
Saat Nina masuk ke dalam kamar Rani, ia sangat takjub dengan barang2 yang ada di dalam kamar tersebut. Ia langsung berjalan ke arah ranjang yang berukuran sangat besar. Pandangannya juga tak lepas dari meja rias di dekat pintu kamar mandi. Ia pun tersenyum senang karena bisa tinggal di rumah sebesar dan mewah seperti itu.
" Andai saja aku jadi orang kaya, mungkin aku akan tidur nyenyak sepanjang malam" Ucap Nina sambil mendudukkan tubuhnya dan mengelus elus kasur king size itu.
Setelah dirasa puas menduduki tempat tidur Rani. Ia kembali berjalan kearah meja rias. Ia memegang satu per satu alat kecantikan dan juga produk perawatan milik Rani.
Setelah itu dia mulai berjalan memasuki kamar mandi Rani. Saat membuka pintu kamar mandi, ia kembali di kejutkan dengan isian barang2 mewah.
" Wah.. kamar mandinya aja kaya hotel2 yang ada di TV. Sepertinya aku harus manfaatin keadaan ini. mumpung orang rumah pada keluar. sesekali jadi orang kaya boleh kan" Ucap Nina sambil menyeringai penuh kelicikan. Pandangannya nya juga mengedar kesegala sudut kamar mandi itu.
Karena Nina penasaran, akhirnya ia mencoba untuk mandi di kamar mandi itu. Ia mulai menyalakan air dan memasukan cairan aroma terapi ke dalam bak mandi. Ia pun langsung membuka pakaian dan merendam tubuhnya di dalam bak mandi tersebut.
" Ah.. wangi nya harum sekali, enak ya kalo jadi orang kaya. Alat mandinya juga mewah2 terus sabunnya juga sangat wangi" Gumam Nina
Nina pun menikmati acara berendam nya hingga ia tertidur.
πππππππ
Sementara di rumah sakit tempat Rani di rawat, Nanda sedang duduk dan pokus dengan ponselnya. Ia sedang memainkan game yang lagi Hits sekarang. Ia begitu pokus dengan musuhnya sampai suara adzan menghentikan permainan game nya.
" Alhamdulillah,gak kerasa udah adzan ashar aja" Ucap Nanda sambil bangkit dari posisi duduknya.
Ia pun bergegas pergi keluar ruangan menuju ke mushola untuk menunaikan sholat berjamaah.Setelah selesai menunaikan solat berjemaah, ia menyempatkan untuk kembali mengunjungi ruangan tempat Hanafi di rawat.
" Assalamualaikum " Sapa Nanda saat ia membuka pintu.
__ADS_1
" Waalaikumsalam Nan, Gimana keadaan Rani sekarang" Tanya Hanafi dengan semangat saat melihat Nanda datang mengunjunginya lagi.
" Alhamdulillah sekarang ada peningkatan. Tadi dokter Thariq sudah memeriksanya kembali. Lalu kamu gimana sekarang, apa sudah mendingan" Tanya Nanda sambil mendudukan tubuhnya di kursi dekat ranjang Hanafi.
" Kata dokter sih besok juga aku udah di bolehin pulang. lagian aku juga gak papa kok" Jawabnya
" Syukur lah kalo gitu, umi sama abi pada kemana? aku juga agak jenuh duduk sendiri di dalam ruangan. jadi aku mampir dulu kesini" Keluh Nanda sambil mengeluarkan ponselnya.
" Mereka lagi keluar, mungkin gak lama lagi dateng. Kalo bosen keluarlah sesekali" Jawab Hanafi
" Oh ya aku mau tanya, saat kecelakaan Rani. dia ada bawa barang bawaan gak? semacam tas atau dompet. Mungkin kita bisa menemukan informasi tentang keluarganya dari identitas yang ia bawa " Ucap Nanda sambil melihat ke arah Hanafi.
" Akhh.. aku lupa kalo suster pernah memberikan barang milik Rani kepadaku saat dia akan di operasi. Tapi barang barang nya ada di kamar apartemen. Kenapa aku bisa melupakan itu" ucap Hanafi merasa bersalah.
