Hakikat Cinta

Hakikat Cinta
Tertangkap


__ADS_3

Setelah Rani memasuki kamarnya, alangkah terkejutnya ia melihat isi seluruh kamarnya yang nampak sangat berbeda dari sebelumnya. Ia kemudian berjalan ke kembali keluar dari kamarnya dan segera menuruni tangga untuk pergi ke ruang kerja dan mengecek rekaman CCTV yang ada di seluruh penjuru rumahnya.


" Dek mau kemana, katanya mau istirahat. Kok malah balik lagi kebawah " Danish bertanya pada Rani.


" Anu kak, aku ada sesuatu yang kelupaan. Ya udah Abang istirahat gih, pasti cape juga kan " ucap Rani.


" Ya udah kalo ada perlu atau kamu butuh sesuatu, panggil abang aja. Kalo enggak bisa panggil bang Nanda sama bang Faishal " saran Danish pada Rani.


" Siap bang, ya udah aku kesana dulu ya " pamit Rani.


Rani pun bergegas pergi ke ruangan kerjanya, ia kemudian menghidupkan leptop dan mengutak-atiknya. Setelah menemukan apa yang ia cari, Rani nampak begitu kesal dan marah. terlebih ia dengan begitu lancang nya mengambil dan memakai beberapa barang milik Rani.


Dengan cekatan ia segera meng copy paste data rekaman tersebut. Rani lebih memilih untuk membersihkan kamar di ruangan itu dan melaksanakan solat disana, ia juga berencana untuk tidur disana karena ia enggan menyentuh barang yang ada dikamarnya.


πŸ€πŸƒπŸ€πŸƒπŸ€πŸƒ


Ke esokan paginya, Rani sudah selesai solat subuh dan tadarusan. Setelah itu ia pergi ke dapur dan membantu bibi memasak, lalu Rani menghidangkannya.


" Bi kakak belum pada bangun ya, terus kapan mang didi sama istrinya pulang kesini " tanya Rani ke bi Tika.


" Kalo den Nanda kaya nya udah bangun neng, tapi kalo den Fais sama den dans belum kayaknya " jawab bi Tika.


" Kalo mang didi pulang nya nanti jam sembilan neng " tambah bi Tika.


Rani pun hanya mengangguk, tanda mengerti. Ia pun segera bergegas menuju lantai atas untuk membangunkan kedua abangnya.

__ADS_1


" Bang ini udah siang loh, ayok bangun. Kita sarapan bareng, ada hal penting yang harus di bicarain " ucap Rani kepada dua abangnya.


Rani juga membuka tirai dan jendela kamar tersebut, agar cahaya matahari dan udara segar masuk kedalam nya. Danish dan Faishal juga mulai sadar dan bangun dari tempat tidurnya. Mereka langsung bergantian untuk membersihkan diri mereka. Sedangkan Rani, ia sibuk merapikan tempat tidur kedua abangnya dan lekas pergi setelah semuanya beres.


" Selamat pagi dek cantik, pagi bang Nda dan pagi Bibi " Sapa Danish dan Faishal barengan. mereka segera duduk di kursi mereka Masing-masing.


Rani sedang sibuk membantu pekerjaan bi Tika dan dengan tangan lincah ia menghidangkan semua masakan nya di atas meja makan. Setelah selesai, Rani, bi Tika dan juga mang Tejo duduk disana dan melaksanakan sarapan pagi mereka. Tak lupa Nanda yang memimpin doa sebelum mulai makan.


" Wah masakan Bibi tambah enak sih, aku mau tambah lagi dek " ucap Danish sambil menyodorkan piringnya.


Rani tersenyum hangat saat mendengar Danish memuji masakannya. Dengan cepat Rani segera mengambilkan makanan nya lagi untuk Danish, ia merasa sangat bahagia saat ini.


" Hari ini si Neng yang masak, Bibi gak disuruh buat masak sama si Neng. Katanya biar sekalian belajar masak " ucap bi Tika berterus terang.


