
Suasana seketika menjadi hening, usai Abi Adam memberikan peringatan akan tingkah Angga tersebut. Suasana pun menjadi canggung. Angga terus menggerutu diri-nya sendiri, mengapa dia bisa bodoh dan konyol seperti itu?
"Angga, mana cincin-nya?" Tanya ibu Aisyah, memecah keheningan tersebut.
Lalu Angga mengambil sebuah kotak kecil berwarna merah dalam saku jasnya, dan memberikan kotak tersebut kepada ibu-nya itu.
Bu Aisyah tersenyum, sambil mengambil kotak kecil berwarna merah tersebut dari tangan Angga. Lalu ibu Aisyah membuka kotak tersebut, di sana terdapat satu cincin yang terlihat sangat berkilau, cincin berwarna silver yang bertahtakan satu berlian diatasnya, dari model cincin-nya memang sederhana, namun terlihat lebih elegan dan cantik. Angga sendiri yang memilih dan membeli cincin tersebut, menurut Angga itu cincin yang pas untuk sang calon istri. karna apa? Karna cincin itu seperti gambaran seorang Ica, sederhana namun sangat berharga untuk Angga, dan Angga sengaja memilih cincin yang bertahtakan satu berlian di atasnya, karna berlian itu seperti Ica. Satu dan bertahta dihatinya.
Namun satu yang Angga khawatir-kan, ukuran cincin tersebut, Angga hanya mengira-ngira ukuran cincin tersebut. Angga tak bertanya berapa lingkar jari gadis pujaannya itu. Semoga saja ukuran-nya pas, tapi kalau tidak? Entahlah, semoga aja ukuran cincinnya pas dijari mungil Ica.
"Ica, bisa pinjam tangannya sebentar?" Ucap Bu Aisyah, ia tersenyum kearah Ica, yang masih menundukan kepalanya.
"Bu mau ngapain?" Bisik Angga kepada Bu Aisyah. Angga terlihat binggung. Mengapa Ibu-nya meminta Ica untuk mengulurkan tangannya.
"Diam..." Pekik Bu Aisyah pelan, dengan pandangan yang masih melekat menatap calon menantunya itu.
Angga terdiam pasrah, Angga tau Ibu-nya akan memasangkan cincin itu kepada Ica. Hah sial, padahal Angga ingin sekali memasangkan cincin itu ke jari manis sang pujaan hatinya itu. Tapi apalah daya, harus banyak sabar. Belum halal buat menyentuhnya.
Ica yang mendengar permintaan Bu Aisyah pun, Ica mengangkat kepalanya, Ica tersenyum walau pun ia sangat gugup, lalu menganggukan kepalanya, dan mengulirkan tangannya kearah Bu Aisyah.
Bu Aisyah meraih pelan dan lembut tangan Ica tersebut, lalu ia memakaikan cincin tersebut kejari manis Ica. Bu Aisyah tersenyum bahagia, cincin itu sangat cocok di pakai oleh calon menantunya.
"Terima kasih Bu!" Ujar Ica, tersipu malu.
Bu Aisyah menganggukan kepalanya, ia memperlebar senyumannya kepada Ica, sang calon mantunya.
Angga tersenyum lega, usai Bu Aisyah memakaikan cincin tersebut kepada Ica, dan Angga sangat bersyukur cincin-nya sangat pas di jari Ica.
Ica mengalihkan pandangannya dari Bu Aisyah, Ica menoleh kearah Angga yang tengah tersenyum kepadanya. Dengan wajah yang sudah sangat merah merona, dan jantung yang sangat berdegup kencang, Ica membalas senyuman Angga. Jujur saja Ica masih merasa mimpi, secepat ini?
"Terima kasih kak!" Ujar Ica.
Angga dan Ica sama-sama saling menatap satu sama lain, mereka larut dalam perasaan-nya masing-masing, antara gugup, bahagia. Sungguh mereka sangat tidak bisa menggambarkan perasaannya saat ini. Begitu pun orang-orang yang berada di sana, mereka terlihat melebarkan senyuman mereka, ikut serta bahagia. Ya walau pun tidak semua, ada dua wanita yang memperlebar senyum-nya, namun dengan hati yang sesak menahan sakit hatinya. Tapi sebisa mungkin mereka menyembunyikan itu semua.
Apa itu yang di namakan pura-pura bahagia?
Mawar dan Anisa, mereka mencoba mengikhlaskan semuanya, mencoba menerima dengan lapang dada.
Beberapa detik kemudian, terdengar suara deheman dari Abi Adam, Angga dan Ica seketika langsung membuyarkan tatapan mereka, mereka langsung menundukan kepalanya. Mereka terlihat salah tingkah.
"Sebaiknya kita makan dulu," ajak Abi Adam.
"Iya, kami sudah siapkan makanan banyak." Sambung umi Aminah. "Ayo-ayo silahkan..."
Mereka pun berajak dari sofa ruang tamu tersebut, berjalan menuju meja makan, dan benar saja di atas meja makan sudah banyak tertata berbagai jenis menu makanan, yang terlihat begitu menggugah selera. Mereka terlihat memposisikan dirinya masing-masing. Duduk di kursi meja makan tersebut.
__ADS_1
Lalu bergantian mengambil nasi dan lauk pauk secara bergantian. Usai itu mereka langsung menikmati makanannya, tidak ada pembicaraan saat makan. Mereka terlihat menikmati makanan mereka masing-masing, hanya dentingan sendok dan garpu saja yang terdengar berbunyi mendominasi ruangan tersebut.
