HARTA TAHTA DOKTER ANGGA

HARTA TAHTA DOKTER ANGGA
Episode 34


__ADS_3

Ica pun keluar dari kamarnya, untuk menemui Abi dan uminya, namun setiap ruangan terlihat sepi.


"Kemana Abi dan umi ya?"


Ica mendengar suara tawa renyah, dari arah belakang taman rumahnya. "Apa mereka di belakang?" Ica melangkah-kan kakinya menuju belakang. Dan benar saja di sana terlihat ada umi dan Abi-nya serta Anisa, yang sedang duduk di gazebo yang terdapat di taman belakang rumahnya itu.


"Umi, Abi.." Panggil Ica, sambil berjalan menghampiri mereka.


"Eh Caca, sini gabung!" Titah Umi Aminah.


Diangguki oleh Ica, Ica pun duduk bergabung bersama mereka.


"Lagi ngapain sih? Kaya-nya asik banget," tanya Ica dengan wajah yang penuh penasaran.


"Lagi ngomongin kamu Ca!" Sahut Anisa, menggoda-nya.


"Ngomongin Caca?" Ica menunjuk kedirinya sendiri. "Emang Caca kenapa?"


"Enggak Ca, jangan dengerin mbak kamu, kita gak ngomongin kamu kok," ucap umi Aminah.


"Ih mbak Nisa, bohongin Caca." Ketus Ica.


Anisa hanya terkekeh. Melihat adiknya kesal kepadanya.


"Sudah-sudah, ia Caca ada apa Caca nyariin kita?"


"Oh iya umi, Abi ada yang mau Caca bicarakan," ucap Caca, wajahnya terlihat tersipu.


"Apa Ca?" Sahut Anisa.


"Emm, kak Angga nanti malam mau kesini sama orang tuanya." Ujar Caca, wajah Caca kini terlihat sangat merah merona.


"Ehem-ehem, cie-cie. Caca mau ada yang minang," Goda Anisa.

__ADS_1


Ica semakin dibuat tersipu malu. Ica menundukan kepalanya mencoba menyembunyikan wajahnya yang kini sudah merah bagaikan udang rebus.


"Apaan sih mbak, jangan bikin Caca malu deh!" Ucap Ica sangat gugup.


"Sudah Nis, jangan terus menggoda adek kamu, kasian itu lihat wajahnya sudah merah begitu." Sahut Umi.


Anisa memberikan cengiran kuda, kepada uminya. "Hehe iya umi."


"Caca, bilang sama nak Angga. Kami menunggu kedatangan mereka malam ini."


Ica menganggukan kepalanya pelan. "Baik umi."


"Ya sudah kalau begitu, umi mau mempersiapkan buat nanti menyambut calon besan kita." Ucap umi, sambil beranjak dari gazebo tempat ia duduk. Dan umi Aminah pun berjalan masuk kedalam rumah.


Kini di gazebo tersebut, hanya tinggal Anisa, Ica dan Abi Adam. Suasana hening seketika.


"Nisa, Caca." Panggil Abi Adam. Anisa dan Ica langsung menatap kearah Abi-nya itu.


Lalu Abi Adam, meraih tangan kedua putrinya itu. Dan menyatukan tangan mereka.


"Abi, Abi tenang saja. Anisa janji akan selalu melindungi adik-adik Anisa. Apa pun yang terjadi."


"Iya Abi, kita akan saling menjaga. Abi jangan bicara seperti itu." Sambung Ica.


Abi Adam tersenyum, lalu Anisa dan Ica menghampur memeluk laki-laki yang menjadi Abi-nya itu. Usia Abi Adam sudah memasuki tahun ke 60. Memang sudah tidak muda lagi. Abi Adam sangat menghawatirkan jika nanti ia sudah tiada anak-anaknya akan terpecah. Karna mereka bukan saudara kandung.


Di tambah semalam Abi Adam sudah merasakan kembali jantungnya merasa sakit. Dan kondisinya sepertinya kurang membaik. Namun Abi Adam tak memberitahu soal kondisinya itu kepada siapa pun, bahkan kepada sang istri umi Aminah. Karna Abi Adam tidak ingin membuat mereka semua khawatir.


'Ya Allah, berikan aku umur sedikit lagi. Agar bisa melihat anak-anakku bahagia' Gunam Abi Adam, sambil memeluk kedua putrinya itu.


Cukup lama mereka berpelukan. Anisa dan Ica terlihat menitihkan air mata mereka. Entah kenapa mereka merasa sedih saat mendengar ucapan dari sang Abi tadi.


"Sudah kalian jangan menangis." Ucap Abi Adam, sambil melepaskan pelukan ke dua putrinya itu dengan lembut.

__ADS_1


"Maaf Abi." Ucap Anisa dan Ica bersamaan.


"Sudah lebih baik, kalian bantu umi sana untuk menyiapkan makanan atau yang lainya, untuk menyambut nak Angga dan keluarga-nya nanti."


Anisa dan Ica menganggukan kepalanya, dan mereka pun berajak dari gazebo tersebut. Masuk kedalam rumah untuk membantu uminya.


Abi Adam menatap nanar punggung ke dua putrinya itu. Entah kenapa Abi Adam merasakan jika waktunya sudah dekat.


***


Malam pun tiba, Angga terlihat sudah bersiap-siap untuk pergi ke rumah orang tua Ica. Di sana juga sudah terlihat ada Afifah, dan Arka, serta kedua sahabatnya Mawar dan Evan.


Afifah tidak membawa anak-anaknya, karna besok ia takut nanti pulang terlalu malam. Anak-anak mereka harus sekolah besok. Jadi anak-anak Afifah di titipkan kepada mertua-nya yang tak lain adalah Mamah Dewi, mamahnya Arka.


"Sudah siap semuanya, ayo kita berangkat!" Ucap Dr. Irawan. Diangguki oleh semua orang dan mereka pun masuk kedalam mobil mereka masing-masing tak lupa mereka membawa barang hantaran-nya juga.


Mereka berangkat dengan dua mobil.


Mobil pertama di tumpangi oleh Angga, Dr. Irawan dan istrinya serta Afifah dan suaminya Arka.


Sedangkan mobil kedua, di tumpangi oleh Evan dan mawar, serta barang bawaan Angga yang penuh di jok belakang mobil milik Evan tersebut.


"Lihat lah, mobil gw udah kaya mobil pengangkut barang saja!" Gerutu Evan, sambil menjalankan mobilnya.


"Sabar Van," Ucap Mawar sambil terkekeh.


Mobil mereka pun melaju meninggalkan rumah tersebut, menuju kediaman orang tua Ica.


"Bismilah..." Ucap Semua orang saat mobil mereka mulai melaju.


Bersambung...


Jangan lupa like, komen dan Votenya.

__ADS_1


Kira-kira bakalan jadi gak ya lamarannya. Semoga gak ada halangan ya bang Angga. Author bantu do'a oke...🤭🤭🤭


__ADS_2