" Apa aku harus mengasih tahu Hanafi tentang seseorang yang misterius datang ke dalam kamar rawat Rani?. Apa aku berikan saja ya kalung itu ke Hanafi?. Tapi dokter Thariq menyuruhku untuk menjaganya. akh.... sudahlah" Ucap Nanda dalam hatinya, ia bahkan tak mendengarkan ucapan Hanafi karena entah kenapa ia merasa tidak yakin untuk mengatakan nya pada Hanafi.
" Nan, sepertinya aku suka sama Rani. Saat pertama kali aku bertemu dengan nya, aku sangat bahagia saat itu. Apalagi senyuman manisnya yang masih terlukis jelas dalam ingatanku " Ucap Hanafi pada Nanda. Ia masih mengingat ingat awal pertemuan mereka yang terjadi karena ketidak sengajaan.
" Nan, kali ini aku benar2 menyukainya. Aku sangat menyukai Rani." Hanafi terus mengatakan bahwa ia sudah mulai menyukai Rani. Namun Nanda masih melamun dan tak mendengar celotehan dari Hanafi.
" Hey.. Nan, sebenarnya kamu dengerin aku gak sih. dari tadi aku ngobrol panjang lebar dan kamu malah bengong gak jelas" Hanafi merasa kesal karena omongan yang ia ucapkan tak di dengarkan oleh Nanda.
"Hehehe.. Maaf tadi gak denger soalnya tadi lagi pokus mikirin sesuatu" Ucap Nanda membela dirinya.
" Terserah kamu saja lah. Yang terpenting sekarang aku sangat menyukai Rani" Ucapnya sambil tersenyum sendiri karena masih membayangkan senyuman Rani.
__ADS_1
" Apa?? apa yang kau ucapkan. Apa kau masih sakit? tunggu sebentar aku panggilkan dokter" Nanda sangat kaget dan kebingungan dengan ucapan Hanafi.
" Kau ini! aku serius kalo aku sangat menyukainya saat pertama kali bertemu. Dan asal kau tau saja aku sangat sehat, hanya saja sekarang aku masih agak lemah gara2 kemarin" Teriak Hanafi dengan suaranya yang gak terlalu kencang.
" Hahaha.. aku kira kamu gak bakalan Jatuh cinta Naf. Terus yang di pesantren mau di kemanain" Nanda tertawa saat mendengar omongan Hanafi.
" Lagian itu kan umi yang mau, bukan aku.Kalau saja abi tak berniat menjodohkan ku. mungkin aku tidak akan pergi meninggalkan asrama pesantren " Ucap Hanafi dengan wajah kesal.
" Iya.. iya terserah kamu aja. Yang terpenting sekarang kita harus sabar menunggu dan mengurus Rani sampai dia sadar. Dan aku juga akan selalu membantu mu " Nanda kembali menyemangati Hanafi dan menepuk pelan pundaknya.
*C**klek*.. pintu kamar rawat Hanafi terbuka. Nanda yang sedang mengobrol pun kaget begitu juga dengan Hanafi. mereka sedikit gelagapan saat melihat Maryam dan Rahman memasuki ruangan.
" Ada apa dengan kalian, kenapa ekspresi kalian begitu?. Apa kalian tidak senang abi sama umi masuk.. ya sudah ayok abi kita kembali lagi keluar " Maryam merasa kesal dengan Hanafi dan Nanda. Karena tak menjawab salamnya dan malah melongok melihat kedatangan mereka.
Namun sedetik kemudian Nanda tersadar dan segera menghentikan kedua orang yang sudah ia anggap orang tua nya sendiri.Ia langsung meminta maaf kepada maryam dan juga Rahman. Karena tak menjawab salam serta mengabaikan kedatangan mereka.
" Tunggu umi, a..anu maafin kita umi. Barusan kita kaget. Sekali lagi Nanda minta maaf karena tak menjawab salam dan juga udah cuekin ucapan umi. Maafin Nanda umi, abi" Nanda segera menyadarkan Nanda dan beranjak mendekati Maryam dan juga Rahman untuk menyalami kedua orang tua tersebut secara bergantian.
Maryam sangat senang mendengar ucapan Nanda. ia tersenyum namun menyembunyikan nya dari pandangan yang lain. kemudian ia membalikan tubuhnya dan memasang wajah kesalnya.
" Memang apa yang kalian bicarakan sampai kalian kaget dan tak menjawab salam dari kami" Ucap Maryam dengan wajah jutek namun dalam hatinya ia tersenyum.
_________________________________________________
Tunggu kelanjutannya ya kakπ
__ADS_1