
Hari ini Anisa dan Mawar sudah di perbolehkan pulang oleh dokter. Dan hari ini untuk pertama kalinya Anisa akan memulai hari-hari dengan keluarga barunya.
Anisa akan pulang ke rumah Maria, dan akan tinggal bersama Maria dan Mawar adiknya. Setelah meminta izin pada Abi Adam dan umi Aminah. Sebenarnya ke dua orang tua angkat Anisa itu sangat berat untuk melepas Anisa, namun apa boleh buat, Anisa sudah dewasa, ia bisa menentukan mana yang baik dan mana yang tidak, pikir mereka.
Begitu juga dengan Abi Adam, kondisi laki-laki parubaya itu pun sudah lebih baik, dan sudah di perbolehkan untuk pulang.
________________________________________________
Angga dan Ica baru saja tiba di kediaman orang tua Angga, usai mereka menjemput Abi Adam dari rumah sakit, lalu mengantarnya ke rumah dan beristrihat sejenak di sana. Mereka langsung memutuskan untuk pulang, karna sedari tadi Ica terus mengeluh, kepalanya pusing dan dari tadi pagi istri Angga itu terus muntah-muntah.
"Asalamualaikum..." Ucap Angga dan Ica, saat memasuki rumah.
"Walaikum'salam." Jawab Bu Aisyah yang tengah duduk santai di sofa ruang tengah.
Angga dan Ica, meraih tangan wanita itu, lalu menyalaminya.
"Kalian sudah pulang? Ibu kita kalian mau nginep di sana?" Lanjut Bu Aisyah bertanya.
"Enggak Bu, kondisi Caca kayanya lagi gak enak badan. Jadi tadi kami pulang." Jawab Angga, tersenyum lalu melihat kearah istrinya itu.
Wajah Ica terlihat sangat pucat, padahal tadi tidak terlalu begitu. "Sayang, kita ke dokter ya." Ajak Angga, wajah Angga terlihat begitu khawatir.
"Caca enggak apa-apa kok mas." Ica mengambangkan senyumannya, agar suaminya itu tidak terlalu menghawatirkan-nya.
"Yang dikatakan suamimu benar Ca, periksa sana. Liat wajah kamu pucat banget." Sahut Bu Asiyah.
"Nanti Caca di periksa sama mas Angga saja Bu."
"Ica suami kamu emang dokter, tapi Angga itu dokter spesialis jantung."
__ADS_1
"Iya benar, ayo kita ke dokter." Pungkas Angga.
Ica menganggukan kepalanya, namun tiba-tiba pandangannya terasa kabur, detik kemudian Ica merasakan semuanya gelap.
"Caca..." Teriak Angga dan Bu Aisyah panik.
"Tidurin di sini aja dulu." Titah Bu Aisyah kepada Angga, Angga pun menidurkan Ica di sofa panjang.
"Telpon papah cepat." Lanjut Bu Aisyah, Angga pun mengangguk lalu mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Namun baru saja akan menelpon papahnya.
"Asalamualaikum..." Terdengar suara orang memberi salam, dan suara itu adalah suara Dr. Irawan, Papahnya.
"Walaikum'salam." Jawab Angga dan Bu Aisyah.
"Pah tolong Caca cepat." Teriak Bu Aisyah, dengan panik. Dr. Irawan pun berlari menghampiri mereka.
"Caca kanapa?" Tanyanya.
"Iya-iya sabar." Jawab Dr. Irawan, mulai mengeluarkan alat kedokteran-nya, lalu memeriksa Ica.
"Alhamdulillah, ya Allah. Alhamdulillah...." Seru Dr. Irawan usai memeriksa Ica. Membuat Bu Aisyah dan Angga kebingungan.
"Pah Ica kenapa?" Tanya Angga.
"Iya pah, gimana kondisi mantu kita?" Sambung Bu Aisyah.
"Kita akan punya cucu baru Bu...." Seru Dr. Irawan, sambil menghambur memeluk istrinya. Bu Aisyah membuatkan matanya.
"Papah serius?"
__ADS_1
"Iya Bu..."
"Alhamdulillah, terima kasih ya Allah." Seru Bu Aisyah, mereka terlihat begitu bahagia.
Sedangkan Angga, Angga masih mematung tak percaya. Benarkah? Ica hamil?
"Selamat ya Angga, sebenatar lagi kamu bakalan jadi Ayah." Ucap Bu Asiyah, kepada Angga.
"Pah ini beneran? Ini serius Pah? Ica hamil?"
"Iya Angga, masa papah bohong."
Angga menadahkan kedua tangannya, senyuman bahagia terulas dari wajah tampan Angga, lalu Angga mendekat kearah istrinya. Angga menggenggam tangan Ica dengan erat, mengecupnya berkali-kali. Mata Angga terlihat berkaca-kaca.
Perlahan Ica membuka matanya, kepalanya masih terasa pusing.
"Terima kasih sayang." Ucap Angga, tangannya masih menggenggam tangan Ica dengan eratnya.
"Terima kasih apa mas?" Ica terlihat bingung.
"Pah, Bu ada apa ini?" Tanya Ica, mengalihkan pandangannya kepada kedua mertuanya itu. Namun kedua mertuanya itu hanya melemparkan senyuman kepada Ica. Karna tak mendapat jawab, Ica pun mengalihkan pandangannya kembali kepada Angga.
"Sebentar lagi kita akan menjadi orang tua sayang." Seru Angga, penuh bahagia, langsung memeluk Ica.
Ica terdiam sejanak, mencerna ucapan suaminya barusan. Jadi orang tua?
"Maksud mas, Caca hamil mas?" Ujar Ica.
Angga melepaskan pelukannya, dengan cepat Angga menganggukan kepalanya.
__ADS_1
Ica membulatkan matanya tak percaya, "Alhamdulillah, ya Allah, terima kasih." Ucap Ica penuh syukur dan bahagia. Ica terlihat menitihkan air matanya, terharu.
Secepat ini tuhan memberikan kepercayaan untuk dirinya dan Angga.