
Kedatangan Angga dan Ica, di sambut oleh Afifah.
"Wah-wah calon pengantin, ayo masuk!"
"Asalamualaikum kak." Ucap Ica, sambil meraih tangan Afifah, menyalaminya.
"Walaikum'salam."
"Jangan panggil kakak dong, masa calon kakak ipar manggilnya kak." Canda Afifah.
"Terus apa dong? Caca gak enak kalau panggil nama, enakan panggil kakak, kak Afifah-kan seumuran sama mbak Nisa."
"Fi..." Sahut Angga, Afifah hanya memberikan cengiran kepada kakaknya itu.
"Senyaman-nya Caca aja." Ucap Afifah. Dan Ica pun menganggukan kepalanya.
"Mau nyoba bajunya sekarang?" Lanjutnya.
"Enggak Fi, tahun depan saja." Jawab Angga ketus.
"Oh ya udah." Ucap Afifah tanpa dosa.
"Sekaranglah Fi, kapan lagi?" Pungkas Angga.
"Iya-iya."
"Ya udah yuk Ca, ikut aku." Ajak Afifah sambil menarik tangan Ica lembut, Ica mengaggukan kepalanya, kemudian mereka pun berajak dari hadapan Angga.
"Kak baju kakak yang itu, coba sendiri aja ya!" Teriak Afifah, sambil menunjukan setelan tuxedo yang terpajang.
"Iya..."
Afifah membawa Ica menuju ruang ganti, di sana terlihat sudah ada dua baju pengantin, berwarna putih dan peach, baju pengantin yang berwarna putih itu dengan model kebaya modern, dan baju pengantin yang berwarna peach dengan model gaun mewah.
"Waah, bajunya bagus sekali kak!" Seru Ica, memandang takjub.
"Iya dong, kakak desain khusus buat kamu."
"Ayo coba dulu." Pinta Afifah.
Ica mengaggukan kepalanya, lalu Afifah membantu Ica untuk mencoba baju-baju tersebut.
"Masya'allah, kamu cantik banget Ca." Puji Afifah. Ica terlihat sangat Anggun dan cantik memakai baju kebaya tersebut.
"Ih kakak, Caca jadi malukan." Wajah Ica terlihat merah merona.
"Yuk keluar, kasih liat sama kak Angga." Ajak Afifah. Dan diangguki oleh Ica. Mereka pun keluar dari ruangan tersebut, dan berjalan kearah Angga, yang terlihat sedang duduk sambil memainkan ponselnya.
"Tara....." Teriak Afifah.
Angga pun langsung mengalihkan pandangnya dari ponselnya, Angga menatap kearah Ica. Sungguh Ica terlihat sangat berbeda, cantik, anggun dan, ah pokoknya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Seketika Ica menjadi pusat perhatian di sana, terlihat para pengunjung butik yang lain-nya pun, mata mereka tertuju pada wanita itu. Mereka berdecak kagum.
Ica terlihat menundukan kepalanya, ia merasa sangat malu, karna orang-orang disana melihatnya.
__ADS_1
"Bagaimana kak? Cantikan?" Tanya Afifah, kepada Angga.
Angga hanya mengangguk-anggukan kepalanya, matanya masih menatap lekat Ica yang berdiri dihadapannya itu.
"Kakak udah coba baju kakak?" Tanya Afifah lagi.
Angga mengelengkan kepalanya. Membuat Afifah terheran.
"Kenapa, gak suka ya? Mau Afifah buatkan lagi? Mau yang bagaimana? Mumpung masih ada waktu kak?" Tanya Afifah, berbondong.
"Tidak Fi, itu juga udah bagus, kakak suka kok."
'Haduh punya adik, kok gak peka banget sih. Orang lagi menikmati keindahan juga' Angga menggerutu dalam hatinya. Ia merasa sedikit kesal kepada Afifah. Sudah tau Angga lagi liatin Ica yang cantik jelita bak Cinderella, masih aja terus nyerocos. Huh..
"Oke baiklah."
"Ayo Ca, ganti baju-nya lagi. Kamu jangan lama-lama di sini, nanti ada yang nerkam." Ajak Afifah, sambil menahan tawanya. Lalu Afifah menarik merangkul Ica, untuk kembali keruang ganti.
Angga terlihat memutar bola matanya memalas, saat mendengar ucapan dari adiknya itu. Sialan bisa-bisa Afifah meledeknya seperti itu. Angga membuang nafas sedikit kasar.
"Orang lagi menikmati keindahan juga, malah di bawa, huh!" Lirih Angga pelan.
"Kita coba yang satunya lagi ya Ca!" Ujar Afifah, sambil membantu Ica, melapaskan kebaya-nya.
