
Hari demi hari mereka lalui dengan status sebagai suami istri. Hari mereka di penuhi dengan kebahagian.
Sudah hampir satu bulan mereka menikah. Hari ini Angga dan Ica harusnya pergi ke Singapure, seperti rencana awal mereka. Namun sangat di sayangkan semua itu di batalkan karna Abi Adam.
Beberapa hari ini kesehatan Abi Adam menurun. Dan saat ini Abi Adam tengah di rawat di rumah sakit milik keluarga Angga.
''Ca, nak Angga. Maafin abi ya, gara-gara Abi kalian gak jadi pergi." Ucap Abi Adam lirih, dengan suara lemahnya.
"Abi jangan bicara seperti itu. Kesehatan Abi lebih penting!" Jawab Angga, seraya memberikan senyuman tulusnya kepada mertuanya, yang terbaring lemah di brankar rumah sakit tersebut.
"Abi jangan banyak pikiran, sekarang Abi istirahat ya!" Sambung Ica, diangguki oleh abi--nya pelan.
'Ya Allah jika waktu memang sudah tiba, hamba sudah siap ya allah.' Gumam Abi Adam. Lalu ia pun mulai memejamkan matanya, tak lama kemudian laki-laki parubaya itu tertidur. Mungkin karna efek dari obat yang sudah ia minum, mempermudahnya untuk tidur.
Ica dan Angga duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut. Menunggu Abi Adam yang tengah terlelap. Angga sedari tadi memperhatikan istrinya, dari tadi Ica terus melamun. Wajah Ica terlihat pucat.
"Sayang kamu baik-baik sajakan?" Tanya Angga, dengan raut wajah kekhawatiran.
Ica tersadar dari lamunannya itu, lalu ia menoleh kaerah Angga. "Caca baik-baik aja." Memberikan senyuman tipis kepada Angga.
Angga menarik Ica kedalam pelukannya, Angga mengerti apa yang di rasakan oleh istrinya itu. Anak yang mana jika melihat orang tuanya sakit tidak khawatir.
"Semuanya akan baik-baik saja sayang!" Ucap Angga, seraya mengecup sekilas kening sang istri.
"Caca harap juga begitu." Lirih Ica.
Entah kenapa rasanya Ica takut, melihat Abi Adam yang terbaring lemah di sana. Apa lagi saat mendengar kata dokter yang menangani Abi-nya. Bahwa kondisi Abi Adam semakin hari semakin memburuk.
Tak lama kemudian terlihat Umi Aminah, dan Anisa memasuki ruangan rawat itu. Di belakang mereka juga terlihat Mawar yang mengekor di sana.
"Asalamualaikum" Ucap Umi Aminah dan Anisa.
"Walaikum'salam." Jawab Ica dan Angga.
Lalu Ica dan Angga menyalami kedua wanita itu.
"Gimana Abi, apa ada perkembangan?" Tanya Umi Aminah. Angga dan Ica terdiam sejenak. Lalu mereka menggelangkan kepalanya.
Umi Aminah terlihat memejamkan matanya sejenak. 'Ya Allah berilah keajaiban untuk suami hamba." Batinnya. Lalu Umi Aminah melebarkan senyumannya, walau pun sebenarnya senyuman itu palsu. Umi Aminah tidak mau jika dirinya terlihat lemah di depan anak-anaknya itu.
"Ya sudah lebih baik kalian pulang saja, biar umi dan Nisa yang menjaga Abi."
"Gak mau umi, Caca mau di sini jagain Abi."
__ADS_1
"Caca ingat sekarang kamu itu sudah bersuami, dahulukan dulu suamimu."
"Gak apa-apa kok umi," sahut Angga. "Angga ngerti perasaan Ica." Sambungnya.
"Enggak nak Angga. Lihatlah wajah kalian terlihat sangat lelah sebaiknya kalian istrihat saja."
"Iya yang di katakan umi benar Ca." Pungkas Anisa.
Sedangkan Mawar sedari tadi ia hanya menyimak pembicaraan mereka. Sebenernya Mawar terpaksa datang ke rumah sakit ini. Memang belakangan ini wanita itu menjauh dari Angga, bahkan dari keluarga Angga. Karna mamahnya Mawar melarang Mawar untuk dekat-dekat dengan mereka. Entah apa alasan mamahnya Mawar itu, kenapa Mawar harus menjauh dari mereka? Bukannya selama ini mereka tidak bersikap buruk kepadanya. Entahlah mamahnya tidak memberi jawaban saat Mawar bertanya apa alasannya! Jika bukan permintaan Abi Adam yang tengah sakit itu, meminta Mawar untuk bertemu. Mungkin Mawar tidak akan mau. Ini pun Mawar sembunyi-sembunyi datang ke sini. Karna takut mamahnya tau.
Ica perlahan menganggukan kepalanya pasrah.
"Ya udah umi, Caca sama mas Angga pulang dulu. Kalau ada apa-apa kabarin kita ya umi," ujar Ica.
"Iya Ca, kamu tenang saja."
Lalu Ica dan Angga pun berpamitan pulang meninggalkan rumah sakit tersebut.
