
Mobil Angga sudah sampai di Caffe tempat ia akan bertemu dengan sahabat gilanya itu. Angga keluar dari mobilnya usai memakirkan mobilnya dengan rapi.
Angga melangkah masuk kedalam Caffe tersebut, Evan terlihat sudah berada di sana. Even tidak sendiri nampaknya di membawa seorang wanita, yang tak lain wanita itu adalah Mawar sahabat mereka.
Evan dan Mawar terlihat melambaikan tangan mereka, kearah Angga yang tengah berjalan mendekat kearahnya.
"Hallo, bro apa kabar?" Tanya Evan. Mengulurkan tangannya kearah Angga.
"Baik..." Jawab Angga, menjabat tangan Evan.
"Hay Ang.." Sapa Mawar.
"Hay..." Angga pun berjabat tangan dengan Mawar.
Lalu Angga menarik kursi yang berada dihadapannya, Angga duduk berhadapan dengan Evan dan Mawar.
"Kanapa lo Ang?" Tanya Evan, "muka lo udah kaya orang mati aja!" lanjutnya.
"Sialan lo..." Jawab Angga kesal.
Mawar dan Evan terkekeh.
"Iya Ang, kalau kamu ada masalah cerita dong ke kita!" Sambung Mawar.
"Enggak kok, I'am fine." Angga memaksakan senyumannya. "Oh iya, gimana kabar kamu?" Lanjut Angga, bertanya kepada Mawar.
"Baik, hanya saja..." Mawar menggantung ucapannya.
"Hanya saja...?"
Mawar membuang nafas berat, Evan terlihat mengelus bahu Mawar.
"Mamah, mamah sangat terpukul dengan kepergian papah." Mata wanita itu terlihat berkaca-kaca.
"Sabar..." Ucap Angga, memberi semangat. "Mamah kamu hanya perlu waktu."
Mawar tersenyum. "Tapi sepertinya aku gak akan balik ke Singapure. Aku tidak mungkin meninggalkan mamah dalam keadaan seperti ini."
Air mata Mawar kini terlihat menetes dari ujung matanya. Angga dan Evan hanya terdiam, mereka mengerti apa yang dirasakan oleh sahabat wanitanya itu.
"Ya aku juga sepetinya tidak akan kembali kesana!" Ujar Angga.
"What? Serius lo?" Tanya Evan.
Evan dan Mawar terlihat terkejut dengan ucapan Angga tersebut, mereka menatap Angga dengan tatapan tak percaya.
"Ya." Jawab Angga singkat.
"Kenapa?"
"Gw mau ngejar cinta sejati gw!" Ujar Angga sambil tersenyum.
"Cinta sejati, Preeeeet..." Ledek Evan.
__ADS_1
Sedangkan Mawar, wajahnya terlihat merah merona.
'Apa maksud Angga berkata seperti itu? Saat aku mengatakan bahwa aku tidak bisa kembali lagi ke sana? Apa orang yang di maksud Angga itu aku?' Batin Mawar.
'Ya tuhan kenapa jantungku jadi dag-dig-dung gak karuan begini!' Lanjutnya dalam hati.
"Sialan lo malah ngeledekin gw." Pekik Angga.
"BTW siapa yang Lo maksud dengan cinta sejati lo itu? Siapa wanita yang bisa memecahkan jantung lo yang udah beku itu?" Tanya Evan bertubi-tubi.
"Bisa gak sih lo gak kepo!" Ucap Angga, memutar bola matanya malas.
"Ck! Emang sejak kapan gw gak pernah kepo sama lo?"
"Udahlah jangan banyak omong, pesenin makanan sana! Gw udah laper."
"Sialan lo, jadi benaran gak mau kasih tau?" Evan masih menatap Angga, dengan rasa penasarannya.
"Gak!!" Jawab Angga singkat, sambil membaca buku menu yang ada di hadapannya.
"Ck..." Evan terlihat kesal.
Sedangkan Mawar, Mawar masih terdiam dengan sejuta angan-angannya, membuat Angga dan Evan terheran. Mereka melihat kearah wanita itu. Yang kini terlihat senyum-senyum sendiri.
Evan melirik kearah Angga. Angga mengangkat bahunya pelan.
"Woy...'' Teriak Evan, tepat di dekat telinga Mawar. Membuat Mawar langsung tersentak dari lamunannya.
Evan dan Angga tertawa. "Hahahaha"
"Lagian neng cantik kenapa hmmm? Tadi nangis-nagis Bombay, sekarang senyum-senyum gitu? Loh gak panaskan Mawar?" Ucap Evan, sambil menempelkan telapak tangannya di kening Mawar.
"Apaan sih lo Van, gw gak sakit." Ketus Mawar, sambil menangkis tangan Evan.
