
Usai memandangi mobil Angga yang terus melaju jauh dari pandangannya. Ica menhentikan taksi yang kenetulan lewat di jalan tersebut. Taksi berhenti, Ica pun masuk ke dalam taksi tersebut. Supir taksi melajukan mobilnya usai mendengar Ica menyebutkan alamat tujuannya,
Selama dalam perjalan pikirannya terus berkelana. Ica bertamya-tanya apa maksud mbak Anisa? Mengapa kakaknya itu mengakui kalau Angga itu calon suaminya?
Ica menghelai nafas dalam, rasanyakini kepalanya terasa sangat berat. Rasanya Ica ingin cepat-cepat sampai dirumahnya.
''Pak bisa jalankan mobilnya lebih kencang!''
Sopir taksi tersebut menganggukan kepalanya dan menambah kecepatan laju mobilnya. Dan tak lama kemudian taksi tersebut sampai di depan rumah Ica, Icaturun dari taksi tersebut usai membayar ongkos taksinya.
''Terima kasih pak,'' ucap Ica. Lalu keluar dari mobil taksi tersebut.
Ica berjalan masuk menuju rumahnya, Abi dan uminya sepertinya sudah pulang dari acara pengajian, karna terlihat mobil mereka sudah terparkir rapi di garasi.
''Asalamualaikum...'' Ucap Ica saat memasuki rumahnya itu.
''Walaikum'salam...'' Terdengar suara abi dan uminya, menjawab salam Ica.
Ica menghampiri umi dan abinya itu, yang berada di sofa. Mereka terlihat sedang duduk santai. Ica menyalami mereka.
''Loh Caca kamu kokpulang sendiri nak, mana Anisa?'' Tanya umi Aminah kepada Ica, usai putrinya itu menyalami-nya.
Ica terdiam, ia terlihat kebingungan. Hingga tiba;tiba terdengar suara salam dari seseorang yang membuyarkan Ica.
Yang ternyata itu adalah Anisa yang baru saja sampai di rumah tersebut.
''Walaikum'salam..." Umi dan abi menjawab salam dari Anisa.
Anisa berjalan menuju orang tuanya, melewati Ica yang masih mematung memandangi dirinya.
Anisa menyalami ke dua orang tuanya, tanpa menghiraukan Ica adiknya.
Umi Aminah dan Abi Adam menyadari, bahwa sedang ada masalah. Ada sesuatu antara kedua putrinya itu.
Abi Adam terlihat menarik nafas dalam.
''Anisa, Ica ada apa dengan kalian?'' Tanya Abi sambil menatap kedua putrinya itu secara bergantian.
__ADS_1
Anisa dan Ica terlihat saling pandang, beberapa detik kemudian mereka memalingkan pandangannya masing-masing.
''Tidak ada apa-apa Abi,'' Jawab Anisa. ''Umi, Abi Anisa pamit ke kamar dulu.'' Lanjutnya sambil beranjak dari sana.
Abi Adam melirik karah istrinya. Umi Aminah terlihat menggelengkan kepalanya.
Lalu mereka melihat kearah Ica yang masing terduduk disana, sambil menundukan kepalanya.
''Caca...'' Panggil umi Aminah dengan lembut.
Ica mengangkat kepalanya. ''Umi, Abi Ica juga pamit ke kamar dulu,'' ujar Ica, ia beranjak dari sofa tempat ia duduk, dengan langkah sedikit berlari, ica berjalan menuju kamarnya.
Kedua orang tua Ica dan Anisa terlihat kebingungan dengan tingkah kedua putrinya itu.
''Abi ada apa dengan mereka? Kenapa mereka bertingkah seperti itu. Umi yakin pasti ada yang mereka sembunyikan dar kita bi..'' Lirih umi Aminah.
''Abi pikir juga begitu umi.''
''Perasaan umi tidak enak bi...''
Umi Aminah menanggukan kepalanya pelan.
''Sekarang lebih baik kita juga kekamar, untuk beristirahat,'' ajak abi Adam, diangguki oleh istrinya itu.
Lalu mereka pun beranjak dari sana, menuju kamar mereka untuk beristirahat. Karna memang waktu sudah cukup malam.