Tak lama kemudian mereka terlihat selesai menghabiskan makanan yang ada di piringnya. Orang Ica dan orang tua Angga terlihat sedang mengobrol hangat di meja makan tersebut. Sedangkan Ica dan Anisa membantu asisten rumah tangga mereka membersikan sisa-sisa makan tersebut dan mencuci piring kotor bekas mereka makan.
Sedangkan Angga, Evan dan mawar mereka melih untuk kembali di sofa ruang tamu.
"Selamat ya Ang, gw kira tadi lo becanda ngajakin kita," ucap Evan, masih menatap Angga tak percaya.
"Selamat ya Ang!" sambung Mawar. Tersenyum tipis. Sekuat tenaga Mawar menahan rasa sesak dihatinya saat mengucapkan selamat tersebut kepada Angga, laki-laki yang ia cintai-nya.
"Thank's ya, kalian udah mau ikut kesini!" Ucap Angga, Angga merasa canggung dengan Mawar, Angga tau perasaan Mawar, tapi harus bagaimana lagi?
Evan terlihat menepuk bahu Mawar pelan, Evan pun paham dengan perasaan Mawar. Mawar melebarkan senyuman-nya kepada Evan, Mawar berusaha menunjukan kalau ia baik-baik saja, walau pun Mawar tau Evan tidak akan percaya padanya.
Angga merasa tidak enak dengan wanita itu, mungkin seharusnya Angga tidak mengajak Mawar, Angga merasa menyesal. Angga menatap iba kepada Mawar.
Angga merasa sebagai laki-laki yang jahat. Ya tapi mau bagaimana lagi? Angga tidak bermaksud seperti itu. Ia hanya ingin membagi kebahagiannya itu kepada sahabat-sahabatnya apa itu salah?
"Mawar maafin gue ya!" Lirih Angga, dengan raut wajah menyesal.
"Maaf? Untuk?"
"Maaf gue gak ber...."
"Tenang aja Ang, I'am fine..." ujar Mawar memotong perkataan Angga, sambil memperlebarkan senyumannya.
"Amin..." Ucap Mawar dan Evan.
"Ngapain elo ikut amin?" Tanya Angga kepada Evan.
"Astaga, ya ngamin doa elo lah!" Pekik Evan, membuang pandanganya, menatap Angga malas.
"Gue gak doa'in elo!" Tegas Angga.
"Bodo..." Jawab Evan ketus.
"Sudah-sudah, kalian ini kebiasaan deh."
Anisa dan Ica terlihat menghampiri mereka.
"Boleh kita ikut gabung?" Tanya Anisa, yang kini sudah berdiri dengan Ica, dihadapan mereka.
"Bo..Leh.." Jawab Angga gugup. Angga menggeser duduknya, memberi ruang untuk Ica agar bisa duduk di sampingnya, namun Ica malah duduk di sofa panjang bersama Anisa, dan Mawar.
Angga terlihat membulatkan matanya, tak percaya!
__ADS_1
Padahalkan udah tunangan, apa duduk berdekatan juga gak boleh, huuuffftt... Raut wajah Angga terlihat kecewa. Evan, Mawar, Anisa dan Ica terkekeh pelan, mendapati ekspresi Angga.
"Sabar Ang, belum halal." Teriak Evan, sambil tertawa puas.
'Sial....' Umpat Angga dalam hati.
BERSAMBUNG...
MAAF BARU UP...
NUMPANG CURHAT BENTAR YA.
TADI ITU AKU UDAH NULIS SAMPAI 1000-AN KATA LEBIH, TAPI GAK KESIMPEN.
JADI HARUS NGULANG LAGI. NYESEK BANGET GUYSðŸ˜ðŸ˜ SAKITNYA LEBIH SAKIT DARI PADA SAKIT GIGI.
TADI AKU GAK MOOD BUAT NULIS LAGI, TAPI AKU INGET SAMA KALIAN PEMBACA SETIAKU.
UDAH GITU AJA.ðŸ¤
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTENYA.
JANGAN PELIT-PELIT YA. OTOR NGEMIS NIH...
HEHE..
APA LAGI KALAU KASIH GIFT BUNGA SAMA KOPI.
GAK NOLAK KOK.
EH-EH IYA, BTW AUTHOR MAU NGADAIN GIVE AWAY BUAT KALIAN, GIVE AWAY-NYA RECEH SIH. TAPI KALAU KALIAN MAU IKUT BOLEH.
CARANYA KASIH DUKUNGAN KARYA "CINTA DOKTER ANGGA" SEBANYAK-BANYAKNYA.
FOLLOW IG AUTOUR @Ar_Inthan99.
ADA HADIAH PULSA 50 RIBU, BUAT 3 ORANG PEMANANG, YANG DUKUNGANNYA PALING ATAS.
YAITU PERINGKAT 1,2,3 DAN ADA PULSA 20 RIBU UNTUK PERINGKAT 4,5,6.
GIVE AWAY DI HITUNG DARI TANGGAL 1 AGUSTUS SAMPAI 31 AGUSTUS. JADI WAKTUNYA SEBULAN YA GUYS. DAN PEMENANG DI UMUMKAN AKHIR BULAN.🤗🤗
SYARAT DAN KETENTUAN BERLAKU.
TERIMA KASIH.
__ADS_1
LOVE-LOVE BUAT KALIAN