Kini di ruangan itu hanya ada umi Aminah, Anisa, Mawar dan Abi Adam yang masih terlelap dalam tidurnya. Mereka kini tengah duduk di sofa.
"Tante maaf, saya gak bisa lama-lama. Sebenarnya ada apa ya om mau bertemu saya?" Tanya Mawar kepada umi Aminah, to the poin.
Bu Aminah terlihat bingung, bagaimana ia harus menjawabnya.
"Emm..." Baru saja umi Aminah akan berbicara, terdengar suara lirih memanggilnya.
"Iya Abi." Umi Aminah berajak dari sofa tersebut, lalu mendekat kearah suaminya itu, di ikuti oleh Anisa dan Mawar.
Abi Adam mencoba mengangakat tubuhnya untuk bersandar.
"Pelan-pelan Bi." Umi Aminah membantu suaminya.
Lalu Abi Adam menatap kearah Anisa dan Mawar secara bergantian, dengan senyuman.
"Nak Mawar boleh saya bertanya sesuatu sama nak Mawar?" Kata Abi Adam. "Sebelumnya saya minta maaf karna sudah merepotkan nak Mawar untuk datang kesini." Sambungnya.
"Tidak kok om, Mawar tidak merasa di repotkan. Hanya saja saya tidak bisa lama. Soalnya masih ada kerjaan." Jawab Mawar berbohong. Bukan karna kerjaan sebenarnya Mawar tidak bisa lama-lama di sana. Melainkan takut ada yang mengetahui keberadaannya di sana. Secara belakangan ini ada beberapa anak buah ibunya yang selalu memata-matai setiap gerak-gerik Mawar. Entah kenapa ibunya jadi seposesiif itu kepadanya. Apa lagi semenjak Mawar dekat dengan Anisa, dan pernah membawa Anisa main ke rumahnya.
"Mau bertanya apa om?" Sambung Mawar, bertanya balik.
"Umi..." Abi Adam melirik kearah istrinya itu, seperti sedang mengisyaratkan. Detik kemudian umi Aminah menganggukan kepalanya, dan wanita itu mengambil suatu barang dari dalam tasnya. Lalu memberikannya kepada Mawar.
Mawar mengambil sebuah barang tersebut, sebuah Poto. Mawar melihat orang yang ada di dalam Poto tersebut. Sedangkan Anisa ia nampak kebingungan, kenapa umi memberikan Poto orang tua kandung Anisa kepada Mawar?
__ADS_1
'Inikan Papah! Wanita ini siapa? Mengapa kelihatannya di Poto ini mereka baru saja melangsungkan pernikahannya.' Batin Mawar.
"Nak Mawar kenal dengan laki-laki yang di Poto itu?" Tanya Abi Adam, membuka suaranya kembali.
Mawar mengangguk pelan, matanya masih lekat menatap Poto tersebut. Dalam hati Mawar terus bertanya-tanya apa maksud semua ini?
"Nak Mawar kenal dengan wanita yang ada di Poto itu?" Tanya Abi Adam lagi, dan Mawar kini mengelengkan kepalanya.
"Itu Poto orang tua kadung Anisa." Sambung Abi Adam.
Deg...
Mawar langsung menatap tidak percaya kepada Abi Adam. Lalu perlahan Mawar menoleh kearah Anisa yang berdiri di sampingnya. Mawar menggelang-gelangkan kepalanya, tak percaya. Tidak mungkin Papahnya mempunyai anak lagi dari wanita lain. Tidak mungkin itu semua terjadi, papahnya tidak mungkin menghianati mamahnya, Mawar tau betul bagaimana sikap sang papah semasa hidupnya. Walau pun papahnya itu terbilang keras, kepada siapa saja. Namun tidak kepada Mawar dan mamahnya. Brama sangat menyayangi mereka. Jadi tidak mungkin kalau Mawar dan Anisa itu adik kakak, namun beda ibu.
Sedangkan Anisa, ia mantap bingung kepada Mawar, Mawar sedari tadi terus menatapnya dan mata Mawar terlihat berkaca-kaca.
"Mawar kenapa?" Tanya Anisa.
Mawar tak menjawab ia berlari keluar dari ruangan tersebut, dengan Isak tangis, ditangannya masih membawa Poto tadi.
"Mawar kamu mau kemana?" Teriak Anisa, sambil berlari menyusul Mawar.
"Anisa tunggu!" Teriak umi Aminah, namun Abi Adam segara menahan tangan istrinya itu.
"Umi biarkan, biarkan mereka menyelesaikan itu semua."
"Tapi Abi."
"Umi tenangkan diri umi, Abi yakin mereka pasti kembali, dan bertanya lagi kepada kita."
Akhirnya umi Aminah pun menurut, pasrah.
Mawar terlihat terus berlari menelusuri kolidor rumah sakit tersebut, di ikuti oleh Anisa yang menyusulnya.
Sampai di parkiran rumah sakit. Dan...
"Awass...." Teriak semua orang yang ada di sana.
Brugg......
Bersambung....
Lanjut up malam ya.
__ADS_1
Masih ada kerjaan!!
See u...