HARTA TAHTA DOKTER ANGGA

HARTA TAHTA DOKTER ANGGA
Episode 13


__ADS_3

"Loh serius?" Teriak Evan, bertanya kepada Angga, menatap sahabatnya tak percaya.


"Bisa gak sih suara lo itu di kecilin volumenya, sakit kuping gw!" gerutu Angga, sambil menggosok-gosok telinganya.


"Iya-iya gw kecilin, itu beneran yang lo bilang?"


"Iya beneran, masa gw bohong."


"Gila sih ini, fix gw yakin kalau kalian itu berjodoh." Tutur Evan.


"Aminnn....." sahut Angga, menaikan pita suaranya.


"Amin-nya kenceng banget," ledek Evan.


"Iya dong, biar dikabulkan doa gw!"


Evan memutar bola matanya malas, "udah ah gw mau tidur!" ucapnya.


"Ya udah, gw juga mau tidur, gw harus terlihat ganteng besok mau ketemu bidadari surgaku!" tungkas Angga.


Mereka pun memposisikan tubuh mereka masing-masing, Angga dan Evan tidur saling membelakangi. Tak lama kemudian mereka pun tertidur, karna memang malam sudah semakin larut.


Angga menceritakan semua-nya, apa yang membuatnya begitu bahagia hari ini. Angga menceritakan prihal pertama ia mengenal Ica dari sosial media hingga pertemuannya secara nyata.


Evan ikut bahagia melihat Angga. Persahabatan mereka sudah lebih dari sahabat, mereka sudah seperti saudara. Ya walau pun sering kali mereka tidak akur, dan tak jarang saling meledek satu sama lain.


***


Ke'esokan harinya.


Angga sudah terbangun terlebih dahulu, ia sudah rapi dan siap untuk bekerja. Sedangkan Evan masih terlentang di atas kasur, masih tertidur nyenyak memeluk guling.


"Woy bangun..." Angga membangunkan Evan, menggoyangkan lengannya.


Namun Evan hanya menggeliat, membuka matanya sedikit, "apaan sih ganggu aja, gw masih ngantuk!" lirihnya, Evan memejamkan matanya kembali.


Angga menggelengkan kepalanya, lalu kembali membangunkan Evan.


"Bangun sudah siang, ya sudah kalau lo masih mau tidur, gw tinggal. Lo berangkat naik taksi saja oke!" ucap Angga, sambil berlalu keluar dari kamarnya.


Evan langsung terpanjat, ia bangun dari tidurnya, bergegas menuju kamar mandi.


"Jangan tinggalin gw woy! Tunggu." Teriak Evan, sambil berjalan kocar-kacir menuju kamar mandi.


Sedangkan Angga, ia berjalan menuju dapur, untuk membuat sarapan, sambil menunggu Evan selesai bersiap-siap. Karna jika ia sarapan di luar akan memperlambat waktunya saja, pikinya.


Angga sengaja mengelabuhi Evan, akan meninggalkan Evan berangkat sendiri ke rumah sakit, karna itu cara jitu untuk membuat Evan bangun, karna Evan paling anti naik taksi.


Evan trauma naik taksi, karna pernah mengalami hal konyol, sudahlah nanti saja cerita tentang ke traumaan Evan, karna kalau di ceritakan sekarang, ceritanya panjang, hehe.


Angga tengah menikmati roti dan segelas susu sebagai menu sarapannya.


Evan terlihat berlari kocar-kacir keluar dari kamar Angga, Evan sudah rapi. Evan menghampiri Angga yang tengah menikmati sarapannya di meja makan.


"Lah sarapan buat gw mana?" Tanya Evan, menarik kursi meja makan dan duduk disana.

__ADS_1


"Bikin aja sendiri," jawab Angga, singkat.


"Cih, tega bener lo sama gw. Udah bangunin gw pake ngancem segala, udah gitu sarapan sendiri pula tak ingat dengan sahabatnya sendiri, sahabat macam apa?" Pekik Evan.


Angga tak menyahut ocehan Evan, Angga sangat menikmati sarapan paginya itu, dengan senyuman manis yang terulas di wajah tampannya.


"Bener-bener lo ya!" Pekik Evan lagi, Evan beranjak dari kursinya ia berjalan menuju dapur untuk membuat sarapan.


Angga tersenyum puas, tersenyum penuh kemenangan.


Tak lama kemudian Evan kembali, membawa dua buah potong roti dan susu. Evan duduk kembali.


"Udah siang berangkat yu!" Ajak Angga, beranjak dari duduknya.


Evan mendelik kesal, baru saja ia duduk dan ingin menikmati sarapannya, Angga sudah mengajaknya berangkat, sial.


"Lo bener-bener gak ada akhlak ya, gw baru saja mau sarapan Angga bin Irawan, lo gak liat apa!" Ungkap Evan, kesal.


Angga tertawa. "Hahaha, ya sudah cepat habiskan sarapan lo, gw tunggu di depan!" ujar Angga, sambil berjalan dari hadapan Evan.


