
Flashback.
Malam itu, bu Aminah dan abi Adam tengah di perjalanan, usai menghadiri salah satu acara yang diadakan oleh kerabatnya. Jalan terlihat sudah lengang dan sepi, karna memang sudah hampir larut malam.
Dari kejauhan mereka melihat seorang wanita yang tengah duduk di sebuah halte bus, wanita tak sendiri, wanita itu terlihat tengah menggendong seorang bayi. Dari gelagatnya wanita itu terlihat sedang kebingungan, sambil menggendong bayi, sebelah tangan wanita itu memegangi perutnya, dan nampak kesakitan.
"Abi lihat, sedang apa wanita itu malam-malam begini? dan sepertinya dia bersama seorang bayi." Ucap umi Aminah, pandangannya masih fokus tertuju pada wanita tersebut.
"Iya mi, apa kita samperin saja dia?"
Umi Aminah menganggukan kepalanya, lalu abi Adam menghentikan mobilnya tepat di depan halte tersebut.
Wanita itu terlihat ketakutan saat melihat mobil Abi Adam berhenti tepat di depannya. Umi Aminah dan abi Adam keluar dari mobilnya, lalu menghampiri wanita tersebut.
"Si----apa ka--lian...?" Tanya wanita tersebut, ketakutan. Namun wajah terlihat sangat pucat. Namun bayi yang di gendongannya terlihat tertidur pulas.
"Bu tenang, kami bukan orang jahat kok." Ucap umi Aminah, sambil menampakan deretan gigi putihnya, tersenyum.
"Ibu sedang apa malam-malam begini, kasian bu anaknya. Ini udah hampir larut malam." Sambung abi Adam.
"Sa--ya.." Belum wanita itu menyelesaikan ucapannya, wanita itu terlihat sudah tidak sadarkan diri.
"Astaghfirullah.." Ucap abi Adam dan umi Aminah bersamaan.
Umi Aminah segera mengambil bayi yang ada di gendongan wanita itu.
"Abi liat tangannya ibunya penuh darah." teriak umi Aminah, mereka terlihat sangat panik.
"Sebaiknya kita bawa kerumah sakit sekarang umi." Ujar Abi Adam diangguki oleh umi Aminah.
Abi Adam pun mengangkat wanita itu masuk kedalam mobil, disusul oleh umi Aminah yang menggendong bayi wanita tersebut, tak lupa umi Aminah juga membawa dan memasukan barang wanita itu kedalam mobilnya.
"Cepat Abi, jalankan mobilnya!"
Abi Adam pun mulai melajukan mobilnya, ia menambah kecepatan mobilnya agar segera sampai ke rumah sakit terdekat. Tak lama kemudian mereka pun sampai di salah satu rumah sakit itu. Abi Adam memanggil petugas rumah sakit untuk membantunya membawa wanita itu. Dengan sigap petugas rumah sakit membantunya,dan memindahkan wanita tersebut ke atas brankar. Lalu membawanya ke ruang UGD.
"Umi coba cari info identitasnya di tas yang tadi ia bawa, abi akan menyelesaikan administrasinya dulu." Titah Abi Adam, diangguki oleh umi Aminah.
Umi membuka tas milik wanita itu, isi dari tas tersebut hanya beberapa baju milik wanita itu, dan baju bayi juga terlihat di sana. Lalu umi Aminah melihat ada sebuah dompet. Umi Aminah mengambil dompet tersebut dan membukanya.
Lalu umi Aminah mengambil kartu identitas yang ada di dompet tersebut.
"Dewi Wijaya"
"Jadi nama wanita itu Dewi Wijaya!" Ungkap umi Aminah.
"Bagaimana mi? Apa ada petunjuk?" Tanya Abi Adam, yang sudah kembali.
"Ini bi, umi hanya menemukan ini di dompetnya." Umi Aminah memberikan kartu identitas tersebut kepada suaminya.
Abi Adam mengangguk-anggukan kepalanya, "apa tidak ada petunjuk lain mi? Kita harus bisa menghubungi keluarga beliau!" Ujar Abi Adam.
"Umi hanya menemukan itu bi, sebentar umi periksa lagi!" Jawab umi Aminah, kembali memeriksa isi tas wanita tersebut.
"Ini ada kotak bi.."
"Coba lihat mi, siapa tau ada petunjuk di sana, dan ada nomer telpon keluarganya yang bisa kita hubungi." Titah Abi Adam. Umi Aminah menganggukan kepalanya, lalu mulai membuka kotak tersebut.
