Hakikat Cinta

Hakikat Cinta
BAB 41 Genit


__ADS_3

Sementara di Rumah sakit tempat Rani dirawat. Ia sudah semakin pulih, Namun apa yang dikatakan oleh dokter Thariq benar. Saat Rani tersadar, ia tak mengingat apapun kecuali namanya sendiri. Ia melupakan semuanya akibat dari cedera di bagian kepalanya.


Saat ini Rani tengah melangsungkan makan malamnya. Sejak 3 minggu terakhir setelah kesadarannya, Rani sudah merasa bosan dengan makanan yang di sediakan rumah sakit. Jadi Nanda selalu membawa makanan dari rumah, dan itu dimasak sendiri olehnya.


" Ka.. udah ya makannya, perutku sudah gak muat lagi. Rasanya makanan yang udah masuk pun pengen keluar lagi " Rani yang membujuk Nanda untuk berhenti menyuapi nya.


Entah kenapa, semenjak Rani sadar ia begitu dekat dengan Nanda. Bahkan ia sangat manja kepadanya, ia merasa sangat nyaman bila berdekatan dengannya. Tapi perasaan yang ia rasakan hanyalah sebuah ikatan persaudaraan. Rani menganggap Nanda sebagai kakak nya. Begitu juga sebaliknya, Nanda sudah menganggap Rani sebagai adiknya sendiri. Sekarang ia merasa memiliki keluarga dengan adanya Rani, melebihi kedekatannya dengan Hanafi dan Keluarganya.


" Tidak, ayok buka mulut mu. Ini makanannya tinggal sedikit lagi, sayang kalo nyisa. Apakah kamu tau diluaran sana masih banyak orang yang tak bisa makan. Jadi, kamu harus bersyukur karena Alloh masih memberikan kita kenikmatan ini " Nanda tersenyum, tangannya mengelus puncak kepala Rani. Bukti bahwa ia sangat menyayanginya seperti keluarganya sendiri.


" Hemm.. baiklah kak, ayok suapin lagi makanannya. Biar aku cepet sembuh dan pulih. Jadi aku bisa cepet2 keluar dari rumah sakit ini " Rani membalas senyuman Nanda dan membuka mulutnya lebar2 untuk menerima suapan makanan yang terakhir.


" Nah gitu dong, adik pintar. Aaaaaa.. " Tangan Nanda yang memegang sendok yang berisi makanan pun bergerak untuk menyuapkan makanan terakhir kedalam mulut Rani.


" Terima kasih kakak ganteng kuh.Hehehe" ucap Rani dengan mulut yang di penuhi oleh makanan.


" Telan dulu baru bicara. Nanti makanannya muncrat keluar " ucap Nanda kepada Rani.


" Muah.. " Rani mencium pipi Nanda sekilas.

__ADS_1


" Heh.. sekarang semankin nakal aja adik kakak ini. hemmm.. " Nanda tersenyum kearah Rani, tangannya mengacak rambut Rani dengan gemas.


Setelah selesai, Nanda bangkit dari kursi untuk membersihkan piring bekas makannya di wastafel. Saat itu juga Hanafi mengambil alih tempat duduk yang sedari tadi di duduki oleh Nanda. Tangannya masih mengotak atik ponsel nya karena sedang memainkan Game yang sedang booming tersebut.


" Kok cuman Nanda sih yang dapat ciuman. Aku juga mau atuh neng cantik ku " Ucap Hanafi pada Rani.


" Gak mau, emang kak Hanafi siapa nya aku?. Lagian kak Nanda adalah kakak ku, dia sangat menyayangiku dan aku juga menyayanginya. Jadi aku menciumnya karena aku sayang kepadanya " Rani tersenyum dengan menatap kearah Nanda.


" Tuh denger Naf, Aku kakak kesayangan nya. Jadi gak usah cemburu ya. Hahahah " Ledek Nanda pada Hanafi sambil tertawa.


Mendengar Nanda meledek serta menertawai nya, seketika Hanafi menaruh ponsel nya karena pikirannya gak pokus. Game yang ia mainkan kalah dan ia hanya bisa mendengus kesal.


" Ye.. salah sendiri gak bisa mainin game nya. Kenapa jadi nyalahin kita sih, ya nggak kak " Rani menyenderkan tubuhnya di dinding dan menatap kearah Hanafi dengan tatapan kesal.


