanda.


Nanda kembali mengingat kembali kejadian beberapa bulan yang lalu. kecelakaan yang hampir saja membuat Rani kehilangan nyawanya. Bahkan Nanda menjadi saksi bagaimana Rani berjuang melawan maut saat kritis di rumah sakit.


Lalu ia melepaskan pelukannya pada Nanda dan beralih memeluk Kedua kakak perempuannya.


" Terimakasih kak, kalian selalu ada buat Rani. Aku sangat menyayangi kalian " Ucap Rani sambil tersenyum.


" Hey, sepertinya dek Ani harus kembali seperti dulu lagi. Aku ingin lihat seberapa kuat dirimu seperti yang di ceritakan saat di puskesmas. Lihatlah wajah kesangan ku ini jadi jelek " ucap Nina pada Rani.


" Lihatlah baju ku jadi basah " Rengek Nina setelah Rani melepaskan pelukannya.


" Kau ina, bukannya senang dek Ani sudah berubah jadi peminim, imut dan manja. Malah menyuruhnya menjadi Tomboy lagi, kau ini " Tegur Amira pada Nina. ia bahkan tidak memperdulikan bajunya yang ikut basah karena kesal dengan omongan yang di ucapkan Nina.


Rani sangat senang melihat kedua wanita di depannya tersebut memperdebatkan dirinya. Tapi ia juga merasa sedikit risih saat di sebut peminim, imut dan manja oleh Amira. Karena semua itu bertolah belakang dengan sifat aslinya dan kondisi saat ini.

__ADS_1


" Kak Mira maafkan aku, aku tak bisa berubah seperti yang di harapkan kakak. Mungkin jalan hidupku lebih cocok seperti dulu. Karena aku tak bisa berbuat baik dan memaafkan mereka yang sudah berurusan dengan ku " Ucap Rani pada Amira.


__ADS_2