"Sialan lo, tungguin gw! Awas aja kalau gw ditinggal gw lempar lo dari sini kebawah biar mampus!" Ancam Evan.


"Iya buruan!" jawab Angga, berteriak.


Evan pun mulai menikmati sarapannya, dengan terburu-buru menghabiskan roti dan susunya. 5 menit kemudian Evan selesai, ia langsung beranjak dari sana.


Dan mereka pun keluar dari apartemen, menuju mobil dan berangkat menuju rumah sakit.


30 menit mereka sampai dirumah sakit, Angga terlebih dahulu turun dari mobil, Evan memakirkan mobil Angga.


Angga menarik ujung bibirnya saat melihat kearah Ica, sedangkan Ica ia berjalan seperti biasa, Ica tak menyadari kaadaan Angga.


"Ica..." panggil Angga.


Ica menyapu pandanganya, ia seperti mendengar ada yang memanggilnya.


Angga terliahat melambaikan tangannya, Ica akhirnya menyadari bahwa Angga yang memanggilnya, Ica tersenyum melihat kearah Angga, lalu ia menundukan kepalanya, jantung Ica berdetak tak karuan, wajahnya pun tiba-tiba merah merona, Ica gugup.


Angga berjalan mendekat kearah Ica, namun saat akan berjalan seseorang memanggil namanya.


"Angga..." panggilnya, dengan suara berteriak.


Wanita itu menghampiri Angga, ia terlihat menangis. Ia langsung menghambur memeluk Angga.


Ica yang melihat Angga berpelukan dengan wanita itu, entah kenapa tiba-tiba dada Ica terasa sesak.


"Astagfirullah, ada apa denganku. Kenapa rasanya sesak sekali!" Batin Ica.


Angga terdiam saat wanita itu memeluknya, Angga tak membalas pelukan tersebut, Angga terlihat kebingungan, ada apa ini?


Lalu Angga menoleh kearah Ica, Ica terlihat sedang memegangi dada-nya. Ica yang menyadari Angga menoleh kearahnya, Ica menundukan kepalanya, lalu bergegas dari sana.


Angga ingin sekali menahan Ica, tapi ia bingung. Mawar masih menangis tersendu-sendu di pelukanya.


Angga mencoba melepaskan pelukan Mawar, dengan mata yang nanar memandangi Ica yang berlalu pergi dari sana.

__ADS_1


"Mawar kamu kenapa?" Tanya Angga, mengalihkan pandangannya menatap mawar yang menangis itu.


"Ang, papah Ang!" jawabnya, lirih dengan isak tangis.


"Iya papah kamu kenapa?"


"Papah meninggal Ang, dia kecelakaan." ujarnya.


Angga terkejut, lalu Angga menarik mawar kembali kedalam pelukannya, mencoba menenangkan Mawar.


Orang-orang disana terlihat memerhatikan mereka.


Begitu juga Evan, Evan melihat Angga yang tengah memeluk Mawar, merasa hatinya sedikit panas. Tapi Evan penasaran apa yang terjadi? Kanapa Mawar seperti sedang menangis.


Evan pun menghampiri mereka.


"Ada apa Ang?" tanya Evan.


Angga melepaskan pelukannya, "Van Ayah Mawar meninggal," ujar Angga.


Evan pun meresa terkejut. "Terus bagaimana sekarang?"


Angga menggelengkan kepalanya, lalu menatap Mawar memintanya penjelasan.


"Ayah kecelakaan Van, aku harus segara pulang ke Indonesia sekarang!" lirih Mawar.


"Sama siapa kamu pulang?" Tanya Evan.


Mawar menggelengkan kepalanya. "Tidak tau!"


"Ya sudah aku temenin kamu pulang ke Indonesia ya! Kamu gak mungkin pulang dalam keadaan seperti ini sendiri!" ujar Evan.


Mawar kembali menggelengkan kepalanya. "Tidak usah Van, aku pulang sendiri saja!"


"Tidak pokoknya aku akan temenin kamu!" ucap Evan.


"Iya Mawar, sebaiknya kamu pulang bersama Evan, yang Evan katakan itu benar!" timpal Angga.


Akhirnya Mawar pun mengangguk pasrah.


"Ang lo tolong kasih tau pihak RS gw cuti beberapa hari ya!" titah Evan.


"Siap, lo tenang aja Van biar gw yang urus. Dan Mawar sorry gw gak bisa nemenin lo balik!"


Mawar hanya menganggukan kepalanya.


"Ya sudah kalau gitu gw berangkat!" Pamit Evan.


"Hati-hati," ucap Angga.


Evan mengangguk, lalu menarik tangan Mawar menggandengnya, meninggalkan RS tersebut, untuk pulang ke Indonesia hari ini.


Bersambung...


Jangan lupa like, comen dan Votenya.

__ADS_1


Terima kasih.


__ADS_2