
Setelah menempuh jarak yang lumayan cukup jauh, mobil rombongan Rani sampai di kampung halaman Hanafi. Saat Rani melihat jalan yang di lalui mobil nya. Ia merasa tak asing dengan jalan yang yang sudah mereka lalui. Rani merasa ia pernah datang ke daerah ini. Namun ia tak mengingat sedikit pun tentang daerah ini.
Tak lama kemudian Rani tersadar dari lamunannya, setelah Maryam menepuk pundaknya dan mengatakan telah sampai.
" Nak, kamu kenapa? jangan melamun terus, seorang gadis gak baik kalo banyak melamun. Umi cuman mau ngasih tau, kita sudah sampai di Pesantren " Ucap Maryam pada Rani.
" Tidak umi, Rani tidak apa2 kok " Jawab Rani dengan nada lemah lembut.
Tak lama kemudian rombongan mobil Rani sampai di depan gerbang yang sudah terbuka. Setelah mobil yang di kemudikan oleh Rahman berhenti sempurna.Disusul dengan mobil dokter Thariq yang terparkir di samping mobil nya Rahman.
Semua penumpang kemudian turun dari mobil, begitu pun dengan Rani. Hanafi segera menghampiri Rani dan membantunya untuk turun dari mobil.Tak membutuhkan waktu lama, para santri/wati langsung mengerubungi kearah Rani.
Mereka langsung menyambut kedatangan keluarga pendiri pesantren, dan yang lebih utama adalah menyambut Hanafi. Karena sudah hampir 3 tahun ia berkuliah di kota dan baru pulang kampung.
Semua santri/wati pun bergiliran menyalami Rahman dan juga Maryam. Rani juga sangat kaget karena banyak santriwati yang menyalami dirinya. Ia pun hanya tersenyum kikuk kepada mereka karena ia merasa bingung dan juga gugup.
Tak lama dari itu, Nanda mengajak dokter Thariq untuk menghampiri Rani. Karena Nanda melihat Rani sedang gugup saat di kelilingi oleh para santriwati.
" Tenang aja dek, mereka gak bakalan makan kamu kok. Gak usah gugup gitu " Ucap Nanda sambil menepuk pundak Rani.
" Eh buset.. kaget aku kak. Astaghfirullah maaf aku keceplosan" Ucap Rani kaget.
" kakak ini kenapa sih, bikin aku kaget aja. kan malu jadinya " Rani merasa kesal dengan Nanda.
Nanda dan dokter Thariq pun langsung terkekeh dengan ucapan Rani.
" Udah itu muka nya jangan di tekuk gitu nambah jelek loh nanti" Ucap Dokter Thariq.
" Tuh kata bang Thariq aja kamu jelek dek, makanya mukanya jangan di tekuk gitu. senyum dong" Timpal Nanda.
__ADS_1
Saat ketiga manusia itu sedang berbincang, ada tiga santriwati yang muncul dari dalam kerumunan. Mereka adalah Fatimah, Naura dan Mila.
" Kang Nafi, kumaha kabar akang?.Meni lami2 teuing atuh calik di kota teh. Neng atos kangen" Ucap Fatimah pada Hanafi dengan senyuman. Ia lalu memegang tangannya Hanafi dan bergelayut manja di sampingnya.
Hanafi yang merasa tak nyaman dan malu pun hendak melepaskan pegangan tangan Fatimah.
" Dek, malu loh ini di lihatin orang. Lagian kita kan bukan muhrim" Ucap hanafi pada Fatimah.
"Iiihhh.. akang, eneng lagi kangen sama akang. Kita jarang ketemu loh selama tiga tahun ini. Lagian kan eneng udah siap di nikahin sama akang" Fatimah masih tetap bergelayutan pada Hanafi.
Sedangkan Rani, ia sangat cuek dengan apa yang terjadi dengan Hanafi. Hingga percakapan mereka terhenti saat teman Fatimah menghampiri Rani, Nanda dan juga dokter Thariq.
" Akang, gimana kabarnya? udah lama ya gak ketemu" ucap Naura.
Naura memang sudah menyukai Nanda saat Nanda pertama kali datang ke pesantren. baginya, Nanda adalah sosok yang sangat tampan dan juga pintar.