"Maaf keluarga pasien?" Ujar Dokter, yang menangani wanita tersebut, umi Aminah kembali menutup kotak tersebut dan memasukannya kedalam tas wanita itu kembali. Karna mendengar dokter yang memanggilnya.
"Maaf dokter, sebenarnya kami bukan keluarga beliau. Kami disini hanya mengantar wanita itu saja." Jelas Abi Adam.
__ADS_1
Dokter tersebut tersenyum. "Iya saya tau, pasien sudah mengatakannya."
"Lalu bagaimana keadaannya dok?"
"Pasien sempat mengalami kritis, karna mengalami pendarahan hebat Bu!"
"Pendarahan dok? Memangnya sakit apa?"
"Jaitan bekas operasi cesar-nya terbuka dan mengalami infeksi."
"Astagfirullah, lalu bagaimana sekarang dok?"
"Pasien sudah melewati masa kritisnya, dan pasien sudah siuman, dan pasien ingin bertemu dengan kalian." Jelas dokter tersebut.
"Apa boleh dok kami menemuinya?"
"Boleh pak, Bu silahkan!" Jawab dokter tersebut.
Umi Aminah dan Abi Adam pun, mereka mengikuti langkah dokter menuju ruangan wanita itu, syukurlah bayi yang di gendong umi Aminah, tidak rewel sama sekali, dari tadi bayi mungil itu tertidur pulas.
Wanita yang bernama Dewi tersebut terlihat berbaring lemas di brankar, dengan Sepang infus yang terpasang ditangannya serta selang oksigen yang terpasang di hidungnya, sungguh malang sekali.
"Bu...bagaimana kondisi ibu?" Tanya umi Aminah lirih kepada wanita tersebut.
Wanita itu tersenyum tipis, "Baik, mana anak saya?" ujarnya.
"Ini Bu, bayi ibu bayi yang pintar, sadari tadi dia tertidur pulas!" Ujar Umi Aminah, tersenyum menatap ke bayi yang ada di gendongannya itu, lalu dengan hati-hati umi Aminah memberikan bayi tersebut kepada wanita itu.
Bayi mungil itu hanya menggeliat saat di pindahkan ke dekat ibunya, namun beberapa detik kemudian tertidur pulas kembali.
"Terima kasih Bu, pak. Kalian sudah menolong saya!" Ucap wanita itu.
Wanita itu tersenyum.
"Oh iya Bu, apa ada keluarga yang bisa kami hubungi untuk memberi tau kondisi ibu saat ini?" Sambung Abi Adam.
Wanita itu menggeleng, matanya terlihat berkaca-kaca.
"Saya sudah tidak mempunyai keluarga!" Ucap wanita itu, sambil memaksakan senyumannya, di iringi dengan air mata yang mulai menetes dari ujung matanya.
Dewi sebenarnya berbohong, ia masih mempunyai kakak laki-laki, namun hubungannya dengan kakak laki-lakinya itu, tidak baik. Karna Dewi sudah membuat kakak laki-lakinya itu kecewa, saat kakak laki-lakinya itu mengetahui Dewi menikah secara diam-diam dengan Brama, yang sekarang sudah menjadi mantan suami. Kakak laki-lakinya itu menyuruh Dewi berpisah dengan suaminya waktu itu, karna kakaknya tau jika Dewi menikah dengan laki-laki yang sudah beristri. Namun Dewi tidak mau menuruti keinginan kakaknya itu, karna Dewi sangat mencintai Brama, Dewi sudah di butakan oleh cintanya kepada Brama, yang jelas-jelas laki-laki itu tidak baik, jika laki-laki baik tidak mungkin ia menikah lagi dengan wanita lain dibelakang istrinya, dan tanpa sepengetahuan istrinya.
Dewi membuang nafas berat, kini penyesalan sangat Dewi rasakan dalam dirinya, jika saja dulu menuruti kemauan kakak laki-lakinya itu pasti di saat terpuruk seperti ini, masih ada yang memperdulikannya. Namun itulah penyesalan. Penyesalan selalu datang di akhir. Dan sekarang apa yang harus Dewi lakukan? Menghubungi kakaknya? Tidak mungkin. Karna ia merasa sangat malu dengan dirinya sendiri.
"Emm, maaf. Kalau suami ibu?" Tanya Umi Aminah.
"Saya sudah bercerai dengan suami saya!" Jawabnya.