***
Anisa sudah berada di kamarnya, perasaannya kini sangat kalut. Entah kenapa ia teringat terus dengan perkataan Angga bahwa Angga mencintai adiknya Ica.Rasanya Anisa tidak rela jika Angga bersatu dengan Angga.
''Tidak aku tidak akan membiarkan itu semua terjadi. Angga tidak boleh bersatu dengan Ica. Jika aku tidak bisa memiliki Angga maka orang lain pun tidak boleh memilikinya. Tanpa terkecuali Ica. Sudah cukup rasanya selama ini selalu mengalah dengan Ica. Kali ini aku tak mau mengalah lafi denganya!'' Pekik Anisa, dengan wajah memerah penuh amarah.
Anisa terlihat keluar dari kamarnya. Anisa berjalan menuju kamar adiknya, Ica.
Tanpa mengetuk kamar terlebih dahulu Anisa terlihat masuk ke dalam kamar tersebut.
Ica yang tengah membaringkan tubuhnya diatas kasurnya itu terlihat sangat terkejut melihat kakaknya yang sudah berada di dalam kamarnya.
__ADS_1
''Mbak Nisa...''
Anisa langsung menutup rapat-rapat pintu kamar Ica, lalu ia brjalan menghampiri adiknya itu. Ica memposisikan tubuhnya bersandar di kepala ranjang, saat melihat kakaknya yang tengah berjalan mendekat kearahnya.
''Mbak ingin bicara dengan kamu.'' Ujar Anisa, sambil duduk di tepi ranjang.
''Bicara apa mbak? Kak Angga?'' Tanya Ica. ''Maaf mbak Caca tidak mau membicakan hal itu. Caca capek mau istirahat kak.'' Lanjutnya.
"Caca dengarkan mbak, sebaiknya kamu lupakan mas Angga dia itu calon suami kakak. Abi dan Umi sudah menjodohkan kami. Dan jangan sampai rencana itu gagal gara-gara kamu. Kamu jangan menghancurkan semua Caca. Apa kamu tidak sadar hah? Selama ini mbak selalu mengalah sama kamu.'' Pekik Anisa.
Namun Ica terlihat mengambangkan senyumanya.
''Maaf mbak, Caca tidak ada maksud untuk merebut kak Angga dari mbak. Caca tidak tau sama sekali tentang perjodohan kalian. Jika saja Caca tau sebelumnya Caca pasti menolak kak Angga.''Jelas Ica.
''Dan sekarang kamu sudah mengetahuinya bukan? Jadi mbak mintia kamu lupakan mas Angga.''
''Caca tidak janji kak. Biaekan saja takdir yang akan menentukannya. Jika takdir menggariskan Caca harus bersama kak Angga, mbak bisa apa?''
Anisa terdiam mendengar perkataan yang di lontarkan adiknya itu. 'Takdir' memang tidak bisa di ubah oleh siapa pun.
''Sebaiknya mbak keluar Caca mau tidur."
Dengan wajah yang mereh penuh amarah Anisa keluar dari kamar adiknya itu, Anisa menutup pintu kamar adiknya itu dengan kasar. Ica hanya bisa mengusap dadanya. Ica tak menyangka hanya karna seorang laki-laki kakaknya berubah dalam sekejap.
Ica menatap nanar kepergian kakaknya itu, mata Caca terlihat berkaca-kaca. Dan beberapa detik kemudian cairan bening yang sedari tadu terbenung dipelupuk mata indah Caca terjatuh, mengalir deras membasahi pipinya.
Ica mesakan begitu sesak dadanya, hatinya bagai teriris. Ica merasakan sakit bukan karna kakak Anisa menyuruhnya melupakan Angga. Karan bagi Caca jodoh, maut semuanya sudah ada yang menatur. Ica sudah menyerahkan semuanya kepada sang haliq.
Tapi yang membuat Caca merasa sakit ia lah, sikap sang kakak kepadanya. Selama ini Anisa tidak pernah membentak atau memarahinya dalam hal apa pun, walapun Ica salah.
Tapi tadi... Hanya karna seorang laki-laki Anisa melakukan hal tersebut, memarahi dan membentak Ica.
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAM VOTENYA.
TERIMA KASIH.
__ADS_1