
Umi Aminah dan abi Adam,kembali masuk kedalam rumah usai melihat mobil calon besannya itu melaju meninggalkan kediamannya. Sedangkan Anisa dan Ica masih berdiri sambil memandangi mobil Angga yang terus melaju jauh dari rumahnya itu. Ica menatap sendu mobil Angga yang terus menjauh itu, seakan Ica tak rela jika Angga pergi dari rumahnya.
Anisa yang terkekeh pelan melihat ekspresi adiknya itu, "besok juga bisa ketemu lagi Ca, sudah jangan diliatin terus. Masuk yu, udah malem ini."
"Mbak, kenapa ya kalau Caca dekat ka Angga bawaannya itu jantung Caca dag-dig-dug mulu. Caca takut lama-lama jantung Caca bermasalah." Tanya Ica, dengan wajah polosnya, menatap kerah Anisa.
Anisa menahan tawanya, sungguh adiknya polosnya kebangetan. 'Mbak bahagia Caca lihat kamu bahagia dengan mas Angga, walau pun sebenarnya mbak masih merasakan sesak jika melihat kalian bersama.' Gunam Anisa dalam hatinya. Lalu Anisa mengelus lembut punggung adiknya itu. "Itu namanya Caca sangat mencintai Angga, jadi jantung Caca, dag-dig-dug kalau deket Angga." Jelas Anisa.
"Masa sih mbak? Mbak juga gitu pernah kaya gitu emangnya?"
"Iya Caca, sudah yuk kita masuk udah malam ini, kita tidur." Ajak Anisa, menarik tangan adiknya itu untuk masuk kedalam rumah. Ica menurut dan mengikuti langkah kakaknya itu masuk kedalam rumah. Dan mereka berpisah diruang tengah karna arah kamar mereka berbeda, Anisa dan Ica pun berjalan menuju kamarnya masing-masing.
____________________________________________
Angga baru saja sampai di rumahnya, Angga langsung masuk kedalam kamarnya. Tubuh Angga sedikit lelah.
Angga memutuskan untuk segera beristirahat. Angga ingin cepat-cepat tidur, agar malam ini segera usai. Angga ingin cepat-cepat besok karna ia ingin segera bertemu lagi dengan sang bidadari polosnya itu, Angga sudah merasakan sangat rindu kepada Ica--nya. Padahal beberapa jam lalu ia sudah bertemu dengan wanita itu.
Angga menghempaskan tubuhnya keatas kasur, matanya menatap langit-langit kamarnya, sambil membayangkan wajah cantik sang pujaan hati. Angga mengulas senyumannya mengingat tingkah Ica, yang sangat menggemaskan menurutnya.
"Sepertinya aku harus membujuk papah dan ibu, agar cepat menikahkan aku dengan Ica, ah sumpah aku sudah tak sabar." Ucap Angga dengan senyuman yang merkah, menghiasi wajah tampannya.
Lalu Angga menoleh kesamping kasurnya, mengusap seprai yang membungkus kasur tersebut, "Sebentar lagi Ica akan tidur di sini, menemani setiap malamku." Ucap Angga, "dan kamu guling, sepertinya kamu akan tersingkirkan." Lanjut Angga, sambil terkekeh.
Angga pun beranjak dari kasurnya, usai berimajinasi dengan pikirannya itu. Angga berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket. Walaupun waktu sudah menunjukan hampir tengah malam, itu tak jadi masalah untuknya, Angga sudah terbiasa. Dan beberapa menit kemudian Angga terlihat keluar dari kamar mandi, dengan tubuhnya yang terasa segar. Angga berjalan kearah lemari untuk mengambil baju gantinya.
Usai berganti pakaian, Angga pun beranjak kembali ke kasurnya, dengan senyuman yang terus terambang dari bibirnya itu, Angga menarik selimutnya menutupi tubuhnya, Angga pun mulai memejamkan matanya.
"Selamat malam Ica..." Ujar Angga, sebelum ia memejamkan matanya, Angga menarik guling yang berada di sampingnya itu dan memeluk guling tersebut, beberapa menit kemudian nafas Angga terdengar beraturan, menandakan jika laki-laki itu sudah tertidur, masuk ke dunia mimpinya.
...__________________________________________...
Waktu sudah menunjukan jam satu malam, Ica yang sedari tadi belum bisa memejamkan matanya, pikirannya terasa gundah, hatinya pun merasa resah.
Sedari tadi pikirannya terus tertuju pada Angga. Setiap Ica mencoba memejamkan matanya bayangan laki-laki itu terus muncul dalam bayangannya.
Baru kali ini Ica merasakan seperti ini, apa ini yang dinamakan rindu? Sungguh Ica tak mengerti karna memang baru kali ini Ica merasakannya, bisa di bilang jika Angga Cinta pertamanya. Selama ini Ica tak pernah berpacaran, karna orang tua Ica tak memperbolehkan anak-anaknya itu pacaran.
