
Anisa keluar dari kamar adiknya itu dengan perasaan yang sangat kesal, bisa-bisanya adiknya itu berbicara seperti itu. Biasanya adiknya itu akan selalu menuruti semua perkataanya. Tapi kali ini?
''Aku harus bisa membuat mas Angga mencintaiku.." Lirihnya.
Abi Adam dan umi Aminah terlihat sudah membaringkan tubuh mereka diatas kasur, sudah siap untuk tertidur.
Wajah umi Aminah masih dihiasi oleh kekhawatiran, memikirkan Anisa dan Ica.
"Sudah mi, jangan terlalu dipikirkan. Nanti tekanan darah umi naik lagi," ujar Abi Adam, mengingatkan istrinya itu. Karna memang umi Aminah mempunyai riwayat darah tinggi.
Umi Aminah menghelai napas dalam, mungkin yang dikatakan suaminya itu memang benar. Karna sejkarang ia sudah mulai merasakan kepanya terasa pusing dan berat.
Lalu umi Aminah menggukan kepala, Abi Adam tersenyum.
"Sekarang kita tidur..." Ajaknya.
Mereka pun mulai memejamkan matanya, namun beberapa detik kemudian, mereka membuka kembali matanya, karna dering ponsel terdengar berbunyi.
"Siap yang menelpon malam-malam begini?" Tanya Abi Adam.
Umi Aminah menggelengkan kepalanya. Lalu mengambil ponselnya yang berada di atas nakas disamping tempat tidurnya itu.
"Siapa mi?"
"Bu Aisyah bi."
"Cepat angkat mi, siapa tau penting. Karna tidak biasanyakan beliau menelpon malam-malam begini."
Umi Aminah mengangguk, lalu ia menggeser tombol berwarna hijau yang ada di layar ponselnya tersebut, mengangkak telpon dari bu Aisyah.
'Apa ini mengenai masalah Caca dan Anisa?' Batin Abi Adam.
"Hallo, asalamualakum..." Ucap Umi Aminah, dalam sambungan telpon tersebut.
"Tidak, bu tidak mengganggu, kebetulan sayaa juga belum tidur kok. Ada apa ya bu?"
"Masalah perjodohan Angga dan Anisa? Memang kenapa bu, bukannya nak Angga sudah menyetujuinya dan besok kalian akan kesini?"
Umi Aminah terlihat terkejut, mendengarkan perkataan bu Aisyah lewat sambungan. Yang membatalkan perjodohan tersebut. Dan alasan mengapa membatalkan perjodohan tersebut.
Umi Aminah membulatkan matanya saat mengetahui kebenarannya jadi alasan pembatal perjodohan itu, ada kesalah pahaman, dimana kalau Angga menyangka yang akan di jodohkan dengannya itu Ica bukan Anisa.
Sekarang umi Aminah tau apa penyebab kedua putrinya itu saling diam. Ternyata permasalahannya ini.
''Iya bu saya paham, kita serahkan saja sama anak-anak kalau begini ceritanya. Sesuai kesepakatan awalkita, kalau kita tidak akan memaksa mereka," ujar umi Aminah, usai mendengarkan semua penjelasan dari bu Aisyah tersebut.
__ADS_1
"Iya bu tidak apa-apa. Ibu Aisyah tidak usah meminta maaf. Mungkin ini memang sudah jalan yang diatur oleh yang maha kuasa. Dan memang nak Angga dan Anisa tidak berjodoh."
"Iya bu, walaikum'salam."
Sambungan telpon pun terputus, umi Aminah menyimpan kembaliponsel miliknya itu diatas nakas.
Umi Aminah terdiam, ia merasa bingung. Sekarang apa yang harus ia lakukan, ke dua putrinya itu menyukai laki-laki yang sama.
Sedangkan Abi Adam yang sudah penasaran sedari tadi, abi Adam melihat kearah istrinya itu penuh tanyya, apa yang di bicarakan oleh istrinya dan bu Aisyah.
"Ada apa mi?"
Umi Aminah menarik napas dalam, sebelum ia menceritakan semuanya kepada sang suami.
"Umi ada apa?" Abi Adam mengulang kembali pertanyaannya. "Apayang bu Aisyah bicarakan?" Lanjutnya.
"Jadi begini bi..." ujar umi Aminah, lalu ia menceritakan semuanya.
Abi Adam terlonjat kaget mendengarkan semuanya.