"Maaf..." Lirih umi Aminah merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa Bu, ibu tidak usah minta maaf." Dewi tersenyum, perlahan tangan Dewi menarik tangan umi Aminah.
"Bu boleh saya minta tolong?" Ucap Dewi, dengan raut wajah yang sudah sangat pucat. Dewi merasakan sekujur tubuhnya merasa sakit, mungkin ini waktu sudah waktunya, pikir Dewi.
"Minta tolong apa Bu?"
"Saya titip anak saya, tolong rawat dia Bu, saya sudah tidak tahan lagi. Saya sudah merasakan waktu saya sudah dekat!" Lirih Dewi, kini suaranya terdengar sangat lemah.
"Bu ibu tidak boleh berbicara seperti itu, ibu harus semangat, ingat putri kecil ibu sangat membutuhkan ibu." Ujar Umi Aminah, menguatkan Dewi. Umi Aminah mengeratkan genggaman tangannya.
Dewi tersenyum, lalu menggelengkan kepalanya pelan.
__ADS_1
"Tidak Bu, saya mohon tolong rawat anak saya. Saya tau kita tidak saling mengenal, tapi saya yakin kalian orang baik!"
"Bu sudah jangan berbicara seperti itu."
"Di tas saya ada kotak, jika suatu saat nanti anak saya menanyakan tentang keluarganya, ibu berikan saja kotak itu." lirihnya.
Lalu wanita itu terlihat memejamkan matanya, di iringi dengan suara monitor yang berbunyi.
Tiiit.....
Abi Adam dan Umi Aminah terlihat panik, Abi Adam segara memanggil dokter, sedangkan umi Aminah mengambil bayi yang berada disamping wanita itu.
Dokter terlihat masuk kedalam ruangan tersebut, memeriksa wanita itu.
"Maaf Bu pak, beliau sudah tiada." Ujar Dokter tersebut, usai memeriksa wanita itu.
"Inalilahiwainalilahi'rojiun." Ujar Abi Adam dan Umi Aminah bersamaan.
Flashback off.
Umi Aminah tersadar dari lamunan, mengingat kembali malam yang begitu mencengkam itu, namun ada kebahagian di saat itu, ia memiliki Anisa, yang kini sudah tumbuh dewasa saat ini.
Umi Aminah mengelus nisan, yang ada dihadapannya itu.
"Beristirahatlah dengan tenang Dewi, anakmu baik-baik saja, dan sekarang ia sudah dewasa, dan aku membawanya kemari." Ucap Umi Aminah.
"Umi apa ini makam ibu?" Tanya Anisa, dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Umi Aminah menganggukan kepalanya, tersenyum kearah Anisa, yang masih berdiri tepat di sampingnya.
Anisa terlihat langsung memeluk nisan ibunya, dengan air mata yang sudah mengalir deras dari matanya.
"Ibu..." Ucap Anisa, dengan Isak tangisnya.
Umi Aminah dan Ica, mengelus bahu Anisa dengan lembut. Kedua wanita itu terlihat menitihkan air matanya. Ikut serta merasakan kesedihan Anisa.
Cukup lama Anisa memeluk nisan sang ibu, umi Aminah dan Ica, membiarkan Anisa menumpahkan air matanya disana. Mereka paham dengan perasaan Anisa.
"Ibu terima kasih sudah melahirkan Anisa, dan sudah menitipkan Anisa kepada orang yang sangat baik, Anisa bahagia Bu, semoga ibu disana juga bahagia." Ujar Anisa.
"Ibu kamu pasti bahagia sayang, melihatmu yang sudah dewasa dan cantik seperti ini." Sahut umi Aminah.
Anisa melirik kearah uminya, dan tersenyum.
"Terima kasih umi sudah membesarkan Anisa dan menyayangi Anisa sampai detik ini." Ucap Anisa.
Lalu mereka memanjakan doa untuk almarhum Dewi, menuangkan air mawar keatas rumah Dewi, tak lupa mereka memberikan taburan bunga mawar diatasnya.
Usai itu mereka berpamitan kepada yang empunya rumah.
"Bu Anisa pulang dulu ya, Anisa akan sering kemari menjenguk ibu." Ucap sambil mengusap kembali nisan sang ibu.
"Ayo umi, ca." Ajak Anisa.
Umi dan Ica mengangguk, lalu mereka pun meninggalkan pemakaman tersebut.
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE, COMEN DAN VOTENYA.
TERIMA KASIH.
__ADS_1