
Akhirnya mereka menjadi gelagapan sendiri dengan pertanyaan yang Maryam lontarkan pada mereka. Namun Hanafi dengan cepat mengalihkan pembicaraan tersebut agar suasana tidak terlalu tegang.
" Ah.. umi bawa apa?, kelihatannya enak. Dari baunya saja sudah harum"Ucap Nanda mencoba mengalihkan pertanyaan Maryam pada plastik yang ia tenteng.
" Kalian jangan bohong sama umi ya, tadi umi dengar pembicaraan kalian dari luar. Jadi kalian tidak bisa mengelak lagi pada umi" ucap Maryam sambil mendengus kesal karena anak2 nya tersebut mencoba mengalihkan pembicaraan yang tadi.
" Ti.. tidak umi, kita tidak sedang membicarakan apa2 kok. Kita tadi lagi ngebahas soal game kesayangan Hanafi. benarkan Naf? " Elak Nanda dan seketika langsung menoleh ke arah Hanafi untuk membantu membenarkan ucapannya.
" Benar umi, kita tidak berbicara apa2 kok. Yang dikatakan Nanda benar, tadi kita sedang membicarakan tentang game yang sering kita mainkan " Nanda berusaha menghentikan kecurigaan yang ibunya lakukan.
" Sudahlah umi sudah tahu apa yang kalian bicarakan dari tadi. Lagian umi juga gak akan paksa kamu lagi buat bertunangan. Ya kan abi, jika kamu menyukainya maka setelah dia sembuh kita akan membawanya ke kampung. Tidak ada penolakan kali ini " Ucap Maryam pada Hanafi. Ia juga sudah memutuskan untuk mengikuti semua keinginan anak semata wayangnya tersebut.
" Apa yang umi katakan! , bagaimana dengan keluarganya?. Abi tidak setuju dengan keputusan mendadak seperti ini! " Rahman menolak usulan dari istrinya tersebut.
" Abi.. untuk itu gak penting, lagian dokter Thariq juga bilang kalo dia kemungkinan bakal hilang ingatan gara2 cedera di kepalanya sangat parah. Lagian kalau dia mempunyai keluarga seharusnya sekarang sudah ada polisi untuk mencarinya. Tapi abi lihat sendirikan kalo sampai sekarang belum ada berita atau orang yang mencari keberadaannya" Maryam merasa kesal dengan ucapan suaminya yang tidak menyukai sarannya.
" Umi benar, kenapa sampai sekarang belum ada yang mencarinya. Bahkan polisi aja tidak datang kesini" Nanda juga ikut bersuara dengan membenarkan ucapan Maryam.
Hanafi merasa senang dengan perdebatan yang terjadi di dalam ruangan itu. Ia merasa senang karena semua orang terlihat mendukung apa yang ia inginkan saat ini. Hanafi bahkan sudah tersenyum sendiri membayangkan ia menikah Rani, ia merasa sudah tak sabar dengan hari tersebut.
Disaat Hanafi sedang asik dengan bayangan masa depannya dan tersenyum2 sendiri. Maryam langsung menegur Dan membuyarkan khayalan nya tersebut.
" Kita lagi asik berdebat, dan kamu malah asik berkhayal dengan calon menantuku" Celetuk Maryam saat melihat anaknya sedang tersenyum sendiri.
" Hahaha... ternyata seorang Hanafi bisa bucin juga. Aku kira dia manusia keras kepala yang gak bisa jatuh cinta " Ucap Nanda menertawakan Hanafi.
__ADS_1
"Apa sih kau ini gak jelas banget Nan" Elak Hanafi
" Sudah sudah, ini umi tadi beli makanan sama cemilan. Cepet makan sebelum dingin nanti gak enak lagi" Maryam menghentikan perdebatan mereka yang bakalan berkepanjangan. Namun disisi yang lain ia sangat senang anaknya terlihat sebahagia itu.
Akhirnya mereka melanjutkan perbincangan dengan memakan cemilan. Sesekali Hanafi dan juga Nanda berdebat kembali dan Maryam yang selalu menjadi penengah. sedangkan Rahman haya menggelengkan kepala dengan apa yang ia lihat dan dengar. Pada akhirnya mereka tertawa bahagia karena perdebatan atau obrolan yang terkesan konyol tersebut.
ππππππππ
Tak terasa waktu sudah menjelang malam. Tepatnya di rumah sakit tempat bi tika sedang dirawat. Danish dan mang Tejo sedang keluar mencari makanan sedangkan Faishal sedang duduk di sofa menunggu bi Tika sadar.
Saat Faishal sedang pokus bermain game yang sering ia mainkan bersama dengan Rani. Ia merasa pokus nya terganggu saat ia mendengar suara yang memanggil2 nama Rani. Ia sangat terkejut saat mendengarnya, dan langsung menaruh ponselnya dan menghampiri brangkar tempat bi Tika terbaring.
Faishal sangat terkejut saat melihat bi Tika memanggil2 nama Rani dan juga Delina yang tak lain adalah ibu nya Rani.