Setelah selesai membersihkan piringnya, Nanda segera menghampiri Rani dan duduk di ranjang tempat Rani tidur. Tak lama kemudian Suara pintu kebuka dan menampilkan sosok dokter yang beberapa bulan kebelakang selalu mendatangi kamar tersebut. ketiga manusia itu langsung mengarahkan pandangan mereka kearah pintu tersebut.


" Permisi, selamat malam semuanya. Hai gadis imut dan cantik ku selamat malam " Sapa orang tersebut yang tak lain dokter Thariq.


" Selamat malam pak dokter " Jawab mereka serempak.

__ADS_1


" Emmm... ada yang bisa saya bantu dok, tumben dokter mengunjungi kita. Apa ada hal penting yang mau dokter sampaikan? " Tanya Hanafi dengan nada bicara seperti tak ingin di ganggu.


" Selamat malam pak dokter ganteng kuh.Jangan dengarkan dia pak dokter, padahalkan udah jelas kalo seorang dokter datang pasti ia akan memeriksa pasiennya. Benarkan pak dokter " Ucap Rani dengan gaya manja seperti anak kecil.


" Huh.. gadis pintar, sepertinya aku akan merebut calon istrimu Naf. Dia sangat cantik dan imut, sangat cocok dengan ku yang ganteng seperti ini " Dokter Thariq merapikan setelan jas putih dokternya dan mengusap rambutnya dengan gaya cool. Ia sengaja menggoda Hanafi.Tak lupa ia juga menaik turunkan kedua alisnya membuat Rani tertawa dan Nanda hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat candaan mereka.


" Pak dokter memang ganteng dan cool aku suka. kalo gitu pak dokter ganteng mau ya jadi suami Rani " Rani tersenyum dengan kedua tangannya dan memberikan acungan jempol kepada dokter Thariq. Tak lupa ia juga mengedipkan sebelah matanya memberikan sebuah kode.


Dokter Thariq yang mendengar dan melihat kelakuan Rani langsung tertawa dan menganggukkan kepalanya. Nanda juga terlihat pusing dengan menepuk dahinya. Entah mengapa Rani sangat terlihat lucu dan konyol dengan sikap dan tingkahnya yang sering ia lakukan.


Sedangkan Hanafi, Jangan di tanya lagi. Ia sudah merasa kesal dengan tingkah dokter dan juga wanita kesayangan nya tersebut. melihat tingkah genit yang di lakukan oleh dokter Thariq membuatnya merasa kesal. Ditambah Rani juga membalasnya tak kalah genit dari dokter tersebut dan lebih lagi ia mengedipkan sebelah matanya. Membuat ia semakin kesal dan bisa di lihat dari raut wajah nya yang sudah masam seperti tak bersahabat.


Semenjak Rani sadar dan pulih dari koma nya. Ia sangat berbeda, sifat karakter, kelakuan serta tingkahnya berubah sangat drastis. Bisa di bilang ia memiliki sifat kebalikan dari sebelumnya. Yang biasanya ia dingin, cuek, pemarah dan juga pendiam.


Sekarang sangatlah berbeda, dimana ia selalu tertawa dengan membuat lelucon dan memperlihatkan tingkah konyolnya. Ia juga sangat ramah dengan semua orang termasuk keluarga Hanafi sendiri. Ia selalu tersenyum menampilkan wajah yang imut dan cantik berseri. Ia juga selalu hangat dengan orang sekitar.


Namun Rani juga sangat sangatlah manja terlebih itu kepada Nanda, entah mengapa ia bisa sedekat dan semenjak itu padanya. Nanda juga heran dengan sikap manja Rani padanya.Contohnya seperti kalo makan harus di suapin, terkadang Rani meminta tidur di paha nya. Dan yang membuat ia merasa malu adalah ketika Rani mencium pipinya, dan setelah melakukan hal itu, ia tidak merasa bersalah. Pada awalnya ia sangat risih dengan sikap super manja Rani kepadanya. Namun secara perlahan ia mulai menyukainya.


Ada satu hal yang membuat Hanafi kesal dan Nanda menjadi pusing sendiri. Yaitu dengan kegenitan Rani yang selalu ia lakukan pada dokter Thariq.Dan yang lebih parahnya, dokter Thariq malah meladeni dengan membalas kegenitan yang dilakukan Rani. Walau sebenarnya ia tahu bahwa dokter Thariq hanya sekedar bercanda saja.

__ADS_1


__ADS_2