"Umi bingung Abi, sekarang apa yang harus kita lakukan?" Lirih umi Aminah.
"Ya bagaimana lagi mi, kita serahkan saja sama yang di atas, ini semua sudah jalannya."
"Tapi bi, Anisa sepertinya mencintai nak Angga. Dan Ica juga mencintai laki-laki yang sama. Hanya saja cinta Anisa tidak terbalas oleh Angga, sedangkan Caca, Caca dan Angga saling mencintai."
"Bagaimana ini Abi? Umi tidak mau kalau sampai hubungan Anisa dan Caca renggang hanya karna seorang laki-laki."
"sabar mi, kita cari jalan keluarnya nanti, jalan keluar yang terbaik untuk semua ini." Ujar abi Adam sambil mengelua-eluslembut bahu sang istri yang berada di pelukannya itu.
"Jalan keluar yang bagaimana abi? Maksa Angga untuk tetap menikahi Anisa, itu tidak mungkin abi, karna Angga mencintai Caca. Dan jika Caca bersama dengan Angga, bagaimana dengan perasaan Anisa?"
"Pasti perasaan Anisa patah Abi, umi tidak tega abi." Lanjut umi Aminah dengan isak tangisnya.
Abi Adam tak bergeming, karna memang yang di katakan istrinya itu memang benar.
"Terlebih selama ini Anisa selalu mengalah untuk adiknya bi, umi tau sebenarnya dalam hati Anisa ada kecemburuan terhadap Caca, walau pun selama ini Anisa selalu menyembunyikan semua itu dari kita.Umi tidak mau jika kecemburuan Anisa menjadi-jadi karna masalah ini bi, jika Caca sampai bersatu sama Angga. Umi takut Anisa nekad bi."
"Sudah umi tenangkan dulu diri umi, besok kita bicarakan hal ini pelan-pelan kepada mereka. Abi yakin Anisa tidak akan berbuat seperti itu umi."
"Umi takut abi, walau pun Anisa bukan kakak kandung Caca,dan bukan anak kandung kia. Tapi umi menyangi Anisa sudah seperti anak kandung umi,sama seperti Caca anak kandung kita, begitu juga Arif dan Irma umi sudah menganggap mereka semua seperti anak kandung umi." Lirih Umi Aminah.
Lagi-lagi Abi Adam hanya diam tak bergeming, yang di rasakan istrinya memang ia pun merasakan.
Abi Adam hanya mencoba terus menenangkan istrinya itu, dengan mata Abi Adam yang kini terlihat sudah berkaca-kaca.
Praaaaaaakkkkk........
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar seperti ada suara benda terjatuh, suara tersebut terdengar berasal dari luar kamar mereka.
Abi Adam melepaskan pelukannya, kini abi Adam dan Uminah terlonjat keget.
Lalu abi Adam menoleh kearah pintukamar, abi Adam terheran mengapa pintukamar seperti terbuka sedikit. Perasaan ia tadi menutupnya dengan rapat. Apa jangan-jangan ada orang yang membukanya dan menguping pembicaraannya dengan sang istri.
Umi Aminah mengitu pandangan suaminya itu, umi Aminah pun merasa terhertan mengapa pintu kamarnya terbuka sedikit.
"Abi bukannya pintu kamar tadi sudah abi tutup rapat?"
Abi Adam mengaggukan kepalanya pelan. "Iya mi..."
"Kenapa sekarang terbuka, apa jangan-jangan.." umi Aminah dan abi Adam saling melihat satu sama lain.
"Jangan-jangan ada yang menguping pembicaraan kita bi.." Wajah umi Aminah terlihat panik.
"Sebaiknya kita lihat mi..." Ajak abi Adam.Diangguki oleh umi Aminah.
Mereka pun beranjak dari kasur dengan cepat, dan berjalan menuju arah pintu. Untuk memeriksa apakah benar atau tidak dugaan mereka itu.
Abi adam menarik kenop pintu tersebut, dan betapa terkejutnya abi Adan dan umi Aminah saat mereka melihat seorang yang wanita yang tengah berdiri mematung di depan kamarnya, dengan air mata yang terlihat sudah membanjiri wajah wanita itu, air mata terlihat begitu mengalir deras dari matanya.
"Anisa....."
BERSAMBUNG...
JANGAN LUPA LIKE,COMEN DAN VOTENYA.
TERIMA KASIH.
__ADS_1