
" Minggir lah pak dokter, jangan halangi jalanku. Aku sangat tidak suka dengan orang yang selalu mencampuri urusanku " Ucap Rani dengan nada tegas.
" Dek, bukan hanya pak dokter saja yang akan menghalangi jalan mu. Tapi kami berdua juga akan melakukan hal yang sama dengan mu. Setidak nya fikirkanlah tentang keadaan mu, Karna kami sangat mengkhawatirkan dirimu " Ucap Amira dengan balasan anggukan dari Nina, tanda ia juga menyetujui ucapan nya Amira.
" Minggirlah sebelum aku melakukan kekerasan agar kalian berhenti menghalangi langkah ku " Kata Rani dengan Nada tinggi.
Akhirnya dokter Thariq melepaskan genggaman tangannya pada lengan Rani. Sebenarnya ia sangat mengkhawatirkan kondisinya. Namun ia juga mengerti tentang apa yang sedang ia fikirkan.
Setelah Rani merasakan genggaman tangan dokter Thariq terlepas. Ia segera berjalan ke luar ruangan tersebut dan hendak pergi meninggalkan kedua sahabat dan juga pak dokter nya.
Namun langkah Rani terhenti saat Nanda datang dan membuka pintu,yang otomatis menghalangi jalan keluarnya. Kini tersirat raut Bahagia yang terlihat jelas di wajah Nanda. Melihat Rani yang sudah sehat dan berdiri di depan nya. Namun sedetik kemudian wajahnya langsung berubah bertanya-tanya.
" Heh, ngapain loe malah bengong disitu. Minggir, loe udah ngalangin jalan keluar gue " Ucap Rani dengan nada angkuh.
Nanda yang masih bingung melihat kearah dokter Thariq dan juga kedua wanita yang berada di belakang Rani. Mereka hanya mengangkat bahu dan menggelengkan kepalanya, tanda tak mengetahui apapun.
" Sejak kapan Adik Kakak yang manja ini jadi berubah kasar. Apa ingatan mu sudah kembali dek. Kenapa kau buru buru ingin pergi? " Ucap Nanda mencoba menghentikan kepergian Rani. Karena ia mendapatkan kode dari dokter Thariq dengan gerakan tangannya.
Rani hanya membuang nafasnya secara kasar. Ia sungguh merasa kesal karena untuk kedua kalinya, selalu saja ada yang menghentikan kepergiannya.
Melihat Rani hanya terdiam dan tak melawan. Akhirnya Nanda memegang bahu Rani dan membawanya ke dekat brangkat untuk segera duduk.
" Dek, lihat lah kakak. kenapa gaya berbicara mu berubah kasar. Apa ingatan masa lalu mu sudah kembali " Tanya Nanda dengan nada yang lembut.
Rani pun hanya menganggukan kepalanya, ia merasa bingung dengan dirinya sendiri. Karena ia menuruti apa yang Nanda di perintah dan di tanyakan oleh nya.
__ADS_1
" Hemmm.. jadi begitu ya, oh ya. Ini kakak bawa sesuatu, kau boleh membukanya kalau kau ingin melihatnya " Ucap Nanda sambil mengerahkan bungkusan yang ia bawa tadi Sambil mendudukan tubuhnya di atas brangkar.
" Apa ini kak, apa boleh aku membukanya sekarang " Tanya Rani dengan nada lembut.
Dokter Thariq dan kedua wanita teman Rani hanya kebingungan dan keheranan dengan apa yang mereka lihat dan dengar barusan. Sangat jauh berbeda dengan keadaan sebelum Nanda datang. Rani yang kasar dan dingin berubah jadi lembut dan penurut.Mereka sempat tak mempercayai apa yang terjadi di hadapan mereka.
" Tentu, Adek boleh membuka nya, karena itu semua milik mu " Ucap Nanda sambil mengelus puncak kepala Rani yang tidak tertutup hijab.