"Gak usah deh kayanya kak, Caca malu. Tadi aja diliatin sama pengunjung butik kakak." Tolak Ica, halus.
"Baiklah." Pasrah Afifah, Afifah mengerti dengan perasaan Ica. Apa lagi calon kakak iparnya ini, terlihat begitu polos tingkahnya.
Ica pun memakai kembali bajunya. Kemudian mereka keluar dari ruang ganti tersebut.
"Udah kak." Jawab Ica dan Afifah bersamaan, dan detik kemudian Afifah serta Ica tertawa. Merasa lucu dengan tingkah mereka sendiri.
"Ya sudah ayo kita pulang." Ajak Angga, kepada Ica, dan diangguki oleh wanita itu.
"Kok buru-buru banget sih."
"Masih banyak urusan dek." Jawab Angga.
"Em, ya udah. Kalian hati-hati ya." Pesan Afifah, diangguki oleh Angga dan Ica.
Lalu mereka pun keluar dari butik milik Afifah tersebut, mereka berjalan kearah mobil Angga, masuk kedalam mobil, dan Angga pun melajukan mobilnya meninggalkan butik Afifah tersebut.
"Mau langsung pulang?" Tanya Angga.
"Terserah kak aja."
"Emm, atau mau jalan-jalan dulu?"
"Boleh."
"Oke kita jalan-jalan dulu, tapi mampir resto dulu ya Ca, kakak tadi gak sempat sarapan."
"Iya kak."
Angga pun melajukan mobilnya menuju resto favorit-nya, yang kebetulan tidak jauh dari butik Afifah.
__ADS_1
10 Menit kemudian, mereka sampai di resto tersebut.
"Ayo!" Ajak Angga.
"Iya kak."
Mereka pun keluar dari mobil, dan langsung masuk kedalam resto tersebut.
"Caca mau pesan apa?" Tanya Angga, sambil melihat-lihat buku menu yang berada diatas meja.
"Emm, sebenarnya Caca belum laper kak, tadi Caca udah sarapan juga."
"Ya terus gimana dong? Masa kakak makan sendiri." Angga menekuk wajahnya. Dan membuat Ica terkekeh.
"Iya Caca temenin kakak makan, tapi Caca pesan ini aja." Ucap Ica, sambil menunjuk ke buku menu yang ada di atas meja tersebut.
"Ice cream?"
"Iya kak."
"Oke baiklah, dari pada kakak Caca cuman liatin kakak makan aja. Se'enggaknya kita masih makan bersama walau pun Caca cuman makan ice cream." Ucap Angga.
Lalu Angga pun memanggil pelayan resto tersebut, memesan makanannya, dan memesan Ice cream pesan Ica. Pelayan tersebut mencatat pesan Angga.
"Tunggu sebentar ya kak, kita akan menyiapkan-nya." Ucap pelayan resto tersebut, usai mencatat semua pesanan Angga dan Ica.
Angga dan Ica menganggukan kepala mereka, lalu pelayan tersebut berlalu dari hadapan mereka. Sembari nunggu pesanan datang Angga dan Ica terlihat mengobrol hangat, senyuman penuh kebahagian terpancar dari keduanya.
"Ica...." Teriak seorang laki-laki, terdengar memangil Ica. Sontak Ica dan Angga pun langsung menoleh kearah sumber suara tersebut. Laki-laki itu tersenyum kepada Ica, dan terlihat berjalan mendekat kearahnya.
Ica dan Angga terlihat tak bergeming, mereka memandangi laki-laki itu, yang terus berjalan kearah mereka. Dalam hati Angga bertanya-tanya, siapa laki-laki itu?
Sedangkan Ica, Ica terdiam. Ica juga bertanya-tanya siapa dia? Mengapa mengenalinya. Ica mencoba mengingat-ingat kembali. Dari suaranya sepertinya sangat familiar sekali. Tapi siapa dia?
"Hey Caca, apa kabar? Udah lama ya kita gak ketemu! Aku kangen banget loh sama kamu!" Ungkap laki-laki tersebut, yang kini sudah berdiri di dekat meja Angga dan Ica.
Bersambung...
Lanjut besok ya. Doakan semoga ada hidayah besok author crazy up lagi.. Hehe.
Jadi jangan lupa, like, komen dan votenya ya.
Komen dan like gretooong ya guys. Yuk tanamkan kebiasan baiknya...Eh
Terus apa lagi ya? Aku lupa mau ngomong apa?ðŸ¤
Ya udah deh, gitu aja.
See u...
bye-bye ..
Love you sekebon cabe..
Maaciiw....
__ADS_1