" Eh, ini siapa ya? kok baru lihat. kakak ini baru ya disini? " Tanya Naura pada Rani.
" Oh iya, dia Rani dan yang disamping ku ini Bang Thariq. Dia adalah cucunya Kiayi Rasyid Abdullah " Terang Nanda pada Naura dan juga Mila.
" Oh.. kenalin Namaku Naura, dan ini temanku Mila. Dan yang disana adalah Fatimah" Naura memperkenalkan dirinya dengan kedua temannya.
" Salam kenal juga, Namaku Rani " ucap Rani
" Namaku Thariq firmansyah, panggil aja Thariq " Ucap dokter Thariq.
Mereka pun berbincang-bincang disana. Namun tak lama kemudian seorang kakek2 menghampiri mereka.
" Loh, kakek kok kesini. Harusnya kakek itu banyak2 istirahat, gak boleh kecapean" Ucap Hanafi yang segera menghampiri kakek nya.
__ADS_1
" Kakek udah lama nunggin dari tadi. Jadi kakek putuskan buat nyamperin kalian, sekalian menggerakan kaki kakek yang kaku ini" ucap Rasyid.
" Kakek gimana kabar kakek, maaf kalo Thariq sama Haikal gak pernah datang jengukin kakek" Dokter Thariq datang menyalami Rasyid.
" Ini kamu Thariq, perasaan kamu masih kecil. Sekarang udah gede ajah kamu. Adik kamu kemana? lalu gimana keadaan ayah kamu sekarang, gimana kabarnya? " Tanya Rasyid secara beruntun.
" Ayah baik2 saja kek, beliau sekarang tinggal di luar negeri dan sudah menikah lagi. Kalo Haikal dia gak bisa ikut soalnya dia lagi belajar untuk ujian. Besok2 lagi Thariq bakalan ajakin dia untuk ikut dateng kesini" Ucap Thariq.
" Syukur kalo dia baik2 saja, lalu yang di samping Nanda itu siapa?. Kok kakek baru lihat dia" tanya Rasyid pada Maryam dan juga Rahman.
" Dia yang aku ceritain sama kakek, dia udah nyelamatin Thariq dari kecelakaan maut beberapa bulan kemarin" jawab Maryam pada ayah mertua nya.
" Sini nak, coba kamu kenalin. Siapa nama mu? " Tanya Rasyid.
" Perkenalkan kek, Nama saya Rani fatimatu Zahra. Kakek bisa panggil aku Rani " Ucap Rani sambil mencium telapak tangan Rasyid.
Setelah berbincang cukup lama, akhirnya mereka memutuskan untuk pergi ke rumah kediaman Rahman dan melanjutkan bercerita disana. para santri/wati pun sudah bubar dari tadi.
Saat Rani berjalan, ia sangat kesulitan dengan pakaian gamis serta kerudung yang ia kenakan. Entah kenapa ia merasa tak pernah memakai pakaian seribet ini.Hingga tubuhnya hampir terjatuh karena tongkat yang ia pakai menginjak batu dan pada akhirnya menyebabkan tubuh Rani oleng dan hampir jatuh.
" Apa kau baik2 saja. Apa ada yang sakit? " Tanya hanafi secara beruntun saat menangkap tubuh Rani.
Rani yang kaget tubuhnya akan jatuh hanya memejamkan matanya. Namun untuk beberapa detik mata nya langsung terbuka saat ia tidak merasakan sakit pada tubuhnya. Matanya menatap sepasang Manik hitam milik Hanafi secara intens.
Tak jauh dari mereka salah satu dari tiga orang santriwati menatap tajam kearah Rani. Tangan nya terkepal dengan raut wajah yang sudah memerah menahan marah.
" Kau lihat saja nanti, aku tak akan membiarkan mu mendekati calon suami ku. Akan ku buat kau menyesal karena sudah berani dekat2 dengan nya" Ucap wanita tersebut. Mereka pergi kelain arah dengan raut wajah yang sudah kesal.
Hanafi masih terpaku dengan tatapan dari Rani. Begitu pun Rani, ia masih memandangi sorot mata satu milik Hanafi. Namun dalam hatinya ia merasa biasa2 saja. Tapi pikirannya enggan beranjak dari sana.
__ADS_1