Saat Rani membuka bungkusan karton tersebut, ia sangat terkejut saat mengeluarkan isinya.Ia langsung tersenyum saat mengeluarkan barang2 dari dalam tas karton tersebut. Seperti jaket kulit, Tas weishbag dan jam tangan nya yang terakhir ia pake sebelum kecelakaan maut itu terjadi. Namun Ia kembali mengorek2 dalam tas karton tersebut, seolah olah ia belum menemukan barang yang ia cari. Rani bahkan sampai membalikan kantong tersebut dan menggoyang2 kan nya berharap ada yang jatuh dari dalam tas karton tersebut.
" Kamu cari apa dek, apa ada yang kurang dari barang2 itu " Tanya Amira pada Rani.
" Kak apa kau melihat kalung yang ber liontin empat daun semanggi " Tanya Rani kepada Nanda.
" Oh, iya aku lupa. Kalung ini kan " Jawab Nanda sambil mengeluarkan kalung dari dalam saku baju koko nya.
" Khem.. emang harus ya dek ngomong sama kalung. Emang benda itu bisa bicara " Tanya Nina penasaran.
Sontak semua orang yang disana tertawa, karena pertanyaan aneh yang di lontarkan oleh Nina. Rani pun kembali memasang wajah datarnya, namun beberapa detik kemudian ia tersenyum.
" Anggap saja aku sedang berbicara kepada orang yang sudah memberikan kalung ini kepada ku " Ucap Rani dengan raut wajah bahagia.
Rani hendak memasangkan kalung tersebut ke lehernya, namun ia sangat kesusahan. Melihat Rani kesulitan memasangkan kalungnya. Amira dengan sigap membatu mengalungkan nya ke leher Rani.
" Kau sangat Cantik dengan tambahan kalung tersebut " Ucap Amira sambil mengusap pelan rambut Rani.
__ADS_1
" Dari lahir gue memang sudah di takdirkan cantik dan imut. Jadi kakak jangan sirik " Ucap Rani kepada Amira dan juga Nina.
" Semenjak sadar, kau semakin sombong saja dek" Balas Nina.
Ruangan tersebut kembali ramai dengan gelak tawa dari kelima manusia yang sedang ada disana.
Dokter Thariq dengan inisiatif mengambil kotak P3K di dalam tas nya. Lalu ia meraih tangan Rani, kemudian ia mulai membersihkan darah yang mengering dan segera memberikan plester di bekas luka dari jarum infus.
Rani membuka tas weishbag nya dan memeriksa barang yang ada didalam nya. Ia kemudian mengeluarkan Amplop coklat tebal yang ada di dalam tas nya tersebut. setelah itu ia juga mengeluarkan dompet tipisnya dan membukanya.
" Dek itu yang di amplop coklat apa isinya " Tanya Nina dengan raut wajah penasaran.
" Mau lihat, tapi jangan ampe ngiler ya lihat nya " Ucap Rani sambil tersenyum.
Rani kemudian menaruh dompet yang sempat ia buka di sampingnya. kemudian ia mengambil Amplop coklat tersebut dan membukanya. Kemudian ia mengeluarkan sebagian isinya untuk di perlihatkan pada Nina.
Mereka yang ada di dalam ruangan tersebut terkejut saat melihat isi yang di keluarkan dari amplop tersebut.
" Dek ini serius uang. kamu dapet dari mana uang sebanyak ini" Tanya Nanda yang melihat gepokan uang pecahan seratus ribu di depannya.
" Ya, adalah. Gue dapet uang dari mana juga asalkan gue gak nyuri " Jawab Rani santai. Ia sangat tidak aneh dengan Jumlah uang tersebut. Karena menurutnya, nilai mata uang tidak akan bernilai jika tidak ada angka nol di belakangnya.
Rani segera memasukan kembali uang tersebut kedalam amplopnya, lalu menyimpan kembali kedalam tas kecilnya tersebut. tak lupa ia juga menaruh dompetnya kembali ke tempat yang sama. Ia mulai memakai jam tangannya, lalu ia menyimpan jaket nya kembali kedalam tas karton.
" Dek, kalo gitu traktir kita makan dong. yah " Ucap dokter Thariq kepada Rani.
__ADS_1
" Baiklah kapan2 aku akan mengtraktir kalian makan2 serta liburan bareng " Jawab Rani dengan bahagia.