"Ang, kamu beneran gak ke Singapure lagi?" Tanya Mawar, dengan wajah yang berbinar.
Angga menganggukan kepalanya, sambil tersenyum.
"Baguslah, jadi kita masih bisa ketemu!" Lanjutnya.
"Iya dong, kitakan sahabat jangan sampai silaturahmi kita terputus, mau jarak kita jauh atau dekat!" Ujar Angga.
Diangguki oleh Evan. "Bener banget tuh bro.." Sahut Evan.
'Sahabat? Apa maksud Angga, bukannya dia bilang tadi mau mengejar cinta sejatinya? Apa jangan-jangan ada wanita lain? Aku harus cari tau siapa wanita itu!' Batin Mawar.
"Sudah ah, gw laper mending sekarang kita makan dulu. Nanti lanjut lagi ngobrolnya!" Ujar Angga.
Mawar dan Evan menganggukan kepala mereka.
Lalu mereka memanggil pelayan resto untuk mencatat pesanan mereka.
'Ada apa dengan Mawar? Dan siapa wanita yang di maksud Angga? Apa wanita itu Mawar?' Evan bertanya-tanya dalam hatinya.
__ADS_1
***
Ica sedang duduk di tepi ranjang, pandangannya sedari tadi menatap ponsel miliknya yang terletak di atas nakas.
"Aduh, chat sekarang atau nanti saja ya?" Ucap Ica, bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Sedari tadi Ica memikirkan Angga, ia sudah berniat akan memberi kabar kepada Angga, jika orang tuanya menyuruh Angga untuk datang kerumahnya.
Namun akibat detak jantungnya yang mulai tak karuan, Ica terus mengulur-ulur waktunya itu. Sambil terus berpikir.
"Ayolah jantung, kenapa kamu mendadak tak karuan begini sih, padahal cuman tinggal ngetik di ponsel doang." Lirih Ica.
Perlahan Ica meraih ponselnya itu, lalu ia mencari kontak nomer ponsel WhatsApp Angga. Di sana juga terlihat Angga mengirim pesan kepadanya. Menanyakan keadaannya.
Ica terlihat mengulas senyumannya, isi pesan Angga yang menghawatirkan dirinya itu.
"Ya Allah kak Angga, sampai segini-nya, maafin Caca ya kak. Beberapa hari ini Caca diemin Kakak. Ica juga rindu sekali sama kakak!" Ucap Ica, sambil menatap layar ponselnya itu.
"Eh, astagfirullah.." Caca mengusap wajahnya, dengan sebelah tangannya itu, karna ia berbicara sambil menatap fhoto profil WhatsApp Angga.
"Tapi kakak Angga emang ganteng banget ihhh..." Rengeknya.
"Ya Allah Caca sadar!" Caca kembali mengusap wajahnya. Menggerutui ke konyolan-nya itu.
Lalu Caca mulai, mengetik...
"*Asalamualaikum kak, kabar Caca baik. Bagaimana kabar kakak? Maaf Caca tidak bermaksud mendiamkan kakak, Caca punya alasan untuk itu! Kakak pasti paham kan."
"Kakak, jika memang kakak serius sama Caca, kata umi dan Abi kakak kerumah saja*!"
Ica mengirim pesan tersebut kepada Angga. Centang dua berwarna abu terlihat disana, menandakan bahwa pesan tersebut sudah masuk ke ponsel milik Angga, namun yang empu-nya belum membuka dan melihatnya.
Usai mengirim pesan tersebut, Ica kembali menyimpan ponselnya di tempatnya tadi. Ica meremas-remas jarinya, perasaannya sungguh tidak bisa di jelaskan. Nano-nano seperti itu mungkin.
Ica masih menunggu balasan pesan dari Angga.
Namun sudah beberapa menit, notifikasi belum terdengar dari ponselnya.
"Kenapa kakak Angga tidak membalas pesanku? Apa kak Angga marah?"
"Ya Allah, Caca jadi merasa bersalah sekali. Karna mendiamkan kak Angga. Harusnya Caca tidak seperti itu, pasti kakak Angga sangat kecewa pada Caca!" Caca menekuk wajahnya, sungguh Caca merasa tidak enak hati, dan menyesal atas sikapnya beberapa hari itu. Harusnya ia bersikap dewasa. Bukan seperti itu! Pikir Ica.
Bersambung..
Jangan lupa like, comen dan Votenya.
Ada yang nunggu aku crazy up gak??๐คญ
Kalau mau aku crazy up, yuk kirim bunga sama kopi buat nemenin nulisnya๐๐
See you..
I love you Segede gunung buat kalian๐๐๐๐๐ค
__ADS_1