" Wah serius dek kamu yang masak, bisa gendut aku kalo di masakin yang Enak-enak mulu " ucap Faishal sambil ketawa.


" Iya neng " bi Tika tersenyum.


" Apa itu HARDOLIN, kok aku baru tau ya " Danish penasaran dengan perkataan Rani.


" HARDOLIN itu kependekan dari Dahar ( makan), modol (boker) dan ulin ( main) " jawab Nanda sambil tersenyum.


Semua orang yang ada disana tertawa kecuali Danish dan Faishal yang hanya tersenyum malu.


πŸ€πŸƒπŸ€πŸƒπŸ€

__ADS_1


Kini Rani sedang berada di ruang keluarganya, ia membawa flashdisk yang berisi rekaman CCTV rumahnya. Rani sebenarnya malas jika mengurus hal seperti ini, tapi ia juga benci sama orang yang mengusik hidupnya dan penghiatan.


" Aku mau tanya sama kalian, tapi sebelum itu aku mau minta maaf karena udah kumpulin kalian semua disini. Aku mau kalian berkata jujur dengan semua yang aku tanyakan pada kalian " ucap Rani kepada semua orang yang ada disana. Mang Didi dan istrinya juga sudah ada disana.


" Emang neng Rani mau tanya apa sama kita " Ucap bi Tika.


" Rani cuma mau tanya, bagaimana keadaan rumah saat Rani hilang. Apa di rumah ini ada penghianat, kalian tahu kan jika aku paling tidak suka dengan orang yang mengusik kehidupan ku dan semua tentangnya " ucap Rani dengan tegas.


" Memang siapa yang sudah berhianat sama kamu dek, bukankah disini kita semua keluarga " tanya Faishal penasaran.


" Iya dek, kita gak pernah melakukan apapun kecuali bekerja " jawab Danish.


Sementara istri mang Didi atau Nina, dia sudah gelagapan dari tadi karena ia merasa jika yang dimaksud perkataan Rani adalah dirinya.


" Aku sudah mempunyai bukti tentang aktivitas apa saja yang sudah kalian lakukan di setiap penjuru rumah ini, aku memang sudah sangat lama memasang alat pengaman di setiap sudut ruangan di rumah ini. Termasuk kamar kalian semua, aku hanya ingin kalian berkata jujur padaku. Dan mengembalikan barang berharga peninggalan ibuku, mungkin aku akan memaafkan kalian. Tapi jika kalian tidak ada yang berbicara, aku akan membawa kasus ini ke kantor polisi " Rani berkata dengan penuh emosi.


Sebenarnya ia tidak mementingkan barang yang lainnya, tapi ia sangat marah ketika sebuah kalung peninggalan mendiang ibunya juga ikut di ambil.


" Maafkan saya non, saya mengaku bersalah. Saya yang sudah memakai dan mengambil Barang-barang di dalam kamar non Rani, saya mohon jangan penjarakan saya " Nina bersimpuh di hadapan Rani.


Semua orang yang disana terkejut dengan pengakuan dari Nina, apalagi mang Didi. Ia tidak menyangka jika istrinya sudah lancang masuk bahkan mengambil barang di kamar Rani. Mang Didi juga ikut bersimpuh di kaki Rani dan meminta maaf atas kelancaran Nina di rumah nya.


Karena Rani sangat kasihan terhadap mang Didi, ia pun menyuruh mereka bangkit dan memaafkan atas semua yang terjadi, Namun Rani dengan Baik-baik meminta barang yang sudah di ambil dari dalam kamarnya kepada Nina.


Nina pun mengangguk dan segera pergi kedalam kamarnya dan mengambil kotak yang berisi Barang-barang yang di ambil dari kamar Rani.

__ADS_1


Setelah itu mang Didi ijin pamit untuk berhenti kerja karena merasa malu dengan kelakuan istrinya. Namun Rani sangat baik hati tidak membiarkan mang Didi pergi begitu saja, ia akan tetap memperkerjakan dirinya dan juga istrinya untuk mengurus ladang perkebunan di desa milik Adri.


__ADS_2