" Bi.. bibi.. bibi sudah sadar, sebenarnya apa yang telah terjadi. tunggu sebentar lagi dokter akan segera sampai " Faishal segera menekan tombol merah yang ada di dinding dekat ranjang. Ia sangat khawatir melihat kondisi bi Tika dan hilangnya Rani yang sampai saat ini tidak ia temukan.
" Sepertinya pasien sudah mulai sadar. Namun karena kondisinya yang sangat lemah kemungkinan ia akan sadar besok pagi" Ucap dokter tersebut setelah memeriksa keadaan bi Tika.
" Baiklah, terimakasih pak dokter" Ucap Faishal
" Tak usah berterima kasih, sebagai dokter ini sudah menjadi kewajiban kami. jika ada apa2 kau langsung panggil kita saja. kalo begitu saya permisi dulu" Dokter tersebut berpamitan
" Baik dok, sekali lagi aku ucapkan Terima kasih. Mari saya antar" Ucap Faishal sambil berjalan untuk mengantar dokter keluar ruangan tersebut.
Setelah Dokter tersebut keluar dari ruangan tersebut, Faishal kembali duduk di sofa. Ia merasa pusing dengan keadaan nya saat ini. Tak lama kemudian Danish tak lama kemudian mang Tejo datang menyusul memasuki ruangan tersebut.
__ADS_1
" Fa, tadi aku liat dokter keluar dari ruangan ini. Apa terjadi sesuatu sama bibi" Tanya Danish sambil ngos-ngosan dengan tangan yang menenteng plastik belanjaan.
" Den Danish larinya cepet bener. mamang jadi sakit pinggang ngejar aden lari barusan" Ucap mang Tejo sambil memegang pinggangnya.
" Lah maaf mang, tadi aku kaget pas liat dokter keluar dari ruangan ini. Jadi langsung lari, sampe lupa kalo mamang ada di belakang Danish" Danish cengengesan sambil melihat ke arah mang Tejo.
" Tadi bibi sempat bergumam sambil manggil manggil nama mama Delina sama Rani. Aku kira bibi sudah sadar jadi aku panggil dokter kesini. Namun saat di periksa dokter kemungkinan sadarnya besok pagi. Karena kondisi bisi sangat lemah saat ini " Ucap Faishal memberikan penjelasan pada Danish dan juga mang Tejo.
"Kenapa bisa bibi sampai mengigau nama nyonya Delina? " Tanya mang Tejo heran
" Entah lah mang, dari tadi bibi nyebut2 nama mama sama Rani. Aku juga sangat kaget saat mendengarnya tadi" Jawab Faishal. Ia juga merasa heran dengan yang terjadi barusan.
" Ya sudah, kita sekarang istirahat dulu dan makan ini. Nanti makanannya keburu jadi dingin" Danish meletakan plastik yang ia bawa di atas meja.
Akhirnya mereka duduk di bawah lantai yang sudah di alami karpet bulu yang di bawa dari rumah. mereka memakan makanan nya dengan hidmat. Terkadang di sela2 makan di selingi dbercanda agar melepas rasa canggung yang ada dalam ruangan tersebut.
" Den, kalo mang Tejo mau ijin pamit pulang dulu apa boleh" Tanya mang Tejo pada Danish dan juga Faishal.
" Buat apa pulang mang, besok aja lagian ini sudah malam. Mamang tidur aja disini, kalo buat baju ganti besok bisa minta mang Didi buat ngirimin kesini. Jadi mamang gak perlu khawatir" Ucap Danish
" Tapi mamang gak mau ngerepotin orang den. Jadi biar mamang besok pagi pulang kerumah buat ambil baju ganti terus nanti balik lagi kesini. Terus buat ongkos taksinya biar mamang yang bayar sendiri aja" Jawab mang Tejo
" Bukan gitu mang, bukan karena kita gak mau ngirit duit. Kalo mamang mau pulang mamang boleh pake mobil kita kapan aja kalo mamang perlu. Tapi mamang tau sendiri kan kalo jarak rumah sakit sama rumah sangat jauh. Kalo Rani ada disini, sudah sangat jelas ia bakal marahin mamang. Kita juga khawatir nanti mamang kecapean dan malah drop kaya bibi." Jelas Faishal pada mang Tejo.
" Yang dikatakan Faishal memang benar. Kalo Rani ada disini, mamang pasti udah habis di omelin sama dia. Mamang tau sendiri kan gimana dia sangat khawatir sama orang terdekatnya. Jadi mamang tunggu aja di rumah sakit. buat pakaian serta makanan bisa di kirim lewat mang Didi dari rumah" Ucap Danish membenarkan perkataan Faishal.
__ADS_1
" Baiklah kalo begitu, aku merasa sangat beruntung saat ini karena telah bertemu dengan alm.nyonya Delina. Semoga beliau tenang di alam sana" Doa mang Tejo
"Bukan hanya mamang saja yang beruntung tapi kita juga sama" Ucap Faishal. sambil menepuk pundak mang Tejo. Danish juga merangkul bahu mang Tejo sambil tersenyum.