__ADS_1
"Ya Allah, kenapa mata Caca susah sekali untuk tidur!" Gundah Ica. Ica memposisikan tubuhnya bersandar di kepala ranjang-nya. Sekilas Ica menoleh kearah nakas yang berada di sampingnya, Ica menatap ponsel yang berada di atas nakas tersebut.
"Caca kok, keingat kak Angga terus sih." Ica membuang nafas berat. "Apa Caca telpon saja ya kak Angga, biar Caca bisa memastikan kalau kak Angga baik-baik saja!" Lanjutnya, dengan ragu-ragu Ica mengambil ponselnya itu. Lalu mencari kontak Angga.
Ica sudah menemukan kontak Angga, namun tangan Ica terasa berat akan menekan tombol bergambar telpon tersebut. Ica melihat jam yang ada di ponselnya.
"Sudah jam satu." Ica membuang nafas beratnya kembali. "Kalau Caca telpon kak Angga ganggu gak ya? Pasti kak Angga udah tidur." Gunam Ica, bermonolog dengan dirinya sendiri. Bimbang, mungkin itu yang dirasakan gadis itu sekarang.
Ica berpikir lagi sejenak, "ah Caca coba telpon saja, dari pada Caca kaya gini." Dengan hati-hati Ica menekan tombol yang bergambar telpon tersebut, jantung Ica mulai berirama kembali, dag-dig-dug. Tangannya pun terlihat gemetaran.
Tak lama kemudian telpon Ica terhubung, namun masih tidak ada jawaban. Ica terlihat menekuk wajahnya, entah kenapa rasanya Ica kecewa Angga tak mengangkat telponnya, padahal Ica sudah tau alasan Angga tak menerima telponnya itu, pasti Angga sudah tertidur.
"Yah gak di angkat, berarti kak Angga udah tidur." Dengan lemas Ica meletakan kembali ponselnya diatas nakas.
Namun beberapa detik kemudian, ponsel Ica berbunyi.
Ica langsung mengambil ponselnya itu kembali, Ica menatap layar ponselnya, wajah Ica terlihat berbinar, Angga menelpon balik.
"Ah kak Angga.." Gunam Ica, dengan wajah yang terlihat sangat bahagia. Dengan tangan yang masih gemetaran Ica menekan tombol berwarna hijau yang muncul di layar ponselnya itu, Ica menggesernya perlahan. Ica merasakan jantungnya kumat.
"Hallo Caca, Asalamualaikum..Caca belum tidur?" Ucap Angga dari sambungan telpon tersebut.
"Kenapa sayang?"
Wajah Ica, terlihat langsung memerah, Angga memanggilnya dengan sebutan tersebut, ahh Angga sungguh manis sekali.
"Emm, gak tau kak." Jawab Ica, dengan suara gugup. "Ica ganggu kakak tidur ya? Maafin Caca ya kak."
"Enggak kok Ca, kenapa Caca belum bobo hmm? Caca kangen ya sama kakak?"
Ica menggigit bibir bawahnya, ah kenapa Angga bisa tau kalau Ica memang merindukannya. Ah sumpah Ica malu sekali rasanya. Ica terdiam, jantungnya terus memacu kencang.
"Ca kok diem, jawab dong. Caca gak rindu ya sama kakak. Padahal Kakak rindu sekali sama Caca."
Ah sungguh, lagi-lagi ucapan Angga membuat Ica tak bisa berkata apa-apa. Ah indahnya jatuh cinta!!
"Ri-ndu..kok kak...." Jawab berbata-bata.
__ADS_1
"Benarkah? Syukurlah Kakak senang dengernya. Caca tidur ya ini udah malam sayang. Besok kakak kerumah caca, Caca mau dibawain apa?"
"Benarkah besok kakak kerumah Caca?"
"Iya sayang, mau di bawain apa?"
"Gak usah dibawain apa-apa kak, Caca gak mau apa-apa, Caca maunya ketemu aja sama kakak."
Terdengar Angga terkekeh pelan dari sana. "Oke baiklah bidadariku, sekarang Caca tidur ya. Udah malam ini. Jangan begadang gak baik buat kesehatan."
"Iya kak...."
"Ya sudah kakak tutup ya telponnya, Happy nice dream Caca, Asalamualaikum...."
"Walaikum'salam..."
Tut...
Sambungan telpon pun terputus, Ica menghelai nafas lega, sambil menetralkan jantungnya yang sedari tadi dag-dig-dug kencang. Lalu Ica menaruh kembali ponselnya, Ica membaringkan tubuhnya diatas kasurnya itu. Sambil terus tersenyum-senyum.
"Kak Angga, Caca sayang banget sama Kakak!" Ucap Ica, lalu Ica mulai memejamkan matanya, tak lama kemudian gadis itu pun tertidur.
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTENYA.
TERIMA KASIH.
LANJUT NANTI MALAM UP YA.
KALAU SEMPET...HEHE..
SEE U..
I LOVE YOU...
MUACH
__ADS_1
TERIMA KASIH